Abdul R Saleh
Hari itu adalah hari yang terasa paling cerah dalam
ingatanku, secerah langit desa yang tak pernah benar-benar tercemar asap.
Ayahku berkata sesuatu yang mengubah cara pandangku terhadap dunia.
Aku akan dibawa ke Jakarta oleh Om.
Sebuah kota yang hanya kukenal dari cerita-cerita yang
terdengar seperti dongeng—tentang gedung tinggi, jalan yang tak pernah tidur,
dan lampu-lampu yang bersinar seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aku, seorang
anak desa kelas tiga SD, mendadak merasa seperti terpilih untuk keluar dari
hidup yang sempit dan berulang.
Di sekolah, aku berjalan dengan dada sedikit lebih tegak
dari biasanya. Aku menghampiri teman-temanku.
“Yon, mulai besok aku nggak sekolah di sini lagi.”
Ia menatapku heran. “Memangnya kamu mau ke mana?”
“Ke Jakarta. Aku mau pindah sekolah.”
Sejenak ia terdiam, lalu tersenyum getir. “Wah… aku
kehilangan kamu dong.”
Aku ikut tersenyum, meski dalam hati ada rasa yang belum
sempat kupahami. “Ya, gimana lagi. Aku ikut Om-ku.”
Jakarta. Kata itu terus berputar di kepalaku seperti lagu
yang tak selesai.
Aku sudah jenuh dengan kehidupan di desa. Hari-hariku bukan
hanya diisi oleh pelajaran sekolah, tapi juga oleh tanggung jawab yang terasa
terlalu besar untuk anak seusiaku. Aku mengasuh adik-adikku—lima orang
jumlahnya. Yang paling kecil bahkan belum bisa berjalan. Kadang aku yang
menggendong, kadang aku yang memasak. Bergantian dengan adikku yang nomor dua.
Ibuku tidak punya waktu untuk itu. Tangannya selalu sibuk
menjahit, siang dan malam. Mesin jahitnya seperti jantung kedua di rumah
kami—berdenyut tanpa henti, menopang hidup yang hampir runtuh. Gaji ayahku
hanya cukup untuk beberapa hari. Sisanya ditambal oleh kerja serabutan dan upah
jahitan.
Lalu Om datang.
Seorang tentara, rapi, tegap, dan membawa aroma kota yang
asing. Ia baru menikah dan belum memiliki anak. Entah karena iba atau niat lain
yang tak kupahami, ia menawarkan untuk membawaku ke Jakarta.
Dan ayahku mengizinkan.
Malam itu, suara ayahku terdengar lebih lembut dari
biasanya.
“Kamu mau ikut Om ke Jakarta?”
Aku menatapnya, setengah ragu, setengah berharap. “Sekolahku
gimana?”
“Kamu pindah di sana.”
Jawaban itu seperti membuka pintu dunia yang selama ini
hanya bisa kubayangkan.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku membayangkan ruang kelas di Jakarta, teman-teman baru,
mungkin juga sepatu yang lebih bagus, buku yang lebih bersih, dan hidup yang
tidak lagi dipenuhi tangis adik-adik yang harus kutenangkan.
Pagi datang dengan tergesa.
Aku bangun lebih awal, mandi lebih lama dari biasanya, dan
merapikan pakaian dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tas sudah kuisi. Masa
depan, rasanya, sudah kugenggam dalam bentuk kain dan buku.
Aku tetap pergi ke sekolah. Bukan untuk belajar, tetapi
untuk berpamitan.
Namun siang itu, dunia tiba-tiba berubah arah.
Baju-baju yang tadi pagi kususun rapi di dalam tas, kini
kembali ke lemari. Tas itu kosong, seperti sesuatu yang diambil diam-diam tanpa
penjelasan.
“Ayah… kenapa?” tanyaku pelan.
Ayah hanya menjawab singkat, tanpa menatapku lama. “Belum
jadi sekarang. Nanti saja kalau Om ke sini lagi.”
Jawaban itu jatuh seperti benda tumpul—tidak melukai secara
langsung, tetapi menghancurkan perlahan.
Aku tidak menangis. Aku hanya diam.
Saat Om berangkat, aku diajak mengantar. Tapi tidak sampai
stasiun. Aku diturunkan di kota oleh ayah, seolah perjalanan itu memang tidak
pernah dimaksudkan untukku.
Hari-hari kembali berjalan seperti semula.
Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Rencana itu
menghilang tanpa jejak, seperti awan yang terurai di langit sebelum sempat
menjadi hujan.
Aku tumbuh.
Dan suatu hari, ketika aku sudah cukup dewasa untuk memahami
dunia, aku mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Kepergianku ke Jakarta pernah dicegah.
Bukan oleh keadaan. Bukan oleh kemiskinan.
Melainkan oleh manusia.
Seorang kerabat ayah tidak setuju. Ia mengadu kepada nenek,
meminta agar rencana itu dibatalkan. Dan akhirnya, keputusan itu diambil—tanpa
pernah melibatkanku.
Mimpi seorang anak kecil, ternyata bisa dibatalkan oleh
bisikan orang dewasa.
Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk menjawab luka.
Aku akhirnya benar-benar pergi ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibawa.
Melainkan sebagai seseorang yang berjalan dengan kakinya
sendiri.
Aku belajar di sana. Aku bekerja di sana. Bahkan pernah
menduduki posisi yang dulu terasa mustahil untuk kubayangkan.
Dan setiap kali aku berdiri di tengah hiruk-pikuk kota itu,
aku selalu teringat pada seorang anak kecil yang dulu menunggu dengan tas
kosong di tangannya.
Dalam hati aku berkata pelan—
Aku sampai di sini, bukan karena diberi jalan.
Tapi karena aku belajar berjalan, meski pernah ditinggalkan
di tengah jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar