Sabtu, 27 September 2025

Hanya untuk Dikenang

Oleh Abdul Rahman Saleh

Sore itu rumah Sufi tampak hangat meski sederhana. Hanya enam orang yang hadir, anggota kelompok belajar yang sejak awal SMA selalu bersama. Mereka duduk lesehan, menyantap hidangan seadanya—pisang goreng, teh manis, dan semangkuk mie instan yang dibagi ramai-ramai. Tidak ada musik meriah, tidak ada dekorasi, hanya suara tawa yang diselingi tangis kecil ketika satu per satu mulai membacakan puisi dan mengenang masa-masa mereka di bangku sekolah.

Arman, yang biasanya paling cerewet, malam itu lebih banyak diam. Ia mendengarkan setiap kata, setiap canda, lalu menatap wajah sahabat-sahabatnya dengan rasa yang sulit dijelaskan. Sebuah kesadaran menyelinap: mereka akan benar-benar berpisah.

Hari itu akhirnya datang juga. Arman berangkat menuju kota tempat universitasnya berada, sebuah perguruan tinggi papan atas yang dulu hanya berani ia mimpikan. Teman-teman grupnya mengantarnya sampai terminal. Pelukan, tawa paksa, dan janji-janji untuk tetap saling berkabar menjadi penutup perjalanan SMA mereka.

Hari-hari pertama kuliah, Arman disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat, buku-buku tebal, dan tugas yang tak ada habisnya. Perlahan, kenangan SMA mulai mengabur. Ia pikir dirinya telah benar-benar meninggalkan masa itu. Hingga suatu sore, ketika ia membuka kotak pos asrama, sebuah amplop merah muda menyembul di antara tumpukan selebaran iklan.

Tangannya bergetar pelan. Inisial di pojok kiri hanya bertuliskan “SF”. Ia tak perlu menebak lebih jauh—ia tahu betul siapa pengirimnya.

Arman segera masuk kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan hati-hati ia membuka surat itu. Tulisan tangan Sufi tampak rapi, sedikit miring ke kanan. Isinya sederhana: tentang rindunya pada masa-masa SMA, tentang kesedihannya melihat teman-temannya melanjutkan kuliah sementara ia harus membantu orang tuanya di rumah. Tak ada satu pun kata cinta tertulis di sana.

Namun entah mengapa, Arman tersenyum berkali-kali saat membacanya. Ia bahkan mengulang-ulang, seolah takut kehilangan makna yang tersembunyi di balik kalimat-kalimat singkat itu.

Bayangan masa lalu pun menyeruak. Malam perpisahan di rumah Fina, ketika ia memberanikan diri melingkarkan tangan ke pinggang Sufi saat mengantarnya pulang dengan motor. Rambut Sufi yang tertiup angin menampar wajahnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Juga saat Sufi tiba-tiba meminta tolong membawakan motornya karena kedatangan “tamu bulanan”, dan Arman pura-pura bercanda minta dibonceng sebagai imbalan.

Ingatan-ingatan itu datang bertubi-tubi. Dan pertanyaan itu tak bisa ia bendung: apakah aku jatuh cinta padanya?

Arman menggeleng keras. “Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya. “Aku hanya anak kampung yang miskin. Sedang dia… dia anak kota, anak orang kaya.”

Ia menatap surat itu sekali lagi, kali ini dengan perasaan getir. Baginya, Sufi adalah langit yang terlalu jauh untuk digapai. Biarlah surat ini menjadi sekadar kenangan, pikirnya. Sebuah kenangan yang akan ia simpan rapat-rapat, sebagai bagian dari masa muda yang tak akan pernah kembali.

Hari-hari berikutnya, Arman menunggu-nunggu kedatangan surat berikutnya. Ia bahkan sering mampir ke kotak pos asrama dua kali sehari, seolah takut melewatkan sesuatu. Dan benar, seminggu kemudian amplop merah muda lain muncul, lagi-lagi dengan inisial yang sama.

Isinya sederhana: cerita Sufi tentang membantu ibunya di warung kecil, tentang adiknya yang mulai remaja, tentang kegiatannya mengajar anak-anak tetangga belajar membaca. Tidak ada kata rindu yang terlalu jelas, tidak ada ungkapan cinta. Tapi ada kehangatan, seolah setiap kalimat ditulis khusus untuk Arman seorang.

Arman pun membalas. Ia bercerita tentang kuliahnya, dosen yang galak, dan bagaimana ia harus bekerja paruh waktu di kantin asrama untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Surat itu ia tulis dengan hati-hati, berulang kali ia coret, takut terlalu jujur, takut juga terlalu dingin.

Maka mulailah sebuah kebiasaan baru: surat datang, surat dibalas. Kadang dua minggu sekali, kadang sebulan sekali. Dan setiap surat itu, betapapun pendek isinya, selalu menjadi penghibur di tengah kesibukan Arman.

Namun di antara kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mengganjal. Arman mulai menyadari bahwa surat-surat Sufi seperti menyembunyikan sesuatu. Ia tidak pernah menulis tentang perasaannya sendiri, hanya tentang kegiatan sehari-hari, kerinduan samar akan masa SMA, dan sesekali tentang lagu atau puisi yang sedang ia baca.

Arman pun kembali bertanya pada dirinya: Apakah mungkin Sufi merasakan hal yang sama? Atau jangan-jangan ia hanya menganggapku teman lama yang baik hati?

Malam-malam di kamar asrama sering membuat Arman gelisah. Ia menatap surat-surat itu, mencoba membaca di antara baris-barisnya. Tapi yang ia temukan hanyalah hening.

Sampai suatu sore, datang surat yang berbeda. Amplopnya tidak lagi merah muda, melainkan putih polos. Tulisan tangan Sufi masih sama, tetapi isinya kali ini pendek, bahkan terlalu pendek:

“Arman, mungkin ini surat terakhirku. Aku akan segera dilamar orang. Jangan khawatir, aku bahagia. Semoga kamu juga bahagia di sana.”

Hanya itu. Tanpa tanda tangan. Tanpa alasan lebih jauh.

Arman membaca surat itu berkali-kali, berharap ada makna lain di balik kata-kata singkat itu. Tetapi tidak ada. Yang tersisa hanya rasa hampa—dan kenangan yang semakin terasa mustahil untuk ia ulang.

Arman terdiam lama setelah membaca surat terakhir itu. Malam di asrama terasa begitu dingin, padahal kipas angin bahkan tidak menyala. Surat putih polos itu diremasnya, lalu direntangkan kembali, seolah takut kehilangan jejak terakhir dari Sufi.

Ia mencoba menulis balasan, tapi tak satu pun kalimat terasa tepat. “Selamat ya, Sufi.” Kalimat itu terlalu kaku. “Aku ikut bahagia.” Kalimat itu terdengar palsu. Hingga akhirnya Arman menyerah. Surat itu tidak pernah ia balas.

Hari-hari berlalu, bulan berganti. Setiap kali ia membuka kotak pos, Arman masih berharap menemukan amplop merah muda. Tetapi harapan itu perlahan padam. Tak ada lagi kabar dari Sufi.

Di malam-malam sunyi, Arman sering duduk sendirian di kamar, menatap tumpukan surat lama. Ia membaca ulang kalimat-kalimat sederhana yang dulu menghangatkan hatinya. Bayangan rambut Sufi yang menampar wajahnya di atas motor kembali hadir. Tawa kecilnya, cara ia menunduk malu saat membaca puisi di ruang tamu rumahnya… semuanya datang berdesakan.

Namun kenyataan tetap tak bisa diingkari. Sufi kini milik orang lain.

Tahun-tahun kuliah berjalan cepat. Arman lulus dengan predikat baik, lalu melanjutkan langkah ke dunia kerja. Ia berkenalan dengan banyak orang baru, bahkan beberapa kali menjalin hubungan singkat. Tapi entah mengapa, ada ruang kosong di hatinya yang tidak pernah bisa terisi.

Sesekali, kabar tentang Sufi sampai juga lewat teman-teman lama. “Suaminya orang mapan, punya toko besar di kota,” begitu yang Arman dengar. “Dia sudah punya anak dua,” kabar lain menyusul.

Setiap mendengarnya, Arman hanya tersenyum tipis, menahan sesuatu yang menekan dadanya. Ia tidak pernah berusaha mencari, apalagi menghubungi. Baginya, yang terbaik adalah membiarkan kenangan itu tetap di tempatnya—sebagai potret masa muda yang tak tersentuh waktu.

Suatu malam, bertahun-tahun kemudian, Arman memberanikan diri membuka kembali kotak kecil di lemari. Di dalamnya tersimpan surat-surat Sufi: amplop merah muda yang kini warnanya mulai pudar, dan selembar amplop putih polos yang masih terasa asing. Ia membaca lagi satu per satu, lalu menutup matanya.

Senyum samar terbit di bibirnya. “Terima kasih, Sufi,” bisiknya lirih.

Di antara ratusan halaman hidupnya, Sufi hanyalah satu bab yang singkat. Tapi justru bab itulah yang paling sulit ia lupakan.

Waktu bergulir tanpa terasa. Hingga suatu hari, sebuah undangan reuni SMA tiba di meja kerja Arman. Awalnya ia ragu untuk datang—apa gunanya membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama ia kunci? Namun ada sesuatu yang mendorongnya, rasa penasaran yang tak pernah benar-benar padam.

Malam reuni berlangsung meriah di sebuah restoran kota kecil mereka. Musik lawas mengalun, gelak tawa pecah di setiap meja. Arman datang agak terlambat. Begitu masuk, ia langsung disambut pelukan hangat dari teman-teman lama. Wajah-wajah yang dulu muda kini dihiasi keriput halus, namun keakraban tetap sama.

Dan di antara keramaian itu, ia melihatnya.

Sufi.

Rambutnya kini disanggul rapi, kerudung tipis menutup sebagian. Wajahnya masih menyimpan senyum yang sama, meski ada garis lelah yang samar. Di sisinya, seorang pria berbadan tegap menemaninya—tentu suaminya. Sesekali anak remaja yang mirip dirinya datang merapat, memanggil “Bu” dengan manja.

Mata mereka bertemu. Hanya sekejap. Senyum Sufi muncul, hangat tapi singkat. Arman membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata. Tidak ada cerita masa lalu yang diungkit. Hanya sekelebat tatapan yang menyimpan seribu kenangan.

Sepanjang acara, Arman dan Sufi tidak sempat berbincang lama. Semua berlangsung terlalu ramai, terlalu singkat. Saat pulang, Arman sempat berpapasan lagi dengannya di pintu keluar.

“Arman…” suara Sufi lirih, nyaris tenggelam oleh riuh orang-orang.

Arman berhenti. “Iya?”

Sufi hanya tersenyum. “Kamu baik-baik saja, kan?”

Arman menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”

Tidak ada lagi. Hanya itu. Mereka pun berpisah, sekali lagi—kali ini untuk selamanya.

Dalam perjalanan pulang, Arman duduk di kursi bus malam, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan. Hatinya terasa ringan sekaligus perih. Ia sadar, ada cinta yang memang ditakdirkan hanya untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.

Sufi adalah salah satunya.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Haji

Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling se...