Selasa, 14 April 2026

Doa yang Tertinggal di Dapur (Cerpen)

 Abdul Rahman Saleh

“Yu, kamu jangan sombong!”

Suara itu memecah pagi seperti piring yang dijatuhkan dengan sengaja. Aku yang sedang duduk di sudut ruang tamu tersentak. Dari dapur, suara perempuan itu terus mengalir—tajam, keras, tanpa jeda.

“Rumah kamu saja seperti kandang ayam, kok sok mau menguliahkan anak. Lihat aku! Hartaku tidak akan habis tujuh turunan. Anakku tidak perlu kuliah!”

Aku menoleh ke arah ibu.

Ia berdiri di dekat tungku, punggungnya sedikit membungkuk, tangan masih memegang sendok kayu. Tidak ada balasan. Tidak ada bantahan. Hanya diam.

Tapi aku melihat matanya.

Merah.

Seperti menahan sesuatu yang terlalu berat untuk jatuh.

Ibu memang selalu seperti itu. Diam adalah caranya bertahan. Aku sudah berkali-kali menyaksikan hal yang sama—ketika bapak marah, ketika hidup menekan terlalu keras, ibu tidak pernah melawan. Ia hanya menunduk, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, dan menyimpan sisanya entah di mana.

Sering aku berpikir, mungkin di dalam diamnya, ibu menangis.

Dan saat itu, aku yakin—tidak ada orang yang lebih sabar dari ibuku.

***

Semua ini bermula dari sebuah surat.

Surat yang kutulis dengan tangan gemetar, dari kamar kos sempit di kota yang bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya. Di atas kertas murah itu, aku menuliskan satu hal yang selama ini hanya beredar sebagai cerita keluarga: hutang.

Hutang pamanku kepada bapak.

Dulu, ketika kakek dari pihak ibu hendak menikahkan pamanku, keluarga kami dipanggil pulang kampung. Kami satu-satunya saudara dekat. Tidak mungkin tidak datang. Tapi kami miskin—miskin dalam arti yang sederhana tapi menyakitkan: untuk makan saja harus dihitung, apalagi untuk perjalanan jauh.

Bapak meminjam uang ke koperasi.

Itu pun hanya cukup untuk ongkos pergi.

Untuk pulang, tidak ada.

Aku masih ingat cerita ibu: malam itu bapak duduk lama, menatap lantai, sebelum akhirnya berkata pelan bahwa satu-satunya cara adalah menggadaikan sepetak sawah. Sawah itu bukan sekadar tanah. Itu warisan. Itu harapan.

Tapi hidup seringkali tidak memberi pilihan.

Sawah itu digadaikan.

Namun bapak bukan orang yang menyerah begitu saja. Dari sisa uang, ia membeli seekor anak sapi dan menitipkannya pada kakek dengan sistem gaduh. Rencananya sederhana, tapi penuh harap: dua tahun kemudian sapi itu dijual, bagian bapak digunakan untuk menebus sawah.

Rencana yang rapi. Harapan yang masuk akal.

Sampai paman menghancurkannya.

Belum genap satu tahun, sapi itu dijual diam-diam. Untuk biaya hidupnya, katanya. Untuk kebutuhan yang mendesak.

Ketika bapak tahu, ia tidak marah di depan semua orang. Ia hanya duduk bersama kakek, merundingkan cara menebus sawah. Entah bagaimana caranya, mungkin dengan hutang baru, sawah itu akhirnya kembali.

Tapi luka itu tidak pernah benar-benar sembuh.

Dan hutang itu—tetap tinggal sebagai catatan yang tidak pernah dibayar.

Sebagai gantinya, paman pernah berjanji.

Ia akan membantu biaya kuliahku.

Janji yang terdengar ringan, mungkin karena ia tidak pernah benar-benar percaya bahwa aku akan sampai ke sana.

Bagaimana mungkin anak dari rumah bilik, berukuran tak lebih dari tiga puluh enam meter persegi, dihuni sepuluh orang, bisa kuliah?

Tapi aku sampai.

Tanpa tes, tanpa uang pangkal.

Seolah-olah semesta diam-diam membuka jalan.

Dan dari situlah aku menulis surat itu.

Menagih, bukan dengan marah—melainkan dengan harapan.

Bulan pertama, uang itu datang.

Bulan kedua, datang lagi.

Aku mulai percaya.

Mungkin paman berubah. Mungkin ia benar-benar ingin menepati janjinya.

Bulan ketiga, tidak ada.

Bulan keempat, sunyi.

Bahkan kabar pun tidak.

Dan di situlah, ibu mulai berbicara.

Bukan dengan suara tinggi. Bukan dengan amarah. Ia hanya mengingatkan adiknya—tentang janji, tentang tanggung jawab.

Namun yang menjawab bukan paman.

Melainkan istrinya.

***

“Saksikan saja! Biarpun anak-anakku tidak kuliah, mereka tidak akan kekurangan makan!”

Suara itu penuh keyakinan. Atau mungkin kesombongan yang menyamar sebagai keyakinan.

Ibu mengangkat wajahnya sedikit.

“Jangan berkata sembarangan,” katanya pelan. “Kata-kata itu bisa jadi doa.”

“Tidak usah menasihati aku, Mbakyu!” jawabnya cepat. “Lihat saja nanti. Anakku tidak kuliah tidak apa-apa. Yang penting menikah. Walaupun suaminya tidak kerja, mereka tidak akan kelaparan. Hartaku tidak akan habis dimakan tujuh turunan!”

Ibu terdiam lagi.

Lalu hanya menggumam, hampir tak terdengar, “Ya… kita lihat saja nanti.”

Dan hari itu berakhir seperti biasa—dengan piring-piring yang dicuci, dengan asap dapur yang menghilang perlahan, dan dengan satu doa yang tidak pernah benar-benar diucapkan keras-keras.

***

Waktu berjalan.

Pelan, tapi pasti.

Seperti air yang menetes tanpa suara, tapi mampu mengikis batu.

Berpuluh tahun kemudian, aku sering kembali mengingat pagi itu. Suara keras di dapur. Mata ibu yang merah. Dan kalimat yang diucapkan dengan begitu yakin—tentang harta yang tak akan habis tujuh turunan.

Anak-anak ibu tumbuh.

Tidak semua kuliah.

Tidak semua berhasil dengan cara yang sama.

Tapi satu hal yang pasti: kami tidak pernah benar-benar kekurangan.

Kami belajar hidup dari kekurangan itu sendiri.

Belajar menghargai, belajar bekerja, belajar berdiri tanpa menunggu belas kasihan.

Sementara di sisi lain, cerita yang berbeda pelan-pelan terbuka.

Anak-anak paman menikah.

Sebagian dengan laki-laki yang tidak bekerja.

Sebagian dengan mereka yang hanya pandai meminta.

Sawah yang dulu berhektar-hektar, sedikit demi sedikit terjual.

Untuk biaya hidup.

Untuk menutup hutang.

Untuk menambal kesalahan yang terus berulang.

Hingga suatu hari, tidak ada lagi yang tersisa.

Bahkan sampai pada cerita yang paling menyakitkan—tentang seorang menantu yang diam-diam memiliki istri lain, dan hidup dari harta mertuanya sendiri.

Aku tidak pernah melihat ibu tertawa atas semua itu.

Tidak ada kepuasan di wajahnya. Tidak ada kalimat “aku sudah bilang”.

Ia hanya tetap seperti dulu.

Diam.

Namun kali ini, diamnya terasa berbeda.

Bukan lagi karena menahan.

Melainkan karena telah memahami.

Bahwa setiap kata memang bisa menjadi doa.

Dan setiap doa, pada waktunya, akan menemukan jalannya sendiri.

***

Kadang aku masih teringat pagi itu.

Dan setiap kali ingatan itu datang, aku tidak lagi marah.

Aku hanya melihat ibu—berdiri di dapur kecil, dengan mata merah, memeluk kesabaran seperti satu-satunya harta yang ia miliki.

Dan mungkin, memang itulah yang tidak akan pernah habis.

Bahkan lebih dari tujuh turunan. (Boo, 14/04/2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Haji

Abdul Rahman Saleh Pagi di Kampung Betager selalu dimulai dengan suara timba beradu dengan bibir sumur. Syarif adalah orang yang paling se...