Senin, 30 Maret 2026

Pelan-Pelan Dilupakan (Cerpen)

Abdul R Saleh

Pagi datang seperti biasa, tanpa gegap, tanpa janji apa pun. Cahaya matahari merayap pelan melalui celah tirai, jatuh di atas meja kerja yang dipenuhi buku, kertas, dan catatan-catatan yang tak lagi muda. Segalanya tampak diam, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat di ruangan ini.

Aku duduk di kursi yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Menyalakan laptop dengan gerakan yang nyaris ritual. Tidak tergesa, tetapi juga tidak benar-benar santai. Ada sesuatu yang kutunggu, meski aku tak pernah benar-benar mengakuinya.

Kotak masuk email.

Kosong.

Aku menatap layar itu lebih lama dari yang diperlukan. Seolah dengan menunggu beberapa detik tambahan, sesuatu akan berubah. Seolah akan ada pesan yang terlambat masuk, atau sistem yang sekadar lamban memperbarui dirinya.

Namun, yang datang hanya keheningan.

Aku membuka folder lain—spam, promosi, langganan yang entah sejak kapan tak lagi kubaca. Semua ada. Dunia tampak sibuk berkomunikasi, kecuali dengan diriku.

Aku menutup laptop perlahan.

Di dalam dada, ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dinamai. Bukan marah, bukan pula sekadar kecewa. Lebih seperti ruang kosong yang mengembang pelan, tanpa suara.

“Mungkin belum hari ini,” gumamku.

Padahal, jauh di dalam, aku tahu ini bukan tentang hari.

Ini tentang apakah aku masih dianggap ada.

***

Dulu, aku tidak pernah menunggu seperti ini.

Undangan datang bahkan sebelum aku sempat mengosongkan jadwal. Telepon berdering, pesan masuk bertubi-tubi, nama disebut dengan nada penuh harap. Aku diundang sebagai narasumber, instruktur, pembicara—berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu forum ke forum berikutnya.

Aku hadir.

Bukan sekadar hadir, tetapi memberi. Sepenuh yang aku mampu. Aku membagikan pengetahuan, pengalaman, bahkan hal-hal kecil yang kadang tak tercatat dalam buku. Aku percaya, ilmu tidak boleh berhenti di satu kepala.

Dan mungkin, tanpa kusadari, aku juga percaya bahwa dengan memberi, aku akan terus diingat.

Keyakinan yang sederhana. Dan rupanya, terlalu sederhana.

***

Ada satu nama yang terlintas di benakku setiap kali aku membuka email.

Seseorang yang dulu sering datang kepadaku. Dengan pertanyaan, dengan kegelisahan, dengan keinginan untuk memahami lebih dalam. Kami berbincang panjang tentang bibliometrik, tentang metodologi, tentang bagaimana merancang pelatihan yang bukan hanya informatif, tetapi juga bermakna.

Aku membimbingnya.

Kadang berjam-jam, kadang tanpa imbalan apa pun selain rasa puas karena melihat seseorang tumbuh. Ia menyerap banyak hal dengan cepat. Dan aku, seperti seorang guru yang diam-diam bangga, melihatnya berkembang.

Ia mulai dikenal. Namanya muncul di berbagai forum. Ia berdiri di depan banyak orang, menjelaskan hal-hal yang dulu pernah kami diskusikan bersama.

Aku ikut senang.

Sungguh.

Hingga suatu hari, dalam sebuah percakapan yang ringan, nyaris tanpa beban, ia berkata,
“Nanti kalau saya buat pelatihan bibliometrik, Bapak harus jadi instruktur, ya. Itu sudah pasti.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa, ia menetap.

Seperti janji kecil yang tidak diikat apa pun, tetapi cukup untuk menumbuhkan harapan.

Sejak saat itu, aku menunggu.

***

Hari-hari berlalu tanpa tanda.

Aku mulai membuka email lebih sering. Kadang pagi-pagi sekali, bahkan sebelum kopi pertama terseduh sempurna. Kadang menjelang siang, sore, bahkan malam. Seolah-olah waktu memiliki kemungkinan yang berbeda di setiap jamnya.

Namun hasilnya selalu sama.

Kosong.

Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi aku mulai mencari dari tempat lain. Media sosial, grup profesional, forum daring—tempat di mana kabar sering kali muncul lebih dulu daripada undangan resmi.

Dan pada suatu siang yang biasa, aku menemukannya.

Sebuah poster.

Pelatihan “Bibliometrik bagi Pustakawan.”

Aku menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya. Judul itu begitu akrab, seperti gema dari percakapan-percakapan lama. Beberapa poin yang tertulis terasa seperti serpihan dari apa yang dulu pernah kami bahas bersama.

Aku menggeser layar sedikit.

Mencari nama.

Bukan aku.

Aku membaca ulang, pelan-pelan, seolah ada bagian yang terlewat. Seolah namaku hanya tersembunyi di sudut yang belum sempat kubaca.

Namun tidak.

Namaku memang tidak ada di sana.

Yang ada adalah namanya.

Dan beberapa nama lain yang lebih muda, lebih baru, lebih… kini.

Aku tidak langsung bereaksi.

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kemarahan yang tiba-tiba membuncah. Yang ada justru keheningan yang lebih dalam dari biasanya.

Seperti sesuatu di dalam diriku yang perlahan runtuh, tanpa suara.

Aku menutup layar ponsel.

Dan untuk beberapa saat, aku hanya duduk.

***

Hari itu, aku tidak menulis.

Padahal biasanya, menulis adalah pelarian yang paling setia. Setelah membuka email yang kosong, aku akan beralih ke naskahku. Menyusun kalimat, memperbaiki paragraf, atau sekadar mengisi halaman dengan apa pun yang tersisa di kepala.

Namun hari itu berbeda.

Aku duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan buku dan kertas yang telah menemaniku bertahun-tahun. Mereka adalah saksi dari perjalanan panjang yang pernah kulalui—jejak-jejak yang dulu terasa hidup, kini seperti benda-benda yang perlahan kehilangan makna.

Aku menyentuh salah satu buku.

Membukanya.

Ada catatan kecil di pinggir halaman, tulisan tanganku sendiri, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menulis dengan penuh keyakinan seperti itu.

Sulit.

“Jadi, begini rasanya…” bisikku.

Pelan-pelan dilupakan.

Bukan dengan cara yang kejam. Tidak ada yang datang dan berkata bahwa aku tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada yang secara terang-terangan menyingkirkan.

Semuanya terjadi dengan cara yang lebih halus.

Orang-orang hanya… berhenti mengingat.

***

Sore turun tanpa permisi.

Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyapu meja kerja dengan warna keemasan yang hangat. Bayangan benda-benda memanjang, seolah mencoba bertahan sedikit lebih lama sebelum malam benar-benar datang.

Aku kembali membuka laptop.

Bukan untuk memeriksa email.

Kali ini, aku membuka dokumen kosong.

Kursor berkedip di sudut layar, seperti detak kecil yang sabar menunggu.

Aku mengetik satu kalimat.

Lalu berhenti.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Kalimat kedua terasa lebih jujur. Lebih dekat dengan apa yang kurasakan, meski belum sepenuhnya mampu menjelaskannya.

Aku terus menulis.

Perlahan.

Tanpa tergesa.

Kali ini, aku tidak memikirkan apakah tulisan ini akan dibaca. Tidak juga tentang apakah ini akan menghasilkan sesuatu. Aku tidak lagi membayangkan undangan, atau forum, atau tepuk tangan.

Semua itu terasa jauh.

Yang ada hanya aku, dan kata-kata.

Mungkin benar, menulis bukan lagi tentang dikenal. Bukan tentang diingat, apalagi dihargai. Menulis adalah cara terakhir yang kupunya untuk menjaga diriku tetap utuh.

Untuk memastikan bahwa pikiranku belum padam.

Bahwa aku belum sepenuhnya hilang.

Di luar sana, dunia mungkin terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Nama-nama baru akan terus muncul, menggantikan yang lama tanpa banyak pertanyaan.

Dan aku…

Aku mungkin hanya akan menjadi bagian dari masa lalu yang perlahan memudar.

Namun di sini, di antara kalimat-kalimat yang kususun dengan hati-hati, aku masih ada.

Meski sederhana.

Meski sunyi.

Dan jika suatu hari nanti ingatanku mulai pudar—jika kata-kata yang dulu begitu akrab perlahan menghilang dari kepalaku—setidaknya aku pernah mencoba meninggalkan sesuatu.

Bukan untuk dikenang.

Tetapi untuk membuktikan bahwa aku pernah hidup, pernah berpikir, pernah merasa.

Dan pernah menunggu.

Sebuah undangan…

yang tak pernah datang.

(Boo, 30/03/2026)

 

Jumat, 27 Maret 2026

Sawah, Kepodang, dan Janji yang Retak (Cerpen)

Abdul Rahman Saleh

Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.

Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.

Panas… panas…

Rohim mengangkat wajah. Keringat mengalir dari pelipis, menuruni rahang, jatuh ke tanah yang retak.

“Iya,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tahu.”

Sudah berminggu-minggu langit seperti lupa pada hujan. Tanah di halaman mengeras, pecah dalam garis-garis kecil seperti peta yang tak selesai digambar. Sumur di belakang rumah mulai mengering—airnya tinggal sepetak bayangan.

Ketika suara itu datang dari depan, Rohim hampir mengira itu hanya gema dari kepodang.

“Pos!”

Ia bangkit. Kata itu terasa asing, seperti tamu yang salah alamat.

“Untuk siapa, Pak?” tanyanya.

“Pak Rohim. Betul ini rumahnya?”

Rohim mengangguk. Amplop berpindah tangan. Tulisan di permukaannya tipis, agak miring—ia mengenalinya seperti mengenali luka lama.

Ia membuka perlahan. Kata-kata pertama lewat tanpa bekas. Kabar sehat. Panen seadanya. Harga pupuk. Semuanya terasa seperti angin yang tak pernah benar-benar datang.

Hingga baris terakhir itu.

Ia berhenti.

Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.

Panas… panas…

“Ratih,” panggilnya.

Perempuan itu muncul dari dapur, membawa aroma air rebusan yang hampir habis. Tangannya basah, matanya bertanya.

“Ada apa, Mas?”

Rohim menyerahkan surat itu. Ratih membaca cepat, lalu mengulang bagian akhir dengan suara lirih, seolah takut kata-kata itu berubah jika diucapkan terlalu keras.

“Parman… menikah.”

Rohim tidak menjawab. Ia hanya menatap tanah.

“Kita diminta pulang,” kata Ratih lagi.

Hening menggantung di antara mereka. Hanya suara kepodang yang berulang—seperti mengisi ruang yang tak sanggup mereka isi sendiri.

“Mas,” kata Ratih akhirnya, “kita punya uang?”

Pertanyaan itu tidak sederhana. Ia jatuh seperti batu ke dalam sumur yang hampir kering—dalam, berat, dan tak memantul kembali.

“Untuk makan saja kita kurang,” jawab Rohim pelan. “Apalagi untuk pulang.”

“Kalau pinjam?”

Rohim tersenyum tipis—senyum yang tak pernah sampai ke mata.
“Siapa yang masih percaya kita bisa mengembalikan?”

Ratih menunduk. Jemarinya saling menggenggam.

“Tapi itu adikku, Mas.”

Kepodang kembali bersuara. Lebih panjang. Lebih nyaring.

Rohim memejamkan mata sejenak, lalu berkata,
“Besok aku ke koperasi.”

***

Gedung koperasi berdiri dengan wajah yang terlalu rapi untuk dunia Rohim. Dindingnya bersih. Lantainya dingin. Segalanya tampak teratur—seperti hidup yang tidak pernah goyah oleh kebutuhan.

Rohim duduk di ruang tunggu, merasa seperti noda kecil di atas kertas putih.

Datang lagi? seolah-olah gedung itu bertanya.

Datang lagi, jawabnya dalam hati. Karena aku tak punya tempat lain untuk meminta.

Seorang pegawai mengenalinya.

“Pak Rohim? Mau bayar angsuran?”

“Memperpanjang,” jawabnya singkat.

Pegawai itu mengangguk, seperti orang yang sudah hafal alur cerita yang sama.

Pinjaman itu akhirnya turun. Namun seperti biasa, angka-angka bekerja dengan caranya sendiri—memotong, mengurangi, menyisakan sesuatu yang selalu kurang.

Saat Rohim keluar, uang di tangannya terasa ringan. Terlalu ringan untuk sebuah perjalanan pulang.

***

Di rumah, Ratih menunggu dengan mata yang penuh tanya.

“Cukup, Mas?”

“Cukup untuk berangkat,” jawab Rohim.

Ratih tidak langsung bicara. Ia tahu kalimat itu selalu memiliki bayangan.

“Lalu pulangnya?”

Rohim memandang halaman. Tanahnya retak, seperti sesuatu yang ingin diingatkan.

“Kita gadaikan sawahmu.”

Ratih menoleh cepat.
“Yang hibah dari Kakek?”

Rohim mengangguk.
“Kita bagi. Untuk ongkos pulang, dan beli anak sapi.”

“Sapi?”

“Kita titipkan ke Bapak. Sistem gaduh. Kalau sudah besar, kita jual. Uangnya untuk tebus sawah itu.”

Ratih diam cukup lama. Di kejauhan, kepodang kembali bersuara—kali ini seperti tertawa pendek.

“Kalau gagal?” tanyanya.

Rohim menatapnya.
“Kalau gagal… ya seperti hidup kita selama ini.”

Ratih menghela napas.
“Baik, Mas.”

***

Di Karang Nunggal, sawah itu berpindah tangan untuk sementara. Uang mengalir, lalu terpecah—sebagian menjadi ongkos, sebagian lagi menjadi seekor anak sapi yang kurus tapi hidup.

Rohim berdiri di samping kandang, menatap makhluk kecil itu seperti menatap masa depan yang bisa disentuh.

“Rawat baik-baik, Pak,” katanya kepada mertuanya.

“Tentu,” jawab lelaki tua itu. “Ini juga untuk kalian.”

Sapi itu mengibaskan ekornya pelan. Di matanya, tak ada janji. Hanya hidup yang berjalan.

***

Waktu berjalan seperti air yang tersisa di sumur—pelan, tapi pasti berkurang.

Hingga suatu hari, Parman datang.

Wajahnya gelisah, seperti orang yang membawa kabar yang tak ingin didengar.

“Mas…” katanya.

Rohim sudah tahu, bahkan sebelum kata-kata itu selesai.

“Sapi itu…” lanjut Parman, “aku jual.”

Hening.

Di kejauhan, kepodang bersuara lagi—kali ini seperti patah di tengah.

“Aku butuh uang,” kata Parman cepat. “Utang nikahku—”

“Tanpa bilang?” potong Rohim.

“Aku tidak punya pilihan!”

Rohim menatapnya lama.
“Pilihan selalu ada. Hanya saja, kamu memilih yang paling cepat.”

Parman menunduk. Kata-kata itu jatuh, tapi tidak memantul.

***

Sawah itu akhirnya ditebus—bukan oleh sapi, melainkan oleh tabungan yang disimpan Rohim untuk masa depan anaknya.

Dulloh.

Nama itu semula terasa seperti pintu yang terbuka.

“Kalau nanti dia kuliah,” kata Rohim pada dirinya sendiri suatu malam, “hidupnya mungkin tidak seperti ini.”

Parman datang lagi, membawa janji baru.

“Aku bantu, Mas. Kalau Dulloh kuliah, aku yang tanggung.”

Janji itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya berat.

Namun Rohim tetap menerimanya.

Karena kadang harapan tidak butuh keyakinan—hanya butuh tempat untuk bertahan.

***

Tahun-tahun berlalu.

Dulloh tumbuh. Lulus. Diterima kuliah.

“Pak,” katanya suatu sore, “aku keterima.”

Rohim tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, senyum itu terasa utuh.

“Iya,” katanya. “Bagus.”

Parman menepati janjinya—sebulan, dua bulan.

Lalu berhenti.

Seperti hujan yang hanya jatuh sebentar di musim kemarau.

Ketika Rohim datang menagih dengan cara yang paling halus, Parman hanya berkata,
“Aku lagi susah, Mas.”

Kata itu terasa akrab. Terlalu akrab.

***

Sore itu, Rohim duduk di teras. Dulloh di sampingnya.

“Pak… jadi kuliahnya bagaimana?”

Rohim tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman. Tanahnya masih retak, meski musim sudah berganti.

Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.

Kali ini tidak terdengar seperti keluhan. Tidak juga seperti ejekan.

Hanya suara yang berulang—seperti sesuatu yang memang tidak pernah berubah.

Rohim menarik napas panjang.

“Kita cari jalan,” katanya akhirnya.

Seperti biasa.

Dulloh mengangguk, percaya sepenuhnya.

Dan Rohim tetap menatap tanah itu—tanah yang pernah hampir hilang, pernah ditebus, dan tetap saja tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Seperti janji.

Seperti harapan.

Seperti suara kepodang yang terus kembali,
meski tak pernah membawa hujan. (Bogor, Akhir Maret 2026)

 

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...