Rabu, 06 Agustus 2025

Di Balik Kabut Bandungan

 Abdul Rahman Saleh

Bandungan, kota kecil di lereng gunung itu, selalu berkabut setiap pagi. Dingin yang menusuk tulang seakan memaksa siapa pun untuk lebih lama berselimut. Tapi aku sudah terbiasa. Kamar kosku sempit, lembap, dan cat temboknya mulai mengelupas. Bau tembakau dari kamar sebelah kadang menyelinap masuk lewat celah jendela kayu. Kos ini tidak istimewa, tapi cukup untuk anak SMA perantauan sepertiku—yang penting bayar tepat waktu, begitu kata Bu Rini, si pemilik kos yang lebih tertarik pada amplop bulanan ketimbang kelakuan penghuninya.

Aku bukan siswa yang pintar. Nilai-nilaiku pas-pasan, cukup agar tidak tinggal kelas. Ayahku seorang guru di desa yang cukup jauh dari kota ini. Setiap Senin pagi, aku kembali ke Bandungan naik colt, membawa bekal dari Ibu, lalu pulang pada Sabtu siang. Aku ngekos bukan karena ingin bebas, tapi karena harus. Sekolah terbaik hanya ada di kota, dan orang tuaku percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya warisan paling masuk akal yang bisa mereka berikan.

Tapi nyatanya, hidup sendirian tanpa pengawasan membuat segalanya jadi longgar. Tak ada yang bertanya aku pulang jam berapa, belajar atau tidak, salat atau tidak. Aku seperti benang lepas dari gulungannya—bebas, tanpa kendali.

Di kelas satu SMA itulah aku bertemu Hartono. Anak pejabat daerah. Wajahnya bersih dan wangi, bajunya selalu rapi, dan langkahnya mantap. Tapi di balik tampilan mapan itu, ia punya sisi liar. Kakaknya, pelaut di kapal barang, sering pulang membawa oleh-oleh berkrat-krat bir untuk bapaknya. Dan setiap kali, satu-dua kaleng itu pasti sampai ke tanganku.

“Hidup itu nggak usah dipikir terlalu berat, Bro,” katanya suatu sore, menyalakan rokok lalu menyodorkannya padaku.

Dan sejak itu, hampir setiap hari Hartono datang ke kamar kosku. Bir, rokok, obrolan kosong—semua jadi rutinitas baru yang terasa akrab… sekaligus aneh.

Padahal, sebelum Hartono, aku sudah punya dua sahabat sejati sejak SMP: Yono dan Sukmana. Kami bertiga seperti tak terpisahkan. Anak-anak biasa yang main bola di lapangan becek, naik sepeda ke sungai, atau makan mi semangkok bertiga di warung Mbah Rumi. Persahabatan kami tumbuh dari kesederhanaan dan saling percaya.

Mereka tahu ada yang berubah dariku. Dan mereka tidak tinggal diam.

“Rokok itu bukan cuma bikin batuk, tapi bikin rusak pikiran,” kata Yono suatu siang, mencium bau asap dari jaketku.

“Kamu sekarang jarang ikut pengajian. Padahal dulu kamu yang ngajak kami,” sindir Sukmana, lembut tapi menohok.

Mereka sering mengajakku ke pesantren, ke pengajian, ke rumah Ustad Mustain. Tapi aku seperti kebal. Setiap ajakan terasa seperti tudingan. Seperti alarm yang berisik saat aku belum siap bangun.

“Udahlah, kalian kayak orang tua aja,” jawabku saat itu, ketus.

Mereka mundur pelan-pelan. Bukan karena marah, tapi karena kecewa. Tatapan kosong Yono, senyum kaku Sukmana, semua perlahan menjauh dariku. Dan entah mengapa, aku merasa lega—seolah bebas dari suara hati yang selama ini terus memanggil.

Hingga hari pembagian rapor semester satu datang.

Saat kulihat isinya, aku tertegun. Semua merah. Hampir semua. Kecuali Pendidikan Agama. Ironis.

Ayah datang sendiri dari desa hanya untuk melihat raporku. Ia tidak memarahiku. Tidak membentakku. Ia hanya bicara pelan, “Kalau semester depan tidak ada perubahan, kamu pulang. Tidak usah sekolah.”

Itu saja. Tapi kalimat itu membuatku gemetar lebih dari seribu bentakan. Malam itu, aku tidak tidur. Kepalaku penuh pertanyaan: aku mau jadi apa?

Sejak hari itu, aku mulai menjauh dari Hartono. Tidak langsung, tapi perlahan. Pura-pura sibuk, pura-pura tidur. Lama-lama dia berhenti datang.

Dan seperti takdir yang berjalan lembut, sebuah cahaya kecil menyusup pelan. Rumah tetanggaku, seorang pedagang kaya, mengundang seorang ustad muda untuk mengajar ngaji anaknya. Namanya Ustad Mustain. Wajahnya teduh, suaranya tenang. Tidak seperti guru agama di sekolah yang nadanya selalu seperti ceramah.

Awalnya aku hanya duduk di pojok. Tapi suatu sore, ia menoleh padaku dan bertanya, “Mau ikut baca, Nak?”

Aku mengangguk. Sejak itu, aku mulai mengaji lagi. Pelan-pelan. Tidak ada tekanan, tidak ada penghakiman. Hanya suara lembut dan senyum tulus.

Terkadang, Ustad Mustain memintaku mengantarnya pulang naik sepeda. Rumah barunya masih kosong. Ia sering mengajakku bersih-bersih, lalu duduk istirahat sambil minum sirup yang dibelinya dari warung. Di sana, ia bercerita tentang sahabat Nabi, tentang Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, dan para pencari kebenaran yang pernah salah jalan.

Kadang ia mengajakku tirakatan. Duduk diam dalam gelap, mendengar angin dan suara malam. Ia tidak memaksaku bercerita, tapi setiap pertanyaannya menampar halus kesadaranku.

“Kamu pernah marah sama ayahmu?”

“Apa yang paling kamu sesali?”

Jawabannya tidak keluar dari mulutku. Tapi di dalam hati, mereka bergema.

Semester demi semester berlalu. Angka-angka merah itu berubah menjadi hitam. Aku mulai belajar dengan tenang, bukan karena takut dimarahi, tapi karena ingin menjadi lebih baik. Di kelas tiga, aku meraih peringkat ketiga. Namaku terpampang di majalah dinding sekolah. Bahkan, aku mendapat undangan seleksi masuk universitas tanpa tes.

Ayah menjemputku dengan sepeda motor tuanya. Saat aku menunjukkan surat undangan itu, ia berhenti di pinggir jalan dan menepuk pundakku.

“Bapak bangga.”

Itu saja. Tapi cukup untuk membuat mataku berkaca-kaca.

Hubunganku dengan Ustad Mustain tetap terjaga sampai aku lulus. Ia tidak pernah memuji, tidak pernah mengklaim jasa. Ia hanya terus ada, hadir, menemani.

Tapi setelah aku merantau ke kota besar, semuanya berubah. Nomor telepon hilang, surat tak pernah terbalas. Ustad Mustain seperti menghilang.

Kini, tiap kali pulang ke Bandungan, aku selalu melewati rumah tuanya. Rumah kecil di pinggir sawah, tempat aku menemukan jalan pulang. Tak pernah lagi kulihat lampunya menyala. Tapi di dalam setiap sujudku, namanya selalu kusebut.

Ustad Mustain. Cahaya kecil di balik kabut Bandungan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Haji

Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling se...