Kamis, 02 April 2026

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh

Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.  Beratap seng yang kalau hujan berbunyi seperti ribuan kenangan jatuh bersamaan. Meja-mejanya tak seragam, kursinya ada yang pincang, dan dindingnya dipenuhi bekas asap masakan yang tak pernah benar-benar hilang.

Di situlah aku makan hampir setiap hari.

Bukan karena enak—meski rasanya cukup. Tapi karena aku tidak punya banyak pilihan.

Sebagai mahasiswa dengan kiriman pas-pasan, aku belajar mengukur lapar dengan uang di saku. Dan warung itu… adalah satu-satunya tempat di mana aku masih bisa makan tanpa merasa bersalah. Bahkan aku bisa berhutang. Karena kiriman dari kampung belum datang.

Di sanalah aku mengenalnya.

Tini.

Ia bukan siapa-siapa bagi dunia. Hanya anak pemilik warung. Pakaiannya sederhana, rambutnya sering diikat seadanya, dan tangannya hampir selalu sibuk—mengangkat piring, menuang air, atau mencatat pesanan.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku selalu ingin kembali.

Mungkin caranya tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat seperti pelayan restoran besar. Senyumnya jujur, hangat, dan… terasa seperti rumah.

“Seperti biasa?” tanyanya suatu siang.

Aku mengangguk. “Kalau boleh, nasinya sedikit lebih banyak.”

Ia tertawa kecil. “Nanti ibu marah.”

“Tapi kamu kan yang ambil nasi.”

Ia menatapku sejenak, lalu diam-diam menambahkan satu sendok lagi.

Sejak saat itu, aku mulai menunggunya—bukan hanya makanannya.

***

Kami semakin dekat, tanpa pernah benar-benar merencanakannya.

Kadang aku membantu membereskan meja. Kadang ia duduk sebentar di depanku saat warung sepi. Kami bercerita tentang hal-hal sederhana: kuliahku, capeknya dia membantu ibunya, dan mimpi-mimpi kecil yang terdengar terlalu jauh untuk digapai.

“Aku sebenarnya ingin lanjut sekolah lagi,” katanya suatu sore.

“Kenapa tidak?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis. “Warung ini siapa yang jaga?”

Aku tidak punya jawaban.

Seperti banyak hal dalam hidup kami—yang ada bukan pilihan, tapi keadaan.

***

Aku mulai merasa sesuatu yang aneh dalam diriku.

Bukan hanya suka.

Tapi ingin memiliki.

Aku tidak keberatan Tini melayani mahasiswa lain. Itu bagian dari hidupnya. Tapi ada hal-hal yang mulai menggangguku.

Mahasiswa-mahasiswa itu…

Tidak semuanya baik.

Beberapa dari mereka mulai meminta hal-hal yang lebih. Bukan sekadar makan di warung.

“Tin, tolong antar ke kamar, ya,” kata salah satu dari mereka suatu malam.

Aku melihat Tini ragu.

“Iya, bentar, Kak,” jawabnya akhirnya.

Aku diam. Tapi dadaku terasa sesak.

Hari-hari berikutnya, permintaan seperti itu semakin sering.

Mengantar ke kamar kos.

Awalnya kupikir itu biasa. Tapi kemudian aku mulai melihat hal-hal yang tidak seharusnya.

Tini pulang dengan wajah yang berbeda.

Kadang lebih diam.

Kadang senyumnya terasa dipaksakan.

Suatu malam, aku menunggunya di depan warung.

“Kamu kenapa?” tanyaku.

“Kenapa apanya?” ia balik bertanya.

“Kamu capek… atau ada apa?”

Ia menggeleng. “Biasa saja.”

Tapi aku tahu itu bukan “biasa saja”.

Aku akhirnya melihat sendiri.

Seorang mahasiswa memanggilnya dari pintu kos.

“Tin, masuk sini sebentar,” katanya santai, seolah itu hal wajar.

Aku berdiri cukup dekat untuk mendengar.

“Ambilin itu, dong.”

“Eh, sekalian buang sampahnya ya.”

Nada suaranya bukan meminta.

Tapi menyuruh.

Seperti… seperti Tini bukan siapa-siapa.

Tanganku mengepal.

Saat Tini keluar, aku langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa nurut?” tanyaku, suaraku tertahan.

Ia terkejut. “Lho… itu pelanggan…”

“Pelanggan bukan berarti bisa seenaknya!”

Ia diam.

Aku melanjutkan, lebih keras, “Kamu itu bukan pembantu mereka!”

Tini menunduk. “Aku cuma bantu…”

“Bantu atau diperlakukan semena-mena?”

Ia tidak menjawab.

Dan diamnya… justru membuatku semakin marah.

***

Sejak saat itu, aku mulai melarangnya.

“Jangan antar ke kamar lagi,” kataku suatu hari.

“Kalau mereka minta?”

“Bilang tidak.”

Ia menatapku lama. “Semudah itu?”

Aku terdiam.

Memang tidak semudah itu.

Warung itu hidup dari mereka. Dari mahasiswa-mahasiswa itu. Dari pesanan yang kadang justru datang karena layanan “lebih” seperti itu.

“Aku cuma tidak mau kamu diperlakukan seperti…” aku berhenti.

Seperti apa?

Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.

Tapi dalam hatiku, aku tahu.

Seperti seseorang yang tidak dihargai.

Seperti seseorang yang bisa dipanggil, disuruh, dan… diremehkan.

Malam itu, Tini berkata pelan, “Kamu marah karena kamu sayang… atau karena kamu tidak suka melihatku dekat dengan mereka?”

Pertanyaan itu menamparku.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena mungkin… jawabannya bukan satu.

“Aku cuma ingin kamu dihargai,” kataku akhirnya.

Ia tersenyum kecil.

“Kadang, untuk bertahan hidup… kita harus menelan hal-hal yang tidak kita suka.”

Aku menatapnya. “Tapi bukan berarti kamu harus kehilangan harga diri.”

Ia terdiam.

Lalu berkata pelan, “Dan bukan berarti kamu harus mengatur hidupku sepenuhnya.”

***

Sejak malam itu, aku banyak berpikir.

Tentang cinta.

Tentang ego.

Tentang bagaimana aku ingin melindunginya… tapi mungkin tanpa sadar, juga mengekangnya.

Aku teringat satu hal sederhana:

Bahwa mencintai seseorang bukan berarti memiliki hidupnya.

Beberapa hari kemudian, aku kembali ke warung seperti biasa.

Tini datang membawa sepiring nasi.

“Seperti biasa?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Lalu berkata pelan, “Kalau kamu harus antar pesanan… hati-hati, ya.”

Ia menatapku, sedikit terkejut.

“Kamu tidak marah lagi?”

Aku tersenyum tipis. “Aku masih tidak suka. Tapi aku sedang belajar percaya.”

Tini tersenyum.

Senyum yang sama seperti pertama kali aku melihatnya.

Hangat.

Jujur.

Dan kali ini… terasa lebih kuat.

Di dunia yang sederhana itu, kami tidak punya banyak hal untuk dibanggakan.

Hanya sepiring nasi.

Hanya warung kecil.

Dan cinta yang masih belajar menjadi dewasa.

Aku tidak bisa mengubah cara dunia memperlakukan Tini.

Tapi aku bisa memilih…

Untuk tetap di sisinya.

Tanpa menghakimi.

Tanpa menguasai.

Dan mungkin, itu satu-satunya cara agar cinta kami tetap bersih—

Di tengah dunia yang sering lupa cara menghargai manusia.

(Boo, 2/4/2026)

Rabu, 01 April 2026

Setitik Garam dalam Samudera Literasi: Memoar Sang Pioner SIPISIS

Abdul R Saleh


BAB 1: Benih di Madison (1984)

Obsesi sering kali lahir dari sebuah perjalanan jauh. Bagi saya, obsesi itu dimulai di musim semi tahun 1984, di sebuah sudut Perpustakaan Faculty of Engineering, University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Saat itu, saya dikirim untuk mengikuti pelatihan singkat (short-term training) selama tiga bulan. Tugas saya sederhana namun berat bagi orang yang terbiasa dengan kertas dan tinta: mengenal komputer.

Di sana, saya mulai berkenalan dengan dBase II. Di atas layar monitor yang masih kaku, saya mencoba merangkai baris-baris kode program kecil. Ambisi saya saat itu belum muluk-muluk; saya hanya ingin komputer bisa membantu saya mencetak kartu katalog secara otomatis dari sebuah basis data. Saya ingin mengakhiri era mengetik kartu satu per satu di mesin ketik manual.

Namun, takdir punya cara unik untuk mempercepat langkah saya. Di tengah kesibukan belajar, saya bertemu dengan seorang mahasiswa S3 asal ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. Namanya Daryatmoko—saya memanggilnya Mas Moko. Sosoknya yang bersahabat menjadi jembatan bagi saya menuju dunia baru yang lebih canggih.

"Man," katanya suatu hari sambil menunjukkan sesuatu di layar komputer, "Ini ada aplikasi khusus untuk perpustakaan. Namanya PC-File. Tapi ini bukan versi full edition, semacam versi promosi atau shareware."

Mendengar kata "aplikasi perpustakaan", jantung saya berdegup kencang. Rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun. Di sela-sela pelajaran dBase II, saya mulai "mencuri" waktu untuk menguliti PC-File. Bagi standar tahun 1980-an, PC-File adalah sebuah keajaiban. Ia memiliki struktur yang rapi, mampu mengelola data dengan cara yang selama ini hanya ada dalam imajinasi saya.

Tiga bulan di Madison terasa begitu singkat, namun saya pulang bukan dengan tangan hampa. Saya membawa tiga "harta karun" intelektual:

  1. Kemampuan pemrograman dBase II yang mulai terasah.
  2. Aplikasi PC-File beserta seluruh catatan hasil "bedah" saya terhadap sistemnya.
  3. Keterampilan wordprocessing menggunakan program bernama Write.

Namun, di atas semua teknis itu, ada satu oleh-oleh yang jauh lebih berharga daripada disket-disket yang saya bawa: Perubahan Mindset.

Saya pulang ke Indonesia bukan lagi sebagai pustakawan tradisional. Saya pulang sebagai seorang visioner yang percaya bahwa pekerjaan manual yang melelahkan harus segera beralih ke otomatisasi. Saya tidak lagi melihat perpustakaan sebagai deretan rak dan laci kartu, melainkan sebagai aliran data yang harus dikelola dengan cerdas.

Madison telah menanamkan benihnya. Saya belum tahu bahwa benih inilah yang nantinya akan tumbuh menjadi SIPISIS, sistem yang kelak akan mengubah wajah ratusan perpustakaan di tanah air.

BAB 2: "Pencurian" Waktu di Ruang Terlarang (1985)

Kepulangan saya dari Madison membawa api semangat yang berkobar, namun realita di tanah air seolah menyiramnya dengan air es. Saya pulang dengan otak penuh algoritma, namun tangan saya kosong. Musuhnya adalah hal yang paling klasik dalam birokrasi: barang belum datang.

Saya harus menunggu enam bulan lamanya dalam kegelisahan. Mata saya terus tertuju pada dermaga harapan, menanti kiriman komputer dari proyek kerjasama IPB-Wisconsin. Enam bulan itu terasa seperti bertahun-tahun bagi seorang pustakawan yang sudah "melihat masa depan".

Lalu, hari yang dinanti itu tiba. Sebuah kotak besar berisi keajaiban teknologi mendarat di kantor. Namun, kegembiraan saya hanya bertahan sekejap. Sang "Bos" mengeluarkan titah yang memukul batin: Saya dilarang menyentuhnya.

Alasannya klasik namun menyesakkan: Takut rusak. Pada masa itu, komputer dianggap seperti benda pecah belah yang sangat rapuh. Jika ada komponen yang jebol, perbaikannya tidak bisa dilakukan di Bogor, melainkan harus diterbangkan ke Singapura. Biayanya selangit, waktunya berbulan-bulan. Alhasil, komputer itu diperlakukan layaknya pusaka keramat. Ia diletakkan di ruangan khusus yang sejuk dengan AC, terkunci rapat, dan hanya satu orang yang boleh memegang kuncinya: Janti, kolega saya yang lulusan S2 dari University of Wisconsin.

"Buat apa aku dikirim belajar jauh-jauh ke Amerika kalau ilmuku hanya jadi pajangan di kepala?" batin saya kecewa berat.

Namun, semangat Madison tidak bisa dipadamkan oleh sebuah gembok. Saya mulai memperhatikan gerak-gerik Janti. Saya tahu dia jarang mengoperasikan mesin itu. Saya juga tahu bahwa dia tidak membawa kunci ruangan itu pulang ke rumah. Kunci itu beristirahat di dalam sebuah kaleng di atas meja kerjanya.

Di sinilah "kenakalan" visioner saya dimulai.

Setiap hari, setelah pukul 14.00—saat jam kerja pegawai usai dan suasana kantor mulai lengang karena hanya tersisa petugas layanan lembur—saya memulai misi rahasia saya. Dengan jantung berdebar, saya diam-diam "meminjam" kunci dari kaleng di meja Janti.

Clek! Pintu ruang dingin itu terbuka.

Di dalam kesunyian yang hanya ditemani deru halus AC dan kedipan lampu indikator, saya akhirnya bertemu kembali dengan dunia saya. Di depan monitor itulah saya menumpahkan semua rasa rindu pada baris-baris kode. Saya instal PC-File, saya buka kembali catatan dBase II, dan saya mulai mengetik. Ruang terlarang itu menjadi laboratorium pribadi saya setiap sore.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, di ruangan yang terkunci itu, saya sedang meletakkan batu pertama bagi revolusi perpustakaan di Indonesia. Saya bertaruh dengan risiko besar, namun bagi saya, membiarkan ilmu itu mati karena ketakutan akan kerusakan adalah kegagalan yang lebih besar daripada rusaknya sebuah mesin.

BAB 3: Diplomasi di Atas Meja Ketik (1985)

Keajaiban sering kali datang dalam bentuk tekanan dan tenggat waktu. Suatu sore yang tenang di rumah kontrakan saya, sebuah ketukan pintu mengubah segalanya. Sang Bos datang menjemput saya langsung. Wajahnya tegang, menyiratkan beban kerja yang mendesak.

"Man, bantu saya beresin makalah. Besok pagi sekali harus sudah dikirim ke Surabaya untuk lokakarya di sana," pintanya.

Di kantor, suasana mendadak sibuk. Bos naik ke ruangannya di lantai atas untuk berkonsentrasi menyusun draf secara manual, sementara saya "dibuang" ke lantai bawah untuk mengetik. Inilah momen yang saya tunggu-tunggu. Alih-alih menggunakan mesin ketik manual yang berisik dan lamban, saya memutuskan untuk melakukan sebuah kenekatan yang terukur.

Saya menyelinap ke ruang komputer. Saya buka program Write, aplikasi wordprocessing yang saya bawa dengan penuh perjuangan dari Wisconsin.

Draf selembar demi selembar turun dari lantai atas. Jari-jari saya menari di atas papan ketik komputer. Setiap ada revisi atau tambahan kalimat, saya tidak perlu membuang kertas dan mengetik ulang dari awal—cukup geser kursor, hapus, dan sisipkan. Begitu satu halaman selesai dan rapi, saya tekan perintah cetak.

Suara printer yang menderu pelan di tengah kesunyian kantor akhirnya memancing rasa penasaran Bos. Ia turun ke bawah, dan begitu melihat saya duduk manis di depan monitor yang menyala, wajahnya mendadak merah padam.

"Siapa yang suruh kamu pakai komputer?!" bentaknya ketakutan. Bayangan tentang kerusakan mahal dan teknisi dari Singapura pasti langsung melintas di kepalanya.

Saya hanya diam. Saya tidak membela diri dengan kata-kata, melainkan dengan hasil kerja. Saya tunjukkan lembaran makalah yang tercetak rapi, bersih tanpa tip-ex, dan yang terpenting: selesai dalam waktu singkat. Amarahnya perlahan luruh saat ia menyadari satu kenyataan pahit yang manis: pekerjaan yang biasanya memakan waktu semalam suntuk dengan mesin ketik, kini selesai hanya dalam hitungan jam karena saya tidak perlu mengetik ulang setiap kali ada perbaikan. Kecepatan dan kerapian itu menjadi argumen yang jauh lebih kuat daripada ribuan teori yang saya bawa dari Amerika.

Malam itu, ketakutan akan "kerusakan mahal" akhirnya kalah telak oleh "kebutuhan akan kecepatan".

Sejak saat itu, gembok ruang komputer itu tidak lagi menjadi penghalang bagi saya. Sang Bos akhirnya memberikan restu resminya. Saya tidak lagi perlu menjadi "pencuri" waktu di sore hari; saya telah resmi menjadi orang yang dipercaya untuk menjinakkan mesin canggih itu demi kemajuan institusi.

Pintu menuju SIPISIS kini mulai terbuka lebar.

BAB 4: Panggung Megah dan Kekecewaan di Balik Layar (1987)

Cita-cita melahirkan SIPISIS ternyata masih harus menempuh jalan berliku. Setelah mendapatkan restu menggunakan komputer, saya justru masuk ke dalam pusaran proyek yang lebih besar dan formal. Kali ini, proyek tersebut digawangi secara resmi oleh UPT Pusat Komputer di bawah kepemimpinan Dr. Abdurauf Rambe, dengan dua punggawanya, Julio dan Sony.

Mereka membangun sebuah sistem berbasis dBase II yang diberi nama SIMPUS (Sistem Informasi Perpustakaan). Sebagai orang yang dianggap paling mengerti operasional perpustakaan dan komputer, saya ditunjuk menjadi penjaga gawang sistem ini.

Puncaknya adalah hari bersejarah bagi IPB. Gedung perpustakaan baru yang megah, yang dinamakan Lembaga Sumberdaya Informasi (LSI), diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.

Saya berdiri di samping komputer yang menyala, jantung berdegup kencang. Di hadapan orang nomor satu di Indonesia itu, SIMPUS dipamerkan sebagai simbol modernisasi pendidikan tinggi. Saya merasa sangat beruntung saat itu karena Pak Harto tidak sempat mencoba langsung mesin tersebut; beliau hanya melihat dan memberikan restunya. Namun, keberuntungan itu tidak bertahan lama.

Begitu rombongan kepresidenan meninggalkan lokasi, Rektor IPB, Prof. Andi Hakim Nasoetion, kembali masuk ke perpustakaan. Beliau adalah sosok intelektual yang sangat kritis dan praktis. Beliau ingin membuktikan sendiri kecanggihan sistem yang baru saja diresmikan itu.

"Man, coba cari buku karangan saya," pinta beliau.

Saya mulai mengetikkan kata kunci di papan ketik. Kursor berkedip-kedip. Mesin itu mulai bekerja, memindai ribuan baris data dalam dBase II. Detik berganti menit. Suasana di ruangan yang tadinya penuh kebanggaan mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Komputer itu terus "berpikir", mencari, dan mencari, namun hasilnya tak kunjung muncul di layar.

Prof. Andi Hakim, yang dikenal tidak memiliki banyak waktu untuk hal-hal yang tidak efisien, mulai kehilangan kesabaran. Beliau menatap layar yang masih membeku itu, lalu tanpa kata, beliau berbalik dan meninggalkan komputer tersebut begitu saja.

Saya berdiri mematung di depan monitor. Kecewa. Sangat kecewa.

Di dalam hati, saya merenung tajam. Buat apa kita membangun gedung megah dan meresmikan sistem komputer dengan gegap gempita jika pada akhirnya ia justru lebih lambat daripada mencarinya secara manual di laci katalog? Seharusnya teknologi mempercepat, bukan malah menghambat.

Kegagalan SIMPUS di depan mata sang Rektor hari itu menjadi cambuk yang sangat pedih bagi saya. Saya menyadari bahwa dBase II mungkin punya keterbatasan dalam menangani jumlah rekaman data perpustakaan yang masif jika tidak dioptimalkan dengan benar.

Momen memalukan itu justru menjadi titik balik. Di tengah kekecewaan itu, obsesi saya semakin mengeras. Saya harus menemukan cara lain. Saya harus membangun sistem yang benar-benar cepat, tangguh, dan tidak akan membuat seorang Rektor—atau siapa pun—menunggu dengan sia-sia.

BAB 5: Gerbang Tak Terduga (1988)

Kegagalan SIMPUS di hadapan Prof. Andi Hakim Nasoetion meninggalkan luka yang dalam, namun sekaligus memberikan kejernihan: saya harus mencari mesin penggerak data yang jauh lebih perkasa daripada dBase II. Tak lama setelah peresmian gedung LSI yang "dingin" itu, sebuah kabar berembus seperti angin segar dari Jakarta.

Ada undangan pelatihan CDS/ISIS (Computerized Documentation Service/ Integrated Set of Information Systems). Ini bukan pelatihan sembarangan. Acara ini adalah hasil kerja sama antara PDII-LIPI dan UNESCO, dengan instruktur yang didatangkan langsung dari markas besar UNESCO di Paris: Suzan Orniger.

Hati saya berdegup kencang membaca nama aplikasi itu. "Inilah jawabannya!" batin saya. Namun, lagi-lagi tembok birokrasi menghadang. Kebijakan perpustakaan menetapkan bahwa hanya Janti yang dikirim sebagai perwakilan resmi. Saya kembali terhempas dalam kekecewaan yang mendalam. Bagaimana mungkin orang yang paling haus akan ilmu ini justru harus berdiri di luar pagar?

Namun, semesta nampaknya sedang berpihak pada kegigihan saya.

Suatu hari, Widharto—seorang kawan lama yang menjadi panitia pelatihan tersebut—datang berkunjung ke perpustakaan kami. Ia membawa kabar mengejutkan: kuota peserta ternyata belum terpenuhi. Ia mencari "pasukan" tambahan agar kelas tetap berjalan sesuai rencana.

Pucuk dicinta ulam tiba. Di saat yang bersamaan, Bos saya sedang tidak masuk kantor karena sakit. Tanpa pikir panjang dan tanpa menunggu disposisi yang berbelit-belit, saya mengambil keputusan nekat. Saya mendaftarkan diri saya sendiri saat itu juga.

Selama tiga hari, saya seperti orang yang baru menemukan kunci gudang harta karun.

Di bawah bimbingan Suzan Orniger, saya mulai memahami mengapa CDS/ISIS begitu berbeda. Ia tidak lamban seperti sistem yang kami bangun sebelumnya. Ia dirancang khusus untuk mengelola teks dan informasi bibliografi yang kompleks dengan kecepatan luar biasa. Struktur datanya yang unik memungkinkan pencarian kata kunci dilakukan dalam hitungan detik, bukan menit.

Tiga hari itu bukan sekadar pelatihan teknis bagi saya; itu adalah momen proklamasi kemerdekaan intelektual. Saya pulang dengan membawa disket berisi program CDS/ISIS dan semangat yang tidak bisa lagi dibendung oleh siapa pun.

Saya tahu, era SIMPUS yang lamban akan segera berakhir. Di dalam tas saya, cikal bakal SIPISIS sudah mulai bernapas. Saya tidak lagi hanya bermimpi; saya sudah memegang alat untuk mewujudkannya.

BAB 6: Gerilya Silabus dan Ujian Kepercayaan (1988)

Pelatihan tiga hari di Jakarta bersama Suzan Orniger hanyalah sebuah pembuka pintu. Bagi banyak orang, pelatihan singkat mungkin hanya menghasilkan sertifikat untuk dipajang. Namun bagi saya, disket yang saya bawa pulang adalah "kitab suci" yang harus dikuliti habis.

Setiap malam, saya bergelut dengan baris-baris kode CDS/ISIS. Saya mencoba, berlatih, gagal, lalu mencoba lagi. Saya membangun basis data baru, menghancurkannya, dan membangunnya kembali hingga saya memahami setiap lekuk fungsionalitasnya. Saya tidak lagi sekadar menggunakan program itu; saya mulai "bernapas" bersamanya.

Kesempatan untuk menyebarkan "virus" otomatisasi ini datang pada tahun 1988. Saat itu, ada agenda besar: Pelatihan Manajemen Perpustakaan untuk sebelas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di wilayah Indonesia Barat. Proyek ini sangat bergengsi karena didanai langsung oleh US-AID.

Sebagai salah satu panitia, saya melakukan langkah nekat. Diam-diam, saya selipkan materi CDS/ISIS ke dalam silabus pelatihan. Saya tahu, begitu silabus itu dirilis dan disetujui oleh sponsor sekelas US-AID, tidak akan ada yang berani mengubahnya. Itu adalah strategi fait accompli—sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.

Namun, drama dimulai ketika urusan siapa yang akan mengajar mencuat. Bos saya, dengan sikap protektifnya yang lama, tetap bersikukuh: Bukan saya yang boleh mengajar. Beliau bersikeras agar Janti yang menjadi instruktur.

Bagi saya, jabatan atau nama siapa yang muncul di depan kelas tidaklah penting, asalkan ilmunya tersampaikan. Namun masalahnya, Janti sendiri merasa tidak percaya diri. Ia tidak berani mengajarkan CDS/ISIS yang teknisnya sangat dalam itu. Kebuntuan pun terjadi.

Saya mencoba memberikan jalan keluar diplomatis: "Bagaimana kalau kita undang perwakilan UNESCO saja? Semoga Suzan Orniger masih di Indonesia."

Mendengar usulan itu, Bos saya langsung ciut nyalinya. Di bayangan beliau, mengundang pakar internasional berarti biaya ribuan dolar yang sangat mahal. Beliau terjepit di antara dua pilihan: membayar mahal pakar asing, atau mempercayai "anak buahnya" sendiri yang dianggapnya masih hijau.

Akhirnya, dengan setengah terpaksa dan mungkin sedikit keraguan, beliau menyerah. "Ya sudah, kamu yang jadi instrukturnya," katanya.

Momen itu adalah ujian sesungguhnya bagi saya. Di depan para pustakawan dari sebelas PTN ternama, pengetahuan saya diuji habis-habisan. Saya tidak hanya mengajarkan cara mengetik, tapi saya mengajarkan bagaimana komputer bisa menjadi "otak" kedua bagi perpustakaan mereka. Saya menjawab setiap keraguan, memecahkan setiap kendala teknis, dan membuktikan bahwa anak bangsa bisa menguasai teknologi tingkat dunia.

Hasilnya? Luar biasa. Saat survei evaluasi pengajar dilakukan di akhir acara, seluruh peserta menyatakan puas. Nama saya yang tadinya hanya "pustakawan nakal" yang suka menyelinap ke ruang komputer, kini mulai diakui sebagai instruktur yang kompeten.

Keyakinan saya semakin bulat. Jika sebelas universitas besar ini merasa puas dengan CDS/ISIS, maka ini adalah masa depan bagi seluruh perpustakaan di Indonesia. Saya telah melewati ujian api, dan sekarang saatnya memikirkan bagaimana sistem ini bisa menjadi sebuah aplikasi yang benar-benar utuh dan mudah digunakan oleh siapa saja.

BAB 7: Arsitektur di Tanah Britania (1989-1991)

Tahun 1989, sebuah pintu lebar terbuka bagi saya. Saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi S2 di Inggris. Namun, di dalam koper yang saya bawa, bukan hanya pakaian dan dokumen resmi, melainkan sebuah obsesi yang belum tuntas: membangun aplikasi perpustakaan yang benar-benar terintegrasi.

Inggris memberikan saya perspektif baru. Jika selama ini saya hanya "memakai" aplikasi, di sini saya mulai belajar bagaimana sebuah sistem "berbicara" satu sama lain. Fokus utama saya adalah memecahkan batasan terbesar CDS/ISIS saat itu.

Pada masa itu, CDS/ISIS dirancang sebagai sistem standalone—ia hanya bisa berdiri sendiri di satu komputer. Bayangkan betapa tidak efisiennya jika bagian pengolahan dan bagian sirkulasi harus bergantian menggunakan satu komputer yang sama. Maka, untuk tugas akhir saya, saya menetapkan target yang ambisius: memaksa CDS/ISIS agar bisa bekerja dalam jaringan lokal (LAN).

Ini adalah langkah teknis yang sangat berat namun fundamental. Saya ingin data yang diinput di satu sudut perpustakaan bisa langsung dibaca di sudut lainnya secara real-time. Inilah nyawa dari sebuah sistem terintegrasi.

Tak berhenti di situ, saya juga menyadari satu masalah besar yang akan kami hadapi di Indonesia: gunung data. Kami punya banyak data di dBase II yang lamban itu, dan memindahkannya secara manual satu per satu ke CDS/ISIS adalah pekerjaan bunuh diri.

Maka, saya mulai mengembangkan aplikasi konversi. Saya merancang jembatan digital yang mampu mengubah data dari format dBase menjadi data berstandar internasional ISO 2709 (format yang dipahami oleh CDS/ISIS).

"Ini adalah tangga," pikir saya saat itu. "Tangga yang akan membawa ribuan record data kami dari masa lalu yang lamban menuju masa depan yang cepat."

Dua tahun di Inggris adalah masa-masa saya menempa diri menjadi seorang arsitek sistem. Meski waktu studi yang terbatas membuat saya belum sempat merangkai seluruh potongan itu menjadi satu aplikasi utuh yang siap pakai, saya pulang ke Indonesia dengan "cetak biru" yang sudah matang di kepala.

Saya pulang bukan lagi sebagai pustakawan yang sekadar tahu cara memakai komputer. Saya pulang dengan membawa kunci teknologi jaringan dan alat konversi data massal. Saya tahu, begitu kaki saya menginjak Bogor kembali, potongan-potongan puzzle yang saya kumpulkan dari Madison hingga Inggris ini akan segera bersatu.

Gedung perpustakaan IPB mungkin masih berdiri diam, namun saya datang membawa badai perubahan yang akan menyatukan seluruh alur kerjanya dalam satu tarikan napas digital.

BAB 8: Murid Sang Maestro dan Kelahiran ISISCIR (1992-1993)

Sekembalinya dari Inggris, tumpukan pekerjaan rutin sebagai pustakawan di IPB seolah ingin menenggelamkan obsesi saya. Namun, api itu tidak pernah padam. Di sela-sela kesibukan administrasi, pikiran saya tetap melanglang buana, mencari cara agar CDS/ISIS tidak lagi berjalan sendirian.

Saya mulai menjalin jejaring internasional. Saya berkorespondensi dengan Hugo Besemer dari Belanda, sosok yang sedang mengembangkan aplikasi sirkulasi berbasis CDS/ISIS. Namun, momen paling sakral adalah ketika saya berkesempatan menjadi murid langsung dari Giampaolo Del Begio—sang arsitek utama, pria di balik baris-baris kode asli CDS/ISIS di UNESCO.

Belajar langsung dari sang pencipta seperti mendapatkan kunci langsung ke jantung mesinnya. Saya mulai memahami filosofi di balik struktur datanya yang rumit. Sedikit demi sedikit, dengan ketekunan seorang penghobi yang keras kepala, saya mulai merakit sistem itu.

"Saya bukan programmer betulan," batin saya berkali-kali. Namun, hobi ini telah membawa saya melampaui batas-batas profesi pustakawan pada umumnya.

Hingga akhirnya, sebuah Versi Beta berhasil saya wujudkan. Namun, saya sadar, untuk mengubah sebuah prototipe menjadi sistem yang tangguh dan bisa dipakai massal, saya tidak bisa bekerja sendirian. Saya butuh "pasukan" yang memiliki frekuensi yang sama.

Maka, saya membentuk Tim Pengembangan Otomasi Perpustakaan. Inilah tim legendaris yang menjadi rahim bagi lahirnya teknologi perpustakaan di Indonesia. Di samping saya, berdirilah rekan-rekan seperjuangan: Mustafa, Bagyo, Suparman, dan Yaya Suryanata. Kami adalah perpaduan antara pustakawan yang paham alur kerja dan tenaga teknis yang siap mengeksekusi logika pemrograman.

Nama pertama yang kami sematkan untuk bayi digital kami ini bukanlah SIPISIS, melainkan ISISCIR (akronim dari Sistem Sirkulasi menggunakan ISIS).

Fokus kami saat itu sangat jelas: bagaimana agar proses peminjaman dan pengembalian buku di meja sirkulasi tidak lagi menjadi momok yang lamban. Kami ingin membuktikan bahwa data yang diinput dengan standar internasional bisa "mengalir" secara otomatis menjadi transaksi layanan.

ISISCIR adalah fondasi pertama. Ia masih mentah, masih dalam tahap uji coba yang mendebarkan, namun ia membawa harapan besar. Di tangan tim kecil inilah, sebuah revolusi sedang disiapkan untuk mengguncang kemapanan sistem manual yang sudah berakar puluhan tahun di perpustakaan Indonesia.

Dalam setiap pembangunan menara gading, ujian terberat bukanlah pada batu batanya, melainkan pada kesatuan hati para pembangunnya. Begitu pula dengan ISISCIR. Di tengah semangat kami menyempurnakan sistem sirkulasi itu, perbedaan visi mulai merayap masuk ke dalam tim.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika salah satu programmer kami, Yaya Suryanata, memutuskan untuk memisahkan diri. Ia memilih berdiri sendiri dengan visinya, meninggalkan tim yang baru saja mulai tumbuh. Bagi sebuah tim kecil, kehilangan seorang programmer adalah guncangan besar. Namun, di titik nadir itulah, kreativitas kami justru terlecut.

Mustafa, salah satu rekan setia saya, memberikan usul yang sangat cerdas dan segar: "Kenapa kita tidak melibatkan mahasiswa tingkat akhir yang sedang menulis skripsi saja?"

Ide itu seperti percikan api. Kami menemukan seorang mahasiswa berbakat yang sedang menuntaskan studinya. Kami tantang dia untuk melakukan tugas besar: menyempurnakan logika ISISCIR yang masih mentah, memperbaiki lubang-lubang di dalamnya, dan menjadikannya sebuah sistem yang utuh.

BAB 9: Guru Mahasiswa dan Ritual Sabtu (1994)

Di tengah ketegangan pasca-perpecahan tim, datanglah seorang pemuda cerdas yang sedang menuntaskan skripsinya. Namanya Doni. Doni bukan sekadar mahasiswa biasa; dia adalah jembatan teknis yang kami butuhkan untuk menerjemahkan obsesi perpustakaan kami ke dalam bahasa mesin yang tangguh.

Kepada Doni-lah kami menitipkan mandat besar: Sempurnakan ISISCIR. Kami ingin sistem ini tidak hanya bisa mencatat peminjaman, tapi menjadi jantung informasi yang utuh. Dan sebagai penanda era baru, kami sepakat meninggalkan nama lama yang terasa kaku.

"Kita beri nama SIPISIS," cetus kami saat itu. Sistem Informasi Perpustakaan berbasis ISIS. Sebuah nama yang lebih akrab, lebih Indonesia, dan yang terpenting: berbeda dari jalur yang diambil oleh Yaya.

Namun, kami—saya, Mustafa, Bagyo, dan Suparman—tidak ingin menjadi "tuan tanah" yang hanya tahu memakai hasil jadi. Kami punya harga diri intelektual. Maka, dimulailah ritual Sabtu yang legendaris itu.

Setiap hari Sabtu, ketika gedung perpustakaan mulai sunyi dan pegawai lain sudah beristirahat di rumah, kami justru berkumpul di ruang komputer. Di sana, peran terbalik: kami yang sudah senior ini duduk manis menjadi murid, dan Doni, si mahasiswa tingkat akhir itu, berdiri di depan sebagai guru kami.

Kami "ngoprek" habis-habisan bahasa pemrograman Pascal-ISIS. Bayangkan suasananya: kepulan asap kopi, deru halus kipas komputer, dan perdebatan seru tentang logika looping atau struktur data. Kami belajar bagaimana logika perpustakaan yang rumit harus dituliskan dalam baris-baris kode Pascal agar komputer tidak "bingung" seperti dBase II di masa lalu.

Sabtu demi Sabtu kami lalui dengan mata yang lelah namun semangat yang membara. Di sela-sela baris kode itulah, SIPISIS mulai bernapas. Ia bukan lagi sekadar "hobi" saya seorang, tapi telah menjadi karya kolektif sebuah tim yang belajar dan bertumbuh bersama.

Kami sedang menyiapkan sebuah ledakan dari Bogor yang akan mengubah cara kerja pustakawan di seluruh nusantara. Kami tidak hanya sedang membuat program; kami sedang menempa diri kami sendiri menjadi pustakawan generasi baru.

BAB 10: Melawan Arus Proyek Raksasa (1994)

SIPISIS kini bukan lagi sekadar prototipe. Doni telah berhasil menyisir setiap bug yang tersisa, dan kami telah menempa diri setiap Sabtu untuk memahami setiap baris kodenya. Kami sudah siap untuk "perang" yang sesungguhnya. Namun, tepat saat kami hendak melangkah, sebuah badai besar datang dari Jakarta.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) meluncurkan proyek nasional ambisius: otomasi untuk 49 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia. Senjatanya adalah Dynix, sebuah perangkat lunak impor dengan harga selangit. IPB, tentu saja, masuk dalam daftar penerima manfaat.

Namun, di balik kemilau nama besarnya, Dynix membawa realita yang pahit. Proyek ini tidak memberikan solusi lengkap bagi semua. Di banyak perpustakaan, mereka hanya diberi satu modul dan satu komputer. Di perpustakaan saya, kami hanya mendapatkan modul input data dan katalog online (OPAC) dengan satu server dan tiga terminal.

Masalahnya adalah "biaya tersembunyi". Untuk menambah satu terminal saja atau mengaktifkan modul sirkulasi, kami harus merogoh kocek yang sangat dalam untuk biaya lisensi. Ini adalah sistem yang mengikat leher.

Dengan kepala dingin, saya mengambil keputusan paling nekat dalam karier saya: Saya menunda implementasi Dynix.

Langkah ini adalah tabu dalam birokrasi. Menunda proyek nasional sama saja dengan mengundang petir. Benar saja, teguran keras dari pusat mendarat di meja Rektor. Dan sebagai Kepala Perpustakaan yang baru menjabat, saya adalah sasaran tembak utamanya.

"Man, kamu ini bagaimana? Ini proyek nasional, kenapa kamu hambat?" suara Rektor menggelegar di ruangannya yang megah.

Saya berdiri di sana, tidak dengan tangan gemetar, tapi dengan tumpukan angka dan fakta. "Mohon maaf, Pak Rektor. Saya sama sekali tidak berniat menghambat. Saya justru sedang menyusun rincian kebutuhan agar sistem ini benar-benar bisa kita pakai secara total," jawab saya tenang.

Saya sodorkan selembar kertas berisi estimasi biaya yang harus dikeluarkan IPB jika kita memaksakan menggunakan Dynix secara penuh—mulai dari lisensi tambahan hingga perawatan berkala. Angkanya membuat dahi Rektor berkerut dalam.

"Wah, mahal sekali ya... Dari mana kita bisa membiayai ini semua?" gumam beliau, suaranya mulai melunak.

Inilah momen yang saya tunggu. "Pak, kita tidak harus bergantung pada sistem mahal itu. Saya dan tim sudah mengembangkan alternatif yang jauh lebih tepat guna. Namanya SIPISIS. Biayanya murah, pengembangannya fleksibel, dan kita tidak perlu membayar lisensi setiap kali menambah komputer terminal."

Ruangan itu hening sejenak. Rektor menatap saya, menimbang antara risiko administratif dan efisiensi anggaran. Akhirnya, beliau menghela napas dan berkata, "Ya sudah. Kalau begitu, lanjutkan saja rencanamu."

Kalimat singkat itu adalah kemenangan besar bagi kedaulatan teknologi kita. Saya keluar dari ruang Rektor dengan langkah tegak. Proyek raksasa itu mungkin punya nama besar, tapi IPB punya sesuatu yang lebih berharga: sebuah sistem yang lahir dari keringat, diskusi hari Sabtu, dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan pustakawan sendiri.

BAB 11: Kesetiaan dalam Pengucilan (1995)

Di permukaan, ruang komputer kami tampak patuh. Perangkat Dynix yang mahal itu tetap menyala, lampu indikatornya berkedip, dan beberapa operator duduk di depannya seolah sedang sibuk memasukkan data. Namun, itu hanyalah sebuah etalase birokrasi.

Di balik layar, jantung perpustakaan kami sebenarnya berdetak untuk SIPISIS.

Saya mengambil keputusan sadar untuk membagi fokus secara tidak seimbang. Input data ke Dynix sengaja dibuat berjalan di tempat—lambat, sekadarnya, hanya agar sistem itu tidak terlihat mati total. Energi utama tim saya arahkan untuk menyuntikkan ribuan data ke dalam rahim SIPISIS. Kami sedang membangun kekuatan yang sesungguhnya, sembari menjaga agar "proyek pusat" tidak terlihat seperti kegagalan total yang bisa memicu sanksi administratif.

Benar saja, hari penghakiman itu tiba. Tim survei dari pusat datang dengan buku catatan dan standar penilaian mereka. Mereka datang untuk memuja keberhasilan Dynix di seluruh nusantara.

Saya menyambut mereka dengan senyum sopan. Saya tunjukkan perangkat mereka yang masih berdiri tegak. "Kami sedang mempelajari sistem ini, Bu. Operator kami sedang berlatih memahami modulnya," ujar saya memberikan alasan yang aman. Saya memposisikan diri bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai pengguna yang "berhati-hati" dan sedang membandingkan teknologi impor dengan hasil karya mandiri.

“Input data yang Anda lakukan sangat lambat Pak.” Kata Bu Irawati Singarimbun, tim penilai dari pusat.

“Kami sedang belajar Bu.” Jawabku.

Namun, angka tidak bisa berbohong dalam kacamata birokrasi.

Karena data yang masuk ke Dynix sangat minim, skor penilaian perpustakaan IPB merosot tajam. Kami yang biasanya menjadi rujukan, tiba-tiba berada di urutan buncit dalam laporan keberhasilan proyek nasional. Hasil survei itu menjadi stempel negatif bagi kepemimpinan saya.

Efeknya meluas hingga ke pergaulan profesional. Dalam pertemuan-pertemuan nasional, saya mulai merasakan hawa dingin. Rekan-rekan Kepala Perpustakaan dari universitas lain, yang bangga dengan sistem mahal mereka, mulai memandang saya dengan sebelah mata. Saya dianggap "kepala batu", "lambat", atau mungkin "ketinggalan zaman" karena tidak segera memuja Dynix sebagaimana mereka.

Saya menjadi orang asing di tengah kerumunan sejawat. Saya dikucilkan dari lingkaran utama pergaulan kepala perpustakaan di Indonesia.

Ada rasa perih, tentu saja. Sebagai manusia, tidak ada yang suka dianggap gagal atau dipinggirkan. Namun, setiap kali saya kembali ke Bogor dan melihat tim saya—Mustafa, Bagyo, Suparman dan yang lainnya—dengan antusias mengoperasikan SIPISIS yang cepat, ringan, dan tanpa biaya lisensi yang mencekik, rasa perih itu hilang.

Saya lebih memilih dikucilkan oleh rekan sejawat daripada mengkhianati kebutuhan perpustakaan saya sendiri. Saya bertaruh pada masa depan, bukan pada prestise sesaat. Saya tahu, waktu akan membuktikan sistem mana yang benar-benar bisa bertahan dan melayani pustakawan Indonesia dengan hati, bukan dengan kontrak lisensi dolar.

BAB 12: Jembatan Hibrida dan Hancurnya Ketakutan (1995)

Tahun 1995 menjadi tahun pembuktian bagi SIPISIS. Kami tidak ingin terjebak dalam euforia teknologi yang justru melumpuhkan layanan. Maka, saya mengambil strategi yang sangat hati-hati: Sistem Hibrida.

Kami sadar, memindahkan jutaan data buku dalam semalam adalah kemustahilan. Namun, kami punya data buku-buku yang paling sering dipinjam (high-use) dan data seluruh anggota. Selama beberapa bulan, suasana di meja sirkulasi menjadi sangat unik. Sistem manual dengan kartu-kartu kuning tetap tersedia sebagai jaring pengaman, namun setiap buku yang keluar melalui prosedur manual itu, langsung "discan" masuk ke dalam rahim digital SIPISIS.

Kami mengamati setiap denyut sistem itu. Begitu kami yakin bahwa SIPISIS tidak akan "batuk" atau macet di tengah jalan, saya mengambil keputusan final: Matikan sistem manual. Sejak hari itu, sirkulasi di IPB resmi hanya bernapas melalui satu saluran digital: SIPISIS.

Namun, tantangan terbesar ternyata bukan pada bug komputer, melainkan pada hati manusia.

Secara internal, SIPISIS menghadapi badai penolakan, terutama dari para pustakawan senior. Ketakutan mereka sangat manusiawi dan masuk akal: Takut Tersisih. Di mata mereka, otomasi adalah hantu yang akan mencuri peran mereka, membuat keahlian puluhan tahun mereka menjadi tidak relevan, dan mungkin menghapus eksistensi mereka di perpustakaan.

Saya tidak menghadapi ketakutan itu dengan kemarahan atau ancaman mutasi. Saya menghadapi mereka dengan Visi Baru.

"Bapak dan Ibu," kata saya dalam sebuah pertemuan yang penuh ketegangan, "Otomasi bukan untuk menggantikan peran Anda. Justru ia hadir agar Anda berhenti menjadi 'tukang catat' yang kelelahan dan mulai menjadi 'manajer informasi' yang sesungguhnya."

Saya tunjukkan kepada mereka pintu-pintu peluang yang selama ini tertutup karena mereka terlalu sibuk mengurus kartu peminjaman. Saya ajarkan mereka cara membuat kliping elektronik yang canggih. Saya tunjukkan bagaimana data yang diinput di bagian pengolahan bisa langsung disulap menjadi bibliografi buku baru yang indah, atau menjadi Layanan Informasi Terseleksi (SDI) untuk para dosen dan peneliti.

Ajaib. Ketika mereka melihat bahwa teknologi ini justru membuat pekerjaan mereka lebih dihargai dan lebih intelektual, perlawanan itu perlahan luruh. Produktivitas mereka justru melesat. Mereka yang tadinya takut pada komputer, kini menjadi orang-orang yang bangga karena bisa menyajikan informasi yang jauh lebih bernilai bagi pemustaka.

SIPISIS bukan lagi dianggap sebagai musuh; ia telah menjadi mitra yang membebaskan mereka dari belenggu rutinitas manual. Kami berhasil melewati masa transisi ini tidak hanya dengan sistem yang berjalan, tapi dengan tim yang tetap utuh dan lebih berdaya.

BAB 13: SEMIMO dan Benih Kepercayaan (1996)

Keberhasilan di IPB adalah kemenangan manis, namun saya merasa tugas kami belum usai. Ada tanggung jawab moral untuk membagikan "api" ini kepada rekan-rekan di seluruh Indonesia yang mungkin sedang tercekik biaya lisensi sistem impor atau masih bergelut dengan kartu katalog yang berdebu.

Kami memutuskan untuk mengadakan open house. Kami menamakannya SEMIMO—sebuah akronim yang kami buat agar terdengar segar: Seminar dan Demo.

Kami tidak ingin acara ini terlihat kaku. Brosur dan flayer kami rancang sedemikian rupa—menarik, modern, dan provokatif. Kami ingin mengirim pesan kuat: Ini bukan sekadar program komputer, ini adalah masa depan perpustakaan Anda.

Hasilnya di luar dugaan. Tidak kurang dari 100 orang pustakawan dan pengelola informasi dari seluruh penjuru Jawa memadati auditorium kami. Di depan mereka, saya dan tim membedah "jeroan" SIPISIS. Kami jelaskan rancang bangunnya, kami tunjukkan betapa ringannya ia berlari di atas mesin yang sederhana, dan betapa patuhnya ia pada standar internasional yang selama ini dianggap rumit.

"Jangan hanya percaya pada kata-kata saya," ujar saya saat itu. "Mari kita lihat sendiri bagaimana ia bekerja."

Kami undang seluruh peserta turun ke lapangan. Mereka kami bawa langsung ke meja sirkulasi dan ruang pengolahan. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana buku dipinjam dalam hitungan detik, bagaimana laporan statistik muncul dengan sekali klik, dan bagaimana para pustakawan senior kami—yang dulunya skeptis—kini dengan lincah menari di atas papan ketik.

Sebagai "oleh-oleh", kami membekali mereka dengan disket SIPISIS Versi Demo. Kami persilakan mereka membawanya pulang, menginstalnya, dan "menyiksanya" di perpustakaan masing-masing.

Alhamdulillah, sambutan yang kami terima sangat hangat. Namun, di balik pujian itu, saya masih menangkap keraguan yang menggantung di udara. Ada tatapan "maju-mundur" dari para peserta.

"Apakah benar buatan anak bangsa ini bisa dipercaya?"

"Apakah ia sanggup bersaing dengan Dynix yang harganya miliaran?"

Itu adalah keraguan yang sangat manusiawi—semacam kompleksitas rendah diri kolektif terhadap produk lokal. Mereka terpukau dengan kecepatannya, namun mereka masih takut untuk benar-benar pindah ke lain hati. Mereka menunggu sebuah jaminan: jaminan bahwa SIPISIS bukan sekadar proyek hobi yang akan mati dalam setahun dua tahun.

Kami pulang dari SEMIMO dengan rasa syukur, namun sekaligus dengan tantangan baru. Kami telah menebar benih. Sekarang, tugas kami bukan lagi sekadar membuktikan bahwa SIPISIS itu bisa jalan, tapi membuktikan bahwa SIPISIS itu tangguh dan layak dipercaya untuk menjaga memori kolektif bangsa ini.

BAB 14: Mandat Keberlanjutan: Perjalanan ke Atma Jaya (1996-1997)

Gayung bersambut. Ketukan pintu pertama yang memecah keraguan publik datang dari Jakarta. Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi SIPISIS. Ini adalah momen pembuktian: apakah sistem yang "manja" di kandang sendiri (IPB) ini bisa bertahan di ekosistem yang berbeda?

Namun, sebagai instansi pemerintah, kami menghadapi tembok dilema etika dan aturan. Kami bukan perusahaan komersial, kami tidak boleh "menjual" produk untuk mencari laba. Tapi di sisi lain, saya tahu persis bahwa memberikan perangkat lunak secara gratis tanpa dukungan biaya adalah cara tercepat untuk membunuh inovasi tersebut.

"Sistem informasi itu bukan benda mati seperti meja atau kursi," jelas saya kepada calon pengguna pertama kami. "Ia adalah organisme yang hidup. Ia bernapas melalui apa yang disebut SDLC (Systems Development Life Cycle)."

Saya memberikan pemahaman baru bagi mereka: sebuah sistem perlu dirawat, diperbarui fiturnya sesuai perkembangan zaman, dan diperbaiki jika ada kerusakan. Jika kami memberikan SIPISIS begitu saja tanpa ada dana pengembangan, maka SIPISIS akan mati perlahan karena ditinggalkan teknologinya.

Maka, kami merumuskan sebuah kebijakan yang adil dan transparan. Kami tidak menjual lisensi programnya—karena semangat kami adalah berbagi ilmu. Namun, lembaga yang ingin menggunakan SIPISIS kami minta untuk ikut menanggung biaya pengembangannya. Dana tersebut bukanlah "harga beli", melainkan kontribusi kolektif untuk memastikan jantung SIPISIS tetap berdetak. Biaya itulah yang kami gunakan untuk:

  • Instalasi: Memastikan sistem terpasang dengan benar di server mereka.
  • Pelatihan: Mentransfer ilmu agar pustakawan mereka mandiri.
  • Pemeliharaan: Menjamin adanya bantuan teknis jika mereka menemui kendala.

Atma Jaya setuju. Mereka memahami bahwa yang mereka investasikan bukan sekadar disket berisi program, melainkan sebuah layanan dan komitmen jangka panjang.

Momen instalasi di Atma Jaya menjadi tonggak sejarah. Untuk pertama kalinya, SIPISIS "merantau" keluar dari Bogor. Keberhasilan di Atma Jaya menjadi testimoni yang sangat kuat. Jika universitas swasta ternama di Jakarta saja percaya pada produk anak bangsa, maka tidak ada alasan bagi PTN lain untuk terus meragu.

Inilah awal dari efek bola salju. Dari satu kampus di Jakarta, nama SIPISIS mulai terbang melintasi batas-batas kota, merayap ke perpustakaan-perpustakaan lain yang mendambakan kemandirian teknologi. Kami bukan lagi sekadar pustakawan yang "ngoprek" di hari Sabtu; kami telah menjadi pusat pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang diperhitungkan.

BAB 15: Bola Salju yang Melintasi Nusantara (1997-2000)

Keberhasilan di Atma Jaya Jakarta ternyata hanyalah sebuah awal dari ledakan yang tak terbendung. Kabar tentang sistem dari Bogor yang cepat, murah, dan patuh pada standar internasional menyebar seperti api di musim kering.

Setelah Jakarta, Yogyakarta memanggil melalui Universitas Kristen Duta Wacana. Tak lama kemudian, Santa Laurensia di Serpong menyusul. Nama SIPISIS mulai disebut-sebut dalam rapat-rapat pimpinan universitas di berbagai kota.

Momen yang paling membanggakan bagi saya dan tim adalah ketika "Raksasa-Raksasa" pendidikan tinggi di Indonesia mulai melirik kami. Sebelum mereka membangun sistemnya sendiri yang lebih kompleks di kemudian hari, Universitas Indonesia (UI), ITS, dan ITB tercatat pernah menggantungkan jantung informasinya pada SIPISIS. Bagi kami, ini adalah pengakuan tertinggi. Jika kampus-kampus teknik dan humaniora terbaik bangsa ini percaya pada kode-kode yang kami rakit di hari Sabtu, maka perjuangan kami melawan sistem impor tidaklah sia-sia.

Efek bola salju ini bergulir semakin besar, melintasi batas-batas pulau, hingga akhirnya menyentuh tanah Papua di Universitas Cenderawasih (Uncen). SIPISIS telah resmi menjadi jembatan ilmu yang menyatukan nusantara dalam satu standar data yang sama.

Perpustakaan IPB mendadak berubah fungsi. Kami bukan lagi sekadar tempat meminjam buku, melainkan menjadi Pusat Inkubasi Teknologi Perpustakaan.

Setiap minggu, wajah-wajah baru dari berbagai daerah muncul di koridor kami. Mereka adalah staf IT dan pustakawan dari berbagai universitas yang dikirim khusus untuk belajar "ilmu Bogor". Kami melatih mereka dengan sabar, menularkan semangat bahwa otomasi bukan hanya soal perangkat keras, tapi soal kemandirian berpikir.

Namun, permintaan sering kali melampaui kapasitas ruang pelatihan kami. Jika sebuah universitas ingin melatih staf dalam jumlah besar, maka peran pun bertukar: tim ahli kami—Mustafa, Bagyo, Suparman, dan rekan-rekan lainnya—yang mengemas tas, membawa disket-disket sakti, dan terbang ke berbagai penjuru Indonesia.

Kami menjadi "misionaris digital" yang mendatangi mereka di daerah-daerah, menginstal sistem di server-server mereka yang masih baru, dan meyakinkan para pustakawan daerah bahwa mereka pun bisa sehebat rekan-rekan mereka di pusat.

Bogor telah menjadi episentrum. SIPISIS bukan lagi milik IPB semata; ia telah menjadi milik Indonesia. Sebuah bukti nyata bahwa dengan keterbatasan dana namun dengan visi yang kuat, anak bangsa mampu merajut sistem yang melayani bangsanya sendiri dari Sabang sampai Merauke.

BAB 16: Estafet Digital dan Pensiun yang Terhormat (2000–2010)

Zaman terus berlari, dan teknologi adalah lintasan yang tak pernah berhenti berubah. Di awal milenium baru, sebuah "binatang" baru muncul di cakrawala: Platform Web. Dunia mulai bergerak ke arah internet yang lebih terbuka, dinamis, dan terhubung secara luas.

Bagi kami, tim yang melahirkan SIPISIS dari rahim Pascal dan sistem standalone, tantangan ini terasa sangat berat. MySQL, PHP, dan ekosistem web lainnya adalah bahasa-bahasa baru yang asing. Kami, yang dulu begitu lincah "ngoprek" di hari Sabtu, mulai merasakan batas kemampuan teknis kami. Tuntutan pengguna yang ingin sistemnya bisa diakses dari mana saja membuat kami pusing tujuh keliling.

Namun, kami tidak menyerah begitu saja. Saya sadar, SIPISIS butuh darah muda.

Gayung bersambut ketika saya bertemu dengan Bayu Rahardjo, seorang lulusan baru Departemen Ilmu Komputer IPB yang visioner. Melalui perusahaannya, PT BeIT, kami mencoba melakukan "operasi besar" pada SIPISIS. Kami membedahnya, mencoba memindahkan jiwanya ke dalam basis data MySQL. SIPISIS berganti nama menjadi MySIPISIS.

Ternyata, menyatukan dunia ISIS yang berbasis Windows (WINISIS) dengan platform web bukanlah perkara mudah. Membangun ulang semuanya dari nol akan memakan biaya yang sangat besar—sesuatu yang sulit kami penuhi saat itu. Akhirnya, kami membangun sebuah "jembatan" (bridge) agar data SIPISIS bisa terbaca di internet.

Sistem itu berjalan, namun ia ringkih. Ia tidak sanggup menahan beban transaksi yang masif. Sering kali, sistem harus "di-restart" berulang kali agar bisa bernapas kembali. Di titik itulah, saya merenung tajam. Sebagai seorang pustakawan dan pengembang, prioritas utama saya adalah keamanan dan kestabilan data pengguna.

Saya tidak ingin memaksakan sebuah sistem yang sudah mencapai batas kemampuannya hanya demi sebuah nama besar.

Maka, pada tahun 2010, dengan hati yang berat namun penuh kelegaan, kami membuat pengumuman penting: SIPISIS resmi pensiun.

Kami berhenti menerima pengguna baru. Kepada para pengguna setia yang masih bertahan, kami sampaikan pesan jujur: "Kami akan tetap membantu pemeliharaan sistem Anda, namun kami sangat menyarankan Anda untuk segera berpindah ke platform yang lebih stabil."

Sebagai bentuk tanggung jawab terakhir, kami tidak membiarkan mereka tersesat. Kami arahkan mereka untuk menggunakan INLIS Lite, sistem gratis dari Perpustakaan Nasional yang sudah menggunakan teknologi terbaru.

SIPISIS mungkin telah berhenti beroperasi, namun tugasnya sudah selesai dengan gemilang. Selama lebih dari 15 tahun, ia telah menjadi tulang punggung bagi ratusan perpustakaan, dari universitas ternama hingga pelosok Papua. Ia telah membuktikan bahwa anak bangsa bisa berdaulat di negerinya sendiri.

Saya menutup lembaran ini bukan dengan rasa sedih, melainkan dengan kebanggaan. SIPISIS bukan sekadar perangkat lunak; ia adalah monumen kerja keras, diskusi hari Sabtu, dan keberanian untuk melawan arus. Ia telah menjadi jalan pembuka bagi generasi sistem otomasi perpustakaan berikutnya di Indonesia. (Boo, 2/4/2026)

Rumah yang Dijual (Cerpen)

Abdul R Saleh

Papan itu berdiri agak miring di halaman depan.

Tulisan “DIJUAL” yang dulu dicat tebal kini mulai mengelupas, dimakan panas dan hujan.

Aku sering berdiri di balik jendela, memandang papan itu seperti memandang seseorang yang tak benar-benar kukenal.
Kadang aku bertanya dalam hati—siapa sebenarnya yang ingin menjual rumah ini?

Aku?
Atau waktu?

Namaku Arman.
Dan rumah ini… dulu adalah tempat pulang bagi dua orang.

Sekarang hanya satu.

***

Sufi dulu selalu membuka jendela setiap pagi.
Ia bilang udara pagi membawa harapan baru, meski hari sebelumnya terasa berat.

“Ada bau tanah basah, Man,” katanya suatu hari, sambil tersenyum kecil.
“Bau yang bikin kita ingat kalau hidup itu masih berjalan.”

Aku tidak pernah terlalu memperhatikan bau itu.
Aku lebih sibuk dengan hal-hal yang terasa lebih nyata—pekerjaan, tagihan, target, dan hal-hal lain yang bisa dihitung.

Sufi lebih sering memperhatikan yang tak terlihat.

Mungkin itu sebabnya… ia pergi lebih dulu.

***

Sejak Sufi tiada, rumah ini terasa terlalu luas.
Langkah kakiku menggema di ruang tamu.
Suara sendok yang jatuh di dapur terdengar seperti sesuatu yang besar runtuh.

Aku mencoba mengisi kekosongan itu dengan rutinitas.
Bangun pagi. Menyeduh kopi. Duduk di kursi yang sama. Menatap halaman.

Kadang aku lupa, untuk siapa semua itu dulu kulakukan.

Sampai akhirnya aku memasang papan itu.

“DIJUAL.”

Awalnya terasa seperti keputusan yang rasional.
Rumah ini terlalu besar untukku sendiri.
Terlalu banyak sudut yang menyimpan kenangan yang tidak bisa aku jangkau tanpa merasa sesak.

Tapi setiap kali seseorang datang untuk melihat rumah ini…
aku selalu menemukan alasan untuk menolak.

Hari itu, seorang pria datang bersama istrinya dan seorang anak kecil.

“Selamat siang, Pak,” katanya sopan. “Saya Bowo. Ini istri saya, Lusi. Dan ini anak kami, Fifi.”

Anak kecil itu bersembunyi di balik kaki ibunya, tapi matanya berkeliling, penuh rasa ingin tahu.

“Silakan,” kataku, membuka pagar.

Mereka masuk perlahan.
Seperti orang-orang yang tahu mereka sedang memasuki sesuatu yang bukan hanya bangunan.

Lusi menyentuh dinding ruang tamu.

“Rumahnya hangat ya, Mas,” katanya pelan.

Aku tersenyum tipis.
Dulu Sufi yang memilih warna cat itu. Katanya warna ini membuat orang betah.

Fifi berlari kecil ke arah jendela.
Ia membuka tirai, lalu tertawa.

“Ayah, di sini terang!” katanya.

Aku terdiam.

Dulu Sufi juga suka membuka tirai itu lebar-lebar.

Kami berjalan ke dapur.

“Masakannya pasti enak kalau di dapur begini,” kata Lusi.

Aku hampir menjawab, “Iya, Sufi memang jago masak.”

Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan.

Sebagai gantinya, aku hanya mengangguk.

Di kamar tidur, langkahku melambat.

“Ada berapa kamar, Pak?” tanya Bowo.

“Tiga,” jawabku.

Ia mengangguk, lalu melihat sekeliling.

“Cukup untuk kami,” katanya.

Cukup untuk kami.

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang dulu pernah kumiliki.

Saat mereka keluar ke halaman belakang, aku melihat ke arah jendela rumah sebelah.

Di sana, Ibu Desi berdiri, seperti biasa.

Ia sering begitu sejak suaminya meninggal setahun lalu.

Kami tidak pernah benar-benar dekat.
Tapi ada semacam pemahaman diam di antara kami—tentang kehilangan.

Ia melambaikan tangan kecil.

Aku membalasnya.

“Pak Arman,” suara Bowo membuyarkan pikiranku.
“Kami tertarik dengan rumah ini.”

Aku menatapnya.

Ada harapan di matanya.
Harapan yang dulu pernah ada di mataku saat pertama kali membeli rumah ini bersama Sufi.

“Boleh kami pikirkan lagi soal harganya?” lanjutnya.

Aku mengangguk pelan.

“Tentu.”

***

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain.
Seperti orang asing yang mencoba mengenali tempat yang seharusnya ia kenal.

Di ruang tamu, aku berhenti.

Dulu, Sufi sering duduk di sana, membaca buku, sesekali menatapku yang sibuk dengan laptop.

“Jangan terlalu capek, Man,” katanya.

Aku selalu menjawab, “Sebentar lagi.”

Sebentar lagi.

Aku tidak pernah tahu, “sebentar lagi” itu bisa berarti “terlambat.”

Pagi harinya, aku menemukan Ibu Desi di depan pagar.

“Pak Arman,” katanya pelan.
“Semalam ada yang lihat rumah ya?”

Aku mengangguk.

“Mereka mau beli.”

Ibu Desi tersenyum tipis.
“Bagus itu. Rumah ini perlu dihuni lagi.”

Aku menatapnya.

“Menurut Ibu… saya harus jual?”

Ia terdiam sejenak.

“Kalau Bapak masih bertanya begitu,” katanya pelan,
“berarti belum siap.”

Siang itu, Bowo menelepon.

“Pak Arman, kami sudah berdiskusi. Kami ingin membeli rumah itu.”

Aku memegang ponsel erat.

“Baik,” kataku.

Tapi suaraku terdengar jauh.

***

Beberapa hari kemudian, mereka datang lagi.

Kali ini dengan langkah yang lebih pasti.

Fifi langsung berlari ke halaman, tertawa, seperti sudah merasa memiliki tempat itu.

Lusi membawa beberapa bunga kecil.

“Boleh kami tanam nanti di sini?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Bowo menatapku.

“Kami akan merawat rumah ini, Pak.”

Aku percaya itu.

Dan justru itu yang membuat dadaku terasa berat.

Saat mereka pergi, aku berdiri lama di depan pintu.

Rumah ini akan punya cerita baru.

Tawa baru.
Suara langkah baru.
Harapan baru.

Dan aku…

Aku harus belajar hidup tanpa semua itu di sini.

***

Malam terakhir sebelum penyerahan rumah, aku duduk sendirian di ruang tamu.

Lampu sengaja tidak kunyalakan.

Aku ingin melihat rumah ini seperti pertama kali aku melihatnya—kosong, tapi penuh kemungkinan.

“Aku sudah mencoba, Sufi,” kataku pelan.
“Aku sudah mencoba tinggal.”

Hening menjawabku.

Tapi entah kenapa… malam itu terasa lebih ringan.

Keesokan harinya, aku menyerahkan kunci.

Bowo menerimanya dengan kedua tangan.

“Terima kasih, Pak.”

Aku mengangguk.

Fifi menarik tangan ibunya, menunjukkan sesuatu di halaman.

Lusi tertawa.

Aku menoleh sebentar, lalu memalingkan wajah.

Saat aku berjalan menjauh, aku melihat papan itu sekali lagi.

“DIJUAL.”

Sebentar lagi, papan itu akan dicabut.

Dan rumah itu tidak lagi menjadi milikku.

Di ujung jalan, aku berhenti.

Aku menoleh.

Jendela itu terbuka.
Tirai bergerak pelan.

Seperti seseorang baru saja membuka pagi.

Aku tersenyum kecil.

“Selamat tinggal,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama…

rasanya seperti benar-benar mengucapkannya.

(Boo, 2/4/2026)

Senin, 30 Maret 2026

Pelan-Pelan Dilupakan (Cerpen)

Abdul R Saleh

Pagi datang seperti biasa, tanpa gegap, tanpa janji apa pun. Cahaya matahari merayap pelan melalui celah tirai, jatuh di atas meja kerja yang dipenuhi buku, kertas, dan catatan-catatan yang tak lagi muda. Segalanya tampak diam, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat di ruangan ini.

Aku duduk di kursi yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Menyalakan laptop dengan gerakan yang nyaris ritual. Tidak tergesa, tetapi juga tidak benar-benar santai. Ada sesuatu yang kutunggu, meski aku tak pernah benar-benar mengakuinya.

Kotak masuk email.

Kosong.

Aku menatap layar itu lebih lama dari yang diperlukan. Seolah dengan menunggu beberapa detik tambahan, sesuatu akan berubah. Seolah akan ada pesan yang terlambat masuk, atau sistem yang sekadar lamban memperbarui dirinya.

Namun, yang datang hanya keheningan.

Aku membuka folder lain—spam, promosi, langganan yang entah sejak kapan tak lagi kubaca. Semua ada. Dunia tampak sibuk berkomunikasi, kecuali dengan diriku.

Aku menutup laptop perlahan.

Di dalam dada, ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dinamai. Bukan marah, bukan pula sekadar kecewa. Lebih seperti ruang kosong yang mengembang pelan, tanpa suara.

“Mungkin belum hari ini,” gumamku.

Padahal, jauh di dalam, aku tahu ini bukan tentang hari.

Ini tentang apakah aku masih dianggap ada.

***

Dulu, aku tidak pernah menunggu seperti ini.

Undangan datang bahkan sebelum aku sempat mengosongkan jadwal. Telepon berdering, pesan masuk bertubi-tubi, nama disebut dengan nada penuh harap. Aku diundang sebagai narasumber, instruktur, pembicara—berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu forum ke forum berikutnya.

Aku hadir.

Bukan sekadar hadir, tetapi memberi. Sepenuh yang aku mampu. Aku membagikan pengetahuan, pengalaman, bahkan hal-hal kecil yang kadang tak tercatat dalam buku. Aku percaya, ilmu tidak boleh berhenti di satu kepala.

Dan mungkin, tanpa kusadari, aku juga percaya bahwa dengan memberi, aku akan terus diingat.

Keyakinan yang sederhana. Dan rupanya, terlalu sederhana.

***

Ada satu nama yang terlintas di benakku setiap kali aku membuka email.

Seseorang yang dulu sering datang kepadaku. Dengan pertanyaan, dengan kegelisahan, dengan keinginan untuk memahami lebih dalam. Kami berbincang panjang tentang bibliometrik, tentang metodologi, tentang bagaimana merancang pelatihan yang bukan hanya informatif, tetapi juga bermakna.

Aku membimbingnya.

Kadang berjam-jam, kadang tanpa imbalan apa pun selain rasa puas karena melihat seseorang tumbuh. Ia menyerap banyak hal dengan cepat. Dan aku, seperti seorang guru yang diam-diam bangga, melihatnya berkembang.

Ia mulai dikenal. Namanya muncul di berbagai forum. Ia berdiri di depan banyak orang, menjelaskan hal-hal yang dulu pernah kami diskusikan bersama.

Aku ikut senang.

Sungguh.

Hingga suatu hari, dalam sebuah percakapan yang ringan, nyaris tanpa beban, ia berkata,
“Nanti kalau saya buat pelatihan bibliometrik, Bapak harus jadi instruktur, ya. Itu sudah pasti.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa, ia menetap.

Seperti janji kecil yang tidak diikat apa pun, tetapi cukup untuk menumbuhkan harapan.

Sejak saat itu, aku menunggu.

***

Hari-hari berlalu tanpa tanda.

Aku mulai membuka email lebih sering. Kadang pagi-pagi sekali, bahkan sebelum kopi pertama terseduh sempurna. Kadang menjelang siang, sore, bahkan malam. Seolah-olah waktu memiliki kemungkinan yang berbeda di setiap jamnya.

Namun hasilnya selalu sama.

Kosong.

Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi aku mulai mencari dari tempat lain. Media sosial, grup profesional, forum daring—tempat di mana kabar sering kali muncul lebih dulu daripada undangan resmi.

Dan pada suatu siang yang biasa, aku menemukannya.

Sebuah poster.

Pelatihan “Bibliometrik bagi Pustakawan.”

Aku menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya. Judul itu begitu akrab, seperti gema dari percakapan-percakapan lama. Beberapa poin yang tertulis terasa seperti serpihan dari apa yang dulu pernah kami bahas bersama.

Aku menggeser layar sedikit.

Mencari nama.

Bukan aku.

Aku membaca ulang, pelan-pelan, seolah ada bagian yang terlewat. Seolah namaku hanya tersembunyi di sudut yang belum sempat kubaca.

Namun tidak.

Namaku memang tidak ada di sana.

Yang ada adalah namanya.

Dan beberapa nama lain yang lebih muda, lebih baru, lebih… kini.

Aku tidak langsung bereaksi.

Tidak ada ledakan emosi, tidak ada kemarahan yang tiba-tiba membuncah. Yang ada justru keheningan yang lebih dalam dari biasanya.

Seperti sesuatu di dalam diriku yang perlahan runtuh, tanpa suara.

Aku menutup layar ponsel.

Dan untuk beberapa saat, aku hanya duduk.

***

Hari itu, aku tidak menulis.

Padahal biasanya, menulis adalah pelarian yang paling setia. Setelah membuka email yang kosong, aku akan beralih ke naskahku. Menyusun kalimat, memperbaiki paragraf, atau sekadar mengisi halaman dengan apa pun yang tersisa di kepala.

Namun hari itu berbeda.

Aku duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan buku dan kertas yang telah menemaniku bertahun-tahun. Mereka adalah saksi dari perjalanan panjang yang pernah kulalui—jejak-jejak yang dulu terasa hidup, kini seperti benda-benda yang perlahan kehilangan makna.

Aku menyentuh salah satu buku.

Membukanya.

Ada catatan kecil di pinggir halaman, tulisan tanganku sendiri, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menulis dengan penuh keyakinan seperti itu.

Sulit.

“Jadi, begini rasanya…” bisikku.

Pelan-pelan dilupakan.

Bukan dengan cara yang kejam. Tidak ada yang datang dan berkata bahwa aku tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada yang secara terang-terangan menyingkirkan.

Semuanya terjadi dengan cara yang lebih halus.

Orang-orang hanya… berhenti mengingat.

***

Sore turun tanpa permisi.

Cahaya matahari masuk melalui jendela, menyapu meja kerja dengan warna keemasan yang hangat. Bayangan benda-benda memanjang, seolah mencoba bertahan sedikit lebih lama sebelum malam benar-benar datang.

Aku kembali membuka laptop.

Bukan untuk memeriksa email.

Kali ini, aku membuka dokumen kosong.

Kursor berkedip di sudut layar, seperti detak kecil yang sabar menunggu.

Aku mengetik satu kalimat.

Lalu berhenti.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Kalimat kedua terasa lebih jujur. Lebih dekat dengan apa yang kurasakan, meski belum sepenuhnya mampu menjelaskannya.

Aku terus menulis.

Perlahan.

Tanpa tergesa.

Kali ini, aku tidak memikirkan apakah tulisan ini akan dibaca. Tidak juga tentang apakah ini akan menghasilkan sesuatu. Aku tidak lagi membayangkan undangan, atau forum, atau tepuk tangan.

Semua itu terasa jauh.

Yang ada hanya aku, dan kata-kata.

Mungkin benar, menulis bukan lagi tentang dikenal. Bukan tentang diingat, apalagi dihargai. Menulis adalah cara terakhir yang kupunya untuk menjaga diriku tetap utuh.

Untuk memastikan bahwa pikiranku belum padam.

Bahwa aku belum sepenuhnya hilang.

Di luar sana, dunia mungkin terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Nama-nama baru akan terus muncul, menggantikan yang lama tanpa banyak pertanyaan.

Dan aku…

Aku mungkin hanya akan menjadi bagian dari masa lalu yang perlahan memudar.

Namun di sini, di antara kalimat-kalimat yang kususun dengan hati-hati, aku masih ada.

Meski sederhana.

Meski sunyi.

Dan jika suatu hari nanti ingatanku mulai pudar—jika kata-kata yang dulu begitu akrab perlahan menghilang dari kepalaku—setidaknya aku pernah mencoba meninggalkan sesuatu.

Bukan untuk dikenang.

Tetapi untuk membuktikan bahwa aku pernah hidup, pernah berpikir, pernah merasa.

Dan pernah menunggu.

Sebuah undangan…

yang tak pernah datang.

(Boo, 30/03/2026)

 

Jumat, 27 Maret 2026

Sawah, Kepodang, dan Janji yang Retak (Cerpen)

Abdul Rahman Saleh

Siang itu panas seperti ditumpahkan dari tungku. Terik tidak lagi sekadar panas, melainkan sesuatu yang menekan—diam-diam, lama, dan merayap sampai ke dalam dada. Angin berhenti pada niatnya sendiri. Daun-daun menggantung tanpa suara. Bahkan bayangan pun tampak enggan berpindah.

Dari rumpun bambu di belakang rumah, seekor kepodang memecah sunyi. Suaranya panjang, melengking, seperti keluhan yang tak selesai.

Panas… panas…

Rohim mengangkat wajah. Keringat mengalir dari pelipis, menuruni rahang, jatuh ke tanah yang retak.

“Iya,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tahu.”

Sudah berminggu-minggu langit seperti lupa pada hujan. Tanah di halaman mengeras, pecah dalam garis-garis kecil seperti peta yang tak selesai digambar. Sumur di belakang rumah mulai mengering—airnya tinggal sepetak bayangan.

Ketika suara itu datang dari depan, Rohim hampir mengira itu hanya gema dari kepodang.

“Pos!”

Ia bangkit. Kata itu terasa asing, seperti tamu yang salah alamat.

“Untuk siapa, Pak?” tanyanya.

“Pak Rohim. Betul ini rumahnya?”

Rohim mengangguk. Amplop berpindah tangan. Tulisan di permukaannya tipis, agak miring—ia mengenalinya seperti mengenali luka lama.

Ia membuka perlahan. Kata-kata pertama lewat tanpa bekas. Kabar sehat. Panen seadanya. Harga pupuk. Semuanya terasa seperti angin yang tak pernah benar-benar datang.

Hingga baris terakhir itu.

Ia berhenti.

Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.

Panas… panas…

“Ratih,” panggilnya.

Perempuan itu muncul dari dapur, membawa aroma air rebusan yang hampir habis. Tangannya basah, matanya bertanya.

“Ada apa, Mas?”

Rohim menyerahkan surat itu. Ratih membaca cepat, lalu mengulang bagian akhir dengan suara lirih, seolah takut kata-kata itu berubah jika diucapkan terlalu keras.

“Parman… menikah.”

Rohim tidak menjawab. Ia hanya menatap tanah.

“Kita diminta pulang,” kata Ratih lagi.

Hening menggantung di antara mereka. Hanya suara kepodang yang berulang—seperti mengisi ruang yang tak sanggup mereka isi sendiri.

“Mas,” kata Ratih akhirnya, “kita punya uang?”

Pertanyaan itu tidak sederhana. Ia jatuh seperti batu ke dalam sumur yang hampir kering—dalam, berat, dan tak memantul kembali.

“Untuk makan saja kita kurang,” jawab Rohim pelan. “Apalagi untuk pulang.”

“Kalau pinjam?”

Rohim tersenyum tipis—senyum yang tak pernah sampai ke mata.
“Siapa yang masih percaya kita bisa mengembalikan?”

Ratih menunduk. Jemarinya saling menggenggam.

“Tapi itu adikku, Mas.”

Kepodang kembali bersuara. Lebih panjang. Lebih nyaring.

Rohim memejamkan mata sejenak, lalu berkata,
“Besok aku ke koperasi.”

***

Gedung koperasi berdiri dengan wajah yang terlalu rapi untuk dunia Rohim. Dindingnya bersih. Lantainya dingin. Segalanya tampak teratur—seperti hidup yang tidak pernah goyah oleh kebutuhan.

Rohim duduk di ruang tunggu, merasa seperti noda kecil di atas kertas putih.

Datang lagi? seolah-olah gedung itu bertanya.

Datang lagi, jawabnya dalam hati. Karena aku tak punya tempat lain untuk meminta.

Seorang pegawai mengenalinya.

“Pak Rohim? Mau bayar angsuran?”

“Memperpanjang,” jawabnya singkat.

Pegawai itu mengangguk, seperti orang yang sudah hafal alur cerita yang sama.

Pinjaman itu akhirnya turun. Namun seperti biasa, angka-angka bekerja dengan caranya sendiri—memotong, mengurangi, menyisakan sesuatu yang selalu kurang.

Saat Rohim keluar, uang di tangannya terasa ringan. Terlalu ringan untuk sebuah perjalanan pulang.

***

Di rumah, Ratih menunggu dengan mata yang penuh tanya.

“Cukup, Mas?”

“Cukup untuk berangkat,” jawab Rohim.

Ratih tidak langsung bicara. Ia tahu kalimat itu selalu memiliki bayangan.

“Lalu pulangnya?”

Rohim memandang halaman. Tanahnya retak, seperti sesuatu yang ingin diingatkan.

“Kita gadaikan sawahmu.”

Ratih menoleh cepat.
“Yang hibah dari Kakek?”

Rohim mengangguk.
“Kita bagi. Untuk ongkos pulang, dan beli anak sapi.”

“Sapi?”

“Kita titipkan ke Bapak. Sistem gaduh. Kalau sudah besar, kita jual. Uangnya untuk tebus sawah itu.”

Ratih diam cukup lama. Di kejauhan, kepodang kembali bersuara—kali ini seperti tertawa pendek.

“Kalau gagal?” tanyanya.

Rohim menatapnya.
“Kalau gagal… ya seperti hidup kita selama ini.”

Ratih menghela napas.
“Baik, Mas.”

***

Di Karang Nunggal, sawah itu berpindah tangan untuk sementara. Uang mengalir, lalu terpecah—sebagian menjadi ongkos, sebagian lagi menjadi seekor anak sapi yang kurus tapi hidup.

Rohim berdiri di samping kandang, menatap makhluk kecil itu seperti menatap masa depan yang bisa disentuh.

“Rawat baik-baik, Pak,” katanya kepada mertuanya.

“Tentu,” jawab lelaki tua itu. “Ini juga untuk kalian.”

Sapi itu mengibaskan ekornya pelan. Di matanya, tak ada janji. Hanya hidup yang berjalan.

***

Waktu berjalan seperti air yang tersisa di sumur—pelan, tapi pasti berkurang.

Hingga suatu hari, Parman datang.

Wajahnya gelisah, seperti orang yang membawa kabar yang tak ingin didengar.

“Mas…” katanya.

Rohim sudah tahu, bahkan sebelum kata-kata itu selesai.

“Sapi itu…” lanjut Parman, “aku jual.”

Hening.

Di kejauhan, kepodang bersuara lagi—kali ini seperti patah di tengah.

“Aku butuh uang,” kata Parman cepat. “Utang nikahku—”

“Tanpa bilang?” potong Rohim.

“Aku tidak punya pilihan!”

Rohim menatapnya lama.
“Pilihan selalu ada. Hanya saja, kamu memilih yang paling cepat.”

Parman menunduk. Kata-kata itu jatuh, tapi tidak memantul.

***

Sawah itu akhirnya ditebus—bukan oleh sapi, melainkan oleh tabungan yang disimpan Rohim untuk masa depan anaknya.

Dulloh.

Nama itu semula terasa seperti pintu yang terbuka.

“Kalau nanti dia kuliah,” kata Rohim pada dirinya sendiri suatu malam, “hidupnya mungkin tidak seperti ini.”

Parman datang lagi, membawa janji baru.

“Aku bantu, Mas. Kalau Dulloh kuliah, aku yang tanggung.”

Janji itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya berat.

Namun Rohim tetap menerimanya.

Karena kadang harapan tidak butuh keyakinan—hanya butuh tempat untuk bertahan.

***

Tahun-tahun berlalu.

Dulloh tumbuh. Lulus. Diterima kuliah.

“Pak,” katanya suatu sore, “aku keterima.”

Rohim tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, senyum itu terasa utuh.

“Iya,” katanya. “Bagus.”

Parman menepati janjinya—sebulan, dua bulan.

Lalu berhenti.

Seperti hujan yang hanya jatuh sebentar di musim kemarau.

Ketika Rohim datang menagih dengan cara yang paling halus, Parman hanya berkata,
“Aku lagi susah, Mas.”

Kata itu terasa akrab. Terlalu akrab.

***

Sore itu, Rohim duduk di teras. Dulloh di sampingnya.

“Pak… jadi kuliahnya bagaimana?”

Rohim tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman. Tanahnya masih retak, meski musim sudah berganti.

Di belakang rumah, kepodang kembali bersuara.

Kali ini tidak terdengar seperti keluhan. Tidak juga seperti ejekan.

Hanya suara yang berulang—seperti sesuatu yang memang tidak pernah berubah.

Rohim menarik napas panjang.

“Kita cari jalan,” katanya akhirnya.

Seperti biasa.

Dulloh mengangguk, percaya sepenuhnya.

Dan Rohim tetap menatap tanah itu—tanah yang pernah hampir hilang, pernah ditebus, dan tetap saja tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Seperti janji.

Seperti harapan.

Seperti suara kepodang yang terus kembali,
meski tak pernah membawa hujan. (Bogor, Akhir Maret 2026)

 

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...