Namun, setiap kali Tini menyapa dengan ceria, sesuatu di
tubuh ini mengendur sedikit. Dunia yang selama ini serba kelabu mendadak agak
berwarna. Bukan cinta yang tiba-tiba datang — paling tidak belum — tapi sebuah
pengingat: mungkin hidup tak selalu harus ditanggapi dengan kepala tertunduk
dan napas berat.
Tanpa kusadari, namanya mulai lebih sering mampir di
kepalaku. Bukan sebagai beban atau gangguan, melainkan sebagai titik kecil yang
mengingatkanku bahwa masih ada hal-hal ringan yang layak dicari.
***
Sore itu hujan turun deras. Aku duduk di kamar, berusaha
membaca diktat, tapi suara hujan di atap seng membuat semua kalimat di halaman
seperti kabur.
Aku spontan mau menolak — alasanku sudah siap: banyak tugas,
pusing, atau sekadar malas. Tapi sebelum keluar kata-kata itu, Tini
menambahkan, “Bapak sama Ibu juga nonton, kok. Nggak rame-rame, cuma keluarga.”
Entah kenapa aku mengangguk. Mungkin karena suasana hujan
membuatku malas sendirian.
Di ruang tamu rumah Pak Rahmat, TV sudah menyala. Ada film
lawas yang pernah kutonton waktu kecil. Tini duduk di karpet, bersandar ke
sofa. Aku duduk di kursi samping Bapak dan Ibu, agak kaku.
Hujan di luar jadi latar suara yang pas. Ada aroma kopi dari
meja, dan semangkuk kacang goreng yang langsung disodorkan ke arahku. “Nih,
Mas,” kata Tini sambil tersenyum.
Film itu membuatku sesekali ikut tertawa. Rasanya aneh,
karena sudah lama aku tidak duduk santai begini — apalagi bersama orang lain.
Bahkan, di tengah cerita, aku nyaris lupa kalau seharusnya aku sedang “sibuk”
atau “terlalu dewasa” untuk momen-momen seperti ini.
Berita malam menyusul setelah film usai. Lampu ruang tamu
terasa hangat, suara hujan mereda, dan aku belum juga merasa ingin pulang.
***
Berita selesai. Musik penutup terdengar. Tapi aku tidak segera berdiri.
Tini masih duduk di sebelahku, mengayun-ayunkan kakinya
pelan. Matanya berbinar, seolah sedang menikmati peran barunya malam ini.
Aku menoleh, iseng berkata, “Tin, aku bisa baca garis
tanganmu, lho.”
Aku tersenyum, kali ini tulus. Malam itu, tanpa rencana,
tanpa genggaman tangan, atau janji-janji manis, kami mulai menemukan ruang
kecil di antara dunia kami yang selama ini terasa jauh.
“Aduh, garis cintanya panjang, Mas...” Tini terkikik sambil menarik tangannya dari genggamanku. Aku pura-pura merenung serius, lalu mengangguk-angguk seperti peramal kampung yang sedang membaca nasib. Dia tertawa lagi, matanya menyipit, bibirnya terangkat sempurna. Senyum yang entah kenapa terasa bertahan lebih lama dari seharusnya.
Malam itu berlalu seperti biasa. Tidak ada yang istimewa,
setidaknya begitu pikirku. Tapi entah mengapa, saat aku berbaring di tempat
tidur kontrakan, senyum itu masih saja terbayang.
***
Kampungku masih seperti dulu—jalan tanah yang berdebu, suara ayam berkokok dari balik pagar bambu, dan anak-anak kecil berlari-lari di sore hari. Tapi bagiku, semua itu terasa sedikit asing sekarang. Teman-teman sepermainan sudah banyak berubah. Ada yang bekerja sebagai guru, pegawai desa, atau ikut keluarga berdagang. Aku mencoba menemui beberapa, tapi percakapan terasa canggung. Seperti kaset lama yang diputar di pemutar baru—tak lagi cocok.
Hari-hariku diisi dengan membantu orang tua di kebun kecil belakang rumah, membaca buku-buku lama, dan sesekali menonton televisi yang siarannya lebih sering kabur daripada jelas. Malam tiba cepat. Dan justru di malam-malam itu, perlahan-lahan muncul sesuatu yang belum pernah benar-benar kusadari.
Sederhana, hangat, dan entah kenapa... menetap. Aku mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu kuanggap sepele—cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga saat tertawa, suara sepatunya di lantai keramik saat masuk ruang TV, atau tatapan mata jenakanya ketika aku meramal garis tangannya.
Semakin sunyi kampung, semakin sering bayangan itu datang. Kadang muncul saat aku mencuci piring. Kadang ketika duduk di beranda, memandangi langit senja. Tanpa kusadari, perasaan itu tumbuh. Diam-diam.
Aku mencoba mengabaikannya. Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri, Dia masih SMA, Man. Belum waktunya. Tapi suara logika itu semakin lemah, terutama ketika yang terngiang justru suaranya, tertawa ringan sambil berkata, “Mas Arman ini bisa aja...”
Malam itu aku duduk di bangku panjang depan rumah, diterangi cahaya kuning redup dari lampu gantung. Di sekeliling hanya ada jangkrik, angin malam, dan hatiku yang mulai terasa ramai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar