Oleh Abdul Rahman Saleh
Siang itu udara seperti bara. Matahari membakar jalan beraspal hingga tampak berkilau seperti mendidih. Debu beterbangan setiap kali angin kecil lewat. Beruntung rumah kos Arman dipagari pepohonan rindang, sehingga hawa panas agak mereda begitu ia masuk.
Arman baru pulang sekolah. Seragam putih abu-abu sudah lusuh
oleh peluh, langkah kakinya berat. Setelah membersihkan diri, salat, dan makan
siang sederhana, kantuk menyeretnya. Tubuhnya rebah di dipan kayu, dan matanya
terpejam dalam hitungan detik.
Dalam tidurnya, ia berada di pantai. Ombak berkejaran di
bibir pasir, angin laut menabur asin ke kulit. Cahaya ada di sampingnya—gadis
hitam manis, adik kelasnya, yang selama ini hanya ia kagumi diam-diam. Ia tak
pernah berani mengucapkan cinta, sebab Cahaya baginya adalah bintang di langit:
indah, tinggi, dan tak terjamah. Tapi dalam mimpi, ia bisa meraih tangannya,
berlari bersama, tertawa tanpa beban.
“Man, bangun. Cahaya nungguin!” suara Kandar, anak ibu kos,
membuyarkan lamunan itu.
Arman mengerjap, separuh jengkel. “Ah, kamu… aku lagi mimpi
enak.”
“Beneran, dia ada di ruang tamu,” balas Kandar.
Dengan jantung berdebar, Arman mengintip dari balik jendela.
Benar—Cahaya duduk di ruang tamu, wajahnya teduh, seragamnya masih rapi. Gadis
yang baru saja ia genggam dalam mimpi kini nyata menunggu. Ia buru-buru mencuci
muka, menyisir rambut, lalu keluar.
“Oh, maaf, Man. Ganggu, ya? Baru bangun?” suara Cahaya
lembut.
Arman tersenyum canggung. “Enggak apa-apa. Memang sudah waktunya bangun.”
Cahaya menunduk sebentar, lalu berkata, “Bapak nyuruh kamu
nanti malam datang. Beliau minta kamu jadi sparring partner-ku main catur.
Persiapan kompetisi bulan depan.”
“Oh…kamu jadi ikut lomba?”
“Ya, jadi. Aku merasa belum siap. Tapi Bapak memaksa.
Katanya berlatih tanding dengan kamu.”
“Ah…aku kan bukan juara.” Arman merendah.
“Tapi Bapak kan gak pernah menang lawan kamu.”
“Ya sudah, nanti malam aku kesana.”
“Jam 7 malam ya, biar waktu latihannya bisa panjang.”
“Siap.
Arman hampir tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pucuk
dicinta, ulam tiba, batinnya.
***
Malam itu, ruang tamu rumah Pak Mamat dipenuhi aroma kopi.
Papan catur diletakkan di atas meja kayu. Pak Mamat duduk di kursi,
memperhatikan sambil sesekali menyeruput.
Cahaya duduk di hadapan Arman. Jemarinya yang lentik
mengetuk meja tiap kali berpikir. Arman menatap papan, tapi matanya sering
mencuri pandang pada wajah Cahaya.
Langkah demi langkah, bidak bergerak. Sesekali Pak Mamat
menggeleng.
“Aduh, Ca, masa bentengmu dikasih gratis begitu.”
Cahaya manyun. “Ya salah perhitungan, Pak. Arman pintar banget.”
Arman nyengir, menunduk. Ia menahan diri agar tak tampak jumawa. ”Karena ini
latihan, kamu bisa membatalkan langkahmu.” Arman memberikan kembali benteng
yang sudah dimaknnya barusan.
Malam berganti malam. Arman selalu datang setelah
menyelesaikan PR. Mereka duduk di meja itu, berjam-jam. Kadang Cahaya kalah
cepat, kadang ia bisa bertahan lama. Arman tak hanya sparring partner, tapi
juga guru diam-diam.
“Kalau kamu berani tukar ratu, lawan biasanya goyah. Jangan
takut kehilangan bidak besar,” bisiknya suatu malam.
Cahaya mengangguk serius, lalu tersenyum. “Aku nggak takut kehilangan, kok.
Asal masih ada yang mendukung di sampingku.”
Arman tercekat. Kata-kata itu sederhana, tapi baginya terasa
seperti janji yang tak terucap. “Apakah ini isyarat?” bisik hatinya. Namun
dia tetap tidak berani menanggapi kata-kata Cahaya. Dia takut kecewa.
***
Hari lomba tiba. Aula kabupaten penuh sesak. Meja-meja catur
berjejer, kipas angin berputar malas, suara orang tua dan guru bergema. Cahaya
duduk dengan wajah tegang, seragam olahraganya sudah dipenuhi pin tanda
peserta.
Arman berdiri di pinggir, berusaha menenangkan dengan
tatapan. Jantungnya ikut berdetak cepat setiap kali Cahaya melangkah. Sesekali
dia beradu pandang. Cahaya memberikan senyum manisnya.
Satu demi satu lawan tumbang. Cahaya melangkah ke semifinal,
lalu final. Gerakannya mantap, matanya tajam. Arman kagum—gadis itu benar-benar
berubah.
Final berlangsung menegangkan. Lawannya dari kota seberang,
berwajah dingin. Skor imbang. Arman tak bisa duduk diam. Nafasnya pendek,
seakan ia sendiri yang bertanding.
Lalu langkah itu tiba. Ratu lawan terkunci. Skakmat.
Sorak-sorai bergemuruh. Cahaya berdiri, wajahnya berseri. Ia
juara satu Porseni catur tingkat kabupaten.
Arman tersenyum lebar, hampir lebih bangga daripada dirinya
sendiri. Cahaya berlari ke arahnya, mata berbinar.
“Man, aku menang… aku benar-benar menang!” katanya terengah.
Arman hanya mengangguk, dadanya bergemuruh. Ada rasa bahagia, ada cinta yang
semakin sulit ia sembunyikan.
“Kamu hebat. Selamat ya.” Akhirnya kata itu keluar juga.
***
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Pak Mamat, yang
dulu antusias, kini mulai bersikap dingin. Setiap Arman datang, jawabannya
selalu sama:
“Cahaya lagi belajar.”
“Dia capek, jangan diganggu.”
“Sekarang waktunya fokus sekolah.”
Arman mulai mengerti. Masalahnya bukan lagi waktu, melainkan
siapa dirinya. Ia hanya anak kos, anak kampung miskin. Sementara Cahaya adalah
putri seorang Kepala Dinas di Kabupaten dan pemilik kedai kopi yang disegani.
Malam itu, Arman pulang dengan langkah berat. Ia sadar:
betapapun dekatnya ia dengan Cahaya, ada dinding yang menjulang tinggi—jurang
status sosial.
***
Sejak saat itu, Arman berubah. Ia menyalurkan rindu dan
sakit hatinya pada buku-buku. Ia belajar lebih keras, tidur larut malam,
berjuang mengejar nilai. “Kalau memang status yang kamu minta, aku akan
kejar status itu.” Hatinya berjanji.
Ia mengikuti olimpiade, lomba karya tulis, bahkan lomba
matematika tingkat provinsi. Piala-piala kecil menghiasi kamar kosnya yang
sempit. Guru-guru mulai menyebut namanya dengan bangga.
Akhirnya, universitas papan atas meliriknya. Ia lulus dengan
predikat sangat terpuji. Ia mendapat beasiswa penuh ke Amerika ia genggam. Ia
menyelesaikan program masternya, kemudian program doktor di bidang komputer. Saat
itu, ia berangkat dengan hati berkobar: suatu hari ia akan pulang bukan sebagai
anak kampung miskin, melainkan sebagai seseorang yang pantas berdiri sejajar.
***
Bertahun-tahun kemudian, Arman kembali. Namanya harum,
statusnya tinggi. Ia bukan lagi bocah miskin yang dulu ditolak.
Namun kabar itu datang seperti petir: Cahaya sudah menikah
dengan lelaki pilihan ayahnya—seorang pengusaha muda dari kota.
Malam itu, Arman berdiri sendirian di tepi pantai. Ombak
masih berkejaran, angin asin masih sama. Ia menatap cakrawala, membiarkan
pikirannya kembali pada masa remaja: malam-malam di ruang tamu rumah Cahaya,
bidak-bidak yang bergeser, tawa kecil di antara langkah catur.
Ia teringat kata Cahaya: “Aku nggak takut kehilangan,
asal masih ada yang mendukung di sampingku.”
Kini Arman tahu, kehilangan itu nyata. Ia berhasil meraih
dunia, tapi kehilangan satu-satunya cahaya yang selalu ia genggam dalam mimpi.
Cahaya tetaplah cahaya. Indah, namun tak pernah bisa ia
miliki.
***
Suatu sore, bertahun-tahun kemudian, Arman menghadiri sebuah
seminar pendidikan di kota kecil dekat kampung halamannya. Usai acara, ia
mampir ke sebuah kafe yang baru berdiri di sudut alun-alun.
Di sanalah ia melihatnya. Cahaya. Duduk di meja dekat
jendela bersama seorang anak laki-laki kecil yang mirip dirinya—mata bulat,
kulit manis. Wajahnya tetap sama, hanya lebih matang, lebih dewasa. Senyumnya
masih punya sinar yang dulu pernah membuat Arman bermimpi.
Sesaat, pandangan mereka bertemu. Cahaya tampak terkejut,
lalu tersenyum. Senyum ramah, hangat, tapi berjarak. Bukan senyum rahasia yang
dulu hanya mereka pahami ketika bidak catur beradu di ruang tamu rumahnya.
Arman membalas senyum itu. Hanya sebentar, lalu ia beranjak
pergi sebelum kenangan terlalu jauh menggenggam.
Di luar kafe, angin sore menyapu wajahnya. Ada perih, ada
rindu, ada kepasrahan. Dalam hati ia berbisik, “Kau tetap cahaya, tapi bukan
untukku. Dan aku akan selalu mengingatmu sebagai mimpi terindah yang membuatku
berlari sejauh ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar