Abdul R Saleh
BAB 1: Benih di Madison (1984)
Obsesi sering kali lahir dari sebuah perjalanan jauh. Bagi saya, obsesi itu dimulai di musim semi tahun 1984, di sebuah sudut Perpustakaan Faculty of Engineering, University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Saat itu, saya dikirim untuk mengikuti pelatihan singkat (short-term training) selama tiga bulan. Tugas saya sederhana namun berat bagi orang yang terbiasa dengan kertas dan tinta: mengenal komputer.
Di sana, saya mulai berkenalan dengan dBase II. Di
atas layar monitor yang masih kaku, saya mencoba merangkai baris-baris kode
program kecil. Ambisi saya saat itu belum muluk-muluk; saya hanya ingin
komputer bisa membantu saya mencetak kartu katalog secara otomatis dari sebuah
basis data. Saya ingin mengakhiri era mengetik kartu satu per satu di mesin
ketik manual.
Namun, takdir punya cara unik untuk mempercepat langkah
saya. Di tengah kesibukan belajar, saya bertemu dengan seorang mahasiswa S3
asal ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. Namanya Daryatmoko—saya
memanggilnya Mas Moko. Sosoknya yang bersahabat menjadi jembatan bagi saya
menuju dunia baru yang lebih canggih.
"Man," katanya suatu hari sambil menunjukkan
sesuatu di layar komputer, "Ini ada aplikasi khusus untuk perpustakaan.
Namanya PC-File. Tapi ini bukan versi full edition, semacam versi
promosi atau shareware."
Mendengar kata "aplikasi perpustakaan", jantung
saya berdegup kencang. Rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun. Di
sela-sela pelajaran dBase II, saya mulai "mencuri" waktu untuk
menguliti PC-File. Bagi standar tahun 1980-an, PC-File adalah sebuah keajaiban.
Ia memiliki struktur yang rapi, mampu mengelola data dengan cara yang selama
ini hanya ada dalam imajinasi saya.
Tiga bulan di Madison terasa begitu singkat, namun saya
pulang bukan dengan tangan hampa. Saya membawa tiga "harta karun"
intelektual:
- Kemampuan
pemrograman dBase II yang mulai terasah.
- Aplikasi
PC-File beserta seluruh catatan hasil "bedah" saya
terhadap sistemnya.
- Keterampilan wordprocessing menggunakan
program bernama Write.
Namun, di atas semua teknis itu, ada satu oleh-oleh yang
jauh lebih berharga daripada disket-disket yang saya bawa: Perubahan
Mindset.
Saya pulang ke Indonesia bukan lagi sebagai pustakawan
tradisional. Saya pulang sebagai seorang visioner yang percaya bahwa pekerjaan
manual yang melelahkan harus segera beralih ke otomatisasi. Saya tidak lagi
melihat perpustakaan sebagai deretan rak dan laci kartu, melainkan sebagai
aliran data yang harus dikelola dengan cerdas.
Madison telah menanamkan benihnya. Saya belum tahu bahwa
benih inilah yang nantinya akan tumbuh menjadi SIPISIS, sistem yang
kelak akan mengubah wajah ratusan perpustakaan di tanah air.
BAB 2: "Pencurian" Waktu di Ruang Terlarang (1985)
Kepulangan saya dari Madison membawa api semangat yang
berkobar, namun realita di tanah air seolah menyiramnya dengan air es. Saya
pulang dengan otak penuh algoritma, namun tangan saya kosong. Musuhnya adalah
hal yang paling klasik dalam birokrasi: barang belum datang.
Saya harus menunggu enam bulan lamanya dalam kegelisahan.
Mata saya terus tertuju pada dermaga harapan, menanti kiriman komputer dari
proyek kerjasama IPB-Wisconsin. Enam bulan itu terasa seperti bertahun-tahun
bagi seorang pustakawan yang sudah "melihat masa depan".
Lalu, hari yang dinanti itu tiba. Sebuah kotak besar berisi
keajaiban teknologi mendarat di kantor. Namun, kegembiraan saya hanya bertahan
sekejap. Sang "Bos" mengeluarkan titah yang memukul batin: Saya
dilarang menyentuhnya.
Alasannya klasik namun menyesakkan: Takut rusak. Pada
masa itu, komputer dianggap seperti benda pecah belah yang sangat rapuh. Jika
ada komponen yang jebol, perbaikannya tidak bisa dilakukan di Bogor, melainkan
harus diterbangkan ke Singapura. Biayanya selangit, waktunya berbulan-bulan.
Alhasil, komputer itu diperlakukan layaknya pusaka keramat. Ia diletakkan di
ruangan khusus yang sejuk dengan AC, terkunci rapat, dan hanya satu orang yang
boleh memegang kuncinya: Janti, kolega saya yang lulusan S2 dari University of
Wisconsin.
"Buat apa aku dikirim belajar jauh-jauh ke Amerika
kalau ilmuku hanya jadi pajangan di kepala?" batin saya kecewa berat.
Namun, semangat Madison tidak bisa dipadamkan oleh sebuah
gembok. Saya mulai memperhatikan gerak-gerik Janti. Saya tahu dia jarang
mengoperasikan mesin itu. Saya juga tahu bahwa dia tidak membawa kunci ruangan
itu pulang ke rumah. Kunci itu beristirahat di dalam sebuah kaleng di atas meja
kerjanya.
Di sinilah "kenakalan" visioner saya dimulai.
Setiap hari, setelah pukul 14.00—saat jam kerja pegawai usai
dan suasana kantor mulai lengang karena hanya tersisa petugas layanan
lembur—saya memulai misi rahasia saya. Dengan jantung berdebar, saya diam-diam
"meminjam" kunci dari kaleng di meja Janti.
Clek! Pintu ruang dingin itu terbuka.
Di dalam kesunyian yang hanya ditemani deru halus AC dan
kedipan lampu indikator, saya akhirnya bertemu kembali dengan dunia saya. Di
depan monitor itulah saya menumpahkan semua rasa rindu pada baris-baris kode.
Saya instal PC-File, saya buka kembali catatan dBase II, dan saya
mulai mengetik. Ruang terlarang itu menjadi laboratorium pribadi saya setiap
sore.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, di ruangan yang terkunci itu,
saya sedang meletakkan batu pertama bagi revolusi perpustakaan di Indonesia.
Saya bertaruh dengan risiko besar, namun bagi saya, membiarkan ilmu itu mati
karena ketakutan akan kerusakan adalah kegagalan yang lebih besar daripada
rusaknya sebuah mesin.
BAB 3: Diplomasi di Atas Meja Ketik (1985)
Keajaiban sering kali datang dalam bentuk tekanan dan
tenggat waktu. Suatu sore yang tenang di rumah kontrakan saya, sebuah ketukan
pintu mengubah segalanya. Sang Bos datang menjemput saya langsung. Wajahnya
tegang, menyiratkan beban kerja yang mendesak.
"Man, bantu saya beresin makalah. Besok pagi sekali
harus sudah dikirim ke Surabaya untuk lokakarya di sana," pintanya.
Di kantor, suasana mendadak sibuk. Bos naik ke ruangannya di
lantai atas untuk berkonsentrasi menyusun draf secara manual, sementara saya
"dibuang" ke lantai bawah untuk mengetik. Inilah momen yang saya
tunggu-tunggu. Alih-alih menggunakan mesin ketik manual yang berisik dan
lamban, saya memutuskan untuk melakukan sebuah kenekatan yang terukur.
Saya menyelinap ke ruang komputer. Saya buka program Write,
aplikasi wordprocessing yang saya bawa dengan penuh perjuangan dari
Wisconsin.
Draf selembar demi selembar turun dari lantai atas.
Jari-jari saya menari di atas papan ketik komputer. Setiap ada revisi atau
tambahan kalimat, saya tidak perlu membuang kertas dan mengetik ulang dari
awal—cukup geser kursor, hapus, dan sisipkan. Begitu satu halaman selesai dan
rapi, saya tekan perintah cetak.
Suara printer yang menderu pelan di tengah kesunyian kantor
akhirnya memancing rasa penasaran Bos. Ia turun ke bawah, dan begitu melihat
saya duduk manis di depan monitor yang menyala, wajahnya mendadak merah padam.
"Siapa yang suruh kamu pakai komputer?!" bentaknya
ketakutan. Bayangan tentang kerusakan mahal dan teknisi dari Singapura pasti
langsung melintas di kepalanya.
Saya hanya diam. Saya tidak membela diri dengan kata-kata,
melainkan dengan hasil kerja. Saya tunjukkan lembaran makalah yang tercetak
rapi, bersih tanpa tip-ex, dan yang terpenting: selesai dalam waktu singkat.
Amarahnya perlahan luruh saat ia menyadari satu kenyataan pahit yang manis:
pekerjaan yang biasanya memakan waktu semalam suntuk dengan mesin ketik, kini
selesai hanya dalam hitungan jam karena saya tidak perlu mengetik ulang setiap
kali ada perbaikan. Kecepatan dan kerapian itu menjadi argumen yang jauh lebih
kuat daripada ribuan teori yang saya bawa dari Amerika.
Malam itu, ketakutan akan "kerusakan mahal"
akhirnya kalah telak oleh "kebutuhan akan kecepatan".
Sejak saat itu, gembok ruang komputer itu tidak lagi menjadi
penghalang bagi saya. Sang Bos akhirnya memberikan restu resminya. Saya tidak
lagi perlu menjadi "pencuri" waktu di sore hari; saya telah resmi
menjadi orang yang dipercaya untuk menjinakkan mesin canggih itu demi kemajuan
institusi.
Pintu menuju SIPISIS kini mulai terbuka lebar.
BAB 4: Panggung Megah dan Kekecewaan di Balik Layar (1987)
Cita-cita melahirkan SIPISIS ternyata masih harus
menempuh jalan berliku. Setelah mendapatkan restu menggunakan komputer, saya
justru masuk ke dalam pusaran proyek yang lebih besar dan formal. Kali ini,
proyek tersebut digawangi secara resmi oleh UPT Pusat Komputer di bawah kepemimpinan
Dr. Abdurauf Rambe, dengan dua punggawanya, Julio dan Sony.
Mereka membangun sebuah sistem berbasis dBase II yang
diberi nama SIMPUS (Sistem Informasi Perpustakaan). Sebagai orang yang
dianggap paling mengerti operasional perpustakaan dan komputer, saya ditunjuk
menjadi penjaga gawang sistem ini.
Puncaknya adalah hari bersejarah bagi IPB. Gedung
perpustakaan baru yang megah, yang dinamakan Lembaga Sumberdaya Informasi
(LSI), diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.
Saya berdiri di samping komputer yang menyala, jantung
berdegup kencang. Di hadapan orang nomor satu di Indonesia itu, SIMPUS
dipamerkan sebagai simbol modernisasi pendidikan tinggi. Saya merasa sangat
beruntung saat itu karena Pak Harto tidak sempat mencoba langsung mesin
tersebut; beliau hanya melihat dan memberikan restunya. Namun, keberuntungan
itu tidak bertahan lama.
Begitu rombongan
kepresidenan meninggalkan lokasi, Rektor IPB, Prof. Andi Hakim Nasoetion,
kembali masuk ke perpustakaan. Beliau adalah sosok intelektual yang sangat
kritis dan praktis. Beliau ingin membuktikan sendiri kecanggihan sistem yang
baru saja diresmikan itu.
"Man, coba cari buku karangan saya," pinta beliau.
Saya mulai mengetikkan kata kunci di papan ketik. Kursor
berkedip-kedip. Mesin itu mulai bekerja, memindai ribuan baris data dalam dBase
II. Detik berganti menit. Suasana di ruangan yang tadinya penuh kebanggaan
mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Komputer itu terus
"berpikir", mencari, dan mencari, namun hasilnya tak kunjung muncul
di layar.
Prof. Andi Hakim, yang dikenal tidak memiliki banyak waktu
untuk hal-hal yang tidak efisien, mulai kehilangan kesabaran. Beliau menatap
layar yang masih membeku itu, lalu tanpa kata, beliau berbalik dan meninggalkan
komputer tersebut begitu saja.
Saya berdiri mematung di depan monitor. Kecewa. Sangat
kecewa.
Di dalam hati, saya merenung tajam. Buat apa kita membangun
gedung megah dan meresmikan sistem komputer dengan gegap gempita jika pada
akhirnya ia justru lebih lambat daripada mencarinya secara manual di laci
katalog? Seharusnya teknologi mempercepat, bukan malah menghambat.
Kegagalan SIMPUS di depan mata sang Rektor hari itu menjadi
cambuk yang sangat pedih bagi saya. Saya menyadari bahwa dBase II mungkin punya
keterbatasan dalam menangani jumlah rekaman data perpustakaan yang masif jika
tidak dioptimalkan dengan benar.
Momen memalukan itu justru menjadi titik balik. Di tengah
kekecewaan itu, obsesi saya semakin mengeras. Saya harus menemukan cara lain.
Saya harus membangun sistem yang benar-benar cepat, tangguh, dan tidak akan
membuat seorang Rektor—atau siapa pun—menunggu dengan sia-sia.
BAB 5: Gerbang Tak Terduga (1988)
Kegagalan SIMPUS di hadapan Prof. Andi Hakim Nasoetion
meninggalkan luka yang dalam, namun sekaligus memberikan kejernihan: saya harus
mencari mesin penggerak data yang jauh lebih perkasa daripada dBase II. Tak
lama setelah peresmian gedung LSI yang "dingin" itu, sebuah kabar
berembus seperti angin segar dari Jakarta.
Ada undangan pelatihan CDS/ISIS
(Computerized Documentation Service/ Integrated Set of Information Systems).
Ini bukan pelatihan sembarangan. Acara ini adalah hasil kerja sama antara PDII-LIPI
dan UNESCO, dengan instruktur yang didatangkan langsung dari markas
besar UNESCO di Paris: Suzan Orniger.
Hati saya berdegup kencang membaca nama aplikasi itu.
"Inilah jawabannya!" batin saya. Namun, lagi-lagi tembok birokrasi
menghadang. Kebijakan perpustakaan menetapkan bahwa hanya Janti yang dikirim
sebagai perwakilan resmi. Saya kembali terhempas dalam kekecewaan yang
mendalam. Bagaimana mungkin orang yang paling haus akan ilmu ini justru harus
berdiri di luar pagar?
Namun, semesta nampaknya sedang berpihak pada kegigihan
saya.
Suatu hari, Widharto—seorang kawan lama yang menjadi panitia
pelatihan tersebut—datang berkunjung ke perpustakaan kami. Ia membawa kabar
mengejutkan: kuota peserta ternyata belum terpenuhi. Ia mencari
"pasukan" tambahan agar kelas tetap berjalan sesuai rencana.
Pucuk dicinta ulam tiba. Di saat yang bersamaan, Bos saya
sedang tidak masuk kantor karena sakit. Tanpa pikir panjang dan tanpa menunggu
disposisi yang berbelit-belit, saya mengambil keputusan nekat. Saya
mendaftarkan diri saya sendiri saat itu juga.
Selama tiga hari, saya seperti orang yang baru menemukan
kunci gudang harta karun.
Di bawah bimbingan Suzan Orniger, saya mulai memahami
mengapa CDS/ISIS begitu berbeda. Ia tidak lamban seperti sistem yang kami
bangun sebelumnya. Ia dirancang khusus untuk mengelola teks dan informasi
bibliografi yang kompleks dengan kecepatan luar biasa. Struktur datanya yang
unik memungkinkan pencarian kata kunci dilakukan dalam hitungan detik, bukan
menit.
Tiga hari itu bukan
sekadar pelatihan teknis bagi saya; itu adalah momen proklamasi kemerdekaan
intelektual. Saya pulang dengan membawa disket berisi program CDS/ISIS dan
semangat yang tidak bisa lagi dibendung oleh siapa pun.
Saya tahu, era SIMPUS yang lamban akan segera berakhir. Di
dalam tas saya, cikal bakal SIPISIS sudah mulai bernapas. Saya tidak
lagi hanya bermimpi; saya sudah memegang alat untuk mewujudkannya.
BAB 6: Gerilya Silabus dan Ujian Kepercayaan (1988)
Pelatihan tiga hari di Jakarta bersama Suzan Orniger
hanyalah sebuah pembuka pintu. Bagi banyak orang, pelatihan singkat mungkin
hanya menghasilkan sertifikat untuk dipajang. Namun bagi saya, disket yang saya
bawa pulang adalah "kitab suci" yang harus dikuliti habis.
Setiap malam, saya bergelut dengan baris-baris kode
CDS/ISIS. Saya mencoba, berlatih, gagal, lalu mencoba lagi. Saya membangun
basis data baru, menghancurkannya, dan membangunnya kembali hingga saya
memahami setiap lekuk fungsionalitasnya. Saya tidak lagi sekadar menggunakan
program itu; saya mulai "bernapas" bersamanya.
Kesempatan untuk
menyebarkan "virus" otomatisasi ini datang pada tahun 1988. Saat itu,
ada agenda besar: Pelatihan Manajemen Perpustakaan untuk sebelas Perguruan
Tinggi Negeri (PTN) di wilayah Indonesia Barat. Proyek ini sangat bergengsi
karena didanai langsung oleh US-AID.
Sebagai salah satu panitia, saya melakukan langkah nekat.
Diam-diam, saya selipkan materi CDS/ISIS ke dalam silabus pelatihan. Saya tahu,
begitu silabus itu dirilis dan disetujui oleh sponsor sekelas US-AID, tidak
akan ada yang berani mengubahnya. Itu adalah strategi fait accompli—sesuatu
yang sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.
Namun, drama dimulai ketika urusan siapa yang akan mengajar
mencuat. Bos saya, dengan sikap protektifnya yang lama, tetap bersikukuh: Bukan
saya yang boleh mengajar. Beliau bersikeras agar Janti yang menjadi
instruktur.
Bagi saya, jabatan atau nama siapa yang muncul di depan
kelas tidaklah penting, asalkan ilmunya tersampaikan. Namun masalahnya, Janti
sendiri merasa tidak percaya diri. Ia tidak berani mengajarkan CDS/ISIS yang
teknisnya sangat dalam itu. Kebuntuan pun terjadi.
Saya mencoba memberikan
jalan keluar diplomatis: "Bagaimana kalau kita undang perwakilan UNESCO
saja? Semoga Suzan Orniger masih di Indonesia."
Mendengar usulan itu, Bos saya langsung ciut nyalinya. Di
bayangan beliau, mengundang pakar internasional berarti biaya ribuan dolar yang
sangat mahal. Beliau terjepit di antara dua pilihan: membayar mahal pakar
asing, atau mempercayai "anak buahnya" sendiri yang dianggapnya masih
hijau.
Akhirnya, dengan setengah terpaksa dan mungkin sedikit
keraguan, beliau menyerah. "Ya sudah, kamu yang jadi instrukturnya,"
katanya.
Momen itu adalah ujian sesungguhnya bagi saya. Di depan para
pustakawan dari sebelas PTN ternama, pengetahuan saya diuji habis-habisan. Saya
tidak hanya mengajarkan cara mengetik, tapi saya mengajarkan bagaimana komputer
bisa menjadi "otak" kedua bagi perpustakaan mereka. Saya menjawab
setiap keraguan, memecahkan setiap kendala teknis, dan membuktikan bahwa anak
bangsa bisa menguasai teknologi tingkat dunia.
Hasilnya? Luar biasa. Saat survei evaluasi pengajar
dilakukan di akhir acara, seluruh peserta menyatakan puas. Nama saya yang
tadinya hanya "pustakawan nakal" yang suka menyelinap ke ruang
komputer, kini mulai diakui sebagai instruktur yang kompeten.
Keyakinan saya semakin bulat. Jika sebelas universitas besar
ini merasa puas dengan CDS/ISIS, maka ini adalah masa depan bagi seluruh
perpustakaan di Indonesia. Saya telah melewati ujian api, dan sekarang saatnya
memikirkan bagaimana sistem ini bisa menjadi sebuah aplikasi yang benar-benar
utuh dan mudah digunakan oleh siapa saja.
BAB 7: Arsitektur di Tanah Britania (1989-1991)
Tahun 1989, sebuah pintu lebar terbuka bagi saya. Saya
mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Inggris. Namun, di dalam
koper yang saya bawa, bukan hanya pakaian dan dokumen resmi, melainkan sebuah
obsesi yang belum tuntas: membangun aplikasi perpustakaan yang benar-benar
terintegrasi.
Inggris memberikan saya perspektif baru. Jika selama ini
saya hanya "memakai" aplikasi, di sini saya mulai belajar bagaimana
sebuah sistem "berbicara" satu sama lain. Fokus utama saya adalah
memecahkan batasan terbesar CDS/ISIS saat itu.
Pada masa itu, CDS/ISIS dirancang sebagai sistem standalone—ia
hanya bisa berdiri sendiri di satu komputer. Bayangkan betapa tidak efisiennya
jika bagian pengolahan dan bagian sirkulasi harus bergantian menggunakan satu
komputer yang sama. Maka, untuk tugas akhir saya, saya menetapkan target yang
ambisius: memaksa CDS/ISIS agar bisa bekerja dalam jaringan lokal (LAN).
Ini adalah langkah teknis yang sangat berat namun
fundamental. Saya ingin data yang diinput di satu sudut perpustakaan bisa
langsung dibaca di sudut lainnya secara real-time. Inilah nyawa dari
sebuah sistem terintegrasi.
Tak berhenti di situ, saya juga menyadari satu masalah besar
yang akan kami hadapi di Indonesia: gunung data. Kami punya banyak data
di dBase II yang lamban itu, dan memindahkannya secara manual satu per satu ke
CDS/ISIS adalah pekerjaan bunuh diri.
Maka, saya mulai mengembangkan aplikasi konversi. Saya
merancang jembatan digital yang mampu mengubah data dari format dBase menjadi
data berstandar internasional ISO 2709 (format yang dipahami oleh
CDS/ISIS).
"Ini adalah tangga," pikir saya saat itu.
"Tangga yang akan membawa ribuan record data kami dari masa lalu yang
lamban menuju masa depan yang cepat."
Dua tahun di Inggris adalah masa-masa saya menempa diri
menjadi seorang arsitek sistem. Meski waktu studi yang terbatas membuat saya
belum sempat merangkai seluruh potongan itu menjadi satu aplikasi utuh yang
siap pakai, saya pulang ke Indonesia dengan "cetak biru" yang sudah
matang di kepala.
Saya pulang bukan lagi sebagai pustakawan yang sekadar tahu
cara memakai komputer. Saya pulang dengan membawa kunci teknologi jaringan dan
alat konversi data massal. Saya tahu, begitu kaki saya menginjak Bogor kembali,
potongan-potongan puzzle yang saya kumpulkan dari Madison hingga Inggris
ini akan segera bersatu.
Gedung perpustakaan IPB mungkin masih berdiri diam, namun
saya datang membawa badai perubahan yang akan menyatukan seluruh alur kerjanya
dalam satu tarikan napas digital.
BAB 8: Murid Sang Maestro dan Kelahiran ISISCIR (1992-1993)
Sekembalinya dari Inggris, tumpukan pekerjaan rutin sebagai
pustakawan di IPB seolah ingin menenggelamkan obsesi saya. Namun, api itu tidak
pernah padam. Di sela-sela kesibukan administrasi, pikiran saya tetap
melanglang buana, mencari cara agar CDS/ISIS tidak lagi berjalan sendirian.
Saya mulai menjalin jejaring internasional. Saya
berkorespondensi dengan Hugo Besemer dari Belanda, sosok yang sedang
mengembangkan aplikasi sirkulasi berbasis CDS/ISIS. Namun, momen paling sakral
adalah ketika saya berkesempatan menjadi murid langsung dari Giampaolo Del
Begio—sang arsitek utama, pria di balik baris-baris kode asli CDS/ISIS di
UNESCO.
Belajar langsung dari sang pencipta seperti mendapatkan
kunci langsung ke jantung mesinnya. Saya mulai memahami filosofi di balik
struktur datanya yang rumit. Sedikit demi sedikit, dengan ketekunan seorang
penghobi yang keras kepala, saya mulai merakit sistem itu.
"Saya bukan programmer betulan," batin saya
berkali-kali. Namun, hobi ini telah membawa saya melampaui batas-batas profesi
pustakawan pada umumnya.
Hingga akhirnya, sebuah Versi Beta berhasil saya
wujudkan. Namun, saya sadar, untuk mengubah sebuah prototipe menjadi sistem
yang tangguh dan bisa dipakai massal, saya tidak bisa bekerja sendirian. Saya
butuh "pasukan" yang memiliki frekuensi yang sama.
Maka, saya membentuk Tim Pengembangan Otomasi
Perpustakaan. Inilah tim legendaris yang menjadi rahim bagi lahirnya
teknologi perpustakaan di Indonesia. Di samping saya, berdirilah rekan-rekan
seperjuangan: Mustafa, Bagyo, Suparman, dan Yaya Suryanata. Kami
adalah perpaduan antara pustakawan yang paham alur kerja dan tenaga teknis yang
siap mengeksekusi logika pemrograman.
Nama pertama yang kami sematkan untuk bayi digital kami ini
bukanlah SIPISIS, melainkan ISISCIR (akronim dari Sistem Sirkulasi
menggunakan ISIS).
Fokus kami saat itu sangat jelas: bagaimana agar proses
peminjaman dan pengembalian buku di meja sirkulasi tidak lagi menjadi momok
yang lamban. Kami ingin membuktikan bahwa data yang diinput dengan standar
internasional bisa "mengalir" secara otomatis menjadi transaksi
layanan.
ISISCIR adalah fondasi pertama. Ia masih mentah, masih dalam
tahap uji coba yang mendebarkan, namun ia membawa harapan besar. Di tangan tim
kecil inilah, sebuah revolusi sedang disiapkan untuk mengguncang kemapanan
sistem manual yang sudah berakar puluhan tahun di perpustakaan Indonesia.
Dalam setiap pembangunan menara gading, ujian terberat
bukanlah pada batu batanya, melainkan pada kesatuan hati para pembangunnya.
Begitu pula dengan ISISCIR. Di tengah semangat kami menyempurnakan
sistem sirkulasi itu, perbedaan visi mulai merayap masuk ke dalam tim.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika salah satu programmer
kami, Yaya Suryanata, memutuskan untuk memisahkan diri. Ia memilih
berdiri sendiri dengan visinya, meninggalkan tim yang baru saja mulai tumbuh.
Bagi sebuah tim kecil, kehilangan seorang programmer adalah guncangan besar.
Namun, di titik nadir itulah, kreativitas kami justru terlecut.
Mustafa, salah satu rekan setia saya, memberikan usul yang
sangat cerdas dan segar: "Kenapa kita tidak melibatkan mahasiswa tingkat
akhir yang sedang menulis skripsi saja?"
Ide itu seperti percikan api. Kami menemukan seorang
mahasiswa berbakat yang sedang menuntaskan studinya. Kami tantang dia untuk
melakukan tugas besar: menyempurnakan logika ISISCIR yang masih mentah,
memperbaiki lubang-lubang di dalamnya, dan menjadikannya sebuah sistem yang
utuh.
BAB 9: Guru Mahasiswa dan Ritual Sabtu (1994)
Di tengah ketegangan pasca-perpecahan tim, datanglah seorang
pemuda cerdas yang sedang menuntaskan skripsinya. Namanya Doni. Doni
bukan sekadar mahasiswa biasa; dia adalah jembatan teknis yang kami butuhkan
untuk menerjemahkan obsesi perpustakaan kami ke dalam bahasa mesin yang
tangguh.
Kepada Doni-lah kami menitipkan mandat besar: Sempurnakan
ISISCIR. Kami ingin sistem ini tidak hanya bisa mencatat peminjaman, tapi
menjadi jantung informasi yang utuh. Dan sebagai penanda era baru, kami sepakat
meninggalkan nama lama yang terasa kaku.
"Kita beri nama SIPISIS," cetus kami saat
itu. Sistem Informasi Perpustakaan berbasis ISIS. Sebuah nama yang lebih
akrab, lebih Indonesia, dan yang terpenting: berbeda dari jalur yang diambil
oleh Yaya.
Namun, kami—saya, Mustafa, Bagyo, dan Suparman—tidak ingin
menjadi "tuan tanah" yang hanya tahu memakai hasil jadi. Kami punya
harga diri intelektual. Maka, dimulailah ritual Sabtu yang legendaris itu.
Setiap hari Sabtu, ketika gedung perpustakaan mulai sunyi
dan pegawai lain sudah beristirahat di rumah, kami justru berkumpul di ruang
komputer. Di sana, peran terbalik: kami yang sudah senior ini duduk manis
menjadi murid, dan Doni, si mahasiswa tingkat akhir itu, berdiri di depan
sebagai guru kami.
Kami "ngoprek"
habis-habisan bahasa pemrograman Pascal-ISIS. Bayangkan suasananya:
kepulan asap kopi, deru halus kipas komputer, dan perdebatan seru tentang
logika looping atau struktur data. Kami belajar bagaimana logika
perpustakaan yang rumit harus dituliskan dalam baris-baris kode Pascal agar
komputer tidak "bingung" seperti dBase II di masa lalu.
Sabtu demi Sabtu kami lalui dengan mata yang lelah namun
semangat yang membara. Di sela-sela baris kode itulah, SIPISIS mulai bernapas.
Ia bukan lagi sekadar "hobi" saya seorang, tapi telah menjadi karya
kolektif sebuah tim yang belajar dan bertumbuh bersama.
Kami sedang menyiapkan sebuah ledakan dari Bogor yang akan
mengubah cara kerja pustakawan di seluruh nusantara. Kami tidak hanya sedang
membuat program; kami sedang menempa diri kami sendiri menjadi pustakawan
generasi baru.
BAB 10: Melawan Arus Proyek Raksasa (1994)
SIPISIS kini bukan lagi sekadar prototipe. Doni telah
berhasil menyisir setiap bug yang tersisa, dan kami telah menempa diri
setiap Sabtu untuk memahami setiap baris kodenya. Kami sudah siap untuk
"perang" yang sesungguhnya. Namun, tepat saat kami hendak melangkah,
sebuah badai besar datang dari Jakarta.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) meluncurkan
proyek nasional ambisius: otomasi untuk 49 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh
Indonesia. Senjatanya adalah Dynix, sebuah perangkat lunak impor dengan
harga selangit. IPB, tentu saja, masuk dalam daftar penerima manfaat.
Namun, di balik kemilau nama besarnya, Dynix membawa realita
yang pahit. Proyek ini tidak memberikan solusi lengkap bagi semua. Di banyak
perpustakaan, mereka hanya diberi satu modul dan satu komputer. Di perpustakaan
saya, kami hanya mendapatkan modul input data dan katalog online (OPAC) dengan
satu server dan tiga terminal.
Masalahnya adalah "biaya tersembunyi". Untuk
menambah satu terminal saja atau mengaktifkan modul sirkulasi, kami harus
merogoh kocek yang sangat dalam untuk biaya lisensi. Ini adalah sistem yang
mengikat leher.
Dengan kepala dingin, saya mengambil keputusan paling nekat
dalam karier saya: Saya menunda implementasi Dynix.
Langkah ini adalah tabu dalam birokrasi. Menunda proyek
nasional sama saja dengan mengundang petir. Benar saja, teguran keras dari
pusat mendarat di meja Rektor. Dan sebagai Kepala Perpustakaan yang baru
menjabat, saya adalah sasaran tembak utamanya.
"Man, kamu ini bagaimana? Ini proyek nasional, kenapa
kamu hambat?" suara Rektor menggelegar di ruangannya yang megah.
Saya berdiri di sana, tidak dengan tangan gemetar, tapi
dengan tumpukan angka dan fakta. "Mohon maaf, Pak Rektor. Saya sama sekali
tidak berniat menghambat. Saya justru sedang menyusun rincian kebutuhan agar
sistem ini benar-benar bisa kita pakai secara total," jawab saya tenang.
Saya sodorkan selembar kertas berisi estimasi biaya yang
harus dikeluarkan IPB jika kita memaksakan menggunakan Dynix secara penuh—mulai
dari lisensi tambahan hingga perawatan berkala. Angkanya membuat dahi Rektor
berkerut dalam.
"Wah, mahal sekali ya... Dari mana kita bisa membiayai
ini semua?" gumam beliau, suaranya mulai melunak.
Inilah momen yang saya tunggu. "Pak, kita tidak harus
bergantung pada sistem mahal itu. Saya dan tim sudah mengembangkan alternatif
yang jauh lebih tepat guna. Namanya SIPISIS. Biayanya murah,
pengembangannya fleksibel, dan kita tidak perlu membayar lisensi setiap kali
menambah komputer terminal."
Ruangan itu hening sejenak. Rektor menatap saya, menimbang
antara risiko administratif dan efisiensi anggaran. Akhirnya, beliau menghela
napas dan berkata, "Ya sudah. Kalau begitu, lanjutkan saja
rencanamu."
Kalimat singkat itu adalah kemenangan besar bagi kedaulatan
teknologi kita. Saya keluar dari ruang Rektor dengan langkah tegak. Proyek
raksasa itu mungkin punya nama besar, tapi IPB punya sesuatu yang lebih
berharga: sebuah sistem yang lahir dari keringat, diskusi hari Sabtu, dan
pemahaman mendalam tentang kebutuhan pustakawan sendiri.
BAB 11: Kesetiaan dalam Pengucilan (1995)
Di permukaan, ruang komputer kami tampak patuh. Perangkat Dynix
yang mahal itu tetap menyala, lampu indikatornya berkedip, dan beberapa
operator duduk di depannya seolah sedang sibuk memasukkan data. Namun, itu
hanyalah sebuah etalase birokrasi.
Di balik layar, jantung perpustakaan kami sebenarnya
berdetak untuk SIPISIS.
Saya mengambil keputusan sadar untuk membagi fokus secara
tidak seimbang. Input data ke Dynix sengaja dibuat berjalan di tempat—lambat,
sekadarnya, hanya agar sistem itu tidak terlihat mati total. Energi utama tim
saya arahkan untuk menyuntikkan ribuan data ke dalam rahim SIPISIS. Kami sedang
membangun kekuatan yang sesungguhnya, sembari menjaga agar "proyek
pusat" tidak terlihat seperti kegagalan total yang bisa memicu sanksi
administratif.
Benar saja, hari penghakiman itu tiba. Tim survei dari pusat
datang dengan buku catatan dan standar penilaian mereka. Mereka datang untuk
memuja keberhasilan Dynix di seluruh nusantara.
Saya menyambut mereka dengan senyum sopan. Saya tunjukkan
perangkat mereka yang masih berdiri tegak. "Kami sedang mempelajari sistem
ini, Bu. Operator kami sedang berlatih memahami modulnya," ujar saya
memberikan alasan yang aman. Saya memposisikan diri bukan sebagai pemberontak,
melainkan sebagai pengguna yang "berhati-hati" dan sedang
membandingkan teknologi impor dengan hasil karya mandiri.
“Input data yang Anda lakukan sangat lambat Pak.” Kata Bu
Irawati Singarimbun, tim penilai dari pusat.
“Kami sedang belajar Bu.” Jawabku.
Namun, angka tidak bisa berbohong dalam kacamata birokrasi.
Karena data yang masuk ke
Dynix sangat minim, skor penilaian perpustakaan IPB merosot tajam. Kami yang
biasanya menjadi rujukan, tiba-tiba berada di urutan buncit dalam laporan
keberhasilan proyek nasional. Hasil survei itu menjadi stempel negatif bagi kepemimpinan
saya.
Efeknya meluas hingga ke
pergaulan profesional. Dalam pertemuan-pertemuan nasional, saya mulai merasakan
hawa dingin. Rekan-rekan Kepala Perpustakaan dari universitas lain, yang bangga
dengan sistem mahal mereka, mulai memandang saya dengan sebelah mata. Saya
dianggap "kepala batu", "lambat", atau mungkin
"ketinggalan zaman" karena tidak segera memuja Dynix sebagaimana
mereka.
Saya menjadi orang asing di tengah kerumunan sejawat. Saya
dikucilkan dari lingkaran utama pergaulan kepala perpustakaan di Indonesia.
Ada rasa perih, tentu
saja. Sebagai manusia, tidak ada yang suka dianggap gagal atau dipinggirkan.
Namun, setiap kali saya kembali ke Bogor dan melihat tim saya—Mustafa, Bagyo, Suparman
dan yang lainnya—dengan antusias mengoperasikan SIPISIS yang cepat, ringan, dan
tanpa biaya lisensi yang mencekik, rasa perih itu hilang.
Saya lebih memilih dikucilkan oleh rekan sejawat daripada
mengkhianati kebutuhan perpustakaan saya sendiri. Saya bertaruh pada masa
depan, bukan pada prestise sesaat. Saya tahu, waktu akan membuktikan sistem
mana yang benar-benar bisa bertahan dan melayani pustakawan Indonesia dengan
hati, bukan dengan kontrak lisensi dolar.
BAB 12: Jembatan Hibrida dan Hancurnya Ketakutan (1995)
Tahun 1995 menjadi tahun pembuktian bagi SIPISIS.
Kami tidak ingin terjebak dalam euforia teknologi yang justru melumpuhkan
layanan. Maka, saya mengambil strategi yang sangat hati-hati: Sistem
Hibrida.
Kami sadar, memindahkan jutaan data buku dalam semalam
adalah kemustahilan. Namun, kami punya data buku-buku yang paling sering
dipinjam (high-use) dan data seluruh anggota. Selama beberapa bulan,
suasana di meja sirkulasi menjadi sangat unik. Sistem manual dengan kartu-kartu
kuning tetap tersedia sebagai jaring pengaman, namun setiap buku yang keluar
melalui prosedur manual itu, langsung "discan" masuk ke dalam rahim
digital SIPISIS.
Kami mengamati setiap denyut sistem itu. Begitu kami yakin
bahwa SIPISIS tidak akan "batuk" atau macet di tengah jalan, saya
mengambil keputusan final: Matikan sistem manual. Sejak hari itu,
sirkulasi di IPB resmi hanya bernapas melalui satu saluran digital: SIPISIS.
Namun, tantangan terbesar ternyata bukan pada bug
komputer, melainkan pada hati manusia.
Secara internal, SIPISIS menghadapi badai penolakan,
terutama dari para pustakawan senior. Ketakutan mereka sangat manusiawi dan
masuk akal: Takut Tersisih. Di mata mereka, otomasi adalah hantu yang
akan mencuri peran mereka, membuat keahlian puluhan tahun mereka menjadi tidak
relevan, dan mungkin menghapus eksistensi mereka di perpustakaan.
Saya tidak menghadapi ketakutan itu dengan kemarahan atau
ancaman mutasi. Saya menghadapi mereka dengan Visi Baru.
"Bapak dan Ibu," kata saya dalam sebuah pertemuan
yang penuh ketegangan, "Otomasi bukan untuk menggantikan peran Anda.
Justru ia hadir agar Anda berhenti menjadi 'tukang catat' yang kelelahan dan
mulai menjadi 'manajer informasi' yang sesungguhnya."
Saya tunjukkan kepada mereka pintu-pintu peluang yang selama
ini tertutup karena mereka terlalu sibuk mengurus kartu peminjaman. Saya
ajarkan mereka cara membuat kliping elektronik yang canggih. Saya
tunjukkan bagaimana data yang diinput di bagian pengolahan bisa langsung
disulap menjadi bibliografi buku baru yang indah, atau menjadi Layanan
Informasi Terseleksi (SDI) untuk para dosen dan peneliti.
Ajaib. Ketika mereka melihat bahwa teknologi ini justru
membuat pekerjaan mereka lebih dihargai dan lebih intelektual, perlawanan itu
perlahan luruh. Produktivitas mereka justru melesat. Mereka yang tadinya takut
pada komputer, kini menjadi orang-orang yang bangga karena bisa menyajikan
informasi yang jauh lebih bernilai bagi pemustaka.
SIPISIS bukan lagi dianggap sebagai musuh; ia telah menjadi
mitra yang membebaskan mereka dari belenggu rutinitas manual. Kami berhasil
melewati masa transisi ini tidak hanya dengan sistem yang berjalan, tapi dengan
tim yang tetap utuh dan lebih berdaya.
BAB 13: SEMIMO dan Benih Kepercayaan (1996)
Keberhasilan di IPB adalah kemenangan manis, namun saya
merasa tugas kami belum usai. Ada tanggung jawab moral untuk membagikan
"api" ini kepada rekan-rekan di seluruh Indonesia yang mungkin sedang
tercekik biaya lisensi sistem impor atau masih bergelut dengan kartu katalog
yang berdebu.
Kami memutuskan untuk mengadakan open house. Kami
menamakannya SEMIMO—sebuah akronim yang kami buat agar terdengar segar: Seminar
dan Demo.
Kami tidak ingin acara ini terlihat kaku. Brosur dan flayer
kami rancang sedemikian rupa—menarik, modern, dan provokatif. Kami ingin
mengirim pesan kuat: Ini bukan sekadar program komputer, ini adalah masa
depan perpustakaan Anda.
Hasilnya di luar dugaan. Tidak kurang dari 100 orang
pustakawan dan pengelola informasi dari seluruh penjuru Jawa memadati
auditorium kami. Di depan mereka, saya dan tim membedah "jeroan"
SIPISIS. Kami jelaskan rancang bangunnya, kami tunjukkan betapa ringannya ia
berlari di atas mesin yang sederhana, dan betapa patuhnya ia pada standar
internasional yang selama ini dianggap rumit.
"Jangan hanya percaya pada kata-kata saya," ujar
saya saat itu. "Mari kita lihat sendiri bagaimana ia bekerja."
Kami undang seluruh peserta turun ke lapangan. Mereka kami
bawa langsung ke meja sirkulasi dan ruang pengolahan. Mereka melihat dengan
mata kepala sendiri bagaimana buku dipinjam dalam hitungan detik, bagaimana
laporan statistik muncul dengan sekali klik, dan bagaimana para pustakawan
senior kami—yang dulunya skeptis—kini dengan lincah menari di atas papan ketik.
Sebagai
"oleh-oleh", kami membekali mereka dengan disket SIPISIS Versi
Demo. Kami persilakan mereka membawanya pulang, menginstalnya, dan
"menyiksanya" di perpustakaan masing-masing.
Alhamdulillah, sambutan yang kami terima sangat hangat.
Namun, di balik pujian itu, saya masih menangkap keraguan yang menggantung di
udara. Ada tatapan "maju-mundur" dari para peserta.
"Apakah benar buatan anak bangsa ini bisa
dipercaya?"
"Apakah ia sanggup bersaing dengan Dynix yang harganya
miliaran?"
Itu adalah keraguan yang sangat manusiawi—semacam
kompleksitas rendah diri kolektif terhadap produk lokal. Mereka terpukau dengan
kecepatannya, namun mereka masih takut untuk benar-benar pindah ke lain hati.
Mereka menunggu sebuah jaminan: jaminan bahwa SIPISIS bukan sekadar proyek hobi
yang akan mati dalam setahun dua tahun.
Kami pulang dari SEMIMO dengan rasa syukur, namun sekaligus
dengan tantangan baru. Kami telah menebar benih. Sekarang, tugas kami bukan
lagi sekadar membuktikan bahwa SIPISIS itu bisa jalan, tapi membuktikan
bahwa SIPISIS itu tangguh dan layak dipercaya untuk menjaga memori
kolektif bangsa ini.
BAB 14: Mandat Keberlanjutan: Perjalanan ke Atma Jaya (1996-1997)
Gayung bersambut. Ketukan pintu pertama yang memecah
keraguan publik datang dari Jakarta. Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya
menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi SIPISIS. Ini adalah momen
pembuktian: apakah sistem yang "manja" di kandang sendiri (IPB) ini
bisa bertahan di ekosistem yang berbeda?
Namun, sebagai instansi pemerintah, kami menghadapi tembok
dilema etika dan aturan. Kami bukan perusahaan komersial, kami tidak boleh
"menjual" produk untuk mencari laba. Tapi di sisi lain, saya tahu
persis bahwa memberikan perangkat lunak secara gratis tanpa dukungan biaya
adalah cara tercepat untuk membunuh inovasi tersebut.
"Sistem informasi itu bukan benda mati seperti meja
atau kursi," jelas saya kepada calon pengguna pertama kami. "Ia
adalah organisme yang hidup. Ia bernapas melalui apa yang disebut SDLC
(Systems Development Life Cycle)."
Saya memberikan pemahaman baru bagi mereka: sebuah sistem
perlu dirawat, diperbarui fiturnya sesuai perkembangan zaman, dan diperbaiki
jika ada kerusakan. Jika kami memberikan SIPISIS begitu saja tanpa ada dana
pengembangan, maka SIPISIS akan mati perlahan karena ditinggalkan teknologinya.
Maka, kami merumuskan sebuah kebijakan yang adil dan
transparan. Kami tidak menjual lisensi programnya—karena semangat kami adalah
berbagi ilmu. Namun, lembaga yang ingin menggunakan SIPISIS kami minta untuk ikut
menanggung biaya pengembangannya. Dana tersebut bukanlah "harga
beli", melainkan kontribusi kolektif untuk memastikan jantung SIPISIS
tetap berdetak. Biaya itulah yang kami gunakan untuk:
- Instalasi:
Memastikan sistem terpasang dengan benar di server mereka.
- Pelatihan:
Mentransfer ilmu agar pustakawan mereka mandiri.
- Pemeliharaan:
Menjamin adanya bantuan teknis jika mereka menemui kendala.
Atma Jaya setuju. Mereka memahami bahwa yang mereka
investasikan bukan sekadar disket berisi program, melainkan sebuah layanan dan
komitmen jangka panjang.
Momen instalasi di Atma Jaya menjadi tonggak sejarah. Untuk
pertama kalinya, SIPISIS "merantau" keluar dari Bogor. Keberhasilan
di Atma Jaya menjadi testimoni yang sangat kuat. Jika universitas swasta
ternama di Jakarta saja percaya pada produk anak bangsa, maka tidak ada alasan
bagi PTN lain untuk terus meragu.
Inilah awal dari efek bola salju. Dari satu kampus di
Jakarta, nama SIPISIS mulai terbang melintasi batas-batas kota, merayap ke
perpustakaan-perpustakaan lain yang mendambakan kemandirian teknologi. Kami
bukan lagi sekadar pustakawan yang "ngoprek" di hari Sabtu; kami
telah menjadi pusat pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang
diperhitungkan.
BAB 15: Bola Salju yang Melintasi Nusantara (1997-2000)
Keberhasilan di Atma Jaya Jakarta ternyata hanyalah sebuah
awal dari ledakan yang tak terbendung. Kabar tentang sistem dari Bogor yang
cepat, murah, dan patuh pada standar internasional menyebar seperti api di
musim kering.
Setelah Jakarta, Yogyakarta memanggil melalui Universitas
Kristen Duta Wacana. Tak lama kemudian, Santa Laurensia di Serpong
menyusul. Nama SIPISIS mulai disebut-sebut dalam rapat-rapat pimpinan
universitas di berbagai kota.
Momen yang paling membanggakan bagi saya dan tim adalah
ketika "Raksasa-Raksasa" pendidikan tinggi di Indonesia mulai melirik
kami. Sebelum mereka membangun sistemnya sendiri yang lebih kompleks di
kemudian hari, Universitas Indonesia (UI), ITS, dan ITB tercatat
pernah menggantungkan jantung informasinya pada SIPISIS. Bagi kami, ini adalah
pengakuan tertinggi. Jika kampus-kampus teknik dan humaniora terbaik bangsa ini
percaya pada kode-kode yang kami rakit di hari Sabtu, maka perjuangan kami
melawan sistem impor tidaklah sia-sia.
Efek bola salju ini bergulir semakin besar, melintasi
batas-batas pulau, hingga akhirnya menyentuh tanah Papua di Universitas
Cenderawasih (Uncen). SIPISIS telah resmi menjadi jembatan ilmu yang
menyatukan nusantara dalam satu standar data yang sama.
Perpustakaan IPB mendadak berubah fungsi. Kami bukan lagi
sekadar tempat meminjam buku, melainkan menjadi Pusat Inkubasi Teknologi
Perpustakaan.
Setiap minggu, wajah-wajah baru dari berbagai daerah muncul
di koridor kami. Mereka adalah staf IT dan pustakawan dari berbagai universitas
yang dikirim khusus untuk belajar "ilmu Bogor". Kami melatih mereka
dengan sabar, menularkan semangat bahwa otomasi bukan hanya soal perangkat
keras, tapi soal kemandirian berpikir.
Namun, permintaan sering kali melampaui kapasitas ruang
pelatihan kami. Jika sebuah universitas ingin melatih staf dalam jumlah besar,
maka peran pun bertukar: tim ahli kami—Mustafa, Bagyo, Suparman, dan
rekan-rekan lainnya—yang mengemas tas, membawa disket-disket sakti, dan terbang
ke berbagai penjuru Indonesia.
Kami menjadi "misionaris digital" yang mendatangi
mereka di daerah-daerah, menginstal sistem di server-server mereka yang masih
baru, dan meyakinkan para pustakawan daerah bahwa mereka pun bisa sehebat
rekan-rekan mereka di pusat.
Bogor telah menjadi episentrum. SIPISIS bukan lagi milik IPB
semata; ia telah menjadi milik Indonesia. Sebuah bukti nyata bahwa dengan
keterbatasan dana namun dengan visi yang kuat, anak bangsa mampu merajut sistem
yang melayani bangsanya sendiri dari Sabang sampai Merauke.
BAB 16: Estafet Digital dan Pensiun yang Terhormat (2000–2010)
Zaman terus berlari, dan teknologi adalah lintasan yang tak
pernah berhenti berubah. Di awal milenium baru, sebuah "binatang"
baru muncul di cakrawala: Platform Web. Dunia mulai bergerak ke arah
internet yang lebih terbuka, dinamis, dan terhubung secara luas.
Bagi kami, tim yang melahirkan SIPISIS dari rahim Pascal dan
sistem standalone, tantangan ini terasa sangat berat. MySQL, PHP,
dan ekosistem web lainnya adalah bahasa-bahasa baru yang asing. Kami, yang dulu
begitu lincah "ngoprek" di hari Sabtu, mulai merasakan batas
kemampuan teknis kami. Tuntutan pengguna yang ingin sistemnya bisa diakses dari
mana saja membuat kami pusing tujuh keliling.
Namun, kami tidak menyerah begitu saja. Saya sadar, SIPISIS
butuh darah muda.
Gayung bersambut ketika saya bertemu dengan Bayu Rahardjo,
seorang lulusan baru Departemen Ilmu Komputer IPB yang visioner. Melalui
perusahaannya, PT BeIT, kami mencoba melakukan "operasi besar"
pada SIPISIS. Kami membedahnya, mencoba memindahkan jiwanya ke dalam basis data
MySQL. SIPISIS berganti nama menjadi MySIPISIS.
Ternyata, menyatukan dunia ISIS yang berbasis Windows
(WINISIS) dengan platform web bukanlah perkara mudah. Membangun ulang semuanya
dari nol akan memakan biaya yang sangat besar—sesuatu yang sulit kami penuhi
saat itu. Akhirnya, kami membangun sebuah "jembatan" (bridge)
agar data SIPISIS bisa terbaca di internet.
Sistem itu berjalan, namun ia ringkih. Ia tidak sanggup
menahan beban transaksi yang masif. Sering kali, sistem harus
"di-restart" berulang kali agar bisa bernapas kembali. Di titik
itulah, saya merenung tajam. Sebagai seorang pustakawan dan pengembang,
prioritas utama saya adalah keamanan dan kestabilan data pengguna.
Saya tidak ingin memaksakan sebuah sistem yang sudah
mencapai batas kemampuannya hanya demi sebuah nama besar.
Maka, pada tahun 2010, dengan hati yang berat namun
penuh kelegaan, kami membuat pengumuman penting: SIPISIS resmi pensiun.
Kami berhenti menerima pengguna baru. Kepada para pengguna
setia yang masih bertahan, kami sampaikan pesan jujur: "Kami akan tetap
membantu pemeliharaan sistem Anda, namun kami sangat menyarankan Anda untuk
segera berpindah ke platform yang lebih stabil."
Sebagai bentuk tanggung jawab terakhir, kami tidak
membiarkan mereka tersesat. Kami arahkan mereka untuk menggunakan INLIS Lite,
sistem gratis dari Perpustakaan Nasional yang sudah menggunakan
teknologi terbaru.
SIPISIS mungkin telah berhenti beroperasi, namun tugasnya
sudah selesai dengan gemilang. Selama lebih dari 15 tahun, ia telah menjadi
tulang punggung bagi ratusan perpustakaan, dari universitas ternama hingga
pelosok Papua. Ia telah membuktikan bahwa anak bangsa bisa berdaulat di
negerinya sendiri.
Saya menutup lembaran ini bukan dengan rasa
sedih, melainkan dengan kebanggaan. SIPISIS bukan sekadar perangkat lunak; ia
adalah monumen kerja keras, diskusi hari Sabtu, dan keberanian untuk melawan
arus. Ia telah menjadi jalan pembuka bagi generasi sistem otomasi perpustakaan
berikutnya di Indonesia. (Boo, 2/4/2026)