Jumat, 10 April 2026

Purnama di Malam Pertama

 Abdul Rahman Saleh

Malam itu, purnama bertahta di singgasana langit, menumpahkan cahaya peraknya yang memukau, mengubah dunia menjadi lukisan bisu yang agung. Resepsi pernikahanku baru saja usai, dan hiruk-pikuk kebahagiaan perlahan mereda. Satu per satu kursi-kursi ditumpuk, piring-piring dikumpulkan, dan tawa yang tadi memenuhi halaman rumah keluarga Tini kini hanya tinggal gema samar yang mengendap di udara malam.

Lampu-lampu hias yang sejak sore menyala mulai dipadamkan. Sisa-sisa dekorasi sederhana—kain warna-warni dan bunga plastik—bergoyang pelan diterpa angin. Para tetangga yang sejak pagi membantu kini pulang dengan langkah lelah, menyisakan keheningan yang terasa begitu luas.

Aku dan istriku, Tini, masih duduk sejenak di pelaminan sederhana yang dibangun di halaman rumahnya. Rumah itu tak besar, berdinding tembok yang mulai kusam, tapi hangat. Dari dapur belakang, samar tercium aroma sisa masakan dari warung nasi milik ibunya—warung kecil yang selama ini menjadi penopang hidup keluarga mereka.

Aku bangkit perlahan, lalu berjalan ke beranda belakang. Di sana, sebuah sungai kecil mengalir tenang, memantulkan cahaya bulan seperti serpihan perak yang hanyut perlahan. Tempat itu terasa sunyi, jauh dari sisa keramaian.

“Sayang, maafkan aku,” batinku perih, menatap aliran air yang tak pernah berhenti. “Maaf karena tak bisa membawamu berbulan madu seperti pasangan lainnya. Kau tahu sendiri keadaanku… untuk makan pun kita masih berhutang.”

Aku menghela napas panjang. Pernikahan ini bukan tanpa perjuangan. Aku hanya seorang pegawai honorer dengan penghasilan tak menentu. Tini, perempuan yang kini menjadi istriku, adalah anak dari pemilik warung nasi sederhana. Hidupnya tak pernah dimanjakan, tapi justru di situlah kekuatannya.

Tak lama, langkah pelan terdengar di belakangku.

Tini muncul membawa dua cangkir teh hangat. Asap tipis mengepul dari permukaannya, seolah menari dalam cahaya rembulan. Di tangannya yang lain, ia membawa sepotong kue bolu sisa resepsi yang sedikit penyok, tapi tetap tampak manis.

Ia duduk di sampingku tanpa banyak kata.

“Kamu capek?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum kecil. “Capek… tapi bahagia.”

Aku menerima cangkir teh darinya. Hangatnya merambat ke telapak tangan, seolah menenangkan kegelisahan yang sejak tadi mengendap di dada.

Dalam keheningan yang meresap, aku menggenggam tangannya. Tangannya hangat, sedikit kasar—terbiasa membantu ibunya di warung, mencuci piring, mengangkat panci, melayani pelanggan sejak pagi hingga malam.

“Sayang,” kataku pelan, menatap langit, “lihatlah bulan itu. Indah sekali, bukan?”

Ia mengikuti arah pandangku. Cahaya purnama jatuh lembut di wajahnya.

“Jika kita punya anak perempuan nanti,” lanjutku, “aku ingin dia seindah rembulan itu. Cantik… persis sepertimu.”

Tini menoleh. Tatapannya dalam, hangat, dan menenangkan.

“Sayang,” bisiknya lembut, “aku sayang kamu.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu penuh.

Aku merapatkan genggaman tanganku.

“Kita akan rawat pernikahan kita, Sayang. Aku janji… aku akan menua bersamamu.”

“Ya, Sayang…” jawabnya lirih.

Kami terdiam lagi. Namun diam itu tidak kosong—ia penuh dengan harapan, dengan janji, dan dengan keberanian untuk menghadapi hari-hari yang belum kami tahu seperti apa bentuknya.

***

Hari-hari setelah malam itu tidak selalu seindah cahaya purnama. Kenyataan datang perlahan, seperti air sungai yang terus mengalir tanpa henti.

Aku membawa Tini ke rumah kontrakan kecil di pinggir desa. Atapnya bocor di beberapa bagian. Jika hujan turun, kami harus menaruh ember di sana-sini untuk menampung tetesan air.

Pekerjaanku sebagai honorer sering terlambat dibayar. Bahkan pernah berbulan-bulan tanpa gaji. Untuk bertahan, Tini membantu ibunya di warung nasi. Setiap pagi buta, ia sudah bangun, menanak nasi, menyiapkan lauk, lalu berjalan ke rumah ibunya untuk membantu melayani pembeli.

Malam hari, ia tetap tersenyum, seolah kelelahan tidak pernah benar-benar singgah di tubuhnya.

Kadang aku merasa gagal.

Suatu malam, aku pulang dengan langkah berat. Gaji belum juga turun. Hutang mulai menumpuk.

Aku menemukan Tini tertidur di lantai, bersandar di dinding, dengan kain lap masih di tangannya. Ia pasti terlalu lelah setelah seharian membantu di warung.

Aku duduk di sampingnya.

“Aku minta maaf…” bisikku.

Tini terbangun perlahan.

“Untuk apa?” tanyanya, matanya masih setengah terpejam.

“Aku belum bisa jadi suami yang baik. Kamu harus capek begini…”

Tini menggeleng pelan. Ia menggenggam tanganku, seperti malam itu di bawah purnama.

“Kamu salah,” katanya lembut. “Kita ini cuma sedang berjuang… bukan gagal.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengubah caraku melihat hidup.

Sejak saat itu, aku berhenti mengukur kebahagiaan dari apa yang tidak kami miliki.

***

Tahun demi tahun berlalu.

Suatu malam, kami kembali duduk di beranda rumah kecil kami. Kali ini bukan rumah kontrakan, melainkan rumah sederhana yang berhasil kami bangun sedikit demi sedikit.

Di pangkuan Tini, seorang gadis kecil tertidur lelap.

Aku menatap wajah anak itu. Napasnya teratur, dan ketika cahaya bulan menyentuh pipinya, aku tersenyum.

“Dia…” kataku pelan, “seperti yang kita bicarakan dulu.”

Tini tersenyum. “Seperti bulan?”

Aku mengangguk. “Iya. Cantik seperti ibunya.”

Tini terkekeh kecil.

Dari radio tua di ruang tengah, sayup-sayup terdengar lagu lama—“Buah Hati” dari Bob Tutupoli.

Setitik air matamu jatuh di pipi

Ketika kualunkan timang-timang

Anakku sayang

Lama kunantikan engkau juga

Buah cinta kita oh sayang

Hadir di antara dua hati

Yang merindukannya

 

Andaikan upik yang lahir

Di bumi ini

Wajahnya kan secantik dan seelok

Rembulan

Kuingat waktu bulan madu

Kau idamkan bulan di awan

Lalu kubisikkan, bulan itu untuk bidadari

 

Buah cinta kita

Buah hatiku oh sayang

Buah cinta kita

Buah hatimu oh sayang

Bahagianya kita, bahagianya kita

Oh sayang

 

Aku menatap langit. Purnama kembali hadir, seolah mengulang janji yang pernah kami ucapkan bertahun-tahun lalu di beranda rumah ini.

“Terima kasih,” kataku pelan.

“Untuk apa?” Tini menoleh.

“Untuk tetap tinggal… bahkan saat aku hampir menyerah.”

Tini tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahuku.

Dan di bawah cahaya purnama yang sama, aku akhirnya mengerti—
kami memang tidak pernah punya banyak harta, tidak pernah punya bulan madu, tidak pernah hidup mewah.

Tapi kami punya sesuatu yang jauh lebih berharga—
janji yang tidak hanya diucapkan, tapi benar-benar diperjuangkan. (Boo, 10/4/2029)

1 komentar:

Purnama di Malam Pertama

  Abdul Rahman Saleh Malam itu, purnama bertahta di singgasana langit, menumpahkan cahaya peraknya yang memukau, mengubah dunia menjadi lu...