Oleh Abdul Rahman Saleh
Sore itu rumah Sufi tampak hangat meski sederhana. Hanya enam orang yang hadir, anggota kelompok belajar yang sejak awal SMA selalu bersama. Mereka duduk lesehan, menyantap hidangan seadanya—pisang goreng, teh manis, dan semangkuk mie instan yang dibagi ramai-ramai. Tidak ada musik meriah, tidak ada dekorasi, hanya suara tawa yang diselingi tangis kecil ketika satu per satu mulai membacakan puisi dan mengenang masa-masa mereka di bangku sekolah.
Arman, yang biasanya paling cerewet, malam itu lebih banyak
diam. Ia mendengarkan setiap kata, setiap canda, lalu menatap wajah
sahabat-sahabatnya dengan rasa yang sulit dijelaskan. Sebuah kesadaran
menyelinap: mereka akan benar-benar berpisah.
Hari itu akhirnya datang juga. Arman berangkat menuju kota
tempat universitasnya berada, sebuah perguruan tinggi papan atas yang dulu
hanya berani ia mimpikan. Teman-teman grupnya mengantarnya sampai terminal.
Pelukan, tawa paksa, dan janji-janji untuk tetap saling berkabar menjadi
penutup perjalanan SMA mereka.
Hari-hari pertama kuliah, Arman disibukkan dengan jadwal
kuliah yang padat, buku-buku tebal, dan tugas yang tak ada habisnya. Perlahan,
kenangan SMA mulai mengabur. Ia pikir dirinya telah benar-benar meninggalkan
masa itu. Hingga suatu sore, ketika ia membuka kotak pos asrama, sebuah amplop
merah muda menyembul di antara tumpukan selebaran iklan.
Tangannya bergetar pelan. Inisial di pojok kiri hanya
bertuliskan “SF”. Ia tak perlu menebak lebih jauh—ia tahu betul siapa
pengirimnya.
Arman segera masuk kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi
ranjang. Dengan hati-hati ia membuka surat itu. Tulisan tangan Sufi tampak
rapi, sedikit miring ke kanan. Isinya sederhana: tentang rindunya pada
masa-masa SMA, tentang kesedihannya melihat teman-temannya melanjutkan kuliah
sementara ia harus membantu orang tuanya di rumah. Tak ada satu pun kata cinta
tertulis di sana.
Namun entah mengapa, Arman tersenyum berkali-kali saat
membacanya. Ia bahkan mengulang-ulang, seolah takut kehilangan makna yang
tersembunyi di balik kalimat-kalimat singkat itu.
Bayangan masa lalu pun menyeruak. Malam perpisahan di rumah
Fina, ketika ia memberanikan diri melingkarkan tangan ke pinggang Sufi saat
mengantarnya pulang dengan motor. Rambut Sufi yang tertiup angin menampar
wajahnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Juga saat Sufi tiba-tiba
meminta tolong membawakan motornya karena kedatangan “tamu bulanan”, dan Arman
pura-pura bercanda minta dibonceng sebagai imbalan.
Ingatan-ingatan itu datang bertubi-tubi. Dan pertanyaan itu
tak bisa ia bendung: apakah aku jatuh cinta padanya?
Arman menggeleng keras. “Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya.
“Aku hanya anak kampung yang miskin. Sedang dia… dia anak kota, anak orang
kaya.”
Ia menatap surat itu sekali lagi, kali ini dengan perasaan
getir. Baginya, Sufi adalah langit yang terlalu jauh untuk digapai. Biarlah
surat ini menjadi sekadar kenangan, pikirnya. Sebuah kenangan yang akan ia
simpan rapat-rapat, sebagai bagian dari masa muda yang tak akan pernah kembali.
Hari-hari berikutnya, Arman menunggu-nunggu kedatangan surat
berikutnya. Ia bahkan sering mampir ke kotak pos asrama dua kali sehari, seolah
takut melewatkan sesuatu. Dan benar, seminggu kemudian amplop merah muda lain
muncul, lagi-lagi dengan inisial yang sama.
Isinya sederhana: cerita Sufi tentang membantu ibunya di
warung kecil, tentang adiknya yang mulai remaja, tentang kegiatannya mengajar
anak-anak tetangga belajar membaca. Tidak ada kata rindu yang terlalu jelas,
tidak ada ungkapan cinta. Tapi ada kehangatan, seolah setiap kalimat ditulis
khusus untuk Arman seorang.
Arman pun membalas. Ia bercerita tentang kuliahnya, dosen
yang galak, dan bagaimana ia harus bekerja paruh waktu di kantin asrama untuk
menutup kebutuhan sehari-hari. Surat itu ia tulis dengan hati-hati, berulang
kali ia coret, takut terlalu jujur, takut juga terlalu dingin.
Maka mulailah sebuah kebiasaan baru: surat datang, surat
dibalas. Kadang dua minggu sekali, kadang sebulan sekali. Dan setiap surat itu,
betapapun pendek isinya, selalu menjadi penghibur di tengah kesibukan Arman.
Namun di antara kebahagiaan itu, ada sesuatu yang
mengganjal. Arman mulai menyadari bahwa surat-surat Sufi seperti menyembunyikan
sesuatu. Ia tidak pernah menulis tentang perasaannya sendiri, hanya tentang
kegiatan sehari-hari, kerinduan samar akan masa SMA, dan sesekali tentang lagu
atau puisi yang sedang ia baca.
Arman pun kembali bertanya pada dirinya: Apakah mungkin
Sufi merasakan hal yang sama? Atau jangan-jangan ia hanya menganggapku teman
lama yang baik hati?
Malam-malam di kamar asrama sering membuat Arman gelisah. Ia
menatap surat-surat itu, mencoba membaca di antara baris-barisnya. Tapi yang ia
temukan hanyalah hening.
Sampai suatu sore, datang surat yang berbeda. Amplopnya
tidak lagi merah muda, melainkan putih polos. Tulisan tangan Sufi masih sama,
tetapi isinya kali ini pendek, bahkan terlalu pendek:
“Arman, mungkin ini surat terakhirku. Aku akan segera
dilamar orang. Jangan khawatir, aku bahagia. Semoga kamu juga bahagia di sana.”
Hanya itu. Tanpa tanda tangan. Tanpa alasan lebih jauh.
Arman membaca surat itu berkali-kali, berharap ada makna
lain di balik kata-kata singkat itu. Tetapi tidak ada. Yang tersisa hanya rasa
hampa—dan kenangan yang semakin terasa mustahil untuk ia ulang.
Arman terdiam lama setelah membaca surat terakhir itu. Malam
di asrama terasa begitu dingin, padahal kipas angin bahkan tidak menyala. Surat
putih polos itu diremasnya, lalu direntangkan kembali, seolah takut kehilangan
jejak terakhir dari Sufi.
Ia mencoba menulis balasan, tapi tak satu pun kalimat terasa
tepat. “Selamat ya, Sufi.” Kalimat itu terlalu kaku. “Aku ikut bahagia.”
Kalimat itu terdengar palsu. Hingga akhirnya Arman menyerah. Surat itu tidak
pernah ia balas.
Hari-hari berlalu, bulan berganti. Setiap kali ia membuka
kotak pos, Arman masih berharap menemukan amplop merah muda. Tetapi harapan itu
perlahan padam. Tak ada lagi kabar dari Sufi.
Di malam-malam sunyi, Arman sering duduk sendirian di kamar,
menatap tumpukan surat lama. Ia membaca ulang kalimat-kalimat sederhana yang
dulu menghangatkan hatinya. Bayangan rambut Sufi yang menampar wajahnya di atas
motor kembali hadir. Tawa kecilnya, cara ia menunduk malu saat membaca puisi di
ruang tamu rumahnya… semuanya datang berdesakan.
Namun kenyataan tetap tak bisa diingkari. Sufi kini milik
orang lain.
Tahun-tahun kuliah berjalan cepat. Arman lulus dengan
predikat baik, lalu melanjutkan langkah ke dunia kerja. Ia berkenalan dengan
banyak orang baru, bahkan beberapa kali menjalin hubungan singkat. Tapi entah
mengapa, ada ruang kosong di hatinya yang tidak pernah bisa terisi.
Sesekali, kabar tentang Sufi sampai juga lewat teman-teman
lama. “Suaminya orang mapan, punya toko besar di kota,” begitu yang Arman
dengar. “Dia sudah punya anak dua,” kabar lain menyusul.
Setiap mendengarnya, Arman hanya tersenyum tipis, menahan
sesuatu yang menekan dadanya. Ia tidak pernah berusaha mencari, apalagi
menghubungi. Baginya, yang terbaik adalah membiarkan kenangan itu tetap di
tempatnya—sebagai potret masa muda yang tak tersentuh waktu.
Suatu malam, bertahun-tahun kemudian, Arman memberanikan
diri membuka kembali kotak kecil di lemari. Di dalamnya tersimpan surat-surat
Sufi: amplop merah muda yang kini warnanya mulai pudar, dan selembar amplop
putih polos yang masih terasa asing. Ia membaca lagi satu per satu, lalu
menutup matanya.
Senyum samar terbit di bibirnya. “Terima kasih, Sufi,”
bisiknya lirih.
Di antara ratusan halaman hidupnya, Sufi hanyalah satu bab
yang singkat. Tapi justru bab itulah yang paling sulit ia lupakan.
Waktu bergulir tanpa terasa. Hingga suatu hari, sebuah
undangan reuni SMA tiba di meja kerja Arman. Awalnya ia ragu untuk datang—apa
gunanya membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama ia kunci? Namun ada
sesuatu yang mendorongnya, rasa penasaran yang tak pernah benar-benar padam.
Malam reuni berlangsung meriah di sebuah restoran kota kecil
mereka. Musik lawas mengalun, gelak tawa pecah di setiap meja. Arman datang
agak terlambat. Begitu masuk, ia langsung disambut pelukan hangat dari
teman-teman lama. Wajah-wajah yang dulu muda kini dihiasi keriput halus, namun
keakraban tetap sama.
Dan di antara keramaian itu, ia melihatnya.
Sufi.
Rambutnya kini disanggul rapi, kerudung tipis menutup
sebagian. Wajahnya masih menyimpan senyum yang sama, meski ada garis lelah yang
samar. Di sisinya, seorang pria berbadan tegap menemaninya—tentu suaminya.
Sesekali anak remaja yang mirip dirinya datang merapat, memanggil “Bu” dengan
manja.
Mata mereka bertemu. Hanya sekejap. Senyum Sufi muncul,
hangat tapi singkat. Arman membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata.
Tidak ada cerita masa lalu yang diungkit. Hanya sekelebat tatapan yang
menyimpan seribu kenangan.
Sepanjang acara, Arman dan Sufi tidak sempat berbincang
lama. Semua berlangsung terlalu ramai, terlalu singkat. Saat pulang, Arman
sempat berpapasan lagi dengannya di pintu keluar.
“Arman…” suara Sufi lirih, nyaris tenggelam oleh riuh
orang-orang.
Arman berhenti. “Iya?”
Sufi hanya tersenyum. “Kamu baik-baik saja, kan?”
Arman menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”
Tidak ada lagi. Hanya itu. Mereka pun berpisah, sekali
lagi—kali ini untuk selamanya.
Dalam perjalanan pulang, Arman duduk di kursi bus malam,
menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan. Hatinya terasa ringan
sekaligus perih. Ia sadar, ada cinta yang memang ditakdirkan hanya untuk
dikenang, bukan untuk dimiliki.
Sufi adalah salah satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar