Anak keduaku sudah lahir dua minggu lalu. Seorang bayi laki-laki yang mengisi malam-malam kami dengan tangis kecil dan aroma bedak. Istriku, alhamdulillah, pulih cepat dan kini lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya selama masa pemulihan. Rasanya segalanya mulai kembali ke tempatnya—teratur, damai, tidak berlebihan.
Sampai siang itu. Setelah melayani mahasiswa terakhir yang bertanya soal metode Bibliometrik dan mencari jurnal untuk skripsinya, aku menghela napas dan bersiap menutup laptop. Saat itulah seseorang berdiri di balik meja layanan, senyumnya setengah ragu tapi matanya tak asing.
"Mas," katanya pelan, "maaf aku datang tanpa kabar dulu. Aku butuh literatur untuk bahan skripsiku. Waktu di Ungaran itu... aku sempat cerita kan, kalau aku sedang menyusun skripsi."
Yani.
Aku betul-betul terkejut. Seolah suara dan wajahnya menyeret kembali dua hari yang pernah begitu lengang… namun dalam diamnya, mengusik.
***
Siang itu, setelah diantar panitia ke mess yang sunyi di lereng Ungaran, kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tak banyak yang bisa dilakukan. Lokakarya ditunda, peserta lain belum berdatangan, dan cuaca mendung menutup langit kota kecil itu.
Sore harinya, usai mandi dan salat Ashar, aku duduk sendirian di beranda mess lantai dua. Pemandangan hijau membentang, samar di balik kabut tipis. Udara segar dan dingin. Aku baru hendak menyesap sepi, ketika dari kamar sebelah muncul sosok yang familiar.
“Mau aku buatkan kopi?” tanya Yani, sambil menunjuk ke kamar. Di sana memang tersedia kopi instan dan dua cangkir kosong.
“Oh… boleh. Terima kasih,” jawabku.
Tak lama, Yani datang membawa dua cangkir. Uap tipis masih mengepul, dan aroma kopi hitam terasa hangat di udara dingin itu. Ia duduk di kursi sebelah, menyodorkan secangkir padaku.
Kami mulai mengobrol. Ngalor-ngidul, tanpa arah. Seperti dua teman lama yang kebetulan berpapasan setelah bertahun-tahun.
“Mas pustakawan, ya?” tanyanya sambil tersenyum.
“Iya. Nah, kamu sendiri?”
“Aku pegawai honorer di lembaga itu. Tapi aku ditempatkan di perpustakaannya,” jelasnya, lalu tertawa kecil. “Kadang aku bingung juga, apa sebenarnya tugasku.”
“Apa kerjaan Mas? Menata buku? Meminjamkan ke pemakai?” lanjutnya.
Aku tersenyum. “Bukan. Aku pustakawan referensi.”
“Wah, keren. Apa itu maksudnya?”
“Ya, tugasku membantu mahasiswa yang belum tahu arah penelitiannya, kasih saran tentang topik dan referensi apa saja yang bisa mereka pakai.”
“Oalah. Susah ya... Maklum, aku pustakawan karbitan. Kerjaanku borongan. Kadang nyapu ruang baca juga... hahaha…”
Kami tertawa lepas, suara kami menggema di antara tembok dan pohon yang diam.
Hari Sabtunya, karena tidak ada pekerjaan, Yani mengajakku turun ke kota. Kami naik angkutan umum, menyusuri jalanan Semarang. Tak ada tujuan pasti. Hanya berjalan, makan siang di warung kecil, membeli minuman dingin, dan ngobrol terus seperti sahabat yang menemukan jeda dari hidup masing-masing.
Sore menjelang, kami kembali ke mess. Hari Minggu paginya, Yani mengajakku naik ke bukit kecil di belakang mess. Udara masih basah sisa hujan malam. Jalanan licin dan menanjak.
“Mas, tolong. Aku takut jatuh,” katanya, sedikit gemetar.
Aku mengulurkan tangan. Ia menggenggamnya. Dan begitu saja, kami berjalan beriringan, berpegangan tangan melewati jalur yang sempit dan lembap. Saat itu, sesuatu dalam diriku bergeser. Perasaan yang belum bernama, tapi cukup untuk membuat napasku berubah tak tentu.
Entah sejak kapan, tetapi sensasi itu menyenangkan. Dan anehnya, aku tak buru-buru melepaskan genggamannya.
***
Beberapa jam berlalu, dan akhirnya semua yang dibutuhkannya cukup. Ia menyimpan kertas-kertas catatan dan berterima kasih dengan sopan.
“Terima kasih, Mas. Aku jadi tahu harus mulai dari mana.”
Aku hanya mengangguk. Tapi pikiranku gelisah.
Saat melihatnya melipat jaket dan bersiap melangkah keluar, aku baru sadar—Yani bukan tinggal di kota ini. Ia hanya singgah untuk keperluan skripsi. Tujuannya jelas: terminal bus, beberapa kilometer dari kampus. Angkutan umum ke sana tak mudah, apalagi di jam-jam siang seperti ini.
Aku melirik kunci motor di atas meja. Kemudian memandangi punggungnya yang menjauh.
Aku berada dalam dilema.
Biarkan saja dia mencari jalan sendiri ke terminal? Dengan tas berat dan berkas-berkas skripsi di tangannya?
Atau aku tawarkan bantuan untuk mengantarnya—hanya sampai terminal, hanya untuk hari ini?
Akhirnya, sebelum pikiranku sempat membuat seribu alasan, mulutku lebih dulu bergerak.
“Yani... kamu ke terminal, kan? Aku antar, ya?”
Ia berhenti, berbalik pelan.
“Kalau nggak merepotkan, Mas...”
“Enggak. Sama sekali enggak.”
Dan sekali lagi, aku mengantar Yani.
Tapi bukan ke bukit kecil di belakang mess.
Bukan ke sudut kota dengan warung mie ayam dan es teh manis.
Melainkan ke terminal siang itu—dengan lalu lintas yang sepi, udara yang gerah, dan hati yang kembali diam-diam bersuara.
***
Dalam perjalanan menuju parkiran motor, aku iseng bertanya, entah mengapa.
“Yani sudah makan?”
Padahal aku tahu jawabannya. Sejak tadi ia terus bersamaku, dan sekarang jam sudah lewat tengah hari.
“Belum, Mas. Kan tadi aku langsung ketemu Mas,” jawabnya ringan.
“Iya, ya... Nanti kita makan dulu sebelum ke terminal.”
“Terima kasih,” katanya singkat, tapi ada kelegaan dalam suaranya.
Kami pun naik motor, menyusuri jalanan kampus yang mulai lengang. Di persimpangan jalan utama, aku melihat sebuah warteg besar yang bersih dan cukup ramai. Aku memarkir motor, lalu kami masuk. Di dalam, Yani memilih duduk membelakangi jendela kaca besar, sementara aku duduk di depannya, menghadap ke luar.
Kami memilih menu sederhana. Ayam goreng, sayur lodeh, dan teh manis hangat. Makan siang yang biasa, tapi terasa hangat di suasana yang diam-diam akrab.
Kami makan sambil berbincang ringan. Tentang skripsinya, tentang dosen pembimbing yang katanya “cerewet tapi peduli”. Aku tertawa kecil mendengarnya, dan dia ikut tertawa.
Tapi tawa itu langsung berhenti.
Mataku menangkap sebuah angkutan umum melintas di depan warteg. Di dalamnya, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Istriku—menggendong bayi kami yang baru lahir, dan di sampingnya anak pertamaku duduk tenang sambil melihat ke luar jendela.
Deg.
Sejenak, sendok di tanganku terasa berat. Suapan yang baru saja akan masuk, kutunda. Suasana di warung tetap sama, hangat dan biasa saja. Tapi dalam kepalaku seperti ada lonceng kecil yang tiba-tiba berdentang.
Itu keluargaku.
Duniaku yang sesungguhnya.
Mereka yang selalu menungguku pulang. Yang percaya padaku. Yang mencintaiku dalam diam sehari-hari.
Seketika, percakapan dengan Yani terdengar jauh. Kehangatan tadi berubah jadi keheningan dalam diri.
Mungkin ini caranya semesta mengingatkanku.
Bahwa sesayang apa pun seseorang yang pernah hadir dalam fragmen hidupmu, tetap ada batas yang tak boleh dilanggar.
Setelah makan, kami kembali naik motor. Kali ini tak banyak kata terucap di antara kami. Mungkin perut yang kenyang membuat tubuh ingin diam. Mungkin juga ada sesuatu yang sama-sama kami sadari, tapi tak sanggup kami ucapkan.
Yani memeluk tasnya erat-erat di punggungku. Wajahnya mungkin menghadap ke samping, menikmati semilir angin kota ini yang sedikit berdebu. Tapi aku tak menoleh. Fokusku hanya ke jalan. Dan ke suara dalam hati yang belum juga tenang sejak dari warung tadi.
Terminal tidak terlalu jauh. Tapi entah kenapa rasanya perjalanan ini seperti butuh waktu seumur hidup untuk tiba.
Saat motor berhenti di pelataran yang berdebu dan berisik itu, Yani turun perlahan.
“Terima kasih, Mas,” katanya pelan. Ia tak langsung menatapku, hanya merapikan tasnya, lalu berdiri di sisi motor.
Aku mematikan mesin. Untuk beberapa detik, kami diam. Hanya suara klakson dan teriakan calo bus yang terdengar di sekeliling kami.
“Yani…” ucapku akhirnya.
Ia menoleh. Matanya tenang, tapi ada yang bergerak pelan di sana.
“Maaf kalau tadi aku... terlalu ramah. Terlalu seperti dulu.”
Ia tersenyum, tipis. Bukan senyum bahagia, tapi juga bukan luka.
“Enggak, Mas. Kita cuma makan siang. Nggak lebih.”
Aku mengangguk. Dan entah kenapa, rasa lega dan sedih bercampur jadi satu di dadaku.
Yani menarik napas, lalu berkata,
“Waktu di Ungaran, aku sempat berharap cerita kita bisa berlanjut. Tapi aku tahu... aku bukan bagian dari hidupmu. Dan kamu bukan bagian dari masa depanku.”
Ia lalu melangkah mundur. Menatapku sekali lagi.
“Aku sudah cukup dengan yang kemarin. Dua hari itu... cukup. Dan ini, hari ini, akan jadi penutup yang baik.”
Aku tak menjawab. Hanya menunduk, lalu menatap motor di antara kami.
Yani mengangkat tangannya sedikit, seperti pamit, lalu berjalan ke arah ruang tunggu. Tanpa menoleh lagi.
Aku menatap punggungnya hingga menghilang ditelan kerumunan.
Dan di situ, aku tahu: beberapa pertemuan memang ditakdirkan untuk tidak diulang.
Beberapa perasaan, cukup dikenang—bukan untuk dipelihara, apalagi diperjuangkan.
Aku pulang.
Ke rumah yang menungguku.
Ke hidup yang telah kupilih.
Malam itu, aku pulang lebih larut dari biasanya. Angin lembut menyambutku di teras rumah. Kusandarkan motor pelan-pelan, lalu masuk tanpa suara.
Istriku tertidur di ruang tengah, berselimut tipis, dengan bayi kami di pelukannya. Anak pertamaku tergeletak miring di sudut karpet, masih memegang mainan yang entah kapan ia tinggalkan. Ada kehangatan yang tak tergantikan di dalam rumah ini. Bau susu bayi, suara kipas angin yang berputar malas, dan cahaya temaram dari lampu dinding.
Aku duduk sebentar, memandangi mereka satu per satu.
Dan dalam diam, aku berbisik dalam hati: Maaf jika hatiku sempat bergetar oleh sesuatu yang bukan kalian. Tapi aku di sini. Dan akan selalu di sini.
Sejak perpisahan di terminal bis itu, aku tidak pernah bertemu Yani lagi. Bahkan kabar pun tidak pernah. Mungkin itu memang yang terbaik. Biarlah dua hari di Ungaran, satu makan siang, dan perjalanan ke terminal menjadi satu rangkaian kecil yang tersimpan rapi dalam laci kenangan.
Bukan luka.
Bukan penyesalan.
Hanya serpih yang tak perlu diulang.
Aku lalu berdiri, menutup tirai, dan masuk ke kamar. Di luar, malam merambat dengan tenang. Seperti hidup, yang terus berjalan... pelan-pelan, tapi pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar