Abdul Rahman Saleh
Malam itu, purnama bertahta di singgasana langit, menumpahkan
cahaya peraknya yang memukau, mengubah dunia menjadi lukisan bisu yang agung.
Resepsi pernikahanku baru saja usai, dan hiruk-pikuk kebahagiaan perlahan
mereda. Satu per satu kursi-kursi ditumpuk, piring-piring dikumpulkan, dan tawa
yang tadi memenuhi halaman rumah keluarga Tini kini hanya tinggal gema samar
yang mengendap di udara malam.
Lampu-lampu hias yang sejak sore menyala mulai dipadamkan.
Sisa-sisa dekorasi sederhana—kain warna-warni dan bunga plastik—bergoyang pelan
diterpa angin. Para tetangga yang sejak pagi membantu kini pulang dengan
langkah lelah, menyisakan keheningan yang terasa begitu luas.
Aku dan istriku, Tini, masih duduk sejenak di pelaminan
sederhana yang dibangun di halaman rumahnya. Rumah itu tak besar, berdinding
tembok yang mulai kusam, tapi hangat. Dari dapur belakang, samar tercium aroma
sisa masakan dari warung nasi milik ibunya—warung kecil yang selama ini menjadi
penopang hidup keluarga mereka.
Aku bangkit perlahan, lalu berjalan ke beranda belakang. Di
sana, sebuah sungai kecil mengalir tenang, memantulkan cahaya bulan seperti
serpihan perak yang hanyut perlahan. Tempat itu terasa sunyi, jauh dari sisa
keramaian.
“Sayang, maafkan aku,” batinku perih, menatap aliran air yang
tak pernah berhenti. “Maaf karena tak bisa membawamu berbulan madu seperti
pasangan lainnya. Kau tahu sendiri keadaanku… untuk makan pun kita masih
berhutang.”
Aku menghela napas panjang. Pernikahan ini bukan tanpa
perjuangan. Aku hanya seorang pegawai honorer dengan penghasilan tak menentu.
Tini, perempuan yang kini menjadi istriku, adalah anak dari pemilik warung nasi
sederhana. Hidupnya tak pernah dimanjakan, tapi justru di situlah kekuatannya.
Tak lama, langkah pelan terdengar di belakangku.
Tini muncul membawa dua cangkir teh hangat. Asap tipis
mengepul dari permukaannya, seolah menari dalam cahaya rembulan. Di tangannya
yang lain, ia membawa sepotong kue bolu sisa resepsi yang sedikit penyok, tapi
tetap tampak manis.
Ia duduk di sampingku tanpa banyak kata.
“Kamu capek?” tanyaku pelan.
Ia tersenyum kecil. “Capek… tapi bahagia.”
Aku menerima cangkir teh darinya. Hangatnya merambat ke
telapak tangan, seolah menenangkan kegelisahan yang sejak tadi mengendap di
dada.
Dalam keheningan yang meresap, aku menggenggam tangannya.
Tangannya hangat, sedikit kasar—terbiasa membantu ibunya di warung, mencuci
piring, mengangkat panci, melayani pelanggan sejak pagi hingga malam.
“Sayang,” kataku pelan, menatap langit, “lihatlah bulan itu.
Indah sekali, bukan?”
Ia mengikuti arah pandangku. Cahaya purnama jatuh lembut di
wajahnya.
“Jika kita punya anak perempuan nanti,” lanjutku, “aku ingin
dia seindah rembulan itu. Cantik… persis sepertimu.”
Tini menoleh. Tatapannya dalam, hangat, dan menenangkan.
“Sayang,” bisiknya lembut, “aku sayang kamu.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu penuh.
Aku merapatkan genggaman tanganku.
“Kita akan rawat pernikahan kita, Sayang. Aku janji… aku akan
menua bersamamu.”
“Ya, Sayang…” jawabnya lirih.
Kami terdiam lagi. Namun diam itu tidak kosong—ia penuh
dengan harapan, dengan janji, dan dengan keberanian untuk menghadapi hari-hari
yang belum kami tahu seperti apa bentuknya.
***
Hari-hari setelah malam itu tidak selalu seindah cahaya
purnama. Kenyataan datang perlahan, seperti air sungai yang terus mengalir
tanpa henti.
Aku membawa Tini ke rumah kontrakan kecil di pinggir desa.
Atapnya bocor di beberapa bagian. Jika hujan turun, kami harus menaruh ember di
sana-sini untuk menampung tetesan air.
Pekerjaanku sebagai honorer sering terlambat dibayar. Bahkan
pernah berbulan-bulan tanpa gaji. Untuk bertahan, Tini membantu ibunya di
warung nasi. Setiap pagi buta, ia sudah bangun, menanak nasi, menyiapkan lauk,
lalu berjalan ke rumah ibunya untuk membantu melayani pembeli.
Malam hari, ia tetap tersenyum, seolah kelelahan tidak pernah
benar-benar singgah di tubuhnya.
Kadang aku merasa gagal.
Suatu malam, aku pulang dengan langkah berat. Gaji belum juga
turun. Hutang mulai menumpuk.
Aku menemukan Tini tertidur di lantai, bersandar di dinding,
dengan kain lap masih di tangannya. Ia pasti terlalu lelah setelah seharian
membantu di warung.
Aku duduk di sampingnya.
“Aku minta maaf…” bisikku.
Tini terbangun perlahan.
“Untuk apa?” tanyanya, matanya masih setengah terpejam.
“Aku belum bisa jadi suami yang baik. Kamu harus capek
begini…”
Tini menggeleng pelan. Ia menggenggam tanganku, seperti malam
itu di bawah purnama.
“Kamu salah,” katanya lembut. “Kita ini cuma sedang berjuang…
bukan gagal.”
Kalimat itu sederhana, tapi mengubah caraku melihat hidup.
Sejak saat itu, aku berhenti mengukur kebahagiaan dari apa
yang tidak kami miliki.
***
Tahun demi tahun berlalu.
Suatu malam, kami kembali duduk di beranda rumah kecil kami.
Kali ini bukan rumah kontrakan, melainkan rumah sederhana yang berhasil kami
bangun sedikit demi sedikit.
Di pangkuan Tini, seorang gadis kecil tertidur lelap.
Aku menatap wajah anak itu. Napasnya teratur, dan ketika
cahaya bulan menyentuh pipinya, aku tersenyum.
“Dia…” kataku pelan, “seperti yang kita bicarakan dulu.”
Tini tersenyum. “Seperti bulan?”
Aku mengangguk. “Iya. Cantik seperti ibunya.”
Tini terkekeh kecil.
Dari radio tua di ruang tengah, sayup-sayup terdengar lagu
lama—“Buah Hati” dari Bob Tutupoli.
Setitik air matamu jatuh
di pipi
Ketika kualunkan
timang-timang
Anakku sayang
Lama kunantikan engkau juga
Buah cinta kita oh sayang
Hadir di antara dua hati
Yang merindukannya
Andaikan upik yang lahir
Di bumi ini
Wajahnya kan secantik dan
seelok
Rembulan
Kuingat waktu bulan madu
Kau idamkan bulan di awan
Lalu kubisikkan, bulan
itu untuk bidadari
Buah cinta kita
Buah hatiku oh sayang
Buah cinta kita
Buah hatimu oh sayang
Bahagianya kita,
bahagianya kita
Oh sayang
Aku menatap langit.
Purnama kembali hadir, seolah mengulang janji yang pernah kami ucapkan
bertahun-tahun lalu di beranda rumah ini.
“Terima kasih,” kataku pelan.
“Untuk apa?” Tini menoleh.
“Untuk tetap tinggal… bahkan saat aku hampir menyerah.”
Tini tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di
bahuku.
Dan di bawah cahaya purnama yang sama, aku akhirnya mengerti—
kami memang tidak pernah punya banyak harta, tidak pernah punya bulan madu,
tidak pernah hidup mewah.
Tapi kami punya sesuatu yang jauh lebih berharga—
janji yang tidak hanya diucapkan, tapi benar-benar diperjuangkan. (Boo, 10/4/2029)
Sangat menyentuh
BalasHapus