Abdul Rahman Saleh
Bagian I Kisah Bulan Desember
Hujan Desember malam itu jatuh seperti tirai panjang yang menutupi seluruh dunia. Dedaunan gemetar diterpa angin, aroma tanah basah naik dari halaman, dan lampu-lampu jalan memantulkan kilau yang tidak pernah membuatku setenang dulu. Mungkin karena malam ini aku datang ke tempat yang dulu kupanggil rumah, tapi kini terasa seperti sebuah ruang yang tak lagi mempersilakan aku masuk.
Aku berdiri di depan pintu rumah Sufi.
Tangan kananku mengetuk pelan. Hanya sekali. Suaranya
tenggelam oleh deras hujan.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka, dan wajah yang selama
ini kutahan untuk tidak aku bayangkan muncul di hadapanku.
“Sufi…” suaraku pecah.
Ia berdiri di ambang pintu, tubuhnya dibungkus sweater krem
yang sudah kusam warnanya karena usia. Rambutnya diikat setengah, dan wajahnya
terlihat lebih dewasa, lebih letih… dan lebih jauh.
Namun ia tetap Sufi—perempuan yang dulu kukenal sebagai
pusat dunia kecilku.
“Kamu datang,” katanya pelan. Tidak dingin. Tidak hangat.
Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melukai dan terluka.
Aku hanya mengangguk. Hujan menetes dari rambutku ke lantai
terasnya. “Boleh aku masuk?”
Ia memberi jalan. Tanpa senyum, tanpa protes, tanpa
keengganan. Sikap yang anehnya justru membuat dadaku lebih sesak.
Rumah itu masih sama: kecil, hangat, beraroma kayu basah dan
bunga melati. Tapi ruang di dalamnya terasa sedikit lebih kosong, seperti ada
satu kursi yang sengaja dibuang agar tidak mengingatkan siapa pun pada
seseorang yang sudah pergi.
Aku.
Kami duduk di teras—tempat yang dulu menyimpan begitu banyak
percakapan manis. Rasanya begitu familiar, tapi sekaligus asing.
“Bagaimana kabarmu, Man?” Sufi bertanya tanpa menatapku.
“Baik,” jawabku. “Kamu?”
Sufi menghela napas. “Baik juga.”
Jawaban itu terlalu rapi. Terlalu aman. Bukan jawaban Sufi
yang dulu.
Aku meremas jemari sendiri. “Aku ingin bicara.”
“Aku tahu,” sahutnya.
Sunyi turun seperti kabut. Hanya
suara hujan yang mengisi celah-celah antara kami.
Aku menarik napas panjang. “Aku kangen.”
Sufi tersenyum kecil, tapi senyum itu seperti sayatan tipis.
“Aku tahu juga.”
Setelah itu ia menunduk, memandang ujung jarinya. “Arman…
waktu kamu hilang, aku tidak tahu harus percaya apa.”
Aku menelan ludah. “Maaf.”
“Bukan cuma soal hilang,” tambahnya. “Tapi soal kamu tidak
bilang apa-apa.”
Aku memejam. Di dalam gelap, aku kembali melihat semua
kesalahan yang kubuat.
“Aku takut, Suf.”
“Takut apa?”
“Takut masa depan.”
Sufi menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya
benar-benar menatap ke mataku. Ada sesuatu di sana—bukan marah, bukan
benci—melainkan rasa ingin mengerti yang sudah kelelahan.
“Aku takut gagal,” lanjutku. “Takut tidak bisa bahagiakan
kamu. Takut kamu kecewa. Takut kamu lihat aku tidak seperti yang kamu
bayangkan.”
Sufi menghela napas panjang, sangat panjang. “Kamu tahu apa
yang aku takutkan?”
Aku menatapnya. “Apa?”
“Aku takut kamu tidak ingin memperjuangkan aku.”
Aku tertusuk.
“Masa depan itu bisa kita cari sama-sama, Man,” katanya.
“Tapi kamu memilih melawannya sendiri… dan menyingkirkan aku.”
Aku merangkai kata-kata yang tidak pernah kusampaikan: “Aku
janji waktu itu… aku akan selalu ada buat kamu.”
“Dan kamu pergi,” potongnya.
Aku menunduk, wajahku memanas oleh penyesalan yang terlalu
dalam untuk diukur.
****
Pikiran itu kembali pada hari-hari dulu, cinta pertama kami
yang begitu indah. Aku masih ingat saat pertama kali melihatnya di perpustakaan
kampus. Sufi duduk di antara tumpukan buku, menandai kalimat-kalimat favoritnya
dengan sticky note warna-warni.
Aku jatuh cinta pada caranya mencatat, pada caranya
memainkan rambut saat berpikir, pada caranya menatap dunia dengan harapan yang
begitu besar.
“Kamu suka membaca?” tanyaku waktu itu.
Sufi menoleh dengan senyum yang sekarang sudah jarang
muncul. “Bacaan membuat aku tidak merasa sendirian.”
“Kalau begitu… boleh aku menemani?” tanyaku gugup.
Ia tertawa kecil. “Kalau kamu bisa diam, boleh.”
Tawa. Tatap mata. Debar-debar pertama. Cinta pertama.
Semuanya begitu mudah, begitu indah, begitu polos… sampai
aku mulai memikirkan masa depan. Sampai aku menyadari aku tidak punya apa-apa.
Sampai aku mengecilkan diriku sendiri sampai aku yakin Sufi pantas mendapatkan
yang lebih baik.
Dan di situlah kesalahan terbesarku dimulai.
****
Kembali ke teras. Kembali ke malam Desember.
Hujan tidak berhenti.
Sufi bersandar ke kursi, menutup matanya sebentar. Aku
melihat alisnya sedikit bergetar—tanda bahwa ia menahan sesuatu yang ingin
pecah.
“Arman…” suaranya lembut sekali, “…kamu pernah janji.”
Aku mengangguk pelan. “Aku ingat.”
“Kamu bilang akan mendampingi aku seberapa susah pun hidup
nanti.”
Aku menggigit bibir. “Dan aku gagal.”
Sufi menggeleng. “Bukan soal gagal atau berhasil. Aku tidak
butuh sempurna. Aku hanya butuh kamu tetap ada.”
Dia menahan napas sebentar, lalu suaranya berubah agak
bergetar.
“Tapi waktu aku menunggu… kamu justru pergi.”
Aku memejam. “Semua ini menimpamu karena aku.”
“Tidak, Man.” Ia menggeleng pelan lagi. “Rasanya tidak adil
kalau aku menyalahkan semuanya ke kamu. Tapi aku tidak bisa bilang aku tidak
terluka.”
Sufi memeluk lengan sendiri, seperti ingin melindungi
dirinya dari sesuatu yang tak terlihat.
“Aku setia karena aku percaya kamu akan kembali,” katanya
lirih. “Tapi waktu kamu kembali, rasanya aku bukan lagi rumah buat kamu.”
“Sufi…” suaraku hancur.
Dia tersenyum tipis—salah satu senyuman paling menyedihkan
yang pernah kulihat. “Cinta pertama kita indah sekali, Man.”
Aku ingin menangis.
“Tapi mungkin itu memang tugas cinta pertama,” lanjutnya.
“Untuk mengajarkan kita apa artinya merawat seseorang, dan apa artinya
kehilangan.”
Aku mendekat sedikit. “Kalau aku masih ingin memperbaiki?”
Sufi terdiam lama. Sangat lama. Hanya suara hujan yang
menjawab.
Akhirnya ia berkata:
“Kita sudah retak terlalu lama.”
Aku menunduk.
“Tapi bukan berarti aku tidak sayang lagi,” tambahnya.
Mataku membesar. “Kamu masih…?”
“Sayang itu tidak hilang, Arman,” katanya pelan. “Tapi
bentuknya berubah.”
Sufi menarik napas.
“Kamu tetap orang yang akan aku doakan diam-diam. Tetapi bukan lagi orang yang
akan aku tunggu.”
Detik itu, sesuatu dalam diriku runtuh.
****
Aku berdiri di depan gerbang rumahnya. Hujan masih turun
seperti tirai yang tak memberi celah. Sufi berdiri di pintu, memandangku dari
balik cahaya lampu ruang tamu.
Tidak ada air mata di pipinya.
Justru itu yang membuatku semakin remuk.
Karena aku tahu ia sudah melewati masa menangisinya.
Ini adalah fase di mana ia belajar merelakan.
“Selamat malam, Man…” katanya lembut.
“…jaga dirimu.”
Pintu menutup perlahan.
Seperti halaman terakhir dari buku yang terlalu indah untuk
ditutup.
Aku berjalan pergi, menembus hujan sambil membawa satu
kalimat yang berputar-putar di dadaku:
Cinta pertama kita indah sekali… tapi tidak semua yang
indah bisa dipertahankan.
Angin Desember mengguncang pohon-pohon di sekelilingku,
meneriakkan sesuatu yang terdengar seperti gema dari masa lalu:
“Badai bulan Desember… Desember… Desember…”
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa badai itu
bukan datang dari langit.
Badai itu datang dari dalam diriku sendiri.
****
Bagian II — Kenangan Desember
Tiga bulan sudah berlalu sejak malam Desember yang memecah
hidupku menjadi dua bagian: sebelum Sufi dan sesudah Sufi.
Dan dalam setiap langkah yang kuambil sejak itu, aku selalu merasa seperti
berjalan di atas kenangan yang belum tuntas padam.
“Kenangan Desember di tahun yang lalu… membawa duka
kecewa…”
Lirik itu berputar di kepalaku saat aku duduk sendirian di
kafe kecil dekat kampus lama. Di luar jendela, hujan tipis turun, seperti
sengaja mengulang suasana malam ketika aku dan Sufi mengakhiri sesuatu yang
dulu paling berarti.
Aku membuka laptop, berniat menulis laporan kerja, tapi
pikiran ini membawaku kembali ke wajahnya. Cara ia menunduk saat menahan
perasaan. Cara suaranya bergetar ketika berkata “bukan lagi orang yang akan
aku tunggu.”
Sejak malam itu, aku sering mencoba menghapus jejaknya dari
kepalaku.
Tapi justru di situlah luka paling dalam itu tinggal: tempat
yang tidak bisa dijangkau oleh logika.
“Dalam derita di hatiku yang membekas selalu…”
Aku menutup laptop. Mustahil bekerja.
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah perpisahan, aku
memutuskan kembali ke tempat yang dahulu sering kami datangi: taman kecil di
belakang kampus. Tempat Sufi suka membaca sambil duduk di bawah pohon
flamboyan.
Aku berjalan perlahan, seolah takut menginjak kenangan yang
berserakan di sepanjang jalur setapak.
Taman itu tidak berubah. Masih sunyi, masih rimbun, masih
punya aroma tanah yang sama.
Tapi ada satu yang berbeda:
tidak ada Sufi di sana.
Aku duduk di bangku yang dulu sering kami rebutkan. Di bawah
rintik hujan, aku membiarkan semuanya kembali tanpa kuundang.
Sufi tertawa saat membaca puisinya sendiri.
Sufi menyandarkan kepala di pundakku karena dingin.
Sufi berkata ia ingin hidup sederhana, asal bersama orang yang ia percaya.
Semua itu datang silih berganti, seperti slideshow luka yang
tidak berhenti.
“Ku ingin lupakan saat bersamamu… berakhir kisah yang
indah…”
Aku mengusap wajah, mencoba menahan perasaan yang
menggulung.
Bagiku, melupakan berarti mengkhianati apa yang pernah
begitu indah.
Tapi mengingat—justru menyiksa.
Dan di sanalah aku berada:
di tengah jurang antara ingin melepas dan ingin kembali.
****
Suatu sore, tanpa rencana, aku melihatnya.
Sufi.
Ia keluar dari toko buku kecil di sudut jalan, membawa dua
novel di tangan. Rambutnya dibiarkan terurai. Ia tampak lebih tenang, lebih
matang, lebih… damai.
Aku berdiri terpaku di seberang jalan.
Sufi tidak melihatku. Ia melangkah pelan, seolah setiap
langkahnya tidak lagi membawa beban dari masa lalu. Ada senyum tipis di
wajahnya ketika hujan mulai turun. Senyum yang dulu begitu kukenal—tapi malam
ini tampak bukan untukku lagi.
Dadaku bergemuruh.
Dan seakan lirik itu ikut menyentak:
“Bagi diriku dan dirimu yang menyiksa selalu hingga kini…”
Aku ingin memanggilnya.
Ingin sekadar mengucap, “Sufi… apa kabar kamu sekarang?”
Tapi kakiku tidak bergerak.
Ada sesuatu dalam sikapnya yang mengatakan bahwa ia sudah jauh lebih baik
tanpaku.
Sufi berjalan perlahan ke halte bus, menunggu di bawah atap
kecil. Aku berdiri beberapa meter di belakang, seperti seseorang yang takut
merusak ketenangan dalam hidup orang lain.
Sejenak, tatapannya mengarah kepadaku.
Mungkin ia melihat bayangan seseorang di kejauhan.
Mungkin hanya sekilas.
Mungkin hanya kebetulan.
Tapi ia tidak mengenaliku.
Atau memilih untuk tidak mengenali.
Bus datang.
Sufi naik.
Pintu tertutup.
Dan bisu yang tertinggal setelah itu rasanya seperti
menghantam seluruh dadaku.
****
Malam harinya, aku berjalan pulang melewati jembatan kecil.
Angin dingin menyapu wajahku, dan semua rasa itu kembali berdesakan:
kerinduan, sedih, sedikit marah pada diri sendiri, tapi
juga… penerimaan yang mulai tumbuh.
Seperti lirik itu,
“Sedih, senang… sekejap berganti kembali…
Duka, bila kuingat di masa yang lalu…”
Aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua kenangan harus
dilupakan.
Beberapa kenangan harus diterima seperti musim—datang, melekat, lalu pergi.
Sufi adalah musim itu bagiku.
Hadir seperti matahari pagi, hilang seperti senja yang perlahan meredup.
Tapi kehangatannya tetap melekat dalam ingatan.
Aku berhenti di tengah jembatan dan memandang sungai gelap
yang mengalir di bawah.
“Terima kasih, Sufi…” bisikku ke malam.
“…untuk yang pernah kita punya. Untuk yang tidak sempat kita perjuangkan
bersama. Untuk luka yang mengajariku mencintai tanpa takut lagi.”
Angin membawa suaraku entah ke mana.
Dan untuk pertama kalinya sejak Desember itu, aku merasa
mampu berjalan lagi—tanpa bayangan ingin kembali, tanpa dendam, tanpa
penyesalan yang menghimpit.
Hanya dengan satu hal yang masih tinggal:
cinta yang tidak lagi ingin digenggam…
tapi juga tidak akan pernah benar-benar hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar