Abdul Rahman Saleh
Bandungan, kota kecil di lereng gunung itu, selalu berkabut
setiap pagi. Dingin yang menusuk tulang seakan memaksa siapa pun untuk lebih
lama berselimut. Tapi aku sudah terbiasa. Kamar kosku sempit, lembap, dan cat
temboknya mulai mengelupas. Bau tembakau dari kamar sebelah kadang menyelinap
masuk lewat celah jendela kayu. Kos ini tidak istimewa, tapi cukup untuk anak
SMA perantauan sepertiku—yang penting bayar tepat waktu, begitu kata Bu Rini,
si pemilik kos yang lebih tertarik pada amplop bulanan ketimbang kelakuan
penghuninya.
Aku bukan siswa yang pintar. Nilai-nilaiku pas-pasan, cukup
agar tidak tinggal kelas. Ayahku seorang guru di desa yang cukup jauh dari kota
ini. Setiap Senin pagi, aku kembali ke Bandungan naik colt, membawa bekal dari
Ibu, lalu pulang pada Sabtu siang. Aku ngekos bukan karena ingin bebas, tapi
karena harus. Sekolah terbaik hanya ada di kota, dan orang tuaku percaya bahwa
pendidikan adalah satu-satunya warisan paling masuk akal yang bisa mereka
berikan.
Tapi nyatanya, hidup sendirian tanpa pengawasan membuat
segalanya jadi longgar. Tak ada yang bertanya aku pulang jam berapa, belajar
atau tidak, salat atau tidak. Aku seperti benang lepas dari gulungannya—bebas,
tanpa kendali.
Di kelas satu SMA itulah aku bertemu Hartono. Anak pejabat
daerah. Wajahnya bersih dan wangi, bajunya selalu rapi, dan langkahnya mantap.
Tapi di balik tampilan mapan itu, ia punya sisi liar. Kakaknya, pelaut di kapal
barang, sering pulang membawa oleh-oleh berkrat-krat bir untuk bapaknya. Dan
setiap kali, satu-dua kaleng itu pasti sampai ke tanganku.
“Hidup itu nggak usah dipikir terlalu berat, Bro,” katanya
suatu sore, menyalakan rokok lalu menyodorkannya padaku.
Dan sejak itu, hampir setiap hari Hartono datang ke kamar
kosku. Bir, rokok, obrolan kosong—semua jadi rutinitas baru yang terasa akrab…
sekaligus aneh.
Padahal, sebelum Hartono, aku sudah punya dua sahabat sejati
sejak SMP: Yono dan Sukmana. Kami bertiga seperti tak terpisahkan. Anak-anak
biasa yang main bola di lapangan becek, naik sepeda ke sungai, atau makan mi
semangkok bertiga di warung Mbah Rumi. Persahabatan kami tumbuh dari
kesederhanaan dan saling percaya.
Mereka tahu ada yang berubah dariku. Dan mereka tidak
tinggal diam.
“Rokok itu bukan cuma bikin batuk, tapi bikin rusak
pikiran,” kata Yono suatu siang, mencium bau asap dari jaketku.
“Kamu sekarang jarang ikut pengajian. Padahal dulu kamu yang
ngajak kami,” sindir Sukmana, lembut tapi menohok.
Mereka sering mengajakku ke pesantren, ke pengajian, ke
rumah Ustad Mustain. Tapi aku seperti kebal. Setiap ajakan terasa seperti
tudingan. Seperti alarm yang berisik saat aku belum siap bangun.
“Udahlah, kalian kayak orang tua aja,” jawabku saat itu,
ketus.
Mereka mundur pelan-pelan. Bukan karena marah, tapi karena
kecewa. Tatapan kosong Yono, senyum kaku Sukmana, semua perlahan menjauh
dariku. Dan entah mengapa, aku merasa lega—seolah bebas dari suara hati yang
selama ini terus memanggil.
Hingga hari pembagian rapor semester satu datang.
Saat kulihat isinya, aku tertegun. Semua merah. Hampir
semua. Kecuali Pendidikan Agama. Ironis.
Ayah datang sendiri dari desa hanya untuk melihat raporku.
Ia tidak memarahiku. Tidak membentakku. Ia hanya bicara pelan, “Kalau semester
depan tidak ada perubahan, kamu pulang. Tidak usah sekolah.”
Itu saja. Tapi kalimat itu membuatku gemetar lebih dari
seribu bentakan. Malam itu, aku tidak tidur. Kepalaku penuh pertanyaan: aku mau
jadi apa?
Sejak hari itu, aku mulai menjauh dari Hartono. Tidak
langsung, tapi perlahan. Pura-pura sibuk, pura-pura tidur. Lama-lama dia
berhenti datang.
Dan seperti takdir yang berjalan lembut, sebuah cahaya kecil
menyusup pelan. Rumah tetanggaku, seorang pedagang kaya, mengundang seorang
ustad muda untuk mengajar ngaji anaknya. Namanya Ustad Mustain. Wajahnya teduh,
suaranya tenang. Tidak seperti guru agama di sekolah yang nadanya selalu
seperti ceramah.
Awalnya aku hanya duduk di pojok. Tapi suatu sore, ia
menoleh padaku dan bertanya, “Mau ikut baca, Nak?”
Aku mengangguk. Sejak itu, aku mulai mengaji lagi.
Pelan-pelan. Tidak ada tekanan, tidak ada penghakiman. Hanya suara lembut dan
senyum tulus.
Terkadang, Ustad Mustain memintaku mengantarnya pulang naik
sepeda. Rumah barunya masih kosong. Ia sering mengajakku bersih-bersih, lalu
duduk istirahat sambil minum sirup yang dibelinya dari warung. Di sana, ia
bercerita tentang sahabat Nabi, tentang Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, dan
para pencari kebenaran yang pernah salah jalan.
Kadang ia mengajakku tirakatan. Duduk diam dalam gelap,
mendengar angin dan suara malam. Ia tidak memaksaku bercerita, tapi setiap
pertanyaannya menampar halus kesadaranku.
“Kamu pernah marah sama ayahmu?”
“Apa yang paling kamu sesali?”
Jawabannya tidak keluar dari mulutku. Tapi di dalam hati,
mereka bergema.
Semester demi semester berlalu. Angka-angka merah itu
berubah menjadi hitam. Aku mulai belajar dengan tenang, bukan karena takut
dimarahi, tapi karena ingin menjadi lebih baik. Di kelas tiga, aku meraih
peringkat ketiga. Namaku terpampang di majalah dinding sekolah. Bahkan, aku
mendapat undangan seleksi masuk universitas tanpa tes.
Ayah menjemputku dengan sepeda motor tuanya. Saat aku
menunjukkan surat undangan itu, ia berhenti di pinggir jalan dan menepuk
pundakku.
“Bapak bangga.”
Itu saja. Tapi cukup untuk membuat mataku berkaca-kaca.
Hubunganku dengan Ustad Mustain tetap terjaga sampai aku
lulus. Ia tidak pernah memuji, tidak pernah mengklaim jasa. Ia hanya terus ada,
hadir, menemani.
Tapi setelah aku merantau ke kota besar, semuanya berubah.
Nomor telepon hilang, surat tak pernah terbalas. Ustad Mustain seperti
menghilang.
Kini, tiap kali pulang ke Bandungan, aku selalu melewati
rumah tuanya. Rumah kecil di pinggir sawah, tempat aku menemukan jalan pulang.
Tak pernah lagi kulihat lampunya menyala. Tapi di dalam setiap sujudku, namanya
selalu kusebut.
Ustad Mustain. Cahaya kecil di balik kabut Bandungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar