Oleh Abdul Rahman Saleh
Perpustakaan sore itu begitu hening, tapi kepalaku justru
riuh. Jari-jariku tak berhenti mengetuk meja kayu yang kusam, seolah ikut
menghitung detak panik di dadaku. Di layar ponsel, daftar nilai semester ini
terpampang jelas: dua mata kuliah harus kuulang. Dua. Sesuatu di mataku terasa
panas—antara lelah dan kecewa.
Di depanku, Didi duduk layu. Bahunya merosot, wajahnya
kusut. Kertas hasil ujian diremas-remas di tangannya, bunyinya seperti plastik
kresek yang tak sabar dirobek.
“Man,” suaranya serak, “kalau ujian ulang kali ini aku nggak
lulus juga… kayaknya aku berhenti kuliah.”
Aku menoleh cepat. “Serius, Di?”
Dia hanya mengangguk, pelan tapi pasti. “Capek, Man.
Bener-bener capek. Udah begadang tiap malam, belajar sampai kepala mau pecah,
tapi tetap nggak cukup. Kalau aku balik ke kampung, setidaknya bisa bantu orang
tua. Kerja. Nggak nyusahin mereka terus.”
Aku menarik napas panjang. Tiba-tiba detak jam dinding
terdengar begitu keras, seperti ikut menertawakan kebisuan kami.
“Jangan buru-buru mutusin, Di. Kita jalanin aja dulu,”
ujarku, mencoba tenang. “Masih ada waktu. Masih bisa diperjuangkan.”
Didi terkekeh hambar. “Berapa kali kita ngomong kayak gitu?
Tiap semester selalu sama. Kita bilang ‘jalanin aja dulu’, tapi nyatanya makin
berat. Hidup kita cuma isi deadline, dosen, revisi, sama… kecemasan.”
Aku tak membantah. Kata-katanya menampar, tepat di pipi yang
sudah perih. Bahkan Minggu pun terasa Senin. Kata “libur” hanya hiasan di
kalender—beban tetap menempel.
“Dan soal cinta…” Didi menyunggingkan senyum getir. “Kata
orang, kuliah itu masa indah: buku, pesta, cinta. Kita? Buku iya. Pesta? Cinta?
Mana sempet. Yang ada cinta bertepuk sebelah tangan sama… dosen penguji.”
Aku tak tahan untuk tidak tertawa. “Cinta bertepuk sebelah
tangan sama IPK.”
Tawa kami pecah. Lirih, sebentar, seperti lilin yang nyala
di tengah gerimis. Ada sedih yang terselip di situ. Jujur saja, mungkin hanya
obrolan seperti ini yang membuat kami masih bertahan. Menyisipkan tawa di
tengah rasa ingin menyerah.
“Gue cuma pengen lulus, Man,” suara Didi menurun satu nada.
“Nggak minta cumlaude, nggak minta dipuji. Cuma lulus. Itu aja sekarang rasanya
mewah banget.”
Aku terdiam. Diam-diam aku pun sama: hanya ingin tidak
tenggelam.
***
Malam itu, aku duduk di ranjang kos yang sempit. Kamarku dua
kali tiga meter, penuh tempelan catatan dan coretan yang makin mirip peta jalur
kereta api. Kasurnya berdecit tiap aku bergerak, meja belajarnya pincang, rak
plastiknya miring.
Aku merapatkan mata sebentar. Kangen. Kangen rumah, kangen
jadi anak kecil yang masalah terbesarnya hanya PR matematika. Di sini masalahku
jauh lebih rumit. Rasanya seperti lari maraton dengan kaki terikat, atau
tanding tinju dengan banyak lawan: tekanan, rasa minder, ketakutan gagal
membanggakan orang tua.
Orang-orang mungkin melihatku sebagai anak daerah
berprestasi dengan beasiswa. Mereka tidak tahu kalau tiap malam aku harus
menahan dingin demi mengirit listrik. Mereka tidak tahu perutku kadang kosong
karena uang saku menipis. Mereka tidak tahu senyumku di kampus hanyalah topeng
untuk menutup letih dan malu. Malu karena laptopku sering mati sendiri, malu
karena aku tertinggal dalam diskusi, malu karena merasa tak selevel dengan
teman-teman yang otaknya sudah diasah sejak kecil.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri: salahkah aku bermimpi
sebesar ini? Bukankah lebih mudah jika aku tetap di kampung, jadi guru honorer,
lalu hidup sederhana? Tapi tiap kali ingin menyerah, aku teringat tatapan ayah
dan ibu ketika aku bilang diterima di universitas negeri. Tatapan itu seperti
obor di kegelapan. Dan obor itu tidak boleh mati.
Aku di sini bukan hanya untuk bertahan hidup. Aku ingin
membuktikan. Bukan cuma kepada orang tua, tapi juga kepada diriku sendiri,
bahwa anak dari lereng bukit kecil ini juga bisa. Bisa sejajar, bisa sukses,
bisa membanggakan. Walaupun jalannya penuh kerikil tajam, walaupun napas
tersengal, aku tidak boleh berhenti.
Didi pun sama. Anak nelayan dari Madura, dari kampung yang
sinyal ponselnya masih seperti hantu—kadang ada, kadang tidak. Dia juga anak
daerah berprestasi yang masuk tanpa tes. Tapi di ruang kuliah, tidak ada kata
kesempatan jika lawanmu sudah dilatih menang sejak lahir.
Aku teringat ucapan ibu sebelum berangkat:
“Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Cukup jadi orang yang nggak
nyerah.”
Dulu aku percaya. Sekarang? Entahlah. Tapi mungkin benar,
nyerah bukan pilihan.
Tok-tok. Pintu diketuk pelan. Didi muncul dengan dua gelas
kopi sachet yang sudah dingin. Ia menaruhnya di meja.
“Minum dulu, Man. Biar nggak makin pening.”
Aku tersenyum tipis. “Thanks, Di.”
Kami duduk diam. Menyruput kopi murahan yang rasanya kalah
oleh sendok besi. Tapi dalam diam itu, aku tahu satu hal: kami sama-sama lelah…
tapi belum menyerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar