Cerpen Abdul Rahman Saleh
Sejak kelas sepuluh, Novi dan Bobi adalah definisi dari kemalangan yang diromantisasi. Mereka tak terpisahkan—atau lebih tepatnya, Novi tak terpisahkan dari misi hidupnya untuk mengabdi kepada Bobi.
Novi dibesarkan dengan wejangan ajaib ibunya, seorang Guru
SD dan Penjahit Rumahan yang bijaksana: "Nak, kalau kamu disakiti, jangan
buru-buru marah. Kadang orang menyakiti kita karena hatinya sendiri sedang
luka." Wejangan ini, alih-alih membentuk empati, justru menciptakan
sebuah Super-Gadis Pemaaf yang meyakini bahwa segala kebodohan dan
keegoisan laki-laki pasti didasari oleh inner child yang terluka.
Novi tumbuh menjadi gadis yang terlalu baik hingga
batas kewarasan. Ia selalu tersenyum, mengalah, dan melihat sisi baik
dari seekor buaya yang sedang mengunyah dirinya. "Kalau kita bisa milih
untuk jadi baik, kenapa harus jadi sebaliknya?" jawabnya, seolah kebaikan
adalah satu-satunya filter Instagram yang bisa menyelamatkan dunia.
-----
Bobi, sebaliknya, adalah Pangeran Tunggal dari Kerajaan
Serba-Ada. Sejak kecil, ia diajarkan bahwa dunia adalah platform yang
disediakan hanya untuk menuruti keinginannya. Ia tak pernah tahu rasanya
menunggu. Mengalah? Itu bahasa planet lain. Bobi percaya bahwa ia harus selalu
menjadi prioritas, bahkan bagi orang lain.
Ketika Novi lulus lebih dulu, Bobi tersenyum puas. Ia rela
menunda kelulusannya—sebuah pengorbanan heroik yang akan diungkitnya selama dua
dekade—hanya demi memastikan Novi bisa wisuda lebih dulu. Tentu saja, Novi
menangis terharu, tak menyadari bahwa Bobi menunda karena ia tidak mau repot
menyelesaikan skripsi tanpa asisten pribadi gratis yang memasak dan
memijatnya.
"Sekarang giliran kamu, ya," ucap Novi tulus, yang
langsung direspons dengan tatapan Bobi yang berkata, "Tentu saja,
bukankah ini kontrak kerjamu selanjutnya?"
Novi menepati janji. Ia datang ke kosan Bobi membawa catering
sehat, memberi semangat dengan dosis keikhlasan yang mematikan, dan memijat
pundak Bobi hingga pria itu bisa merasakan aura kesendiriannya kembali
utuh.
-----
Mereka menikah. Mereka mencicil rumah. Semuanya tampak
sempurna, karena Novi memastikan bahwa Bobi tidak perlu mengangkat satu
sendok pun dari meja makan.
Lalu Cici lahir.
Ini adalah bencana. Bobi tidak terbiasa berbagi takhta. Ia
adalah King Lear dalam rumah tangga kecil itu. Ketika Novi larut dalam
perannya sebagai ibu—memeluk Cici lebih lama, menatap popok lebih intensif
daripada menatap Bobi—maka Bobi merasa terkhianati secara eksistensial.
"Bob, kamu kenapa sekarang sering banget pulang
malam?" tanya Novi, sambil multitasking mengganti popok.
"Ada proyek baru. Klien banyak maunya," jawab Bobi
datar. Klien itu bernama Ego, dan proyek itu adalah Mencari
Pembenaran Diri di Klub Malam.
Di klub "Cahaya Remang"—yang sebetulnya
remang-remang karena kurang bayar listrik—Bobi menemukan psikolog seumur
jagung bernama Lala. Lala, dengan gaun merah menyala dan parfum yang bisa
membunuh kuman, selalu bersandar manja di pundaknya.
"Kamu kelihatan capek banget, Mas Bob," bisik
Lala, suaranya semerdu mesin kasir.
"Aku capek karena di rumah nggak ada yang lihat aku
lagi," keluh Bobi, sambil menumpahkan whisky ketiganya.
"Istriku cuma urusin anak. Aku kayak tembok."
Lala—yang cerdas dan berorientasi pasar—langsung mengusap
dada Bobi. "Ah, istrimu bodoh. Lelaki sebaik kamu harusnya dimanja."
Bobi merasa melayang. Ia akhirnya dilihat! Tentu
saja, Lala melihat Bobi sebagai dompet yang berjalan, namun bagi Bobi,
pengakuan Lala itu lebih nyata daripada cinta tulus Novi.
-----
Malam kehancuran tiba. Bobi diantar pulang oleh Lala dalam
keadaan tak sadar diri.
Novi berdiri di ambang pintu. Alih-alih marah, ia hanya
berdiri kaku. Ini adalah luka di hati Bobi yang harus dipahaminya,
bukan?
Esok paginya, Novi mengemas koper. "Aku pulang ke rumah
Ibu, Bob," ucap Novi, penuh kesabaran yang patut dipertanyakan.
Bobi hanya menatap TV yang mati (seperti perasaannya).
"Lakukan saja apa yang kamu mau. Kamu juga udah nggak lihat aku lagi, kan?
Aku ini siapa sekarang?"
Novi, sang Malaikat Pemaaf, pergi dalam diam. Ia
menjahit baju pesanan tetangga, merawat Cici, dan melupakan merawat dirinya
sendiri. Ia yakin, kesabarannya akan dibalas oleh takdir.
Takdir membalasnya dengan TBC stadium lanjut.
Di taman kecil belakang rumah, saat batuk darah membasahi
saputangan lusuhnya, Novi limbung dan jatuh. Pengorbanan terakhir Novi: mati
dalam damai agar Bobi bisa menyesal secara maksimal.
-----
Bobi datang ke pemakaman. Ia menangis. Tentu saja ia
menangis! Dunia telah kehilangan asisten rumah tangga dan ibu
yang paling setia, dan sekarang ia harus melakukan segalanya sendiri!
"Vi... kamu lihat, kan? Aku sekarang cuma punya
dia," tangis Bobi di atas nisan. "Aku janji... aku nggak akan biarkan
dia merasa sendiri. Seperti aku dulu membiarkan kamu merasa sendiri.".
Sejak hari itu, Bobi meninggalkan klub malam. Bukan karena
ia menyesali perselingkuhan, melainkan karena ia capek hidup tanpa ada
yang memanjakannya.
Ia menjalani hidup sebagai ayah tunggal. Dunia memujinya
sebagai ayah super yang berani berubah. Tiap malam Jumat, ia menabur
bunga di makam Novi.
"Ayah, Mama tidur di situ, ya?" tanya Cici.
"Iya, sayang," jawab Bobi, air matanya menetes.
"Mama tidur. Tapi di hati kita, Mama nggak pernah tidur. Mama selalu
dengar kita, terutama saat Ayah menyeduh kopi sendiri. Itu adalah pengorbanan
terbesarku."
Bobi tahu, penyesalan tidak bisa menghidupkan masa lalu.
Tapi dari serpihan kesalahan itulah, ia membangun citra dirinya yang baru—seorang
ayah yang telah belajar, yang kini berhak dipuji karena akhirnya melakukan
pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan berdua.
Dan dalam diam, ia tahu... Novi tak pernah benar-benar
pergi. Novi hanya berganti peran dari istri menjadi simbol pengorbanan
suci yang akan menopang kebaikan Bobi selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar