Karya: AbdulRSaleh
Aku masih SMP waktu itu. Masih bau keringat dan belum bisa
pakai parfum. Tapi satu hal yang sudah kutekuni sejak kecil: aku jago main
catur. Bapak yang mengajariku sejak aku kelas tiga SD, dan sejak itu, papan
catur seperti teman kedua setelah buku pelajaran.
Tetanggaku, Pak Daud, adalah orang terkaya di kompleks kami.
Mungkin juga terkaya di kota kami. Rumahnya besar, halamannya luas, dan
mobilnya lebih dari satu. Bahkan di tempat lain masih ada empat lagi rumahnya. Tapi
yang membuatku akrab dengannya bukan karena kekayaannya, melainkan karena
kesukaannya pada catur.
Hampir tiap malam, aku dipanggil ke rumahnya.
“Catur, Le,” begitu katanya setiap habis magrib sambil
berdiri di depan pagar, memanggil dari teras. “Ayo, siapa tahu malam ini Bapak
bisa menang.”
Tentu saja tidak pernah menang. Tapi beliau tidak pernah
kapok. Katanya, bermain denganku membuatnya awet muda. Aku tertawa saja,
padahal diam-diam aku juga belajar dari setiap langkah liciknya yang selalu
membuatku berpikir dua kali.
Rumahnya terasa nyaman bagiku. Mewah, tapi tidak membuatku
canggung. Mungkin karena aku sering ke sana, atau karena aku merasa dihargai.
Tapi jujur, satu hal yang membuatku sedikit gelisah akhir-akhir ini: anak
perempuannya.
Yaya.
Nama lengkapnya Cahaya. Anak sulung dari delapan bersaudara.
Usianya hanya terpaut satu tahun dariku, makanya dia menjadi adik kelasku di SMP.
Awalnya aku tak pernah memperhatikannya. Jangankan
memikirkan suka atau tidak suka, melihat wajahnya saja jarang. Tapi sejak Pak
Daud memintaku menjadi sparring partner untuk Yaya—yang sedang dipersiapkan
ikut lomba catur tingkat kabupaten—keadaan berubah.
Setiap sore, selepas sekolah dan sebelum magrib, aku duduk
berhadapan dengan Yaya di ruang tengah rumahnya. Udara dari pendingin ruangan
membuat suasana tenang, tapi dadaku sering berdegup tak menentu.
Diam-diam, aku mulai memperhatikan profil wajahnya. Kulitnya
sawo matang, seperti perempuan tropis dalam buku-buku cerita. Wajahnya tak bisa
dibilang cantik menurut majalah remaja, tapi bersih dan enak dipandang.
Rambutnya selalu rapi dan terawat. Dan yang paling membuatku gugup: aroma
tubuhnya. Harum. Bukan parfum murahan. Harum yang tak bisa dijelaskan tapi
membekas.
Kadang aku pura-pura berpikir lama hanya untuk menghindari
tatapan matanya. Kadang juga aku sengaja memainkan pion lambat-lambat agar
waktu bersama lebih lama.
Suatu sore, saat kami baru selesai main, dia bertanya
tiba-tiba.
“Kamu nggak bosen ya, main catur terus?”
Aku mengangkat bahu. “Selama lawannya nggak nyebelin sih,
enggak.”
Yaya tertawa kecil. “Jadi aku nggak nyebelin?”
Aku terdiam sejenak, pura-pura menahan senyum.
“Nggak. Cuma suka pakai strategi aneh aja,” jawabku.
“Namanya juga usaha mau menang,” katanya, senyumnya
menggoda.
Hari itu, aku pulang dengan perasaan melayang.
Beberapa hari kemudian, keluarganya membeli mobil baru—SUV
besar dan mengilap. Hari Minggu, mereka berencana pergi ke pantai, dan
aku—anehnya—ikut diajak.
“Biar bantuin jagain adik-adiknya,” kata Pak Daud.
Tapi aku tahu, bukan itu alasannya.
Hari itu seperti mimpi. Kami berangkat pagi-pagi. Yaya duduk
di kursi tengah, aku disuruh duduk di sebelahnya. Sepanjang perjalanan, kami
ngobrol santai—tentang sekolah, catur, sampai hal-hal konyol seperti makanan
favorit.
“Aku suka rujak, kamu?” tanyanya.
“Sate kambing. Tapi kalau makan rujak bareng kamu, ya suka
juga,” jawabku sambil pura-pura serius.
Yaya menoleh. Matanya membulat kaget, lalu tertawa. “Kamu
bisa juga ya gombal.”
Aku ikut tertawa, tapi dalam hati... degupku makin kencang.
Di pantai, saat keluarganya sibuk gelar tikar dan menyiapkan
makan siang, Yaya tiba-tiba menarik tanganku.
“Yuk, jalan sebentar.”
Kami berjalan menyusuri garis air. Ombak kecil menyapu kaki
kami yang telanjang. Angin laut berhembus, dan waktu terasa berjalan lambat.
“Kamu pernah pacaran?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum,” jawabku cepat.
“Kenapa? Nggak laku?”
Aku menoleh, melihatnya tersenyum nakal.
“Bukan nggak laku. Belum ada yang seharum kamu,” jawabku
spontan.
Dia terdiam sejenak, lalu menunduk. “Gombal banget, sih.”
Aku ingin menggenggam tangannya, tapi tak berani. Hanya
berjalan di sebelahnya, cukup membuatku merasa seperti anak SMA. Mungkin inilah
yang disebut orang: cinta monyet.
Sepulang dari pantai, aku berusaha menahan diri. Tidak ingin
terlalu melambung. Apalagi aku tahu siapa diriku. Anak kos. Anak dari keluarga
sederhana. Sementara Yaya... gadis dari keluarga terpandang.
Tapi justru setelah itu, Yaya sering datang ke kosanku.
Kadang bawa kue, kadang hanya duduk di depan, ngobrol. Ada saja alasannya.
“Kata Bapak, jangan terlalu sering ke rumah kamu. Takut
ganggu,” katanya suatu sore.
“Terus kamu ngapain ke sini?” tanyaku sambil menyeruput teh.
“Ya... kangen. Nggak boleh?”
Aku tersedak. “Hah?”
Yaya tertawa puas. “Lho kok kaget?”
Tapi lama-lama suasana berubah. Pak Daud tidak pernah lagi
mengundangku main catur. Setiap aku ke rumahnya, dia seperti enggan menyapaku.
Bahkan kadang pura-pura tak melihat.
Anak-anak lain di rumah itu juga mulai cuek. Ibunya tak lagi
menyapa ramah.
Aku mulai sadar. Mungkin kedekatanku dengan Yaya sudah
tercium. Dan itu dianggap tidak pantas.
Sampai suatu hari, aku benar-benar tidak diizinkan masuk.
Hanya berdiri di depan pagar. Yaya tidak keluar. Aku tahu, dia pasti dilarang.
Malam itu, aku menatap langit kamar kos yang berlangit
triplek.
“Yaya,” gumamku. “Kalau kamu dengar, aku cuma ingin bilang:
makasih. Kamu pernah jadi alasan senyumku.”
Aku tidak pernah melihatnya lagi.
Tapi sejak saat itu, aku berjanji pada diri sendiri: aku
akan jadi orang hebat. Aku akan jadi seseorang yang tidak lagi dianggap kecil.
Agar suatu hari, jika takdir mempertemukan kami kembali, aku bisa berkata:
“Aku sudah layak.”
Dan ya... tahun-tahun berlalu, dan aku tepati janjiku.
Aku menamatkan SMP dan SMA dengan nilai terbaik di sekolah.
Aku melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Beasiswa
penuh. Aku bukan anak orang kaya, tapi aku bisa membuktikan bahwa kemampuan
bisa mengalahkan nasib.
Setelah lulus sarjana, aku mendapat kesempatan melanjutkan
studi S2 ke Amerika Serikat. Jurusan teknik komputer. Dua tahun yang
melelahkan, tapi juga luar biasa. Dunia seakan membuka dirinya untukku. Aku
belajar banyak. Aku mengenal diriku sendiri. Aku tahu, aku bukan lagi anak SMP
yang dulu hanya bisa menatap dari luar jendela rumah orang kaya.
Aku pulang ke tanah air dengan gelar dan keyakinan bahwa
hidupku punya arah. Aku tak lagi sekadar “anak kos tetangga Pak Daud”. Aku kini
seorang profesional, dosen, peneliti, kadang pembicara seminar.
Tapi anehnya, di tengah semua pencapaian itu, pikiranku
masih sering kembali ke satu titik: suara tawa seorang gadis yang berjalan
bersamaku menyusuri pantai di masa kecil.
Yaya.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa harus dia
yang tersisa di ingatan?
Suatu hari, saat aku pulang ke kota kecil tempatku
dibesarkan, aku melewati rumah tua itu lagi. Rumah Pak Daud. Sekarang sudah
agak kusam, cat temboknya mulai mengelupas. Tapi kenangannya masih utuh di
kepalaku.
Aku berdiri sebentar di depan gerbangnya yang kini digembok.
Tidak ada seorang pun di sana. Menurut tetangga, keluarga itu sudah pindah ke
kota besar bertahun-tahun lalu. Kabarnya, Yaya bekerja di bidang keuangan,
sudah menikah, dan tinggal di luar negeri.
Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa, aku tidak merasa
kecewa.
Karena sesungguhnya, yang terpenting bukan apakah aku
akhirnya bersatu dengan Yaya atau tidak. Bukan apakah cinta monyet itu menjadi
kenyataan.
Yang penting bagiku adalah: aku telah membuktikan
sesuatu.
Bahwa aku bukan orang sembarangan.
Bahwa seorang anak SMP yang dulu hanya main catur di teras rumah orang kaya,
kini telah menjelajahi dunia dengan langkahnya sendiri.
Dan aku bahagia untuk itu.
***
Di koperku, aku masih menyimpan satu benda kecil yang tak
pernah kubuang: pion catur kayu, hadiah dari Yaya saat kami terakhir
bermain bersama.
“Biar kamu selalu inget aku ya, kalau udah jago beneran,”
katanya waktu itu.
Aku senyum sendiri.
“Aku nggak cuma inget kamu, Ya. Aku juga bertumbuh
karenamu.”
Mungkin cinta monyet itu bukan untuk dimiliki,
tapi untuk dikenang.
Sebab justru dari cinta kecil itulah, aku belajar percaya
pada diriku sendiri —
bahwa aku bisa jadi lebih dari yang mereka sangka.
Dan itu... sudah lebih dari cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar