Senin, 08 Desember 2025

Badai Bulan Desember

Abdul Rahman Saleh

Bagian I Kisah Bulan Desember

Hujan Desember malam itu jatuh seperti tirai panjang yang menutupi seluruh dunia. Dedaunan gemetar diterpa angin, aroma tanah basah naik dari halaman, dan lampu-lampu jalan memantulkan kilau yang tidak pernah membuatku setenang dulu. Mungkin karena malam ini aku datang ke tempat yang dulu kupanggil rumah, tapi kini terasa seperti sebuah ruang yang tak lagi mempersilakan aku masuk.

Aku berdiri di depan pintu rumah Sufi.

Tangan kananku mengetuk pelan. Hanya sekali. Suaranya tenggelam oleh deras hujan.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka, dan wajah yang selama ini kutahan untuk tidak aku bayangkan muncul di hadapanku.

“Sufi…” suaraku pecah.

Ia berdiri di ambang pintu, tubuhnya dibungkus sweater krem yang sudah kusam warnanya karena usia. Rambutnya diikat setengah, dan wajahnya terlihat lebih dewasa, lebih letih… dan lebih jauh.

Namun ia tetap Sufi—perempuan yang dulu kukenal sebagai pusat dunia kecilku.

“Kamu datang,” katanya pelan. Tidak dingin. Tidak hangat. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melukai dan terluka.

Aku hanya mengangguk. Hujan menetes dari rambutku ke lantai terasnya. “Boleh aku masuk?”

Ia memberi jalan. Tanpa senyum, tanpa protes, tanpa keengganan. Sikap yang anehnya justru membuat dadaku lebih sesak.

Rumah itu masih sama: kecil, hangat, beraroma kayu basah dan bunga melati. Tapi ruang di dalamnya terasa sedikit lebih kosong, seperti ada satu kursi yang sengaja dibuang agar tidak mengingatkan siapa pun pada seseorang yang sudah pergi.

Aku.

Kami duduk di teras—tempat yang dulu menyimpan begitu banyak percakapan manis. Rasanya begitu familiar, tapi sekaligus asing.

“Bagaimana kabarmu, Man?” Sufi bertanya tanpa menatapku.

“Baik,” jawabku. “Kamu?”

Sufi menghela napas. “Baik juga.”

Jawaban itu terlalu rapi. Terlalu aman. Bukan jawaban Sufi yang dulu.

Aku meremas jemari sendiri. “Aku ingin bicara.”

“Aku tahu,” sahutnya.

Sunyi turun seperti kabut. Hanya suara hujan yang mengisi celah-celah antara kami.

Aku menarik napas panjang. “Aku kangen.”

Sufi tersenyum kecil, tapi senyum itu seperti sayatan tipis. “Aku tahu juga.”

Setelah itu ia menunduk, memandang ujung jarinya. “Arman… waktu kamu hilang, aku tidak tahu harus percaya apa.”

Aku menelan ludah. “Maaf.”

“Bukan cuma soal hilang,” tambahnya. “Tapi soal kamu tidak bilang apa-apa.”

Aku memejam. Di dalam gelap, aku kembali melihat semua kesalahan yang kubuat.

“Aku takut, Suf.”

“Takut apa?”

“Takut masa depan.”

Sufi menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya benar-benar menatap ke mataku. Ada sesuatu di sana—bukan marah, bukan benci—melainkan rasa ingin mengerti yang sudah kelelahan.

“Aku takut gagal,” lanjutku. “Takut tidak bisa bahagiakan kamu. Takut kamu kecewa. Takut kamu lihat aku tidak seperti yang kamu bayangkan.”

Sufi menghela napas panjang, sangat panjang. “Kamu tahu apa yang aku takutkan?”

Aku menatapnya. “Apa?”

“Aku takut kamu tidak ingin memperjuangkan aku.”

Aku tertusuk.

“Masa depan itu bisa kita cari sama-sama, Man,” katanya. “Tapi kamu memilih melawannya sendiri… dan menyingkirkan aku.”

Aku merangkai kata-kata yang tidak pernah kusampaikan: “Aku janji waktu itu… aku akan selalu ada buat kamu.”

“Dan kamu pergi,” potongnya.

Aku menunduk, wajahku memanas oleh penyesalan yang terlalu dalam untuk diukur.

****

Pikiran itu kembali pada hari-hari dulu, cinta pertama kami yang begitu indah. Aku masih ingat saat pertama kali melihatnya di perpustakaan kampus. Sufi duduk di antara tumpukan buku, menandai kalimat-kalimat favoritnya dengan sticky note warna-warni.

Aku jatuh cinta pada caranya mencatat, pada caranya memainkan rambut saat berpikir, pada caranya menatap dunia dengan harapan yang begitu besar.

“Kamu suka membaca?” tanyaku waktu itu.

Sufi menoleh dengan senyum yang sekarang sudah jarang muncul. “Bacaan membuat aku tidak merasa sendirian.”

“Kalau begitu… boleh aku menemani?” tanyaku gugup.

Ia tertawa kecil. “Kalau kamu bisa diam, boleh.”

Tawa. Tatap mata. Debar-debar pertama. Cinta pertama.

Semuanya begitu mudah, begitu indah, begitu polos… sampai aku mulai memikirkan masa depan. Sampai aku menyadari aku tidak punya apa-apa. Sampai aku mengecilkan diriku sendiri sampai aku yakin Sufi pantas mendapatkan yang lebih baik.

Dan di situlah kesalahan terbesarku dimulai.

****

Kembali ke teras. Kembali ke malam Desember.

Hujan tidak berhenti.

Sufi bersandar ke kursi, menutup matanya sebentar. Aku melihat alisnya sedikit bergetar—tanda bahwa ia menahan sesuatu yang ingin pecah.

“Arman…” suaranya lembut sekali, “…kamu pernah janji.”

Aku mengangguk pelan. “Aku ingat.”

“Kamu bilang akan mendampingi aku seberapa susah pun hidup nanti.”

Aku menggigit bibir. “Dan aku gagal.”

Sufi menggeleng. “Bukan soal gagal atau berhasil. Aku tidak butuh sempurna. Aku hanya butuh kamu tetap ada.”

Dia menahan napas sebentar, lalu suaranya berubah agak bergetar.

“Tapi waktu aku menunggu… kamu justru pergi.”

Aku memejam. “Semua ini menimpamu karena aku.”

“Tidak, Man.” Ia menggeleng pelan lagi. “Rasanya tidak adil kalau aku menyalahkan semuanya ke kamu. Tapi aku tidak bisa bilang aku tidak terluka.”

Sufi memeluk lengan sendiri, seperti ingin melindungi dirinya dari sesuatu yang tak terlihat.

“Aku setia karena aku percaya kamu akan kembali,” katanya lirih. “Tapi waktu kamu kembali, rasanya aku bukan lagi rumah buat kamu.”

“Sufi…” suaraku hancur.

Dia tersenyum tipis—salah satu senyuman paling menyedihkan yang pernah kulihat. “Cinta pertama kita indah sekali, Man.”

Aku ingin menangis.

“Tapi mungkin itu memang tugas cinta pertama,” lanjutnya. “Untuk mengajarkan kita apa artinya merawat seseorang, dan apa artinya kehilangan.”

Aku mendekat sedikit. “Kalau aku masih ingin memperbaiki?”

Sufi terdiam lama. Sangat lama. Hanya suara hujan yang menjawab.

Akhirnya ia berkata:

“Kita sudah retak terlalu lama.”

Aku menunduk.

“Tapi bukan berarti aku tidak sayang lagi,” tambahnya.

Mataku membesar. “Kamu masih…?”

“Sayang itu tidak hilang, Arman,” katanya pelan. “Tapi bentuknya berubah.”
Sufi menarik napas.
“Kamu tetap orang yang akan aku doakan diam-diam. Tetapi bukan lagi orang yang akan aku tunggu.”

Detik itu, sesuatu dalam diriku runtuh.

****

Aku berdiri di depan gerbang rumahnya. Hujan masih turun seperti tirai yang tak memberi celah. Sufi berdiri di pintu, memandangku dari balik cahaya lampu ruang tamu.

Tidak ada air mata di pipinya.
Justru itu yang membuatku semakin remuk.

Karena aku tahu ia sudah melewati masa menangisinya.
Ini adalah fase di mana ia belajar merelakan.

“Selamat malam, Man…” katanya lembut.
“…jaga dirimu.”

Pintu menutup perlahan.

Seperti halaman terakhir dari buku yang terlalu indah untuk ditutup.

Aku berjalan pergi, menembus hujan sambil membawa satu kalimat yang berputar-putar di dadaku:

Cinta pertama kita indah sekali… tapi tidak semua yang indah bisa dipertahankan.

Angin Desember mengguncang pohon-pohon di sekelilingku, meneriakkan sesuatu yang terdengar seperti gema dari masa lalu:

“Badai bulan Desember… Desember… Desember…”

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa badai itu bukan datang dari langit.

Badai itu datang dari dalam diriku sendiri.

****

Bagian II — Kenangan Desember

Tiga bulan sudah berlalu sejak malam Desember yang memecah hidupku menjadi dua bagian: sebelum Sufi dan sesudah Sufi.
Dan dalam setiap langkah yang kuambil sejak itu, aku selalu merasa seperti berjalan di atas kenangan yang belum tuntas padam.

Kenangan Desember di tahun yang lalu… membawa duka kecewa…

Lirik itu berputar di kepalaku saat aku duduk sendirian di kafe kecil dekat kampus lama. Di luar jendela, hujan tipis turun, seperti sengaja mengulang suasana malam ketika aku dan Sufi mengakhiri sesuatu yang dulu paling berarti.

Aku membuka laptop, berniat menulis laporan kerja, tapi pikiran ini membawaku kembali ke wajahnya. Cara ia menunduk saat menahan perasaan. Cara suaranya bergetar ketika berkata “bukan lagi orang yang akan aku tunggu.”

Sejak malam itu, aku sering mencoba menghapus jejaknya dari kepalaku.

Tapi justru di situlah luka paling dalam itu tinggal: tempat yang tidak bisa dijangkau oleh logika.

Dalam derita di hatiku yang membekas selalu…

Aku menutup laptop. Mustahil bekerja.

Sore itu, untuk pertama kalinya setelah perpisahan, aku memutuskan kembali ke tempat yang dahulu sering kami datangi: taman kecil di belakang kampus. Tempat Sufi suka membaca sambil duduk di bawah pohon flamboyan.

Aku berjalan perlahan, seolah takut menginjak kenangan yang berserakan di sepanjang jalur setapak.

Taman itu tidak berubah. Masih sunyi, masih rimbun, masih punya aroma tanah yang sama.

Tapi ada satu yang berbeda:
tidak ada Sufi di sana.

Aku duduk di bangku yang dulu sering kami rebutkan. Di bawah rintik hujan, aku membiarkan semuanya kembali tanpa kuundang.

Sufi tertawa saat membaca puisinya sendiri.
Sufi menyandarkan kepala di pundakku karena dingin.
Sufi berkata ia ingin hidup sederhana, asal bersama orang yang ia percaya.

Semua itu datang silih berganti, seperti slideshow luka yang tidak berhenti.

Ku ingin lupakan saat bersamamu… berakhir kisah yang indah…

Aku mengusap wajah, mencoba menahan perasaan yang menggulung.

Bagiku, melupakan berarti mengkhianati apa yang pernah begitu indah.
Tapi mengingat—justru menyiksa.

Dan di sanalah aku berada:
di tengah jurang antara ingin melepas dan ingin kembali.

****

Suatu sore, tanpa rencana, aku melihatnya.
Sufi.

Ia keluar dari toko buku kecil di sudut jalan, membawa dua novel di tangan. Rambutnya dibiarkan terurai. Ia tampak lebih tenang, lebih matang, lebih… damai.

Aku berdiri terpaku di seberang jalan.

Sufi tidak melihatku. Ia melangkah pelan, seolah setiap langkahnya tidak lagi membawa beban dari masa lalu. Ada senyum tipis di wajahnya ketika hujan mulai turun. Senyum yang dulu begitu kukenal—tapi malam ini tampak bukan untukku lagi.

Dadaku bergemuruh.

Dan seakan lirik itu ikut menyentak:

Bagi diriku dan dirimu yang menyiksa selalu hingga kini…

Aku ingin memanggilnya.
Ingin sekadar mengucap, “Sufi… apa kabar kamu sekarang?”

Tapi kakiku tidak bergerak.
Ada sesuatu dalam sikapnya yang mengatakan bahwa ia sudah jauh lebih baik tanpaku.

Sufi berjalan perlahan ke halte bus, menunggu di bawah atap kecil. Aku berdiri beberapa meter di belakang, seperti seseorang yang takut merusak ketenangan dalam hidup orang lain.

Sejenak, tatapannya mengarah kepadaku.
Mungkin ia melihat bayangan seseorang di kejauhan.
Mungkin hanya sekilas.
Mungkin hanya kebetulan.

Tapi ia tidak mengenaliku.
Atau memilih untuk tidak mengenali.

Bus datang.
Sufi naik.
Pintu tertutup.

Dan bisu yang tertinggal setelah itu rasanya seperti menghantam seluruh dadaku.

****

Malam harinya, aku berjalan pulang melewati jembatan kecil. Angin dingin menyapu wajahku, dan semua rasa itu kembali berdesakan:

kerinduan, sedih, sedikit marah pada diri sendiri, tapi juga… penerimaan yang mulai tumbuh.

Seperti lirik itu,

Sedih, senang… sekejap berganti kembali…
Duka, bila kuingat di masa yang lalu…

Aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua kenangan harus dilupakan.
Beberapa kenangan harus diterima seperti musim—datang, melekat, lalu pergi.

Sufi adalah musim itu bagiku.
Hadir seperti matahari pagi, hilang seperti senja yang perlahan meredup.
Tapi kehangatannya tetap melekat dalam ingatan.

Aku berhenti di tengah jembatan dan memandang sungai gelap yang mengalir di bawah.

“Terima kasih, Sufi…” bisikku ke malam.
“…untuk yang pernah kita punya. Untuk yang tidak sempat kita perjuangkan bersama. Untuk luka yang mengajariku mencintai tanpa takut lagi.”

Angin membawa suaraku entah ke mana.

Dan untuk pertama kalinya sejak Desember itu, aku merasa mampu berjalan lagi—tanpa bayangan ingin kembali, tanpa dendam, tanpa penyesalan yang menghimpit.

Hanya dengan satu hal yang masih tinggal:

cinta yang tidak lagi ingin digenggam…
tapi juga tidak akan pernah benar-benar hilang.

ARS, Bogor, 9 Desember 2025
*************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...