Oleh Abdul Rahman Saleh
Di bawah gerimis sore, sebuah genggaman tangan membuka
pintu pada rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Namun, di balik senyum
hangat dan janji pulang bersama, ada kenyataan yang perlahan mengaburkan
harapan. Di Antara Hujan dan Senyum adalah kisah sederhana tentang manisnya
awal, getirnya akhir, dan keberanian untuk melepaskan sebelum luka menjadi
terlalu dalam.
Praktikum Kimia baru saja usai. Bau bahan kimia masih
menempel di bajuku saat aku keluar dari lab bersama Bonar, Hastuti, Warni, dan
beberapa teman kelompok. Di luar, langit kelabu seperti kanvas yang siap
diguyur hujan. Angin membawa aroma tanah basah yang membuat langkah kami terasa
lebih cepat.
Rintik-rintik mulai jatuh, menitik di rambut dan pundak.
Kami bergegas menuju pondokan masing-masing. Di pertigaan, Bonar melambaikan
tangan sebelum berbelok ke arah kosannya. Kini hanya aku dan Hastuti.
Kami berjalan berdampingan. Sesekali, suara hujan memecah
keheningan di antara kami. Ketika hendak menyeberang, tiba-tiba Hastuti meraih
tanganku.
“Aku pegangan, ya,” ucapnya pelan, matanya sekilas menatapku.
“Oh… ya,” jawabku, nyaris gugup.
Jemarinya hangat, kontras dengan udara dingin yang mulai
menusuk kulit. Aku tak sekadar membiarkannya menggenggam; aku ikut mengeratkan.
Saat itu, aku merasa dunia menyempit—tinggal aku, dia, dan suara hujan yang
membungkus kami.
Sesampainya di kosannya, Hastuti menoleh, tersenyum, lalu
melangkah masuk.
Aku melanjutkan perjalanan sendirian, dengan telapak tangan yang masih terasa
hangat.
-----
Sesampainya di kosan, aku tak langsung masuk kamar. Aku
duduk di kursi kayu di teras, membiarkan sisa gerimis membasahi ujung celana.
Pikiranku masih tertinggal di jalan tadi, di genggaman tangan Hastuti yang…
entah kenapa terasa lebih dari sekadar pegangan.
Maklum, aku belum pernah punya pacar. Belum pernah merasakan
hal-hal yang katanya “bikin jantung deg-degan” itu. Dan barusan, rasanya
jantungku tak cuma deg-degan, tapi seperti berlari maraton.
Aku mencoba berpikir logis. Mungkin dia hanya minta
perlindungan waktu menyeberang. Ya, itu wajar. Tapi… kalau hanya itu, kenapa
genggamannya tak dilepas sampai kami tiba di depan kosannya? Bahkan, aku sempat
merasa ia mengeratkan genggaman itu di tengah perjalanan.
Aku memegang telapak tanganku sendiri, seolah mencoba
mengulang rasa hangat yang tadi. “Apa… ini isyarat?” gumamku pelan.
Aku mengacak rambut sendiri, bingung sekaligus senang. Otakku pusing memikirkan
kemungkinan-kemungkinan, tapi hatiku… entah kenapa, berharap besok hujan lagi.
-----
Pagi itu matahari bersinar malu-malu, masih ada sisa basah
di jalan dari hujan semalam. Aku berangkat kuliah lebih pagi dari biasanya. Di
pelataran kampus, aku melihat Hastuti. Dia berdiri di dekat tangga gedung,
mengenakan blus putih sederhana dan jilbab warna biru langit.
“Pagi,” sapanya.
“Pagi,” jawabku, agak gugup.
“Kamu semalam sampai kosan nggak kehujanan, kan?”
“Kehujanan sih… tapi nggak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum.
Sesaat ia menunduk, lalu berkata, “Baguslah… kalau begitu.”
Saat hendak masuk kelas, ia berbisik pelan, “Eh… nanti
pulangnya bareng, ya?”
Degup jantungku langsung berubah ritme. Seolah dunia memberi isyarat: mungkin
semalam bukan kebetulan.
-----
Jam kuliah akhirnya berakhir. Dari ujung lorong, aku melihat
Hastuti sudah menunggu di dekat jendela besar. “Ayo,” katanya sambil tersenyum.
Kami berjalan keluar kampus. Langit sore mulai kelabu, dan
tak lama gerimis turun lagi. Kali ini, tanpa permisi, Hastuti langsung
menggenggam tanganku. Genggamannya erat, seolah memang sudah menjadi haknya.
“Aku suka hujan,” katanya pelan. “Apalagi kalau pulangnya
bareng.”
“Aku juga,” jawabku, hampir berbisik.
Di depan kosannya, ia berhenti tapi belum melepas tanganku.
“Kayaknya… kamu enak diajak bareng pulang. Besok… mau lagi?”
“Besok, lusa… dan seterusnya juga mau,” jawabku sambil tertawa kecil.
-----
Sore itu, sebelum masuk ke kosannya, aku memberanikan diri
bertanya, “Tut… besok malam minggu, boleh aku ke kosanmu?”
“Datang aja,” jawabnya singkat.
Malam minggu itu, aku bersiap rapi, hati penuh percaya diri.
Namun, begitu sampai di depan pintunya, langkahku terhenti. Dari pintu yang
setengah terbuka, aku melihat ruang tamu. Di sana, sudah duduk seorang pria
yang sangat kukenal—kakak kelasku. Bukan hanya di universitas, tapi juga di SMA
dulu. Ia bercakap-cakap santai dengan Hastuti, seakan keberadaannya di sana
sudah lama dan wajar.
Semua percaya diri yang kubawa runtuh seketika. Aku
berbalik, berjalan pulang dalam gerimis. Malam minggu yang kubayangkan penuh
senyum berubah jadi malam minggu kelabu.
-----
Akhirnya aku sadar, persainganku dengan kakak kelasku itu
nyaris mustahil aku menangkan. Hastuti memang satu fakultas dengannya,
sedangkan aku di fakultas lain. Pertemuan mereka pasti lebih sering, lebih
intens, lebih banyak kesempatan yang tak mungkin kumiliki.
Sejak malam itu, aku mencoba menjaga jarak. Mumpung belum
terlalu dalam aku menanam benih cinta, lebih baik aku bunuh cinta itu sekarang…
sebelum nantinya aku malah lebih terluka.
Namun, membunuh rasa ternyata tidak semudah memutuskan.
Setiap kali melihatnya dari jauh, senyum itu masih sama, tatapan itu masih
mampu mengaduk-aduk hatiku. Dan yang paling sulit adalah menerima kenyataan
bahwa mungkin, dalam kisahnya, aku hanya tokoh singgahan—bukan pemeran utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar