Minggu, 30 November 2025

Dalam Diam Engkau Pergi

Cerpen Abdul Rahman Saleh 

Sejak kelas sepuluh, Novi dan Bobi adalah definisi dari kemalangan yang diromantisasi. Mereka tak terpisahkan—atau lebih tepatnya, Novi tak terpisahkan dari misi hidupnya untuk mengabdi kepada Bobi.

Novi dibesarkan dengan wejangan ajaib ibunya, seorang Guru SD dan Penjahit Rumahan yang bijaksana: "Nak, kalau kamu disakiti, jangan buru-buru marah. Kadang orang menyakiti kita karena hatinya sendiri sedang luka." Wejangan ini, alih-alih membentuk empati, justru menciptakan sebuah Super-Gadis Pemaaf yang meyakini bahwa segala kebodohan dan keegoisan laki-laki pasti didasari oleh inner child yang terluka.

Novi tumbuh menjadi gadis yang terlalu baik hingga batas kewarasan. Ia selalu tersenyum, mengalah, dan melihat sisi baik dari seekor buaya yang sedang mengunyah dirinya. "Kalau kita bisa milih untuk jadi baik, kenapa harus jadi sebaliknya?" jawabnya, seolah kebaikan adalah satu-satunya filter Instagram yang bisa menyelamatkan dunia.

-----

Bobi, sebaliknya, adalah Pangeran Tunggal dari Kerajaan Serba-Ada. Sejak kecil, ia diajarkan bahwa dunia adalah platform yang disediakan hanya untuk menuruti keinginannya. Ia tak pernah tahu rasanya menunggu. Mengalah? Itu bahasa planet lain. Bobi percaya bahwa ia harus selalu menjadi prioritas, bahkan bagi orang lain.

Ketika Novi lulus lebih dulu, Bobi tersenyum puas. Ia rela menunda kelulusannya—sebuah pengorbanan heroik yang akan diungkitnya selama dua dekade—hanya demi memastikan Novi bisa wisuda lebih dulu. Tentu saja, Novi menangis terharu, tak menyadari bahwa Bobi menunda karena ia tidak mau repot menyelesaikan skripsi tanpa asisten pribadi gratis yang memasak dan memijatnya.

"Sekarang giliran kamu, ya," ucap Novi tulus, yang langsung direspons dengan tatapan Bobi yang berkata, "Tentu saja, bukankah ini kontrak kerjamu selanjutnya?"

Novi menepati janji. Ia datang ke kosan Bobi membawa catering sehat, memberi semangat dengan dosis keikhlasan yang mematikan, dan memijat pundak Bobi hingga pria itu bisa merasakan aura kesendiriannya kembali utuh.

-----

Mereka menikah. Mereka mencicil rumah. Semuanya tampak sempurna, karena Novi memastikan bahwa Bobi tidak perlu mengangkat satu sendok pun dari meja makan.

Lalu Cici lahir.

Ini adalah bencana. Bobi tidak terbiasa berbagi takhta. Ia adalah King Lear dalam rumah tangga kecil itu. Ketika Novi larut dalam perannya sebagai ibu—memeluk Cici lebih lama, menatap popok lebih intensif daripada menatap Bobi—maka Bobi merasa terkhianati secara eksistensial.

"Bob, kamu kenapa sekarang sering banget pulang malam?" tanya Novi, sambil multitasking mengganti popok.

"Ada proyek baru. Klien banyak maunya," jawab Bobi datar. Klien itu bernama Ego, dan proyek itu adalah Mencari Pembenaran Diri di Klub Malam.

Di klub "Cahaya Remang"—yang sebetulnya remang-remang karena kurang bayar listrik—Bobi menemukan psikolog seumur jagung bernama Lala. Lala, dengan gaun merah menyala dan parfum yang bisa membunuh kuman, selalu bersandar manja di pundaknya.

"Kamu kelihatan capek banget, Mas Bob," bisik Lala, suaranya semerdu mesin kasir.

"Aku capek karena di rumah nggak ada yang lihat aku lagi," keluh Bobi, sambil menumpahkan whisky ketiganya. "Istriku cuma urusin anak. Aku kayak tembok."

Lala—yang cerdas dan berorientasi pasar—langsung mengusap dada Bobi. "Ah, istrimu bodoh. Lelaki sebaik kamu harusnya dimanja."

Bobi merasa melayang. Ia akhirnya dilihat! Tentu saja, Lala melihat Bobi sebagai dompet yang berjalan, namun bagi Bobi, pengakuan Lala itu lebih nyata daripada cinta tulus Novi.

-----

Malam kehancuran tiba. Bobi diantar pulang oleh Lala dalam keadaan tak sadar diri.

Novi berdiri di ambang pintu. Alih-alih marah, ia hanya berdiri kaku. Ini adalah luka di hati Bobi yang harus dipahaminya, bukan?

Esok paginya, Novi mengemas koper. "Aku pulang ke rumah Ibu, Bob," ucap Novi, penuh kesabaran yang patut dipertanyakan.

Bobi hanya menatap TV yang mati (seperti perasaannya). "Lakukan saja apa yang kamu mau. Kamu juga udah nggak lihat aku lagi, kan? Aku ini siapa sekarang?"

Novi, sang Malaikat Pemaaf, pergi dalam diam. Ia menjahit baju pesanan tetangga, merawat Cici, dan melupakan merawat dirinya sendiri. Ia yakin, kesabarannya akan dibalas oleh takdir.

Takdir membalasnya dengan TBC stadium lanjut.

Di taman kecil belakang rumah, saat batuk darah membasahi saputangan lusuhnya, Novi limbung dan jatuh. Pengorbanan terakhir Novi: mati dalam damai agar Bobi bisa menyesal secara maksimal.

-----

Bobi datang ke pemakaman. Ia menangis. Tentu saja ia menangis! Dunia telah kehilangan asisten rumah tangga dan ibu yang paling setia, dan sekarang ia harus melakukan segalanya sendiri!

"Vi... kamu lihat, kan? Aku sekarang cuma punya dia," tangis Bobi di atas nisan. "Aku janji... aku nggak akan biarkan dia merasa sendiri. Seperti aku dulu membiarkan kamu merasa sendiri.".

Sejak hari itu, Bobi meninggalkan klub malam. Bukan karena ia menyesali perselingkuhan, melainkan karena ia capek hidup tanpa ada yang memanjakannya.

Ia menjalani hidup sebagai ayah tunggal. Dunia memujinya sebagai ayah super yang berani berubah. Tiap malam Jumat, ia menabur bunga di makam Novi.

"Ayah, Mama tidur di situ, ya?" tanya Cici.

"Iya, sayang," jawab Bobi, air matanya menetes. "Mama tidur. Tapi di hati kita, Mama nggak pernah tidur. Mama selalu dengar kita, terutama saat Ayah menyeduh kopi sendiri. Itu adalah pengorbanan terbesarku."

Bobi tahu, penyesalan tidak bisa menghidupkan masa lalu. Tapi dari serpihan kesalahan itulah, ia membangun citra dirinya yang baru—seorang ayah yang telah belajar, yang kini berhak dipuji karena akhirnya melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan berdua.

Dan dalam diam, ia tahu... Novi tak pernah benar-benar pergi. Novi hanya berganti peran dari istri menjadi simbol pengorbanan suci yang akan menopang kebaikan Bobi selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...