Abdul Rahman Saleh
Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba
beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling sering terdengar
bunyinya. Ia datang paling awal, menarik air, mengisi jeriken-jeriken tua, lalu
memanggulnya satu per satu ke rumah-rumah.
Orang mengenalnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan.
Rumahnya berdinding anyaman bambu, lantainya tanah. Istrinya, Rukayah, sabar
tanpa banyak kata. Lima anaknya masih kecil-kecil, paling besar baru kelas tiga
SD. Mereka sering ikut berlarian di belakang Syarif, membawa gelas atau ember
kecil, sekadar merasa membantu.
Penghasilan Syarif hanya cukup untuk makan. Itu pun sering
dengan lauk tempe atau ikan asin yang dibagi tipis-tipis. Tak pernah ada yang
melihatnya membeli pakaian baru, apalagi menyimpan uang.
Karena itu, ketika kabar menyebar bahwa Syarif akan
mengadakan walimatus safar—selamatan untuk berangkat haji—kampung
Betager seperti disiram air panas.
“Serius, Syarif mau naik haji?” bisik Bu Marni di warung.
“Dari mana duitnya?” sahut yang lain.
Ada yang heran, ada yang curiga, tapi tak sedikit pula yang
diam-diam kagum. Dalam kesederhanaan, rupanya ia mampu menyisihkan rezeki.
Hari itu tiba juga. Rumah Syarif ramai. Tikar digelar, nasi
dan lauk seadanya disusun, doa-doa dilantunkan. Wajah Syarif tampak berseri,
lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan baju koko putih pinjaman dan peci hitam
yang tampak kebesaran.
Satu per satu tamu datang, membawa doa dan... amplop.
Seperti adat di kampung itu, siapa pun yang datang ke walimatus
safar akan menyelipkan amplop berisi uang. Katanya, untuk tambahan bekal di
tanah suci.
“Semoga jadi haji mabrur, ya Rif,” kata Pak Lurah sambil
menyalami.
“Aamiin,” jawab Syarif, matanya berbinar.
Amplop demi amplop masuk ke dalam kotak kecil di sudut
ruangan.
Malam itu, setelah semua tamu pulang dan anak-anak tertidur,
Syarif menghitungnya. Tangannya gemetar. Uangnya lebih banyak dari yang pernah
ia pegang seumur hidupnya.
“Ini cukup...” gumamnya pelan.
Rukayah menatap dari sudut ruangan. “Cukup untuk apa, Bang?”
Syarif tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis,
senyum yang membuat Rukayah tidak sepenuhnya tenang.
Dua hari kemudian, sebelum subuh benar-benar bangun, Syarif
sudah menghilang. Rukayah hanya menemukan pesan pendek: Aku berangkat dulu.
Doakan.
Orang kampung keheranan. Tidak ada iring-iringan, tidak ada
tangis haru di jalan, tidak ada hadroh atau marawis seperti biasanya.
“Lho, kok berangkat sendiri?” tanya Pak Lurah.
Rukayah hanya menunduk. “Katanya biar sederhana saja.”
Hari-hari berlalu. Kampung kembali tenang. Orang-orang mulai
membayangkan Syarif sedang berada di tanah suci, berjalan di antara lautan
manusia, mengucap talbiyah dengan suara bergetar.
Namun sepuluh hari kemudian, pagi kembali pecah oleh suara
yang familiar: timba beradu dengan sumur.
Orang-orang saling pandang.
“Itu suara Syarif, kan?”
Mereka bergegas ke sumur. Dan benar saja—Syarif berdiri di
sana, seperti biasa, menarik air, mengenakan kaus lusuh dan sarung yang sudah
memudar.
“Lho... Syarif?” Pak Lurah mendekat. “Kamu... sudah pulang?”
Syarif tersenyum, agak canggung. “Iya, Pak.”
“Cepat sekali?”
Syarif menggaruk kepala. “Ya... sudah selesai.”
Orang-orang mulai berbisik. Ada yang bingung, ada yang
curiga.
“Bukannya haji itu lama?”
“Iya, biasanya nunggu Idul Adha dulu...”
Desas-desus makin keras. Sampai akhirnya seseorang dari
kota—keponakan Pak Lurah—yang paham urusan haji, datang dan bertanya langsung.
“Mas Syarif, berangkatnya lewat travel mana?”
Syarif diam.
“Naik pesawat dari mana?”
Syarif menelan ludah.
“Mas... benar ke Mekkah, kan?”
Pertanyaan itu seperti batu yang dilempar ke permukaan air
tenang. Semua mata tertuju pada Syarif.
Akhirnya, pelan-pelan, kebenaran itu keluar.
Syarif tidak pernah ke Mekkah.
Ia hanya pergi ke kota terdekat. Naik bus ekonomi. Menginap
di masjid, berpindah-pindah. Menghabiskan hari-harinya dengan tidur, mandi di
tempat wudu, dan sesekali berjalan tanpa tujuan.
Ia tidak tahu bahwa haji punya waktu, punya rukun, punya
tempat yang jauh di luar jangkauannya.
Yang ia tahu hanya satu: orang yang pulang dari haji akan
dipanggil “Haji”. Dihormati. Dikenal. Mungkin hidupnya akan lebih baik.
Dan amplop-amplop itu—ia kira cukup untuk memulai semuanya.
Kampung Betager terdiam.
Tidak ada yang marah dengan suara keras. Tidak ada yang
memaki. Tapi kekecewaan itu terasa lebih berat dari amarah.
Pak Lurah menghela napas panjang. “Syarif... ini bukan soal
gelar.”
Syarif menunduk dalam-dalam.
Sejak hari itu, ia kembali menjual air. Sama seperti
sebelumnya. Tidak ada yang berubah pada pekerjaannya. Ia tetap memanggul
jeriken, tetap bangun sebelum subuh, tetap berjalan dari rumah ke rumah.
Hanya satu yang berubah.
Tidak ada lagi yang memanggilnya dengan nada kagum. Tidak
ada lagi senyum bangga yang dulu sempat muncul.
Dan ia pun tidak pernah lagi menyebut dirinya “Haji”.
Suatu sore, ketika matahari mulai turun dan anak-anaknya
bermain di depan rumah, Syarif duduk diam di tangga bambu. Rukayah di
sampingnya.
“Bang,” kata Rukayah pelan, “kenapa waktu itu...?”
Syarif menatap jauh ke arah sumur.
“Aku capek miskin, Kay,” jawabnya lirih. “Aku pikir...
dengan satu cara, hidup bisa berubah.”
Rukayah tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan
suaminya, erat.
Di kejauhan, suara timba kembali terdengar. Kali ini bukan
dari tangan Syarif, melainkan dari orang lain yang mulai mengambil air sendiri.
Dan di situlah Syarif akhirnya mengerti—ada hal-hal yang
tidak bisa dibeli dengan amplop, tidak bisa dipercepat dengan tipu daya.
Termasuk kehormatan. (Bogor, 06-06-2026)