Abdul Rahman Saleh
Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi
sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap
sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun
menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.
Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah
sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.
Panas… panas…
Rohim mengangkat wajah. Keringat mengalir dari pelipis,
menuruni rahang, jatuh ke tanah yang retak.
“Iya,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tahu.”
Sudah berminggu-minggu langit seperti lupa pada hujan. Tanah
di halaman mengeras, pecah dalam garis-garis kecil seperti peta yang tak
selesai digambar. Sumur di belakang rumah mulai mengering—airnya tinggal
sepetak bayangan.
Ketika suara itu datang dari depan, Rohim hampir mengira itu
hanya gema dari kepodang.
“Pos!”
Ia bangkit. Kata itu terasa asing, seperti tamu yang salah
alamat.
“Untuk siapa, Pak?” tanyanya.
“Pak Rohim. Betul ini rumahnya?”
Rohim mengangguk. Amplop berpindah tangan. Tulisan di
permukaannya tipis, agak miring—ia mengenalinya seperti mengenali luka lama.
Ia membuka perlahan. Kata-kata pertama lewat tanpa bekas.
Kabar sehat. Panen seadanya. Harga pupuk. Semuanya terasa seperti angin yang
tak pernah benar-benar datang.
Hingga baris terakhir itu.
Ia berhenti.
Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.
Panas… panas…
“Ratih,” panggilnya.
Perempuan itu muncul dari dapur, membawa aroma air rebusan
yang hampir habis. Tangannya basah, matanya bertanya.
“Ada apa, Mas?”
Rohim menyerahkan surat itu. Ratih membaca cepat, lalu
mengulang bagian akhir dengan suara lirih, seolah takut kata-kata itu berubah
jika diucapkan terlalu keras.
“Parman… menikah.”
Rohim tidak menjawab. Ia hanya menatap tanah.
“Kita diminta pulang,” kata Ratih lagi.
Hening menggantung di antara mereka. Hanya suara kepodang
yang berulang—seperti mengisi ruang yang tak sanggup mereka isi sendiri.
“Mas,” kata Ratih akhirnya, “kita punya uang?”
Pertanyaan itu tidak sederhana. Ia jatuh seperti batu ke
dalam sumur yang hampir kering—dalam, berat, dan tak memantul kembali.
“Untuk makan saja kita kurang,” jawab Rohim pelan. “Apalagi
untuk pulang.”
“Kalau pinjam?”
Rohim tersenyum tipis—senyum yang tak pernah sampai ke mata.
“Siapa yang masih percaya kita bisa mengembalikan?”
Ratih menunduk. Jemarinya saling menggenggam.
“Tapi itu adikku, Mas.”
Kepodang kembali bersuara. Lebih panjang. Lebih nyaring.
Rohim memejamkan mata sejenak, lalu berkata,
“Besok aku ke koperasi.”
***
Gedung koperasi berdiri dengan wajah yang terlalu rapi untuk
dunia Rohim. Dindingnya bersih. Lantainya dingin. Segalanya tampak
teratur—seperti hidup yang tidak pernah goyah oleh kebutuhan.
Rohim duduk di ruang tunggu, merasa seperti noda kecil di
atas kertas putih.
Datang lagi? seolah-olah gedung itu bertanya.
Datang lagi, jawabnya dalam hati. Karena aku tak
punya tempat lain untuk meminta.
Seorang pegawai mengenalinya.
“Pak Rohim? Mau bayar angsuran?”
“Memperpanjang,” jawabnya singkat.
Pegawai itu mengangguk, seperti orang yang sudah hafal alur
cerita yang sama.
Pinjaman itu akhirnya turun. Namun seperti biasa,
angka-angka bekerja dengan caranya sendiri—memotong, mengurangi, menyisakan
sesuatu yang selalu kurang.
Saat Rohim keluar, uang di tangannya terasa ringan. Terlalu
ringan untuk sebuah perjalanan pulang.
***
Di rumah, Ratih menunggu dengan mata yang penuh tanya.
“Cukup, Mas?”
“Cukup untuk berangkat,” jawab Rohim.
Ratih tidak langsung bicara. Ia tahu kalimat itu selalu
memiliki bayangan.
“Lalu pulangnya?”
Rohim memandang halaman. Tanahnya retak, seperti sesuatu
yang ingin diingatkan.
“Kita gadaikan sawahmu.”
Ratih menoleh cepat.
“Yang hibah dari Kakek?”
Rohim mengangguk.
“Kita bagi. Untuk ongkos pulang, dan beli anak sapi.”
“Sapi?”
“Kita titipkan ke Bapak. Sistem gaduh. Kalau sudah besar,
kita jual. Uangnya untuk tebus sawah itu.”
Ratih diam cukup lama. Di kejauhan, kepodang kembali
bersuara—kali ini seperti tertawa pendek.
“Kalau gagal?” tanyanya.
Rohim menatapnya.
“Kalau gagal… ya seperti hidup kita selama ini.”
Ratih menghela napas.
“Baik, Mas.”
***
Di Karang Nunggal, sawah itu berpindah tangan untuk
sementara. Uang mengalir, lalu terpecah—sebagian menjadi ongkos, sebagian lagi
menjadi seekor anak sapi yang kurus tapi hidup.
Rohim berdiri di samping kandang, menatap makhluk kecil itu
seperti menatap masa depan yang bisa disentuh.
“Rawat baik-baik, Pak,” katanya kepada mertuanya.
“Tentu,” jawab lelaki tua itu. “Ini juga untuk kalian.”
Sapi itu mengibaskan ekornya pelan. Di matanya, tak ada
janji. Hanya hidup yang berjalan.
***
Waktu berjalan seperti air yang tersisa di sumur—pelan, tapi
pasti berkurang.
Hingga suatu hari, Parman datang.
Wajahnya gelisah, seperti orang yang membawa kabar yang tak
ingin didengar.
“Mas…” katanya.
Rohim sudah tahu, bahkan sebelum kata-kata itu selesai.
“Sapi itu…” lanjut Parman, “aku jual.”
Hening.
Di kejauhan, kepodang bersuara lagi—kali ini seperti patah
di tengah.
“Aku butuh uang,” kata Parman cepat. “Utang nikahku—”
“Tanpa bilang?” potong Rohim.
“Aku tidak punya pilihan!”
Rohim menatapnya lama.
“Pilihan selalu ada. Hanya saja, kamu memilih yang paling cepat.”
Parman menunduk. Kata-kata itu jatuh, tapi tidak memantul.
***
Sawah itu akhirnya ditebus—bukan oleh sapi, melainkan oleh
tabungan yang disimpan Rohim untuk masa depan anaknya.
Dulloh.
Nama itu semula terasa seperti pintu yang terbuka.
“Kalau nanti dia kuliah,” kata Rohim pada dirinya sendiri
suatu malam, “hidupnya mungkin tidak seperti ini.”
Parman datang lagi, membawa janji baru.
“Aku bantu, Mas. Kalau Dulloh kuliah, aku yang tanggung.”
Janji itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu
yang seharusnya berat.
Namun Rohim tetap menerimanya.
Karena kadang harapan tidak butuh keyakinan—hanya butuh
tempat untuk bertahan.
***
Tahun-tahun berlalu.
Dulloh tumbuh. Lulus. Diterima kuliah.
“Pak,” katanya suatu sore, “aku keterima.”
Rohim tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama,
senyum itu terasa utuh.
“Iya,” katanya. “Bagus.”
Parman menepati janjinya—sebulan, dua bulan.
Lalu berhenti.
Seperti hujan yang hanya jatuh sebentar di musim kemarau.
Ketika Rohim datang menagih dengan cara yang paling halus,
Parman hanya berkata,
“Aku lagi susah, Mas.”
Kata itu terasa akrab. Terlalu akrab.
***
Sore itu, Rohim duduk di teras. Dulloh di sampingnya.
“Pak… jadi kuliahnya bagaimana?”
Rohim tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman. Tanahnya
masih retak, meski musim sudah berganti.
Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.
Kali ini tidak terdengar seperti keluhan. Tidak juga seperti
ejekan.
Hanya suara yang berulang—seperti sesuatu yang memang tidak
pernah berubah.
Rohim menarik napas panjang.
“Kita cari jalan,” katanya akhirnya.
Seperti biasa.
Dulloh mengangguk, percaya sepenuhnya.
Dan Rohim tetap menatap tanah itu—tanah yang pernah hampir
hilang, pernah ditebus, dan tetap saja tidak pernah benar-benar menjadi
miliknya.
Seperti janji.
Seperti harapan.
Seperti suara kepodang yang terus kembali,
meski tak pernah membawa hujan. (Bogor, Akhir Maret 2026)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar