Abdul R Saleh
Pagi datang seperti biasa, tanpa gegap, tanpa janji apa pun.
Cahaya matahari merayap pelan melalui celah tirai, jatuh di atas meja kerja
yang dipenuhi buku, kertas, dan catatan-catatan yang tak lagi muda. Segalanya
tampak diam, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat di ruangan ini.
Aku duduk di kursi yang sama, seperti hari-hari sebelumnya.
Menyalakan laptop dengan gerakan yang nyaris ritual. Tidak tergesa, tetapi juga
tidak benar-benar santai. Ada sesuatu yang kutunggu, meski aku tak pernah
benar-benar mengakuinya.
Kotak masuk email.
Kosong.
Aku menatap layar itu lebih lama dari yang diperlukan. Seolah
dengan menunggu beberapa detik tambahan, sesuatu akan berubah. Seolah akan ada
pesan yang terlambat masuk, atau sistem yang sekadar lamban memperbarui
dirinya.
Namun, yang datang hanya keheningan.
Aku membuka folder lain—spam, promosi, langganan yang entah
sejak kapan tak lagi kubaca. Semua ada. Dunia tampak sibuk berkomunikasi,
kecuali dengan diriku.
Aku menutup laptop perlahan.
Di dalam dada, ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dinamai.
Bukan marah, bukan pula sekadar kecewa. Lebih seperti ruang kosong yang
mengembang pelan, tanpa suara.
“Mungkin belum hari ini,” gumamku.
Padahal, jauh di dalam, aku tahu ini bukan tentang hari.
Ini tentang apakah aku masih dianggap ada.
***
Dulu, aku tidak pernah menunggu seperti ini.
Undangan datang bahkan sebelum aku sempat mengosongkan
jadwal. Telepon berdering, pesan masuk bertubi-tubi, nama disebut dengan nada
penuh harap. Aku diundang sebagai narasumber, instruktur, pembicara—berpindah
dari satu kota ke kota lain, dari satu forum ke forum berikutnya.
Aku hadir.
Bukan sekadar hadir, tetapi memberi. Sepenuh yang aku mampu.
Aku membagikan pengetahuan, pengalaman, bahkan hal-hal kecil yang kadang tak
tercatat dalam buku. Aku percaya, ilmu tidak boleh berhenti di satu kepala.
Dan mungkin, tanpa kusadari, aku juga percaya bahwa dengan
memberi, aku akan terus diingat.
Keyakinan yang sederhana. Dan rupanya, terlalu sederhana.
***
Ada satu nama yang terlintas di benakku setiap kali aku
membuka email.
Seseorang yang dulu sering datang kepadaku. Dengan
pertanyaan, dengan kegelisahan, dengan keinginan untuk memahami lebih dalam.
Kami berbincang panjang tentang bibliometrik, tentang metodologi, tentang
bagaimana merancang pelatihan yang bukan hanya informatif, tetapi juga
bermakna.
Aku membimbingnya.
Kadang berjam-jam, kadang tanpa imbalan apa pun selain rasa
puas karena melihat seseorang tumbuh. Ia menyerap banyak hal dengan cepat. Dan
aku, seperti seorang guru yang diam-diam bangga, melihatnya berkembang.
Ia mulai dikenal. Namanya muncul di berbagai forum. Ia
berdiri di depan banyak orang, menjelaskan hal-hal yang dulu pernah kami
diskusikan bersama.
Aku ikut senang.
Sungguh.
Hingga suatu hari, dalam sebuah percakapan yang ringan,
nyaris tanpa beban, ia berkata,
“Nanti kalau saya buat pelatihan bibliometrik, Bapak harus jadi instruktur, ya.
Itu sudah pasti.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, ia menetap.
Seperti janji kecil yang tidak diikat apa pun, tetapi cukup
untuk menumbuhkan harapan.
Sejak saat itu, aku menunggu.
***
Hari-hari berlalu tanpa tanda.
Aku mulai membuka email lebih sering. Kadang pagi-pagi
sekali, bahkan sebelum kopi pertama terseduh sempurna. Kadang menjelang siang,
sore, bahkan malam. Seolah-olah waktu memiliki kemungkinan yang berbeda di
setiap jamnya.
Namun hasilnya selalu sama.
Kosong.
Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi aku mulai mencari dari
tempat lain. Media sosial, grup profesional, forum daring—tempat di mana kabar
sering kali muncul lebih dulu daripada undangan resmi.
Dan pada suatu siang yang biasa, aku menemukannya.
Sebuah poster.
Pelatihan “Bibliometrik bagi Pustakawan.”
Aku menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya. Judul
itu begitu akrab, seperti gema dari percakapan-percakapan lama. Beberapa poin
yang tertulis terasa seperti serpihan dari apa yang dulu pernah kami bahas
bersama.
Aku menggeser layar sedikit.
Mencari nama.
Bukan aku.
Aku membaca ulang, pelan-pelan, seolah ada bagian yang
terlewat. Seolah namaku hanya tersembunyi di sudut yang belum sempat kubaca.
Namun tidak.
Namaku memang tidak ada di sana.
Yang ada adalah namanya.
Dan beberapa nama lain yang lebih muda, lebih baru, lebih…
kini.
Aku tidak langsung bereaksi.
Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kemarahan yang tiba-tiba
membuncah. Yang ada justru keheningan yang lebih dalam dari biasanya.
Seperti sesuatu di dalam diriku yang perlahan runtuh, tanpa
suara.
Aku menutup layar ponsel.
Dan untuk beberapa saat, aku hanya duduk.
***
Hari itu, aku tidak menulis.
Padahal biasanya, menulis adalah pelarian yang paling setia.
Setelah membuka email yang kosong, aku akan beralih ke naskahku. Menyusun
kalimat, memperbaiki paragraf, atau sekadar mengisi halaman dengan apa pun yang
tersisa di kepala.
Namun hari itu berbeda.
Aku duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan buku dan
kertas yang telah menemaniku bertahun-tahun. Mereka adalah saksi dari
perjalanan panjang yang pernah kulalui—jejak-jejak yang dulu terasa hidup, kini
seperti benda-benda yang perlahan kehilangan makna.
Aku menyentuh salah satu buku.
Membukanya.
Ada catatan kecil di pinggir halaman, tulisan tanganku
sendiri, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Aku mencoba mengingat kapan terakhir
kali aku menulis dengan penuh keyakinan seperti itu.
Sulit.
“Jadi, begini rasanya…” bisikku.
Pelan-pelan dilupakan.
Bukan dengan cara yang kejam. Tidak ada yang datang dan
berkata bahwa aku tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada yang secara terang-terangan
menyingkirkan.
Semuanya terjadi dengan cara yang lebih halus.
Orang-orang hanya… berhenti mengingat.
***
Sore turun tanpa permisi.
Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyapu meja kerja
dengan warna keemasan yang hangat. Bayangan benda-benda memanjang, seolah
mencoba bertahan sedikit lebih lama sebelum malam benar-benar datang.
Aku kembali membuka laptop.
Bukan untuk memeriksa email.
Kali ini, aku membuka dokumen kosong.
Kursor berkedip di sudut layar, seperti detak kecil yang
sabar menunggu.
Aku mengetik satu kalimat.
Lalu berhenti.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Kalimat kedua terasa lebih jujur. Lebih dekat dengan apa yang
kurasakan, meski belum sepenuhnya mampu menjelaskannya.
Aku terus menulis.
Perlahan.
Tanpa tergesa.
Kali ini, aku tidak memikirkan apakah tulisan ini akan
dibaca. Tidak juga tentang apakah ini akan menghasilkan sesuatu. Aku tidak lagi
membayangkan undangan, atau forum, atau tepuk tangan.
Semua itu terasa jauh.
Yang ada hanya aku, dan kata-kata.
Mungkin benar, menulis bukan lagi tentang dikenal. Bukan
tentang diingat, apalagi dihargai. Menulis adalah cara terakhir yang kupunya
untuk menjaga diriku tetap utuh.
Untuk memastikan bahwa pikiranku belum padam.
Bahwa aku belum sepenuhnya hilang.
Di luar sana, dunia mungkin terus bergerak tanpa menoleh ke
belakang. Nama-nama baru akan terus muncul, menggantikan yang lama tanpa banyak
pertanyaan.
Dan aku…
Aku mungkin hanya akan menjadi bagian dari masa lalu yang
perlahan memudar.
Namun di sini, di antara kalimat-kalimat yang kususun dengan
hati-hati, aku masih ada.
Meski sederhana.
Meski sunyi.
Dan jika suatu hari nanti ingatanku mulai pudar—jika
kata-kata yang dulu begitu akrab perlahan menghilang dari kepalaku—setidaknya
aku pernah mencoba meninggalkan sesuatu.
Bukan untuk dikenang.
Tetapi untuk membuktikan bahwa aku pernah hidup, pernah
berpikir, pernah merasa.
Dan pernah menunggu.
Sebuah undangan…
yang tak pernah datang.
(Boo, 30/03/2026)