Senin, 18 Agustus 2025

Perjuangan

Oleh Abdul Rahman Saleh

Perpustakaan sore itu begitu hening, tapi kepalaku justru riuh. Jari-jariku tak berhenti mengetuk meja kayu yang kusam, seolah ikut menghitung detak panik di dadaku. Di layar ponsel, daftar nilai semester ini terpampang jelas: dua mata kuliah harus kuulang. Dua. Sesuatu di mataku terasa panas—antara lelah dan kecewa.

Di depanku, Didi duduk layu. Bahunya merosot, wajahnya kusut. Kertas hasil ujian diremas-remas di tangannya, bunyinya seperti plastik kresek yang tak sabar dirobek.

“Man,” suaranya serak, “kalau ujian ulang kali ini aku nggak lulus juga… kayaknya aku berhenti kuliah.”

Aku menoleh cepat. “Serius, Di?”

Dia hanya mengangguk, pelan tapi pasti. “Capek, Man. Bener-bener capek. Udah begadang tiap malam, belajar sampai kepala mau pecah, tapi tetap nggak cukup. Kalau aku balik ke kampung, setidaknya bisa bantu orang tua. Kerja. Nggak nyusahin mereka terus.”

Aku menarik napas panjang. Tiba-tiba detak jam dinding terdengar begitu keras, seperti ikut menertawakan kebisuan kami.

“Jangan buru-buru mutusin, Di. Kita jalanin aja dulu,” ujarku, mencoba tenang. “Masih ada waktu. Masih bisa diperjuangkan.”

Didi terkekeh hambar. “Berapa kali kita ngomong kayak gitu? Tiap semester selalu sama. Kita bilang ‘jalanin aja dulu’, tapi nyatanya makin berat. Hidup kita cuma isi deadline, dosen, revisi, sama… kecemasan.”

Aku tak membantah. Kata-katanya menampar, tepat di pipi yang sudah perih. Bahkan Minggu pun terasa Senin. Kata “libur” hanya hiasan di kalender—beban tetap menempel.

“Dan soal cinta…” Didi menyunggingkan senyum getir. “Kata orang, kuliah itu masa indah: buku, pesta, cinta. Kita? Buku iya. Pesta? Cinta? Mana sempet. Yang ada cinta bertepuk sebelah tangan sama… dosen penguji.”

Aku tak tahan untuk tidak tertawa. “Cinta bertepuk sebelah tangan sama IPK.”

Tawa kami pecah. Lirih, sebentar, seperti lilin yang nyala di tengah gerimis. Ada sedih yang terselip di situ. Jujur saja, mungkin hanya obrolan seperti ini yang membuat kami masih bertahan. Menyisipkan tawa di tengah rasa ingin menyerah.

“Gue cuma pengen lulus, Man,” suara Didi menurun satu nada. “Nggak minta cumlaude, nggak minta dipuji. Cuma lulus. Itu aja sekarang rasanya mewah banget.”

Aku terdiam. Diam-diam aku pun sama: hanya ingin tidak tenggelam.

***

Malam itu, aku duduk di ranjang kos yang sempit. Kamarku dua kali tiga meter, penuh tempelan catatan dan coretan yang makin mirip peta jalur kereta api. Kasurnya berdecit tiap aku bergerak, meja belajarnya pincang, rak plastiknya miring.

Aku merapatkan mata sebentar. Kangen. Kangen rumah, kangen jadi anak kecil yang masalah terbesarnya hanya PR matematika. Di sini masalahku jauh lebih rumit. Rasanya seperti lari maraton dengan kaki terikat, atau tanding tinju dengan banyak lawan: tekanan, rasa minder, ketakutan gagal membanggakan orang tua.

Orang-orang mungkin melihatku sebagai anak daerah berprestasi dengan beasiswa. Mereka tidak tahu kalau tiap malam aku harus menahan dingin demi mengirit listrik. Mereka tidak tahu perutku kadang kosong karena uang saku menipis. Mereka tidak tahu senyumku di kampus hanyalah topeng untuk menutup letih dan malu. Malu karena laptopku sering mati sendiri, malu karena aku tertinggal dalam diskusi, malu karena merasa tak selevel dengan teman-teman yang otaknya sudah diasah sejak kecil.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri: salahkah aku bermimpi sebesar ini? Bukankah lebih mudah jika aku tetap di kampung, jadi guru honorer, lalu hidup sederhana? Tapi tiap kali ingin menyerah, aku teringat tatapan ayah dan ibu ketika aku bilang diterima di universitas negeri. Tatapan itu seperti obor di kegelapan. Dan obor itu tidak boleh mati.

Aku di sini bukan hanya untuk bertahan hidup. Aku ingin membuktikan. Bukan cuma kepada orang tua, tapi juga kepada diriku sendiri, bahwa anak dari lereng bukit kecil ini juga bisa. Bisa sejajar, bisa sukses, bisa membanggakan. Walaupun jalannya penuh kerikil tajam, walaupun napas tersengal, aku tidak boleh berhenti.

Didi pun sama. Anak nelayan dari Madura, dari kampung yang sinyal ponselnya masih seperti hantu—kadang ada, kadang tidak. Dia juga anak daerah berprestasi yang masuk tanpa tes. Tapi di ruang kuliah, tidak ada kata kesempatan jika lawanmu sudah dilatih menang sejak lahir.

Aku teringat ucapan ibu sebelum berangkat:
“Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Cukup jadi orang yang nggak nyerah.”

Dulu aku percaya. Sekarang? Entahlah. Tapi mungkin benar, nyerah bukan pilihan.

Tok-tok. Pintu diketuk pelan. Didi muncul dengan dua gelas kopi sachet yang sudah dingin. Ia menaruhnya di meja.

“Minum dulu, Man. Biar nggak makin pening.”

Aku tersenyum tipis. “Thanks, Di.”

Kami duduk diam. Menyruput kopi murahan yang rasanya kalah oleh sendok besi. Tapi dalam diam itu, aku tahu satu hal: kami sama-sama lelah… tapi belum menyerah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...