Cerpen Abdul R Saleh
Aku bertemu lagi denganmu pada sebuah sore yang tak berniat menjadi istimewa.
Langit sedang redup, seperti
menahan hujan yang tak jadi turun. Aku berdiri di peron stasiun, memeluk tas
kerja dan kelelahan yang belum sempat kutaruh di rumah. Kereta tujuan Jakarta
terlambat tiga puluh menit. Orang-orang mengeluh pelan. Anak kecil menangis.
Seorang ibu menawari gorengan yang mulai dingin.
Lalu, di antara deru mesin dan
keluhan orang-orang, aku melihatmu. Kau berdiri mengenakan blus krem, dengan
rambut yang kini lebih panjang dari ingatanku. Wajahmu tak banyak berubah,
hanya matamu sekarang tampak seperti telaga yang lebih dalam—lebih tenang, atau
mungkin lebih mahir menyembunyikan badai.
Aku hampir tak percaya pada
mataku sendiri.
Tujuh tahun adalah waktu yang
cukup untuk membuat seseorang menjadi kenangan. Tapi tidak cukup untuk
menghapusmu.
Kau yang pertama menyadari
tatapanku. Senyummu terbit perlahan, sama seperti dulu—senyum yang tak pernah
sepenuhnya bisa kuterjemahkan. Hangat, tetapi menyimpan jarak.
“Raka?” katamu ragu.
Aku mengangguk. “Alya.”
Namamu terdengar asing sekaligus
akrab di lidahku. Seperti doa yang lama tak kuucapkan.
Kami tertawa kecil. Tertawa yang
canggung. Tertawa orang-orang yang pernah hampir menjadi sesuatu.
Dulu, kita adalah dua mahasiswa yang terlalu sibuk menyembunyikan perasaan.
Kita duduk bersebelahan di
bangku perpustakaan, berbagi earphone saat mengerjakan tugas, saling mengirim
pesan larut malam tentang hal-hal yang tak penting—film jelek, dosen
menyebalkan, atau hujan yang turun tiba-tiba.
Tak pernah ada pengakuan.
Hanya tatapan yang terlalu lama.
Hanya kalimat-kalimat yang berhenti sebelum maknanya tuntas.
Aku selalu berpikir masih ada
waktu. Kau selalu berkata, “Nanti saja.”
Dan waktu, rupanya, tak pernah
benar-benar menunggu.
“Sudah lama di sini?” tanyamu, memecah lamunanku.
“Baru sepuluh menit.”
“Kau masih suka naik kereta?”
“Aku pindah kerja ke Jakarta,”
jawabku. “Setiap hari bolak-balik.”
Kau mengangguk pelan. Matamu
tampak mencari-cari sesuatu di wajahku, seperti memastikan aku benar-benar
baik-baik saja.
“Dan kamu?” tanyaku.
“Aku ikut suami. Dia dipindahkan
ke Bandung tahun lalu.”
Suami.
Satu kata itu jatuh seperti batu
besar ke permukaan air yang tenang, riaknya menghantam dadaku berkali-kali. Aku
memaksakan sebuah senyum yang kurasa lebih mirip ringisan. 'Ah... selamat, Al.
Akhirnya kau sampai di tujuanmu.
“Terima kasih.”
Ada jeda yang tak nyaman. Angin
berembus membawa aroma hujan dan sedikit wangi parfummu—atau mungkin hanya
ingatanku yang terlalu setia.
“Mengapa kau datang ketika aku
tak lagi bisa menggenggammu?” kalimat itu berputar-putar di kepalaku, tapi tak
pernah sampai ke bibir.
Sebaliknya aku bertanya, “Kau
bahagia?”
Kau tak langsung menjawab. Kau
menatap rel kereta yang memanjang seperti garis takdir.
“Bahagia itu… pilihan, ya?”
katamu akhirnya.
Aku tertawa kecil. “Itu bukan
jawaban.”
Kau menoleh padaku. Senyummu
indah seperti dulu, tapi ada sesuatu yang rapuh di sudutnya.
“Kau masih suka memaksaku
jujur.”
Karena aku selalu ingin tahu
apakah perasaan itu dulu hanya milikku sendiri.
Aku ingat malam sebelum kelulusan.
Kita duduk di tangga fakultas,
memandangi langit yang terlalu gelap untuk bulan. Kau berkata akan menerima
lamaran seorang pria pilihan keluargamu. “Dia baik,” katamu waktu itu. “Mapan.
Orang tuaku menyukainya.”
“Dan kamu?” tanyaku.
Kau terdiam lama.
“Aku akan belajar mencintainya.”
Aku ingin mengatakan sesuatu
malam itu. Ingin menggenggam tanganmu dan berkata bahwa aku mencintaimu sejak
hari pertama kau meminjam pulpensku tanpa izin. Tapi aku hanya diam.
Aku takut kehilanganmu
sepenuhnya.
Padahal dengan diam pun, aku
tetap kehilanganmu.
Pengumuman kedatangan kereta memecah ingatan kami.
Kereta ke Jakarta memasuki jalur
tiga.
Kau melihat tiket di tanganmu.
“Aku juga naik yang ini.”
Tentu saja. Hidup memang senang
bercanda.
Kami berdiri berdampingan saat
kereta berhenti. Orang-orang berdesakan masuk. Di dalam, kami mendapat dua
kursi yang saling berhadapan.
Lampu neon di langit-langit
gerbong berkedip sekali, seolah ikut lelah menanggung beban ribuan perjalanan.
Kita duduk berhadapan, namun di antara lutut kita yang nyaris bersentuhan,
terbentang jurang sedalam tujuh tahun penyesalan. Dinginnya AC kereta mulai
menusuk tulang, tapi tak lebih dingin dari kenyataan bahwa kau mengenakan
cincin yang bukan dariku.
"Kau pernah menyesal?" tanyaku. Suaraku parau, kalah saing dengan derit besi rel yang beradu di bawah kaki kita. Suara itu terdengar seperti jeritan yang tertahan.
Kau tidak menoleh. Matamu terpaku pada bayanganmu sendiri di kaca jendela yang gelap. Di luar sana, lampu-lampu jalan kota Bogor melesat seperti garis api yang putus-putus.
"Menyesal itu mewah, Raka," bisikmu. "Aku tidak punya waktu untuk itu di antara mengurus rumah dan belajar mencintai orang asing."
Kau akhirnya menoleh. Di bawah cahaya lampu yang pucat, wajahmu tampak seperti porselen retak yang direkatkan kembali dengan paksa. Indah, tapi rapuh.
"Kita tidak sedang jatuh cinta sekarang," lanjutmu, suaramu setajam sembilu. "Kita hanya sedang meratapi mayat perasaan yang lupa kita kubur dulu."
Kereta mengerem mendadak. Tubuh kita terdorong ke depan, sejenak membuat tatapan kita terkunci tanpa alibi. Di detik itu, aku sadar: kereta ini memang membawaku ke Jakarta, tapi hatiku baru saja diturunkan paksa di sebuah stasiun masa lalu yang sudah lama rata dengan tanah.
Jawaban itu seperti luka lama yang disentuh kembali—perih, tapi juga melegakan karena akhirnya diakui.
“Jadi… memang pernah ada?”
suaraku hampir tak terdengar.
Kau tersenyum lagi. Senyum yang
sama yang dulu membuatku yakin kita seolah belahan jiwa.
“Raka,” bisikmu, “kalau saja
waktu sedikit lebih berpihak.”
Kalau saja.
Dua kata yang paling kejam di
dunia.
Kereta melaju menembus senja. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti kenangan yang tak mau padam.
Kami berbicara tentang hal-hal
ringan setelah itu—pekerjaan, keluarga, hal-hal aman yang tak menyentuh
jantung.
Tapi di sela-sela percakapan,
ada sesuatu yang tetap bergetar. Sesuatu yang tak perlu diucapkan lagi.
Saat pengeras suara mengumumkan
stasiun tujuanmu, aku merasakan waktu kembali mempermainkan kami.
“Kau turun di sini,” kataku,
lebih pada diriku sendiri.
Kau mengangguk.
Sebelum berdiri, kau menatapku
lama. Tatapan yang tak lagi bersembunyi.
Dia menatapku seolah ingin
merekam wajahku untuk tujuh tahun ke depan. 'Raka, meski kita sudah di peron
yang berbeda, aku ingin kau tahu... perasaan itu tidak pernah bohong. Ia nyata,
meski ia tak punya rumah untuk pulang.'
Dadaku sesak.
“Namun kita tidak ditakdirkan
menjadi pasangan,” lanjutmu.
Aku tersenyum pahit. “Kita tidak
gagal mencinta. Kita hanya terlambat.”
Matamu berkaca-kaca, tapi kau
tetap tersenyum. Senyum indah yang dulu membuatku percaya segalanya mungkin.
Kereta berhenti.
Kau melangkah ke pintu, lalu
menoleh sekali lagi.
“Aku bahagia kau pernah ada,”
katamu.
Dan pintu tertutup.
Seorang pria, mungkin suaminya,
menjemputnya di peron. Raka melihat mereka berpelukan dari balik kaca kereta
yang mulai berjalan.
Aku duduk sendirian setelah itu, memandangi kursi kosong di hadapanku.
Hujan akhirnya turun, membasahi
kaca jendela. Titik-titik air mengaburkan lampu kota, seperti air mata yang
terlalu lama ditahan.
Cinta itu nyata.
Hanya waktunya yang salah.
Aku tak membencimu. Tak membenci
suamimu. Tak membenci takdir.
Aku hanya membenci keberanian
yang datang terlalu lambat.
Kereta terus melaju, membawa
tubuhku ke Jakarta dan hatiku kembali ke tujuh tahun lalu—pada bangku
perpustakaan, pada earphone yang kita bagi dua, pada kemungkinan yang tak
pernah kita beri kesempatan hidup.
Mungkin benar, tidak semua cinta
ditakdirkan untuk dimiliki.
Sebagian hanya ditakdirkan untuk
diyakini.
Dan kau, Alya, akan selalu
menjadi kekasih hati—dalam cara yang tak membutuhkan kepemilikan.
Dalam cara yang hanya bisa
kupeluk diam-diam.