Senin, 18 Agustus 2025

Cinta itu Perlahan Tumbuh

Rumah Pak Rahmat menempel persis ke kontrakanku, jadi sulit mengabaikannya. Pak Rahmat pensiunan PNS, hidup tenang bersama istri dan beberapa anaknya. Salah satu anaknya, Agustini — biasa dipanggil Tini — kelas XI SMA, sering jadi wajah pertama yang kutemui tiap pagi.

Tini manis, sopan, dan senyumnya seperti tak pernah kehabisan tenaga. Pagi-pagi, dari teras rumahnya dia sering melambaikan tangan sambil menyapa.

“Pagi, Mas Arman. Sudah sarapan belum?”
Aku biasanya cuma mengangguk singkat. “Sudah,” padahal kadang perutku masih kosong. Aku jarang menatap wajahnya penuh, bukan karena sombong — pikiranku sudah penuh oleh kuliah, nilai, dan beban yang tak berhenti.

Buatku, dia masih anak-anak. Dunia SMA itu terasa ringan: penuh tawa yang mudah pecah. Sabtu sore, rumah Pak Rahmat sering riuh. Teman-teman Tini berkumpul, rujakan di meja, musik diputar, kadang karaoke lagu pop remaja sampai halaman bergetar. Suara-suara itu sempat menggangguku; lama-lama malah jadi pengingat bahwa hidup tidak selamanya setegang pikiranku.

Aku tetap menjaga jarak. Jarang keluar kamar, dan jika lewat depan teras, aku menunduk dan mempercepat langkah. Sekali waktu, ketika aku pulang kuliah, Tini memanggil dari teras:
“Mas Arman, ikut rujakan yuk! Teman-teman aku pengin kenalan.”

Aku tersenyum canggung. “Nggak, makasih. Saya capek.”
Dari balik pintu, tawa mereka menjewer telingaku: “Masnya pemalu!” “Atau galak ya? Nggak suka anak SMA?” “Atau… Mas Arman udah punya pacar diam-diam!” Canda itu ringan, tanpa maksud jahat. Tapi bagiku, dunia mereka terasa jauh. Aku tak punya ruang untuk bermain di situ — bahkan tersenyum pun sering harus kuambil dari sisa tenaga yang menipis.

Namun, setiap kali Tini menyapa dengan ceria, sesuatu di tubuh ini mengendur sedikit. Dunia yang selama ini serba kelabu mendadak agak berwarna. Bukan cinta yang tiba-tiba datang — paling tidak belum — tapi sebuah pengingat: mungkin hidup tak selalu harus ditanggapi dengan kepala tertunduk dan napas berat.

Tanpa kusadari, namanya mulai lebih sering mampir di kepalaku. Bukan sebagai beban atau gangguan, melainkan sebagai titik kecil yang mengingatkanku bahwa masih ada hal-hal ringan yang layak dicari.

***

Sore itu hujan turun deras. Aku duduk di kamar, berusaha membaca diktat, tapi suara hujan di atap seng membuat semua kalimat di halaman seperti kabur.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. “Mas Arman!” Suara Tini, diiringi riuh tawa dari teras rumahnya.
Aku membuka pintu. Dia berdiri di depan, rambutnya sedikit basah, memegang payung kecil.
“Ayo, Mas, nonton bareng di rumah. Lagi hujan, asik banget nih.”

Aku spontan mau menolak — alasanku sudah siap: banyak tugas, pusing, atau sekadar malas. Tapi sebelum keluar kata-kata itu, Tini menambahkan, “Bapak sama Ibu juga nonton, kok. Nggak rame-rame, cuma keluarga.”

Entah kenapa aku mengangguk. Mungkin karena suasana hujan membuatku malas sendirian.

Di ruang tamu rumah Pak Rahmat, TV sudah menyala. Ada film lawas yang pernah kutonton waktu kecil. Tini duduk di karpet, bersandar ke sofa. Aku duduk di kursi samping Bapak dan Ibu, agak kaku.

Hujan di luar jadi latar suara yang pas. Ada aroma kopi dari meja, dan semangkuk kacang goreng yang langsung disodorkan ke arahku. “Nih, Mas,” kata Tini sambil tersenyum.

Film itu membuatku sesekali ikut tertawa. Rasanya aneh, karena sudah lama aku tidak duduk santai begini — apalagi bersama orang lain. Bahkan, di tengah cerita, aku nyaris lupa kalau seharusnya aku sedang “sibuk” atau “terlalu dewasa” untuk momen-momen seperti ini.

Berita malam menyusul setelah film usai. Lampu ruang tamu terasa hangat, suara hujan mereda, dan aku belum juga merasa ingin pulang.

***

Berita selesai. Musik penutup terdengar. Tapi aku tidak segera berdiri.

Tini masih duduk di sebelahku, mengayun-ayunkan kakinya pelan. Matanya berbinar, seolah sedang menikmati peran barunya malam ini.

Aku menoleh, iseng berkata, “Tin, aku bisa baca garis tanganmu, lho.”

Tini mengangkat alis. “Serius?”
“Serius dong. Sini, kasih tanganmu.”

Tini menyodorkan tangan kanannya dengan tawa geli.
Aku pura-pura mengamati dengan seksama, mengernyitkan dahi seperti peramal sungguhan. “Hmm… ini artinya… kamu suka cerewet.”

Tini tertawa. “Ih, itu sih bukan ramalan. Semua orang juga tahu!”
“Terus ini…” Aku menunjuk garis lain, “kamu… bakal jadi orang penting suatu hari nanti.”

Tini memiringkan kepala. “Masa sih?”
“Iya. Tapi yang paling penting…” Aku menatapnya sebentar sebelum kembali berpura-pura serius, “kamu bakal deket sama cowok yang suka nonton berita malam.”

Tini terdiam sejenak, lalu menutup wajahnya sambil tertawa malu.
“Mas Arman ini bisa aja…”

Aku tersenyum, kali ini tulus. Malam itu, tanpa rencana, tanpa genggaman tangan, atau janji-janji manis, kami mulai menemukan ruang kecil di antara dunia kami yang selama ini terasa jauh.

“Aduh, garis cintanya panjang, Mas...” Tini terkikik sambil menarik tangannya dari genggamanku. Aku pura-pura merenung serius, lalu mengangguk-angguk seperti peramal kampung yang sedang membaca nasib. Dia tertawa lagi, matanya menyipit, bibirnya terangkat sempurna. Senyum yang entah kenapa terasa bertahan lebih lama dari seharusnya.

Malam itu berlalu seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, setidaknya begitu pikirku. Tapi entah mengapa, saat aku berbaring di tempat tidur kontrakan, senyum itu masih saja terbayang.

***

Libur panjang akhirnya datang juga. Ujian perbaikan yang sempat membuatku nyaris putus asa akhirnya terlewati dengan hasil yang cukup. Tidak sempurna, tapi cukup untuk membuatku bernapas lega. Semester genap pun berakhir. Dan untuk pertama kalinya dalam setahun ini, aku pulang kampung tanpa beban menggantung.
Kampungku masih seperti dulu—jalan tanah yang berdebu, suara ayam berkokok dari balik pagar bambu, dan anak-anak kecil berlari-lari di sore hari. Tapi bagiku, semua itu terasa sedikit asing sekarang. Teman-teman sepermainan sudah banyak berubah. Ada yang bekerja sebagai guru, pegawai desa, atau ikut keluarga berdagang. Aku mencoba menemui beberapa, tapi percakapan terasa canggung. Seperti kaset lama yang diputar di pemutar baru—tak lagi cocok.
Hari-hariku diisi dengan membantu orang tua di kebun kecil belakang rumah, membaca buku-buku lama, dan sesekali menonton televisi yang siarannya lebih sering kabur daripada jelas. Malam tiba cepat. Dan justru di malam-malam itu, perlahan-lahan muncul sesuatu yang belum pernah benar-benar kusadari.
Senyum Tini.
Sederhana, hangat, dan entah kenapa... menetap. Aku mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu kuanggap sepele—cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga saat tertawa, suara sepatunya di lantai keramik saat masuk ruang TV, atau tatapan mata jenakanya ketika aku meramal garis tangannya.
Semakin sunyi kampung, semakin sering bayangan itu datang. Kadang muncul saat aku mencuci piring. Kadang ketika duduk di beranda, memandangi langit senja. Tanpa kusadari, perasaan itu tumbuh. Diam-diam.
Aku mencoba mengabaikannya. Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri, Dia masih SMA, Man. Belum waktunya. Tapi suara logika itu semakin lemah, terutama ketika yang terngiang justru suaranya, tertawa ringan sambil berkata, “Mas Arman ini bisa aja...”

Malam itu aku duduk di bangku panjang depan rumah, diterangi cahaya kuning redup dari lampu gantung. Di sekeliling hanya ada jangkrik, angin malam, dan hatiku yang mulai terasa ramai.
Untuk pertama kalinya sejak aku mulai kuliah, ada seseorang yang hadir di pikiranku bukan sebagai beban atau tanggung jawab—tapi sebagai kemungkinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Haji

Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling se...