Abdul Rahman Saleh
Sore meredup, langit memerah jingga sebelum akhirnya ditelan senja. Lampu jalan menyala malas, seakan enggan menyingkap jalanan basah bekas gerimis. Aku melangkah menuju rumah Evan, titik kumpul grup belajar kami. Malam ini kami hendak ke rumah Fina untuk pesta perpisahan kecil.
“Sori, aku telat,” ucapku begitu masuk.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Evan.
“Nggak ada. Aku cuma jalan kaki dari kos, jadi agak lama.”
Evan terkekeh. “Ok, siap? Arman, kamu bawa motor. Aku
bonceng aja.”
Rombongan motor itu meraung pelan menembus jalanan kampung
yang masih lembap. Angin malam membawa aroma tanah basah, bercampur wangi bunga
kamboja dari halaman rumah. Hati Arman berdegup sedikit lebih cepat daripada
biasanya. Bukan karena pesta kecil di rumah Fina, melainkan karena satu alasan
sederhana: malam ini ia akan melihat Fina lagi.
Rumah Fina tampak ramai, lampu teras menyala terang, suara
tawa bercampur denting gelas berisi minuman soda. Begitu masuk, semua riuh
menyambut, seakan lupa bahwa malam ini adalah malam perpisahan—besok lusa
beberapa dari mereka sudah akan meninggalkan kota kecil itu, mengejar kuliah,
atau bekerja di tempat yang jauh.
Arman berdiri agak di belakang, memperhatikan Fina. Gadis
itu sibuk membagi kue dan bercanda dengan teman-teman lain, sesekali rambut
panjangnya tergerai ke wajah. Arman hanya bisa menatap dari jauh, sama seperti
dulu-dulu.
Evan menepuk bahunya. “Kalau nggak ngomong sekarang, kapan
lagi?” katanya lirih.
Arman tersenyum hambar. Ia tahu maksud Evan. Sudah lama
teman-temannya tahu perasaan itu. Tapi apa gunanya bicara malam ini, kalau
besok Fina akan pergi merantau ke Bandung?
Ketika pesta mulai mereda, Fina duduk di tangga rumah,
sendirian. Arman memberanikan diri mendekat.
“Capek ya?” tanyanya pelan.
Fina menoleh, tersenyum. “Iya, tapi senang. Nggak nyangka bisa kumpul kayak
gini sebelum aku pergi.”
Arman ingin sekali berkata jangan pergi, atau
setidaknya aku akan menunggumu. Tapi kata-kata itu hanya berputar di
tenggorokannya. Yang keluar justru, “Semoga kamu bahagia di sana.”
Fina menatapnya sejenak, lalu menjawab, “Makasih, Man. Kamu
juga ya. Jangan lupa kirim kabar.”
Malam itu berakhir tanpa pengakuan, hanya sebaris doa yang
menggantung di antara mereka. Dan ketika Arman pulang, lampu jalanan masih
menyala malas, seakan ikut menyimpan rahasia yang tak pernah terucap.
***
Hari-hari setelah pesta perpisahan di rumah Fina berjalan
begitu lambat. Grup WhatsApp kelas sering ramai dengan kabar mereka: Evan
cerita soal kehidupan kampusnya di Jogja, Fina unggah foto-foto barunya di
Bandung, Diana sibuk adaptasi di Surabaya, sementara Bahri memamerkan
gedung-gedung tinggi di Jakarta. Aku hanya membaca tanpa bisa ikut berbagi
kisah.
Bukan karena aku bodoh. Nilai-nilaiku cukup untuk masuk
universitas mana pun. Tapi ayahku hanyalah buruh tani, ibuku membuka warung
kecil di depan rumah. Biaya kuliah bagi mereka sama saja dengan mimpi yang
terlalu tinggi. Aku tetap tinggal di kota kecil ini, menatap hari-hari yang
membosankan dan terasa semakin sempit.
Suatu sore, tanpa sengaja aku bertemu Madsuki, teman SD yang
sudah lama hilang kabarnya. Tubuhnya tegap, bajunya modis, jam tangannya
mencolok. Dari cara ia berjalan saja, aku tahu hidupnya berbeda jauh dari
kebanyakan anak kampung kami.
“Man, kamu di sini aja?” sapanya ramah.
Aku hanya mengangkat bahu. “Mau gimana lagi. Teman-teman udah pada pergi semua.
Aku nggak ke mana-mana.”
“Kenapa nggak ke Jakarta? Di sana lebih banyak peluang.”
Aku tertawa hambar. “Kalau ada ongkosnya.”
Madsuki menepuk bahuku. “Ya sudah, ikut aku saja. Tinggal bareng di
kontrakanku. Biar nanti cari peluang di sana.”
Aku tercekat. Tawaran itu terasa seperti pintu yang
tiba-tiba terbuka. Kebetulan, pikirku. Siapa tahu ini jalanku.
Aku tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni Madsuki di
Jakarta. Tapi dari penampilannya, dari caranya berbicara, ia tampak seperti
orang tajir. Dan aku, yang sudah terlalu lama merasa tertinggal, tidak berpikir
panjang.
Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk: antara
senang, gugup, dan harapan yang berkilau samar. Jakarta menunggu. Dan mungkin,
di sana, hidupku akan berubah.
***
Jakarta menyambutku dengan gemerlap yang asing.
Gedung-gedung tinggi seakan mencemooh anak kampung sepertiku. Tapi selama
beberapa hari pertama, aku merasa beruntung. Madsuki menampungku di kontrakan
luas, penuh perabotan mahal yang aku sendiri tak tahu harganya. Makan, rokok,
bahkan pakaian baru—semua tersedia.
Awalnya aku tidak banyak bertanya. Aku hanya menikmati
kenyamanan yang selama ini mustahil kualami. Tapi lama-lama aku mulai curiga.
Madsuki sering pulang larut malam dengan wajah lelah, kadang tangannya masih
berlumur debu atau bercak darah yang tak jelas asalnya. Ia hanya tertawa setiap
kali aku bertanya.
“Jakarta keras, Man,” katanya suatu kali, menyodorkan
segepok uang. “Kalau mau hidup, jangan terlalu polos. Dunia ini milik mereka
yang berani ambil.”
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi rasa penasaran
menggerogoti. Hingga suatu malam, aku ikut tanpa izin. Dari kejauhan, aku
melihat Madsuki dan orang-orangnya berkumpul di gudang tua dekat rel kereta.
Aku mendengar tawa, teriakan, dan melihat kantong-kantong plastik kecil
berpindah tangan. Ada pula kabar-kabar di berita tentang perampokan bersenjata
di jalan tol, dan entah kenapa wajah-wajah mereka menyeruak dalam pikiranku.
Dunia Madsuki ternyata gelap. Ia bukan sekadar perantau
sukses, tapi pemimpin gerombolan yang kerap merampok, sekaligus pengedar obat
terlarang.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Rasanya perutku mual. Aku
ingin kabur, tapi di sisi lain, aku takut. Madsuki sudah menolongku,
menampungku. Kalau aku pergi dan membuka mulut, bisa saja nyawaku jadi
taruhannya.
Hari-hari berikutnya berubah suram. Setiap uang yang
kuserahkan ke warung untuk beli nasi terasa berat, seolah bercampur darah dan
air mata orang lain.
Di sebuah sore yang muram, Madsuki menatapku lama. “Man,
kamu sudah cukup lama numpang. Saatnya kamu bantu kerjaan,” katanya pelan, tapi
nadanya tak memberi ruang untuk menolak.
Aku terdiam. Di kepalaku terngiang wajah Fina, Evan, dan
kawan-kawan lain yang kini menempuh hidup terhormat di kota-kota besar.
Sementara aku—yang dulu hanya merasa tertinggal—kini berdiri di tepi jurang,
siap terseret ke dalam gelap.
Sejak hari itu, aku resmi menjadi anak didik Madsuki. Bukan
murid di ruang kelas, melainkan murid di jalanan gelap, di mana yang dipelajari
bukan rumus matematika atau sejarah, melainkan cara mengintai, melarikan diri,
dan bernegosiasi dengan maut.
Malam pertama aku diajak merampok minimarket, tanganku
gemetar. Keringat membanjiri punggung. Rasanya ingin kabur. Tapi suara Madsuki
menempel di telinga, dingin dan tajam:
“Kamu gimana, Man. Kita melakukan aksi ini tidak boleh ragu.
Ragu bisa membuat kita celaka. Dunia seperti ini tidak mengenal belas kasihan.”
Aku hanya mengangguk, meski dadaku nyaris meledak. Ketika
suara sirene polisi terdengar dari kejauhan, kakiku hampir lumpuh. Hampir saja
aku tertangkap malam itu, jika bukan karena tangan Madsuki yang menyeretku
masuk ke mobil.
“Belajarlah, Man. Kalau kamu mau hidup, hati harus sekeras
baja. Rasa takut, rasa kasihan, semua harus kamu buang,” katanya di perjalanan
pulang.
Kata-kata itu menjadi mantranya. Hari demi hari, aku ikut
dalam lebih banyak aksi. Awalnya hanya jadi pengintai. Lama-lama aku ikut
memegang besi pemukul, lalu pistol.
Entah kapan tepatnya, perasaanku mulai mati. Aku tak lagi
mual melihat orang ketakutan. Aku bisa makan dengan tenang meski tahu uang di
saku hasil merampok. Bahkan ada malam-malam ketika aku merasa bangga, seolah
sedang menaklukkan dunia yang dulu menelantarkanku.
Tapi di balik itu semua, ada bagian kecil dalam diriku yang
menangis diam-diam. Setiap kali melihat langit malam Jakarta, aku teringat
wajah teman-temanku: Evan yang bercita-cita jadi dosen, Fina yang hendak jadi
arsitek, Diana yang ingin jadi dokter. Mereka menatap masa depan dengan langkah
terang. Sedangkan aku?
Aku yang dulu hanya ingin kuliah, kini sudah terlalu jauh
terseret. Jalan pulang rasanya hilang.
***
Malam itu, langit Jakarta seperti menubruk bumi. Hujan deras
mengguyur tanpa ampun, menutup suara derap langkah kami yang menyusup ke gudang
tua di pinggiran kota. Targetnya besar: sebuah truk kontainer berisi barang
elektronik. Nilainya ratusan juta.
“Ini taruhan terakhir sebelum kita naik kelas, Man,” bisik
Madsuki, menepuk bahuku. Senyumnya lebar, tapi aku bisa merasakan sesuatu di
balik tatapannya. Mungkin firasat.
Segalanya berjalan mulus sampai tiba-tiba sirene meraung
dari arah jalan raya. Polisi datang lebih cepat dari biasanya. Panik menjalar.
Aku menoleh ke arah Madsuki, berharap ada aba-aba.
“Jangan ragu! Hadapi!” teriaknya, sambil mengangkat pistol.
Baku tembak pecah. Suara peluru memantul di dinding besi,
bercampur teriakan dan hujan. Aku berjongkok di balik peti, napas memburu.
Lalu aku melihatnya. Tubuh Madsuki terpental, peluru
menembus dadanya. Matanya membelalak, seakan masih ingin memberi komando.
Pistolnya terlepas, jatuh di genangan air. Darahnya bercampur hujan, mengalir
cepat ke tanah.
“Mad…!” aku berlari, tapi terlambat. Nafasnya terhenti dalam
pelukan malam.
Untuk pertama kalinya sejak lama, dadaku terasa hampa. Namun
aku tak punya waktu berduka. Polisi makin mendekat, dan anak buah kami semua
panik. Mereka berhamburan, sebagian tertangkap. Aku berhasil meloloskan diri
bersama beberapa orang.
Sejak malam itu, dunia gelap kehilangan nakhodanya. Dan
entah bagaimana, semua mata tertuju padaku.
“Man, mulai sekarang kamu yang mimpin. Cuma kamu yang bisa
gantiin Bang Mad,” ujar salah seorang anak buahnya.
Aku terdiam lama. Di wajah-wajah mereka, aku melihat
ketakutan sekaligus harapan. Dan dalam diriku sendiri, aku tahu satu hal: jalan
pulang sudah benar-benar tertutup.
Aku, Arman—yang dulu hanya anak kos miskin bermimpi
kuliah—kini resmi menjadi pemimpin gerombolan jalanan.
Dan anehnya, aku tidak merasa bangga. Yang kurasakan
hanyalah getir: setiap langkah ke depan sama saja dengan menggali kuburku
sendiri.
***
Pasar Seni Ancol sore itu ramai. Bau cat minyak, ukiran
kayu, dan debu bercampur dengan angin laut yang datang dari kejauhan. Aku
berjalan tanpa tujuan, hanya ingin melupakan suara tembakan, wajah-wajah takut,
dan darah yang masih sering menodai mimpiku.
Di salah satu galeri kecil, aku melihat sosok perempuan
berkerudung sederhana, sedang menatap lukisan bunga matahari. Entah kenapa aku
tertegun. Ada sesuatu yang familiar pada lengkung wajah itu.
“Maaf, Bu… apakah Ibu bernama Fina?” tanyaku ragu, suara
bergetar.
Perempuan itu menoleh, terkejut. Matanya membesar sebelum
kemudian melembut.
“Betul, Bapak siapa ya?”
Aku tersenyum kaku. “Fina… aku Arman. Teman SMA kamu.”
Sekejap matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… Arman? Kamu di
Jakarta? Kerja? Wah, sepertinya kamu tajir sekarang.”
Aku tertawa hambar. “Ah, biasa saja. Ini semua pinjaman dari
orang yang membawaku ke Jakarta. Aku numpang sama dia.”
“Oh begitu… lagi apa di sini?” tanyanya sambil tersenyum,
wajahnya masih seperti dulu—hangat, tapi ada jarak.
“Lagi refreshing aja. Kebetulan kerjaanku libur,” jawabku,
mencoba terdengar ringan. “Kalau kamu?”
“Aku cari kegiatan. Suamiku dinas di Singapura. Seminggu
sekali dia pulang. Jadi… aku sering ke sini, biar nggak bosan.”
“Oh… jadi kamu sudah bersuami.”
“Ya.” Senyumnya tipis, seperti menutup sebuah pintu yang
dulu pernah terbuka untukku.
Sejenak, suasana di sekeliling kami seakan berhenti. Hanya
ada aku dan dia, terhubung oleh masa lalu yang tak mungkin kembali.
Sejak pertemuan itu, hidupku berubah. Entah bagaimana, Fina
menyeretku kembali ke lorong kenangan. Malam-malamku terisi oleh lamunan: tawa
kecilnya di SMA, aroma seragam yang basah oleh hujan, pesta perpisahan di
rumahnya yang sederhana.
Aku mulai menjauh dari gerombolan. Operasi-operasi
berikutnya kuserahkan pada wakilku. Aku sendiri memilih menghilang, duduk
termenung di kamar kontrakan, atau sekadar berjalan tanpa arah.
Semua aksi yang dulu kuanggap biasa kini terasa menyesakkan.
Wajah-wajah korban, jeritan, bahkan darah yang mengalir—semuanya menghantamku
seperti gelombang pasang.
Fina, dengan tatapannya yang sederhana itu, telah membuka
mataku: betapa kejamnya aku hidup.
***
Sejak hari itu, langkah-langkahku selalu membawaku ke
tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Fina. Pasar Seni, kafe dekat Bundaran HI,
bahkan perpustakaan kecil di bilangan Cikini. Sesekali aku beruntung bisa
berpapasan, menukar sapa basa-basi, dan pulang dengan dada penuh euforia yang
cepat berubah menjadi getir.
Aku tahu dia sudah bersuami. Tapi hatiku seperti anak kecil
yang keras kepala: menolak kenyataan. Dalam diam aku terus berharap, seakan
waktu bisa diputar kembali.
Suatu malam, aku duduk di bangku tua di Taman Ismail
Marzuki. Rokok hampir habis, gelas kopi sudah dingin, tapi pikiranku masih
penuh oleh bayangan Fina. Saat itulah sebuah suara memanggil.
“Man.”
Aku menoleh. Seorang pria dengan kemeja rapi berdiri,
wajahnya tak asing. Evan. Teman seperjuangan masa SMA, yang dulu selalu jadi
motor rombongan. Kini wajahnya matang, seperti seseorang yang sudah tahu kemana
hidup harus diarahkan.
“Evan?” suaraku serak.
Dia duduk di sampingku, tersenyum tipis. “Aku dengar kamu
ketemu Fina lagi.”
Aku terdiam. Rokok di jariku habis begitu saja.
“Man,” lanjut Evan, suaranya pelan tapi tegas, “dia sudah
milik orang.”
Aku tertawa kecut. “Kamu pikir aku nggak tahu? Tapi setiap
kali lihat dia, rasanya… aku nggak bisa berhenti. Kayak ada yang narik aku
terus.”
Evan menghela napas. “Itu bukan cinta, Man. Itu obsesi. Dan
obsesi cuma bikin kamu hancur.”
Kata-katanya menamparku lebih keras dari pukulan apapun yang
pernah kuserap di jalan.
Aku menunduk. Bayangan wajah Fina berkelebat, lalu bercampur
dengan darah dan jeritan masa laluku. Aku sadar: aku sedang berlari, tapi bukan
menuju cinta—aku sedang berlari dari kehampaan yang selama ini kubangun
sendiri.
Malam itu, di bawah cahaya lampu taman yang redup, aku
merasa retak. Ada bagian dari diriku yang ingin tetap mengejar, tapi ada pula
suara dalam hati yang berbisik: lepaskan, sebelum semua terlambat.
Malam demi malam berlalu, nasihat Evan bergema di kepalaku: “Dia
sudah milik orang, Man.” Tapi hatiku menolak. Setiap kali aku menutup mata,
wajah Fina hadir dengan senyum yang tak bisa kulupakan. Senyum yang pernah
menjadi cahaya di masa remajaku.
Aku mulai kehilangan arah. Gerombolan yang dulu kupegang
kendalinya kini retak. Wakilku mengeluh karena aku jarang muncul, anak buah
mulai tak patuh. Mereka bilang aku melemah, dan di dunia ini kelemahan adalah
undangan maut.
Namun aku tak peduli. Bagiku hanya ada satu hal: Fina.
Suatu sore aku nekat datang ke rumahnya di kawasan elite
Jakarta Utara. Rumah itu besar, pagar tinggi, mobil mewah terparkir rapi. Aku
berdiri di seberang jalan, menatap jendela-jendelanya yang tertutup rapat.
Dalam hati aku ingin berteriak: “Fina, aku di sini! Ingat aku, Arman!”
Tapi lidahku kelu. Kaki tak berdaya melangkah.
Malamnya aku kembali, berharap sekadar melihat bayangan
wajahnya di jendela. Yang kudapat justru suara tawa anak kecil, suara laki-laki
asing yang pulang membawa oleh-oleh, dan suara Fina menyambutnya penuh kasih.
Itu menusuk lebih dalam daripada pisau mana pun.
Aku pulang dengan dada koyak. Di kamar kontrakan, aku
menatap cermin. Sosok yang menatap balik bukan lagi Arman si remaja yang
bermimpi kuliah, bukan pula lelaki yang dulu takut menyentuh dunia gelap. Yang
kulihat hanya bayangan kosong, mata yang letih, dan jiwa yang hilang arah.
Aku sadar, aku tidak hanya kehilangan Fina. Aku kehilangan
diriku sendiri.
Beberapa hari kemudian, saat operasi besar dijalankan tanpa
aku, polisi datang menyerbu markas. Banyak anak buahku ditangkap. Wakilku
melarikan diri, menyisakan jejak yang menyeret namaku.
Aku tahu, ini akhir.
Malam itu aku pergi ke Pasar Seni sekali lagi. Duduk di
bangku yang sama, tempat pertama kali aku bertemu Fina setelah bertahun-tahun.
Aku menyalakan rokok terakhir, menghisap dalam-dalam.
Di hatiku aku berbisik:
“Fina… maafkan aku. Aku mencintaimu dengan cara yang salah. Dan aku mencintai
hidupku dengan cara yang lebih salah lagi.”
Lampu-lampu redup berkelip. Dari kejauhan, sirene polisi
meraung. Aku tak lari. Aku tak bersembunyi. Untuk pertama kali setelah sekian
lama, aku merasa lega.
Aku menutup mata, membiarkan gelap menjemput. Dalam
kegelapan itu, yang kulihat hanya Fina—tersenyum, seperti dulu di masa SMA.
***
Beberapa hari setelah penangkapan itu, Evan membaca berita
di koran: “Satu gembong kejahatan berhasil dibekuk setelah lama buron.
Identitas dirahasiakan pihak kepolisian.”
Dia menutup koran pelan, menatap kosong ke luar jendela.
Angin sore membawa bau hujan, sama seperti malam ketika ia terakhir kali
menasihati Arman.
Di sisi lain kota, Fina sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
Televisi menayangkan berita yang sama. Entah kenapa jantungnya berdegup
kencang. Ia menggenggam secangkir teh, tapi tangan gemetar.
“Man…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Suaminya datang dari kamar, memanggil nama, tapi Fina
cepat-cepat menghapus sisa air mata di sudut matanya. Ia tersenyum paksa,
seakan tak terjadi apa-apa.
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang runtuh—sebuah
rahasia yang hanya ia dan takdir yang tahu. (Bogor, 29/09/2025)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar