Senin, 29 September 2025

Euforia Cinta SMA

Abdul Rahman Saleh

Sore meredup, langit memerah jingga sebelum akhirnya ditelan senja. Lampu jalan menyala malas, seakan enggan menyingkap jalanan basah bekas gerimis. Aku melangkah menuju rumah Evan, titik kumpul grup belajar kami. Malam ini kami hendak ke rumah Fina untuk pesta perpisahan kecil.

“Sori, aku telat,” ucapku begitu masuk.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Evan.
“Nggak ada. Aku cuma jalan kaki dari kos, jadi agak lama.”

Evan terkekeh. “Ok, siap? Arman, kamu bawa motor. Aku bonceng aja.”

Rombongan motor itu meraung pelan menembus jalanan kampung yang masih lembap. Angin malam membawa aroma tanah basah, bercampur wangi bunga kamboja dari halaman rumah. Hati Arman berdegup sedikit lebih cepat daripada biasanya. Bukan karena pesta kecil di rumah Fina, melainkan karena satu alasan sederhana: malam ini ia akan melihat Fina lagi.

Rumah Fina tampak ramai, lampu teras menyala terang, suara tawa bercampur denting gelas berisi minuman soda. Begitu masuk, semua riuh menyambut, seakan lupa bahwa malam ini adalah malam perpisahan—besok lusa beberapa dari mereka sudah akan meninggalkan kota kecil itu, mengejar kuliah, atau bekerja di tempat yang jauh.

Arman berdiri agak di belakang, memperhatikan Fina. Gadis itu sibuk membagi kue dan bercanda dengan teman-teman lain, sesekali rambut panjangnya tergerai ke wajah. Arman hanya bisa menatap dari jauh, sama seperti dulu-dulu.

Evan menepuk bahunya. “Kalau nggak ngomong sekarang, kapan lagi?” katanya lirih.

Arman tersenyum hambar. Ia tahu maksud Evan. Sudah lama teman-temannya tahu perasaan itu. Tapi apa gunanya bicara malam ini, kalau besok Fina akan pergi merantau ke Bandung?

Ketika pesta mulai mereda, Fina duduk di tangga rumah, sendirian. Arman memberanikan diri mendekat.
“Capek ya?” tanyanya pelan.
Fina menoleh, tersenyum. “Iya, tapi senang. Nggak nyangka bisa kumpul kayak gini sebelum aku pergi.”

Arman ingin sekali berkata jangan pergi, atau setidaknya aku akan menunggumu. Tapi kata-kata itu hanya berputar di tenggorokannya. Yang keluar justru, “Semoga kamu bahagia di sana.”

Fina menatapnya sejenak, lalu menjawab, “Makasih, Man. Kamu juga ya. Jangan lupa kirim kabar.”

Malam itu berakhir tanpa pengakuan, hanya sebaris doa yang menggantung di antara mereka. Dan ketika Arman pulang, lampu jalanan masih menyala malas, seakan ikut menyimpan rahasia yang tak pernah terucap.

***

Hari-hari setelah pesta perpisahan di rumah Fina berjalan begitu lambat. Grup WhatsApp kelas sering ramai dengan kabar mereka: Evan cerita soal kehidupan kampusnya di Jogja, Fina unggah foto-foto barunya di Bandung, Diana sibuk adaptasi di Surabaya, sementara Bahri memamerkan gedung-gedung tinggi di Jakarta. Aku hanya membaca tanpa bisa ikut berbagi kisah.

Bukan karena aku bodoh. Nilai-nilaiku cukup untuk masuk universitas mana pun. Tapi ayahku hanyalah buruh tani, ibuku membuka warung kecil di depan rumah. Biaya kuliah bagi mereka sama saja dengan mimpi yang terlalu tinggi. Aku tetap tinggal di kota kecil ini, menatap hari-hari yang membosankan dan terasa semakin sempit.

Suatu sore, tanpa sengaja aku bertemu Madsuki, teman SD yang sudah lama hilang kabarnya. Tubuhnya tegap, bajunya modis, jam tangannya mencolok. Dari cara ia berjalan saja, aku tahu hidupnya berbeda jauh dari kebanyakan anak kampung kami.
“Man, kamu di sini aja?” sapanya ramah.
Aku hanya mengangkat bahu. “Mau gimana lagi. Teman-teman udah pada pergi semua. Aku nggak ke mana-mana.”
“Kenapa nggak ke Jakarta? Di sana lebih banyak peluang.”
Aku tertawa hambar. “Kalau ada ongkosnya.”
Madsuki menepuk bahuku. “Ya sudah, ikut aku saja. Tinggal bareng di kontrakanku. Biar nanti cari peluang di sana.”

Aku tercekat. Tawaran itu terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka. Kebetulan, pikirku. Siapa tahu ini jalanku.

Aku tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni Madsuki di Jakarta. Tapi dari penampilannya, dari caranya berbicara, ia tampak seperti orang tajir. Dan aku, yang sudah terlalu lama merasa tertinggal, tidak berpikir panjang.

Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk: antara senang, gugup, dan harapan yang berkilau samar. Jakarta menunggu. Dan mungkin, di sana, hidupku akan berubah.

***

Jakarta menyambutku dengan gemerlap yang asing. Gedung-gedung tinggi seakan mencemooh anak kampung sepertiku. Tapi selama beberapa hari pertama, aku merasa beruntung. Madsuki menampungku di kontrakan luas, penuh perabotan mahal yang aku sendiri tak tahu harganya. Makan, rokok, bahkan pakaian baru—semua tersedia.

Awalnya aku tidak banyak bertanya. Aku hanya menikmati kenyamanan yang selama ini mustahil kualami. Tapi lama-lama aku mulai curiga. Madsuki sering pulang larut malam dengan wajah lelah, kadang tangannya masih berlumur debu atau bercak darah yang tak jelas asalnya. Ia hanya tertawa setiap kali aku bertanya.

“Jakarta keras, Man,” katanya suatu kali, menyodorkan segepok uang. “Kalau mau hidup, jangan terlalu polos. Dunia ini milik mereka yang berani ambil.”

Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi rasa penasaran menggerogoti. Hingga suatu malam, aku ikut tanpa izin. Dari kejauhan, aku melihat Madsuki dan orang-orangnya berkumpul di gudang tua dekat rel kereta. Aku mendengar tawa, teriakan, dan melihat kantong-kantong plastik kecil berpindah tangan. Ada pula kabar-kabar di berita tentang perampokan bersenjata di jalan tol, dan entah kenapa wajah-wajah mereka menyeruak dalam pikiranku.

Dunia Madsuki ternyata gelap. Ia bukan sekadar perantau sukses, tapi pemimpin gerombolan yang kerap merampok, sekaligus pengedar obat terlarang.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Rasanya perutku mual. Aku ingin kabur, tapi di sisi lain, aku takut. Madsuki sudah menolongku, menampungku. Kalau aku pergi dan membuka mulut, bisa saja nyawaku jadi taruhannya.

Hari-hari berikutnya berubah suram. Setiap uang yang kuserahkan ke warung untuk beli nasi terasa berat, seolah bercampur darah dan air mata orang lain.

Di sebuah sore yang muram, Madsuki menatapku lama. “Man, kamu sudah cukup lama numpang. Saatnya kamu bantu kerjaan,” katanya pelan, tapi nadanya tak memberi ruang untuk menolak.

Aku terdiam. Di kepalaku terngiang wajah Fina, Evan, dan kawan-kawan lain yang kini menempuh hidup terhormat di kota-kota besar. Sementara aku—yang dulu hanya merasa tertinggal—kini berdiri di tepi jurang, siap terseret ke dalam gelap.

Sejak hari itu, aku resmi menjadi anak didik Madsuki. Bukan murid di ruang kelas, melainkan murid di jalanan gelap, di mana yang dipelajari bukan rumus matematika atau sejarah, melainkan cara mengintai, melarikan diri, dan bernegosiasi dengan maut.

Malam pertama aku diajak merampok minimarket, tanganku gemetar. Keringat membanjiri punggung. Rasanya ingin kabur. Tapi suara Madsuki menempel di telinga, dingin dan tajam:

“Kamu gimana, Man. Kita melakukan aksi ini tidak boleh ragu. Ragu bisa membuat kita celaka. Dunia seperti ini tidak mengenal belas kasihan.”

Aku hanya mengangguk, meski dadaku nyaris meledak. Ketika suara sirene polisi terdengar dari kejauhan, kakiku hampir lumpuh. Hampir saja aku tertangkap malam itu, jika bukan karena tangan Madsuki yang menyeretku masuk ke mobil.

“Belajarlah, Man. Kalau kamu mau hidup, hati harus sekeras baja. Rasa takut, rasa kasihan, semua harus kamu buang,” katanya di perjalanan pulang.

Kata-kata itu menjadi mantranya. Hari demi hari, aku ikut dalam lebih banyak aksi. Awalnya hanya jadi pengintai. Lama-lama aku ikut memegang besi pemukul, lalu pistol.

Entah kapan tepatnya, perasaanku mulai mati. Aku tak lagi mual melihat orang ketakutan. Aku bisa makan dengan tenang meski tahu uang di saku hasil merampok. Bahkan ada malam-malam ketika aku merasa bangga, seolah sedang menaklukkan dunia yang dulu menelantarkanku.

Tapi di balik itu semua, ada bagian kecil dalam diriku yang menangis diam-diam. Setiap kali melihat langit malam Jakarta, aku teringat wajah teman-temanku: Evan yang bercita-cita jadi dosen, Fina yang hendak jadi arsitek, Diana yang ingin jadi dokter. Mereka menatap masa depan dengan langkah terang. Sedangkan aku?

Aku yang dulu hanya ingin kuliah, kini sudah terlalu jauh terseret. Jalan pulang rasanya hilang.

***

Malam itu, langit Jakarta seperti menubruk bumi. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, menutup suara derap langkah kami yang menyusup ke gudang tua di pinggiran kota. Targetnya besar: sebuah truk kontainer berisi barang elektronik. Nilainya ratusan juta.

“Ini taruhan terakhir sebelum kita naik kelas, Man,” bisik Madsuki, menepuk bahuku. Senyumnya lebar, tapi aku bisa merasakan sesuatu di balik tatapannya. Mungkin firasat.

Segalanya berjalan mulus sampai tiba-tiba sirene meraung dari arah jalan raya. Polisi datang lebih cepat dari biasanya. Panik menjalar. Aku menoleh ke arah Madsuki, berharap ada aba-aba.

“Jangan ragu! Hadapi!” teriaknya, sambil mengangkat pistol.

Baku tembak pecah. Suara peluru memantul di dinding besi, bercampur teriakan dan hujan. Aku berjongkok di balik peti, napas memburu.

Lalu aku melihatnya. Tubuh Madsuki terpental, peluru menembus dadanya. Matanya membelalak, seakan masih ingin memberi komando. Pistolnya terlepas, jatuh di genangan air. Darahnya bercampur hujan, mengalir cepat ke tanah.

“Mad…!” aku berlari, tapi terlambat. Nafasnya terhenti dalam pelukan malam.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dadaku terasa hampa. Namun aku tak punya waktu berduka. Polisi makin mendekat, dan anak buah kami semua panik. Mereka berhamburan, sebagian tertangkap. Aku berhasil meloloskan diri bersama beberapa orang.

Sejak malam itu, dunia gelap kehilangan nakhodanya. Dan entah bagaimana, semua mata tertuju padaku.

“Man, mulai sekarang kamu yang mimpin. Cuma kamu yang bisa gantiin Bang Mad,” ujar salah seorang anak buahnya.

Aku terdiam lama. Di wajah-wajah mereka, aku melihat ketakutan sekaligus harapan. Dan dalam diriku sendiri, aku tahu satu hal: jalan pulang sudah benar-benar tertutup.

Aku, Arman—yang dulu hanya anak kos miskin bermimpi kuliah—kini resmi menjadi pemimpin gerombolan jalanan.

Dan anehnya, aku tidak merasa bangga. Yang kurasakan hanyalah getir: setiap langkah ke depan sama saja dengan menggali kuburku sendiri.

***

Pasar Seni Ancol sore itu ramai. Bau cat minyak, ukiran kayu, dan debu bercampur dengan angin laut yang datang dari kejauhan. Aku berjalan tanpa tujuan, hanya ingin melupakan suara tembakan, wajah-wajah takut, dan darah yang masih sering menodai mimpiku.

Di salah satu galeri kecil, aku melihat sosok perempuan berkerudung sederhana, sedang menatap lukisan bunga matahari. Entah kenapa aku tertegun. Ada sesuatu yang familiar pada lengkung wajah itu.

“Maaf, Bu… apakah Ibu bernama Fina?” tanyaku ragu, suara bergetar.

Perempuan itu menoleh, terkejut. Matanya membesar sebelum kemudian melembut.
“Betul, Bapak siapa ya?”

Aku tersenyum kaku. “Fina… aku Arman. Teman SMA kamu.”

Sekejap matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… Arman? Kamu di Jakarta? Kerja? Wah, sepertinya kamu tajir sekarang.”

Aku tertawa hambar. “Ah, biasa saja. Ini semua pinjaman dari orang yang membawaku ke Jakarta. Aku numpang sama dia.”

“Oh begitu… lagi apa di sini?” tanyanya sambil tersenyum, wajahnya masih seperti dulu—hangat, tapi ada jarak.

“Lagi refreshing aja. Kebetulan kerjaanku libur,” jawabku, mencoba terdengar ringan. “Kalau kamu?”

“Aku cari kegiatan. Suamiku dinas di Singapura. Seminggu sekali dia pulang. Jadi… aku sering ke sini, biar nggak bosan.”

“Oh… jadi kamu sudah bersuami.”

“Ya.” Senyumnya tipis, seperti menutup sebuah pintu yang dulu pernah terbuka untukku.

Sejenak, suasana di sekeliling kami seakan berhenti. Hanya ada aku dan dia, terhubung oleh masa lalu yang tak mungkin kembali.

Sejak pertemuan itu, hidupku berubah. Entah bagaimana, Fina menyeretku kembali ke lorong kenangan. Malam-malamku terisi oleh lamunan: tawa kecilnya di SMA, aroma seragam yang basah oleh hujan, pesta perpisahan di rumahnya yang sederhana.

Aku mulai menjauh dari gerombolan. Operasi-operasi berikutnya kuserahkan pada wakilku. Aku sendiri memilih menghilang, duduk termenung di kamar kontrakan, atau sekadar berjalan tanpa arah.

Semua aksi yang dulu kuanggap biasa kini terasa menyesakkan. Wajah-wajah korban, jeritan, bahkan darah yang mengalir—semuanya menghantamku seperti gelombang pasang.

Fina, dengan tatapannya yang sederhana itu, telah membuka mataku: betapa kejamnya aku hidup.

***

Sejak hari itu, langkah-langkahku selalu membawaku ke tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Fina. Pasar Seni, kafe dekat Bundaran HI, bahkan perpustakaan kecil di bilangan Cikini. Sesekali aku beruntung bisa berpapasan, menukar sapa basa-basi, dan pulang dengan dada penuh euforia yang cepat berubah menjadi getir.

Aku tahu dia sudah bersuami. Tapi hatiku seperti anak kecil yang keras kepala: menolak kenyataan. Dalam diam aku terus berharap, seakan waktu bisa diputar kembali.

Suatu malam, aku duduk di bangku tua di Taman Ismail Marzuki. Rokok hampir habis, gelas kopi sudah dingin, tapi pikiranku masih penuh oleh bayangan Fina. Saat itulah sebuah suara memanggil.

“Man.”

Aku menoleh. Seorang pria dengan kemeja rapi berdiri, wajahnya tak asing. Evan. Teman seperjuangan masa SMA, yang dulu selalu jadi motor rombongan. Kini wajahnya matang, seperti seseorang yang sudah tahu kemana hidup harus diarahkan.

“Evan?” suaraku serak.

Dia duduk di sampingku, tersenyum tipis. “Aku dengar kamu ketemu Fina lagi.”

Aku terdiam. Rokok di jariku habis begitu saja.

“Man,” lanjut Evan, suaranya pelan tapi tegas, “dia sudah milik orang.”

Aku tertawa kecut. “Kamu pikir aku nggak tahu? Tapi setiap kali lihat dia, rasanya… aku nggak bisa berhenti. Kayak ada yang narik aku terus.”

Evan menghela napas. “Itu bukan cinta, Man. Itu obsesi. Dan obsesi cuma bikin kamu hancur.”

Kata-katanya menamparku lebih keras dari pukulan apapun yang pernah kuserap di jalan.

Aku menunduk. Bayangan wajah Fina berkelebat, lalu bercampur dengan darah dan jeritan masa laluku. Aku sadar: aku sedang berlari, tapi bukan menuju cinta—aku sedang berlari dari kehampaan yang selama ini kubangun sendiri.

Malam itu, di bawah cahaya lampu taman yang redup, aku merasa retak. Ada bagian dari diriku yang ingin tetap mengejar, tapi ada pula suara dalam hati yang berbisik: lepaskan, sebelum semua terlambat.

Malam demi malam berlalu, nasihat Evan bergema di kepalaku: “Dia sudah milik orang, Man.” Tapi hatiku menolak. Setiap kali aku menutup mata, wajah Fina hadir dengan senyum yang tak bisa kulupakan. Senyum yang pernah menjadi cahaya di masa remajaku.

Aku mulai kehilangan arah. Gerombolan yang dulu kupegang kendalinya kini retak. Wakilku mengeluh karena aku jarang muncul, anak buah mulai tak patuh. Mereka bilang aku melemah, dan di dunia ini kelemahan adalah undangan maut.

Namun aku tak peduli. Bagiku hanya ada satu hal: Fina.

Suatu sore aku nekat datang ke rumahnya di kawasan elite Jakarta Utara. Rumah itu besar, pagar tinggi, mobil mewah terparkir rapi. Aku berdiri di seberang jalan, menatap jendela-jendelanya yang tertutup rapat. Dalam hati aku ingin berteriak: “Fina, aku di sini! Ingat aku, Arman!”

Tapi lidahku kelu. Kaki tak berdaya melangkah.

Malamnya aku kembali, berharap sekadar melihat bayangan wajahnya di jendela. Yang kudapat justru suara tawa anak kecil, suara laki-laki asing yang pulang membawa oleh-oleh, dan suara Fina menyambutnya penuh kasih. Itu menusuk lebih dalam daripada pisau mana pun.

Aku pulang dengan dada koyak. Di kamar kontrakan, aku menatap cermin. Sosok yang menatap balik bukan lagi Arman si remaja yang bermimpi kuliah, bukan pula lelaki yang dulu takut menyentuh dunia gelap. Yang kulihat hanya bayangan kosong, mata yang letih, dan jiwa yang hilang arah.

Aku sadar, aku tidak hanya kehilangan Fina. Aku kehilangan diriku sendiri.

Beberapa hari kemudian, saat operasi besar dijalankan tanpa aku, polisi datang menyerbu markas. Banyak anak buahku ditangkap. Wakilku melarikan diri, menyisakan jejak yang menyeret namaku.

Aku tahu, ini akhir.

Malam itu aku pergi ke Pasar Seni sekali lagi. Duduk di bangku yang sama, tempat pertama kali aku bertemu Fina setelah bertahun-tahun. Aku menyalakan rokok terakhir, menghisap dalam-dalam.

Di hatiku aku berbisik:
“Fina… maafkan aku. Aku mencintaimu dengan cara yang salah. Dan aku mencintai hidupku dengan cara yang lebih salah lagi.”

Lampu-lampu redup berkelip. Dari kejauhan, sirene polisi meraung. Aku tak lari. Aku tak bersembunyi. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku merasa lega.

Aku menutup mata, membiarkan gelap menjemput. Dalam kegelapan itu, yang kulihat hanya Fina—tersenyum, seperti dulu di masa SMA.

***

Beberapa hari setelah penangkapan itu, Evan membaca berita di koran: “Satu gembong kejahatan berhasil dibekuk setelah lama buron. Identitas dirahasiakan pihak kepolisian.”

Dia menutup koran pelan, menatap kosong ke luar jendela. Angin sore membawa bau hujan, sama seperti malam ketika ia terakhir kali menasihati Arman.

Di sisi lain kota, Fina sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Televisi menayangkan berita yang sama. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Ia menggenggam secangkir teh, tapi tangan gemetar.

“Man…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Suaminya datang dari kamar, memanggil nama, tapi Fina cepat-cepat menghapus sisa air mata di sudut matanya. Ia tersenyum paksa, seakan tak terjadi apa-apa.

Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang runtuh—sebuah rahasia yang hanya ia dan takdir yang tahu. (Bogor, 29/09/2025)

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...