Abdul R Saleh
Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah
tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung. Beratap seng yang kalau hujan berbunyi seperti
ribuan kenangan jatuh bersamaan. Meja-mejanya tak seragam, kursinya ada yang
pincang, dan dindingnya dipenuhi bekas asap masakan yang tak pernah benar-benar
hilang.
Di situlah aku makan hampir setiap hari.
Bukan karena enak—meski rasanya cukup. Tapi karena aku tidak
punya banyak pilihan.
Sebagai mahasiswa dengan kiriman pas-pasan, aku belajar
mengukur lapar dengan uang di saku. Dan warung itu… adalah satu-satunya tempat
di mana aku masih bisa makan tanpa merasa bersalah. Bahkan aku bisa berhutang.
Karena kiriman dari kampung belum datang.
Di sanalah aku mengenalnya.
Tini.
Ia bukan siapa-siapa bagi dunia. Hanya anak pemilik warung.
Pakaiannya sederhana, rambutnya sering diikat seadanya, dan tangannya hampir
selalu sibuk—mengangkat piring, menuang air, atau mencatat pesanan.
Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku selalu ingin
kembali.
Mungkin caranya tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat
seperti pelayan restoran besar. Senyumnya jujur, hangat, dan… terasa seperti
rumah.
“Seperti biasa?” tanyanya suatu siang.
Aku mengangguk. “Kalau boleh, nasinya sedikit lebih banyak.”
Ia tertawa kecil. “Nanti ibu marah.”
“Tapi kamu kan yang ambil nasi.”
Ia menatapku sejenak, lalu diam-diam menambahkan satu sendok
lagi.
Sejak saat itu, aku mulai menunggunya—bukan hanya
makanannya.
***
Kami semakin dekat, tanpa pernah benar-benar
merencanakannya.
Kadang aku membantu membereskan meja. Kadang ia duduk
sebentar di depanku saat warung sepi. Kami bercerita tentang hal-hal sederhana:
kuliahku, capeknya dia membantu ibunya, dan mimpi-mimpi kecil yang terdengar
terlalu jauh untuk digapai.
“Aku sebenarnya ingin lanjut sekolah lagi,” katanya suatu
sore.
“Kenapa tidak?” tanyaku.
Ia tersenyum tipis. “Warung ini siapa yang jaga?”
Aku tidak punya jawaban.
Seperti banyak hal dalam hidup kami—yang ada bukan pilihan,
tapi keadaan.
***
Aku mulai merasa sesuatu yang aneh dalam diriku.
Bukan hanya suka.
Tapi ingin memiliki.
Aku tidak keberatan Tini melayani mahasiswa lain. Itu bagian
dari hidupnya. Tapi ada hal-hal yang mulai menggangguku.
Mahasiswa-mahasiswa itu…
Tidak semuanya baik.
Beberapa dari mereka mulai meminta hal-hal yang lebih. Bukan
sekadar makan di warung.
“Tin, tolong antar ke kamar, ya,” kata salah satu dari
mereka suatu malam.
Aku melihat Tini ragu.
“Iya, bentar, Kak,” jawabnya akhirnya.
Aku diam. Tapi dadaku terasa sesak.
Hari-hari berikutnya, permintaan seperti itu semakin sering.
Mengantar ke kamar kos.
Awalnya kupikir itu biasa. Tapi kemudian aku mulai melihat
hal-hal yang tidak seharusnya.
Tini pulang dengan wajah yang berbeda.
Kadang lebih diam.
Kadang senyumnya terasa dipaksakan.
Suatu malam, aku menunggunya di depan warung.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Kenapa apanya?” ia balik bertanya.
“Kamu capek… atau ada apa?”
Ia menggeleng. “Biasa saja.”
Tapi aku tahu itu bukan “biasa saja”.
Aku akhirnya melihat sendiri.
Seorang mahasiswa memanggilnya dari pintu kos.
“Tin, masuk sini sebentar,” katanya santai, seolah itu hal
wajar.
Aku berdiri cukup dekat untuk mendengar.
“Ambilin itu, dong.”
“Eh, sekalian buang sampahnya ya.”
Nada suaranya bukan meminta.
Tapi menyuruh.
Seperti… seperti Tini bukan siapa-siapa.
Tanganku mengepal.
Saat Tini keluar, aku langsung menghampirinya.
“Kamu kenapa nurut?” tanyaku, suaraku tertahan.
Ia terkejut. “Lho… itu pelanggan…”
“Pelanggan bukan berarti bisa seenaknya!”
Ia diam.
Aku melanjutkan, lebih keras, “Kamu itu bukan pembantu
mereka!”
Tini menunduk. “Aku cuma bantu…”
“Bantu atau diperlakukan semena-mena?”
Ia tidak menjawab.
Dan diamnya… justru membuatku semakin marah.
***
Sejak saat itu, aku mulai melarangnya.
“Jangan antar ke kamar lagi,” kataku suatu hari.
“Kalau mereka minta?”
“Bilang tidak.”
Ia menatapku lama. “Semudah itu?”
Aku terdiam.
Memang tidak semudah itu.
Warung itu hidup dari mereka. Dari mahasiswa-mahasiswa itu.
Dari pesanan yang kadang justru datang karena layanan “lebih” seperti itu.
“Aku cuma tidak mau kamu diperlakukan seperti…” aku
berhenti.
Seperti apa?
Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.
Tapi dalam hatiku, aku tahu.
Seperti seseorang yang tidak dihargai.
Seperti seseorang yang bisa dipanggil, disuruh, dan…
diremehkan.
Malam itu, Tini berkata pelan, “Kamu marah karena kamu
sayang… atau karena kamu tidak suka melihatku dekat dengan mereka?”
Pertanyaan itu menamparku.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena mungkin… jawabannya bukan satu.
“Aku cuma ingin kamu dihargai,” kataku akhirnya.
Ia tersenyum kecil.
“Kadang, untuk bertahan hidup… kita harus menelan hal-hal
yang tidak kita suka.”
Aku menatapnya. “Tapi bukan berarti kamu harus kehilangan
harga diri.”
Ia terdiam.
Lalu berkata pelan, “Dan bukan berarti kamu harus mengatur
hidupku sepenuhnya.”
***
Sejak malam itu, aku banyak berpikir.
Tentang cinta.
Tentang ego.
Tentang bagaimana aku ingin melindunginya… tapi mungkin
tanpa sadar, juga mengekangnya.
Aku teringat satu hal sederhana:
Bahwa mencintai seseorang bukan berarti memiliki hidupnya.
Beberapa hari kemudian, aku kembali ke warung seperti biasa.
Tini datang membawa sepiring nasi.
“Seperti biasa?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Lalu berkata pelan, “Kalau kamu harus antar pesanan…
hati-hati, ya.”
Ia menatapku, sedikit terkejut.
“Kamu tidak marah lagi?”
Aku tersenyum tipis. “Aku masih tidak suka. Tapi aku sedang
belajar percaya.”
Tini tersenyum.
Senyum yang sama seperti pertama kali aku melihatnya.
Hangat.
Jujur.
Dan kali ini… terasa lebih kuat.
Di dunia yang sederhana itu, kami tidak punya banyak hal
untuk dibanggakan.
Hanya sepiring nasi.
Hanya warung kecil.
Dan cinta yang masih belajar menjadi dewasa.
Aku tidak bisa mengubah cara dunia memperlakukan Tini.
Tapi aku bisa memilih…
Untuk tetap di sisinya.
Tanpa menghakimi.
Tanpa menguasai.
Dan mungkin, itu satu-satunya cara agar cinta kami tetap
bersih—
Di tengah dunia yang sering lupa cara menghargai manusia.
(Boo, 2/4/2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar