Rabu, 01 April 2026

Rumah yang Dijual (Cerpen)

Abdul R Saleh

Papan itu berdiri agak miring di halaman depan.

Tulisan “DIJUAL” yang dulu dicat tebal kini mulai mengelupas, dimakan panas dan hujan.

Aku sering berdiri di balik jendela, memandang papan itu seperti memandang seseorang yang tak benar-benar kukenal.
Kadang aku bertanya dalam hati—siapa sebenarnya yang ingin menjual rumah ini?

Aku?
Atau waktu?

Namaku Arman.
Dan rumah ini… dulu adalah tempat pulang bagi dua orang.

Sekarang hanya satu.

***

Sufi dulu selalu membuka jendela setiap pagi.
Ia bilang udara pagi membawa harapan baru, meski hari sebelumnya terasa berat.

“Ada bau tanah basah, Man,” katanya suatu hari, sambil tersenyum kecil.
“Bau yang bikin kita ingat kalau hidup itu masih berjalan.”

Aku tidak pernah terlalu memperhatikan bau itu.
Aku lebih sibuk dengan hal-hal yang terasa lebih nyata—pekerjaan, tagihan, target, dan hal-hal lain yang bisa dihitung.

Sufi lebih sering memperhatikan yang tak terlihat.

Mungkin itu sebabnya… ia pergi lebih dulu.

***

Sejak Sufi tiada, rumah ini terasa terlalu luas.
Langkah kakiku menggema di ruang tamu.
Suara sendok yang jatuh di dapur terdengar seperti sesuatu yang besar runtuh.

Aku mencoba mengisi kekosongan itu dengan rutinitas.
Bangun pagi. Menyeduh kopi. Duduk di kursi yang sama. Menatap halaman.

Kadang aku lupa, untuk siapa semua itu dulu kulakukan.

Sampai akhirnya aku memasang papan itu.

“DIJUAL.”

Awalnya terasa seperti keputusan yang rasional.
Rumah ini terlalu besar untukku sendiri.
Terlalu banyak sudut yang menyimpan kenangan yang tidak bisa aku jangkau tanpa merasa sesak.

Tapi setiap kali seseorang datang untuk melihat rumah ini…
aku selalu menemukan alasan untuk menolak.

Hari itu, seorang pria datang bersama istrinya dan seorang anak kecil.

“Selamat siang, Pak,” katanya sopan. “Saya Bowo. Ini istri saya, Lusi. Dan ini anak kami, Fifi.”

Anak kecil itu bersembunyi di balik kaki ibunya, tapi matanya berkeliling, penuh rasa ingin tahu.

“Silakan,” kataku, membuka pagar.

Mereka masuk perlahan.
Seperti orang-orang yang tahu mereka sedang memasuki sesuatu yang bukan hanya bangunan.

Lusi menyentuh dinding ruang tamu.

“Rumahnya hangat ya, Mas,” katanya pelan.

Aku tersenyum tipis.
Dulu Sufi yang memilih warna cat itu. Katanya warna ini membuat orang betah.

Fifi berlari kecil ke arah jendela.
Ia membuka tirai, lalu tertawa.

“Ayah, di sini terang!” katanya.

Aku terdiam.

Dulu Sufi juga suka membuka tirai itu lebar-lebar.

Kami berjalan ke dapur.

“Masakannya pasti enak kalau di dapur begini,” kata Lusi.

Aku hampir menjawab, “Iya, Sufi memang jago masak.”

Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan.

Sebagai gantinya, aku hanya mengangguk.

Di kamar tidur, langkahku melambat.

“Ada berapa kamar, Pak?” tanya Bowo.

“Tiga,” jawabku.

Ia mengangguk, lalu melihat sekeliling.

“Cukup untuk kami,” katanya.

Cukup untuk kami.

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dulu pernah kumiliki.

Saat mereka keluar ke halaman belakang, aku melihat ke arah jendela rumah sebelah.

Di sana, Ibu Desi berdiri, seperti biasa.

Ia sering begitu sejak suaminya meninggal setahun lalu.

Kami tidak pernah benar-benar dekat.
Tapi ada semacam pemahaman diam di antara kami—tentang kehilangan.

Ia melambaikan tangan kecil.

Aku membalasnya.

“Pak Arman,” suara Bowo membuyarkan pikiranku.
“Kami tertarik dengan rumah ini.”

Aku menatapnya.

Ada harapan di matanya.
Harapan yang dulu pernah ada di mataku saat pertama kali membeli rumah ini bersama Sufi.

“Boleh kami pikirkan lagi soal harganya?” lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

“Tentu.”

***

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain.
Seperti orang asing yang mencoba mengenali tempat yang seharusnya ia kenal.

Di ruang tamu, aku berhenti.

Dulu, Sufi sering duduk di sana, membaca buku, sesekali menatapku yang sibuk dengan laptop.

“Jangan terlalu capek, Man,” katanya.

Aku selalu menjawab, “Sebentar lagi.”

Sebentar lagi.

Aku tidak pernah tahu, “sebentar lagi” itu bisa berarti “terlambat.”

Pagi harinya, aku menemukan Ibu Desi di depan pagar.

“Pak Arman,” katanya pelan.
“Semalam ada yang lihat rumah ya?”

Aku mengangguk.

“Mereka mau beli.”

Ibu Desi tersenyum tipis.
“Bagus itu. Rumah ini perlu dihuni lagi.”

Aku menatapnya.

“Menurut Ibu… saya harus jual?”

Ia terdiam sejenak.

“Kalau Bapak masih bertanya begitu,” katanya pelan,
“berarti belum siap.”

Siang itu, Bowo menelepon.

“Pak Arman, kami sudah berdiskusi. Kami ingin membeli rumah itu.”

Aku memegang ponsel erat.

“Baik,” kataku.

Tapi suaraku terdengar jauh.

***

Beberapa hari kemudian, mereka datang lagi.

Kali ini dengan langkah yang lebih pasti.

Fifi langsung berlari ke halaman, tertawa, seperti sudah merasa memiliki tempat itu.

Lusi membawa beberapa bunga kecil.

“Boleh kami tanam nanti di sini?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Bowo menatapku.

“Kami akan merawat rumah ini, Pak.”

Aku percaya itu.

Dan justru itu yang membuat dadaku terasa berat.

Saat mereka pergi, aku berdiri lama di depan pintu.

Rumah ini akan punya cerita baru.

Tawa baru.
Suara langkah baru.
Harapan baru.

Dan aku…

Aku harus belajar hidup tanpa semua itu di sini.

***

Malam terakhir sebelum penyerahan rumah, aku duduk sendirian di ruang tamu.

Lampu sengaja tidak kunyalakan.

Aku ingin melihat rumah ini seperti pertama kali aku melihatnya—kosong, tapi penuh kemungkinan.

“Aku sudah mencoba, Sufi,” kataku pelan.
“Aku sudah mencoba tinggal.”

Hening menjawabku.

Tapi entah kenapa… malam itu terasa lebih ringan.

Keesokan harinya, aku menyerahkan kunci.

Bowo menerimanya dengan kedua tangan.

“Terima kasih, Pak.”

Aku mengangguk.

Fifi menarik tangan ibunya, menunjukkan sesuatu di halaman.

Lusi tertawa.

Aku menoleh sebentar, lalu memalingkan wajah.

Saat aku berjalan menjauh, aku melihat papan itu sekali lagi.

“DIJUAL.”

Sebentar lagi, papan itu akan dicabut.

Dan rumah itu tidak lagi menjadi milikku.

Di ujung jalan, aku berhenti.

Aku menoleh.

Jendela itu terbuka.
Tirai bergerak pelan.

Seperti seseorang baru saja membuka pagi.

Aku tersenyum kecil.

“Selamat tinggal,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama…

rasanya seperti benar-benar mengucapkannya.

(Boo, 2/4/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...