Senin, 29 September 2025

Euforia Cinta SMA

Abdul Rahman Saleh

Sore meredup, langit memerah jingga sebelum akhirnya ditelan senja. Lampu jalan menyala malas, seakan enggan menyingkap jalanan basah bekas gerimis. Aku melangkah menuju rumah Evan, titik kumpul grup belajar kami. Malam ini kami hendak ke rumah Fina untuk pesta perpisahan kecil.

“Sori, aku telat,” ucapku begitu masuk.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Evan.
“Nggak ada. Aku cuma jalan kaki dari kos, jadi agak lama.”

Evan terkekeh. “Ok, siap? Arman, kamu bawa motor. Aku bonceng aja.”

Rombongan motor itu meraung pelan menembus jalanan kampung yang masih lembap. Angin malam membawa aroma tanah basah, bercampur wangi bunga kamboja dari halaman rumah. Hati Arman berdegup sedikit lebih cepat daripada biasanya. Bukan karena pesta kecil di rumah Fina, melainkan karena satu alasan sederhana: malam ini ia akan melihat Fina lagi.

Rumah Fina tampak ramai, lampu teras menyala terang, suara tawa bercampur denting gelas berisi minuman soda. Begitu masuk, semua riuh menyambut, seakan lupa bahwa malam ini adalah malam perpisahan—besok lusa beberapa dari mereka sudah akan meninggalkan kota kecil itu, mengejar kuliah, atau bekerja di tempat yang jauh.

Arman berdiri agak di belakang, memperhatikan Fina. Gadis itu sibuk membagi kue dan bercanda dengan teman-teman lain, sesekali rambut panjangnya tergerai ke wajah. Arman hanya bisa menatap dari jauh, sama seperti dulu-dulu.

Evan menepuk bahunya. “Kalau nggak ngomong sekarang, kapan lagi?” katanya lirih.

Arman tersenyum hambar. Ia tahu maksud Evan. Sudah lama teman-temannya tahu perasaan itu. Tapi apa gunanya bicara malam ini, kalau besok Fina akan pergi merantau ke Bandung?

Ketika pesta mulai mereda, Fina duduk di tangga rumah, sendirian. Arman memberanikan diri mendekat.
“Capek ya?” tanyanya pelan.
Fina menoleh, tersenyum. “Iya, tapi senang. Nggak nyangka bisa kumpul kayak gini sebelum aku pergi.”

Arman ingin sekali berkata jangan pergi, atau setidaknya aku akan menunggumu. Tapi kata-kata itu hanya berputar di tenggorokannya. Yang keluar justru, “Semoga kamu bahagia di sana.”

Fina menatapnya sejenak, lalu menjawab, “Makasih, Man. Kamu juga ya. Jangan lupa kirim kabar.”

Malam itu berakhir tanpa pengakuan, hanya sebaris doa yang menggantung di antara mereka. Dan ketika Arman pulang, lampu jalanan masih menyala malas, seakan ikut menyimpan rahasia yang tak pernah terucap.

***

Hari-hari setelah pesta perpisahan di rumah Fina berjalan begitu lambat. Grup WhatsApp kelas sering ramai dengan kabar mereka: Evan cerita soal kehidupan kampusnya di Jogja, Fina unggah foto-foto barunya di Bandung, Diana sibuk adaptasi di Surabaya, sementara Bahri memamerkan gedung-gedung tinggi di Jakarta. Aku hanya membaca tanpa bisa ikut berbagi kisah.

Bukan karena aku bodoh. Nilai-nilaiku cukup untuk masuk universitas mana pun. Tapi ayahku hanyalah buruh tani, ibuku membuka warung kecil di depan rumah. Biaya kuliah bagi mereka sama saja dengan mimpi yang terlalu tinggi. Aku tetap tinggal di kota kecil ini, menatap hari-hari yang membosankan dan terasa semakin sempit.

Suatu sore, tanpa sengaja aku bertemu Madsuki, teman SD yang sudah lama hilang kabarnya. Tubuhnya tegap, bajunya modis, jam tangannya mencolok. Dari cara ia berjalan saja, aku tahu hidupnya berbeda jauh dari kebanyakan anak kampung kami.
“Man, kamu di sini aja?” sapanya ramah.
Aku hanya mengangkat bahu. “Mau gimana lagi. Teman-teman udah pada pergi semua. Aku nggak ke mana-mana.”
“Kenapa nggak ke Jakarta? Di sana lebih banyak peluang.”
Aku tertawa hambar. “Kalau ada ongkosnya.”
Madsuki menepuk bahuku. “Ya sudah, ikut aku saja. Tinggal bareng di kontrakanku. Biar nanti cari peluang di sana.”

Aku tercekat. Tawaran itu terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka. Kebetulan, pikirku. Siapa tahu ini jalanku.

Aku tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni Madsuki di Jakarta. Tapi dari penampilannya, dari caranya berbicara, ia tampak seperti orang tajir. Dan aku, yang sudah terlalu lama merasa tertinggal, tidak berpikir panjang.

Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk: antara senang, gugup, dan harapan yang berkilau samar. Jakarta menunggu. Dan mungkin, di sana, hidupku akan berubah.

***

Jakarta menyambutku dengan gemerlap yang asing. Gedung-gedung tinggi seakan mencemooh anak kampung sepertiku. Tapi selama beberapa hari pertama, aku merasa beruntung. Madsuki menampungku di kontrakan luas, penuh perabotan mahal yang aku sendiri tak tahu harganya. Makan, rokok, bahkan pakaian baru—semua tersedia.

Awalnya aku tidak banyak bertanya. Aku hanya menikmati kenyamanan yang selama ini mustahil kualami. Tapi lama-lama aku mulai curiga. Madsuki sering pulang larut malam dengan wajah lelah, kadang tangannya masih berlumur debu atau bercak darah yang tak jelas asalnya. Ia hanya tertawa setiap kali aku bertanya.

“Jakarta keras, Man,” katanya suatu kali, menyodorkan segepok uang. “Kalau mau hidup, jangan terlalu polos. Dunia ini milik mereka yang berani ambil.”

Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi rasa penasaran menggerogoti. Hingga suatu malam, aku ikut tanpa izin. Dari kejauhan, aku melihat Madsuki dan orang-orangnya berkumpul di gudang tua dekat rel kereta. Aku mendengar tawa, teriakan, dan melihat kantong-kantong plastik kecil berpindah tangan. Ada pula kabar-kabar di berita tentang perampokan bersenjata di jalan tol, dan entah kenapa wajah-wajah mereka menyeruak dalam pikiranku.

Dunia Madsuki ternyata gelap. Ia bukan sekadar perantau sukses, tapi pemimpin gerombolan yang kerap merampok, sekaligus pengedar obat terlarang.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Rasanya perutku mual. Aku ingin kabur, tapi di sisi lain, aku takut. Madsuki sudah menolongku, menampungku. Kalau aku pergi dan membuka mulut, bisa saja nyawaku jadi taruhannya.

Hari-hari berikutnya berubah suram. Setiap uang yang kuserahkan ke warung untuk beli nasi terasa berat, seolah bercampur darah dan air mata orang lain.

Di sebuah sore yang muram, Madsuki menatapku lama. “Man, kamu sudah cukup lama numpang. Saatnya kamu bantu kerjaan,” katanya pelan, tapi nadanya tak memberi ruang untuk menolak.

Aku terdiam. Di kepalaku terngiang wajah Fina, Evan, dan kawan-kawan lain yang kini menempuh hidup terhormat di kota-kota besar. Sementara aku—yang dulu hanya merasa tertinggal—kini berdiri di tepi jurang, siap terseret ke dalam gelap.

Sejak hari itu, aku resmi menjadi anak didik Madsuki. Bukan murid di ruang kelas, melainkan murid di jalanan gelap, di mana yang dipelajari bukan rumus matematika atau sejarah, melainkan cara mengintai, melarikan diri, dan bernegosiasi dengan maut.

Malam pertama aku diajak merampok minimarket, tanganku gemetar. Keringat membanjiri punggung. Rasanya ingin kabur. Tapi suara Madsuki menempel di telinga, dingin dan tajam:

“Kamu gimana, Man. Kita melakukan aksi ini tidak boleh ragu. Ragu bisa membuat kita celaka. Dunia seperti ini tidak mengenal belas kasihan.”

Aku hanya mengangguk, meski dadaku nyaris meledak. Ketika suara sirene polisi terdengar dari kejauhan, kakiku hampir lumpuh. Hampir saja aku tertangkap malam itu, jika bukan karena tangan Madsuki yang menyeretku masuk ke mobil.

“Belajarlah, Man. Kalau kamu mau hidup, hati harus sekeras baja. Rasa takut, rasa kasihan, semua harus kamu buang,” katanya di perjalanan pulang.

Kata-kata itu menjadi mantranya. Hari demi hari, aku ikut dalam lebih banyak aksi. Awalnya hanya jadi pengintai. Lama-lama aku ikut memegang besi pemukul, lalu pistol.

Entah kapan tepatnya, perasaanku mulai mati. Aku tak lagi mual melihat orang ketakutan. Aku bisa makan dengan tenang meski tahu uang di saku hasil merampok. Bahkan ada malam-malam ketika aku merasa bangga, seolah sedang menaklukkan dunia yang dulu menelantarkanku.

Tapi di balik itu semua, ada bagian kecil dalam diriku yang menangis diam-diam. Setiap kali melihat langit malam Jakarta, aku teringat wajah teman-temanku: Evan yang bercita-cita jadi dosen, Fina yang hendak jadi arsitek, Diana yang ingin jadi dokter. Mereka menatap masa depan dengan langkah terang. Sedangkan aku?

Aku yang dulu hanya ingin kuliah, kini sudah terlalu jauh terseret. Jalan pulang rasanya hilang.

***

Malam itu, langit Jakarta seperti menubruk bumi. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, menutup suara derap langkah kami yang menyusup ke gudang tua di pinggiran kota. Targetnya besar: sebuah truk kontainer berisi barang elektronik. Nilainya ratusan juta.

“Ini taruhan terakhir sebelum kita naik kelas, Man,” bisik Madsuki, menepuk bahuku. Senyumnya lebar, tapi aku bisa merasakan sesuatu di balik tatapannya. Mungkin firasat.

Segalanya berjalan mulus sampai tiba-tiba sirene meraung dari arah jalan raya. Polisi datang lebih cepat dari biasanya. Panik menjalar. Aku menoleh ke arah Madsuki, berharap ada aba-aba.

“Jangan ragu! Hadapi!” teriaknya, sambil mengangkat pistol.

Baku tembak pecah. Suara peluru memantul di dinding besi, bercampur teriakan dan hujan. Aku berjongkok di balik peti, napas memburu.

Lalu aku melihatnya. Tubuh Madsuki terpental, peluru menembus dadanya. Matanya membelalak, seakan masih ingin memberi komando. Pistolnya terlepas, jatuh di genangan air. Darahnya bercampur hujan, mengalir cepat ke tanah.

“Mad…!” aku berlari, tapi terlambat. Nafasnya terhenti dalam pelukan malam.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dadaku terasa hampa. Namun aku tak punya waktu berduka. Polisi makin mendekat, dan anak buah kami semua panik. Mereka berhamburan, sebagian tertangkap. Aku berhasil meloloskan diri bersama beberapa orang.

Sejak malam itu, dunia gelap kehilangan nakhodanya. Dan entah bagaimana, semua mata tertuju padaku.

“Man, mulai sekarang kamu yang mimpin. Cuma kamu yang bisa gantiin Bang Mad,” ujar salah seorang anak buahnya.

Aku terdiam lama. Di wajah-wajah mereka, aku melihat ketakutan sekaligus harapan. Dan dalam diriku sendiri, aku tahu satu hal: jalan pulang sudah benar-benar tertutup.

Aku, Arman—yang dulu hanya anak kos miskin bermimpi kuliah—kini resmi menjadi pemimpin gerombolan jalanan.

Dan anehnya, aku tidak merasa bangga. Yang kurasakan hanyalah getir: setiap langkah ke depan sama saja dengan menggali kuburku sendiri.

***

Pasar Seni Ancol sore itu ramai. Bau cat minyak, ukiran kayu, dan debu bercampur dengan angin laut yang datang dari kejauhan. Aku berjalan tanpa tujuan, hanya ingin melupakan suara tembakan, wajah-wajah takut, dan darah yang masih sering menodai mimpiku.

Di salah satu galeri kecil, aku melihat sosok perempuan berkerudung sederhana, sedang menatap lukisan bunga matahari. Entah kenapa aku tertegun. Ada sesuatu yang familiar pada lengkung wajah itu.

“Maaf, Bu… apakah Ibu bernama Fina?” tanyaku ragu, suara bergetar.

Perempuan itu menoleh, terkejut. Matanya membesar sebelum kemudian melembut.
“Betul, Bapak siapa ya?”

Aku tersenyum kaku. “Fina… aku Arman. Teman SMA kamu.”

Sekejap matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… Arman? Kamu di Jakarta? Kerja? Wah, sepertinya kamu tajir sekarang.”

Aku tertawa hambar. “Ah, biasa saja. Ini semua pinjaman dari orang yang membawaku ke Jakarta. Aku numpang sama dia.”

“Oh begitu… lagi apa di sini?” tanyanya sambil tersenyum, wajahnya masih seperti dulu—hangat, tapi ada jarak.

“Lagi refreshing aja. Kebetulan kerjaanku libur,” jawabku, mencoba terdengar ringan. “Kalau kamu?”

“Aku cari kegiatan. Suamiku dinas di Singapura. Seminggu sekali dia pulang. Jadi… aku sering ke sini, biar nggak bosan.”

“Oh… jadi kamu sudah bersuami.”

“Ya.” Senyumnya tipis, seperti menutup sebuah pintu yang dulu pernah terbuka untukku.

Sejenak, suasana di sekeliling kami seakan berhenti. Hanya ada aku dan dia, terhubung oleh masa lalu yang tak mungkin kembali.

Sejak pertemuan itu, hidupku berubah. Entah bagaimana, Fina menyeretku kembali ke lorong kenangan. Malam-malamku terisi oleh lamunan: tawa kecilnya di SMA, aroma seragam yang basah oleh hujan, pesta perpisahan di rumahnya yang sederhana.

Aku mulai menjauh dari gerombolan. Operasi-operasi berikutnya kuserahkan pada wakilku. Aku sendiri memilih menghilang, duduk termenung di kamar kontrakan, atau sekadar berjalan tanpa arah.

Semua aksi yang dulu kuanggap biasa kini terasa menyesakkan. Wajah-wajah korban, jeritan, bahkan darah yang mengalir—semuanya menghantamku seperti gelombang pasang.

Fina, dengan tatapannya yang sederhana itu, telah membuka mataku: betapa kejamnya aku hidup.

***

Sejak hari itu, langkah-langkahku selalu membawaku ke tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Fina. Pasar Seni, kafe dekat Bundaran HI, bahkan perpustakaan kecil di bilangan Cikini. Sesekali aku beruntung bisa berpapasan, menukar sapa basa-basi, dan pulang dengan dada penuh euforia yang cepat berubah menjadi getir.

Aku tahu dia sudah bersuami. Tapi hatiku seperti anak kecil yang keras kepala: menolak kenyataan. Dalam diam aku terus berharap, seakan waktu bisa diputar kembali.

Suatu malam, aku duduk di bangku tua di Taman Ismail Marzuki. Rokok hampir habis, gelas kopi sudah dingin, tapi pikiranku masih penuh oleh bayangan Fina. Saat itulah sebuah suara memanggil.

“Man.”

Aku menoleh. Seorang pria dengan kemeja rapi berdiri, wajahnya tak asing. Evan. Teman seperjuangan masa SMA, yang dulu selalu jadi motor rombongan. Kini wajahnya matang, seperti seseorang yang sudah tahu kemana hidup harus diarahkan.

“Evan?” suaraku serak.

Dia duduk di sampingku, tersenyum tipis. “Aku dengar kamu ketemu Fina lagi.”

Aku terdiam. Rokok di jariku habis begitu saja.

“Man,” lanjut Evan, suaranya pelan tapi tegas, “dia sudah milik orang.”

Aku tertawa kecut. “Kamu pikir aku nggak tahu? Tapi setiap kali lihat dia, rasanya… aku nggak bisa berhenti. Kayak ada yang narik aku terus.”

Evan menghela napas. “Itu bukan cinta, Man. Itu obsesi. Dan obsesi cuma bikin kamu hancur.”

Kata-katanya menamparku lebih keras dari pukulan apapun yang pernah kuserap di jalan.

Aku menunduk. Bayangan wajah Fina berkelebat, lalu bercampur dengan darah dan jeritan masa laluku. Aku sadar: aku sedang berlari, tapi bukan menuju cinta—aku sedang berlari dari kehampaan yang selama ini kubangun sendiri.

Malam itu, di bawah cahaya lampu taman yang redup, aku merasa retak. Ada bagian dari diriku yang ingin tetap mengejar, tapi ada pula suara dalam hati yang berbisik: lepaskan, sebelum semua terlambat.

Malam demi malam berlalu, nasihat Evan bergema di kepalaku: “Dia sudah milik orang, Man.” Tapi hatiku menolak. Setiap kali aku menutup mata, wajah Fina hadir dengan senyum yang tak bisa kulupakan. Senyum yang pernah menjadi cahaya di masa remajaku.

Aku mulai kehilangan arah. Gerombolan yang dulu kupegang kendalinya kini retak. Wakilku mengeluh karena aku jarang muncul, anak buah mulai tak patuh. Mereka bilang aku melemah, dan di dunia ini kelemahan adalah undangan maut.

Namun aku tak peduli. Bagiku hanya ada satu hal: Fina.

Suatu sore aku nekat datang ke rumahnya di kawasan elite Jakarta Utara. Rumah itu besar, pagar tinggi, mobil mewah terparkir rapi. Aku berdiri di seberang jalan, menatap jendela-jendelanya yang tertutup rapat. Dalam hati aku ingin berteriak: “Fina, aku di sini! Ingat aku, Arman!”

Tapi lidahku kelu. Kaki tak berdaya melangkah.

Malamnya aku kembali, berharap sekadar melihat bayangan wajahnya di jendela. Yang kudapat justru suara tawa anak kecil, suara laki-laki asing yang pulang membawa oleh-oleh, dan suara Fina menyambutnya penuh kasih. Itu menusuk lebih dalam daripada pisau mana pun.

Aku pulang dengan dada koyak. Di kamar kontrakan, aku menatap cermin. Sosok yang menatap balik bukan lagi Arman si remaja yang bermimpi kuliah, bukan pula lelaki yang dulu takut menyentuh dunia gelap. Yang kulihat hanya bayangan kosong, mata yang letih, dan jiwa yang hilang arah.

Aku sadar, aku tidak hanya kehilangan Fina. Aku kehilangan diriku sendiri.

Beberapa hari kemudian, saat operasi besar dijalankan tanpa aku, polisi datang menyerbu markas. Banyak anak buahku ditangkap. Wakilku melarikan diri, menyisakan jejak yang menyeret namaku.

Aku tahu, ini akhir.

Malam itu aku pergi ke Pasar Seni sekali lagi. Duduk di bangku yang sama, tempat pertama kali aku bertemu Fina setelah bertahun-tahun. Aku menyalakan rokok terakhir, menghisap dalam-dalam.

Di hatiku aku berbisik:
“Fina… maafkan aku. Aku mencintaimu dengan cara yang salah. Dan aku mencintai hidupku dengan cara yang lebih salah lagi.”

Lampu-lampu redup berkelip. Dari kejauhan, sirene polisi meraung. Aku tak lari. Aku tak bersembunyi. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku merasa lega.

Aku menutup mata, membiarkan gelap menjemput. Dalam kegelapan itu, yang kulihat hanya Fina—tersenyum, seperti dulu di masa SMA.

***

Beberapa hari setelah penangkapan itu, Evan membaca berita di koran: “Satu gembong kejahatan berhasil dibekuk setelah lama buron. Identitas dirahasiakan pihak kepolisian.”

Dia menutup koran pelan, menatap kosong ke luar jendela. Angin sore membawa bau hujan, sama seperti malam ketika ia terakhir kali menasihati Arman.

Di sisi lain kota, Fina sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Televisi menayangkan berita yang sama. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Ia menggenggam secangkir teh, tapi tangan gemetar.

“Man…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.

Suaminya datang dari kamar, memanggil nama, tapi Fina cepat-cepat menghapus sisa air mata di sudut matanya. Ia tersenyum paksa, seakan tak terjadi apa-apa.

Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang runtuh—sebuah rahasia yang hanya ia dan takdir yang tahu. (Bogor, 29/09/2025)

 

 

Minggu, 28 September 2025

Cahaya yang Tak Terjangkau

Oleh Abdul Rahman Saleh

Siang itu udara seperti bara. Matahari membakar jalan beraspal hingga tampak berkilau seperti mendidih. Debu beterbangan setiap kali angin kecil lewat. Beruntung rumah kos Arman dipagari pepohonan rindang, sehingga hawa panas agak mereda begitu ia masuk.

Arman baru pulang sekolah. Seragam putih abu-abu sudah lusuh oleh peluh, langkah kakinya berat. Setelah membersihkan diri, salat, dan makan siang sederhana, kantuk menyeretnya. Tubuhnya rebah di dipan kayu, dan matanya terpejam dalam hitungan detik.

Dalam tidurnya, ia berada di pantai. Ombak berkejaran di bibir pasir, angin laut menabur asin ke kulit. Cahaya ada di sampingnya—gadis hitam manis, adik kelasnya, yang selama ini hanya ia kagumi diam-diam. Ia tak pernah berani mengucapkan cinta, sebab Cahaya baginya adalah bintang di langit: indah, tinggi, dan tak terjamah. Tapi dalam mimpi, ia bisa meraih tangannya, berlari bersama, tertawa tanpa beban.

“Man, bangun. Cahaya nungguin!” suara Kandar, anak ibu kos, membuyarkan lamunan itu.

Arman mengerjap, separuh jengkel. “Ah, kamu… aku lagi mimpi enak.”
“Beneran, dia ada di ruang tamu,” balas Kandar.

Dengan jantung berdebar, Arman mengintip dari balik jendela. Benar—Cahaya duduk di ruang tamu, wajahnya teduh, seragamnya masih rapi. Gadis yang baru saja ia genggam dalam mimpi kini nyata menunggu. Ia buru-buru mencuci muka, menyisir rambut, lalu keluar.

“Oh, maaf, Man. Ganggu, ya? Baru bangun?” suara Cahaya lembut.
Arman tersenyum canggung. “Enggak apa-apa. Memang sudah waktunya bangun.”

Cahaya menunduk sebentar, lalu berkata, “Bapak nyuruh kamu nanti malam datang. Beliau minta kamu jadi sparring partner-ku main catur. Persiapan kompetisi bulan depan.”

“Oh…kamu jadi ikut lomba?”

“Ya, jadi. Aku merasa belum siap. Tapi Bapak memaksa. Katanya berlatih tanding dengan kamu.”

“Ah…aku kan bukan juara.” Arman merendah.

“Tapi Bapak kan gak pernah menang lawan kamu.”

“Ya sudah, nanti malam aku kesana.”

“Jam 7 malam ya, biar waktu latihannya bisa panjang.”

“Siap.

Arman hampir tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pucuk dicinta, ulam tiba, batinnya.

***

Malam itu, ruang tamu rumah Pak Mamat dipenuhi aroma kopi. Papan catur diletakkan di atas meja kayu. Pak Mamat duduk di kursi, memperhatikan sambil sesekali menyeruput.

Cahaya duduk di hadapan Arman. Jemarinya yang lentik mengetuk meja tiap kali berpikir. Arman menatap papan, tapi matanya sering mencuri pandang pada wajah Cahaya.

Langkah demi langkah, bidak bergerak. Sesekali Pak Mamat menggeleng.
“Aduh, Ca, masa bentengmu dikasih gratis begitu.”
Cahaya manyun. “Ya salah perhitungan, Pak. Arman pintar banget.”
Arman nyengir, menunduk. Ia menahan diri agar tak tampak jumawa. ”Karena ini latihan, kamu bisa membatalkan langkahmu.” Arman memberikan kembali benteng yang sudah dimaknnya barusan.

Malam berganti malam. Arman selalu datang setelah menyelesaikan PR. Mereka duduk di meja itu, berjam-jam. Kadang Cahaya kalah cepat, kadang ia bisa bertahan lama. Arman tak hanya sparring partner, tapi juga guru diam-diam.

“Kalau kamu berani tukar ratu, lawan biasanya goyah. Jangan takut kehilangan bidak besar,” bisiknya suatu malam.
Cahaya mengangguk serius, lalu tersenyum. “Aku nggak takut kehilangan, kok. Asal masih ada yang mendukung di sampingku.”

Arman tercekat. Kata-kata itu sederhana, tapi baginya terasa seperti janji yang tak terucap. “Apakah ini isyarat?” bisik hatinya. Namun dia tetap tidak berani menanggapi kata-kata Cahaya. Dia takut kecewa.

***

Hari lomba tiba. Aula kabupaten penuh sesak. Meja-meja catur berjejer, kipas angin berputar malas, suara orang tua dan guru bergema. Cahaya duduk dengan wajah tegang, seragam olahraganya sudah dipenuhi pin tanda peserta.

Arman berdiri di pinggir, berusaha menenangkan dengan tatapan. Jantungnya ikut berdetak cepat setiap kali Cahaya melangkah. Sesekali dia beradu pandang. Cahaya memberikan senyum manisnya.

Satu demi satu lawan tumbang. Cahaya melangkah ke semifinal, lalu final. Gerakannya mantap, matanya tajam. Arman kagum—gadis itu benar-benar berubah.

Final berlangsung menegangkan. Lawannya dari kota seberang, berwajah dingin. Skor imbang. Arman tak bisa duduk diam. Nafasnya pendek, seakan ia sendiri yang bertanding.

Lalu langkah itu tiba. Ratu lawan terkunci. Skakmat.

Sorak-sorai bergemuruh. Cahaya berdiri, wajahnya berseri. Ia juara satu Porseni catur tingkat kabupaten.

Arman tersenyum lebar, hampir lebih bangga daripada dirinya sendiri. Cahaya berlari ke arahnya, mata berbinar.
“Man, aku menang… aku benar-benar menang!” katanya terengah.
Arman hanya mengangguk, dadanya bergemuruh. Ada rasa bahagia, ada cinta yang semakin sulit ia sembunyikan.

“Kamu hebat. Selamat ya.” Akhirnya kata itu keluar juga.  

***

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Pak Mamat, yang dulu antusias, kini mulai bersikap dingin. Setiap Arman datang, jawabannya selalu sama:
“Cahaya lagi belajar.”
“Dia capek, jangan diganggu.”
“Sekarang waktunya fokus sekolah.”

Arman mulai mengerti. Masalahnya bukan lagi waktu, melainkan siapa dirinya. Ia hanya anak kos, anak kampung miskin. Sementara Cahaya adalah putri seorang Kepala Dinas di Kabupaten dan pemilik kedai kopi yang disegani.

Malam itu, Arman pulang dengan langkah berat. Ia sadar: betapapun dekatnya ia dengan Cahaya, ada dinding yang menjulang tinggi—jurang status sosial.

***

Sejak saat itu, Arman berubah. Ia menyalurkan rindu dan sakit hatinya pada buku-buku. Ia belajar lebih keras, tidur larut malam, berjuang mengejar nilai. “Kalau memang status yang kamu minta, aku akan kejar status itu.” Hatinya berjanji.

Ia mengikuti olimpiade, lomba karya tulis, bahkan lomba matematika tingkat provinsi. Piala-piala kecil menghiasi kamar kosnya yang sempit. Guru-guru mulai menyebut namanya dengan bangga.

Akhirnya, universitas papan atas meliriknya. Ia lulus dengan predikat sangat terpuji. Ia mendapat beasiswa penuh ke Amerika ia genggam. Ia menyelesaikan program masternya, kemudian program doktor di bidang komputer. Saat itu, ia berangkat dengan hati berkobar: suatu hari ia akan pulang bukan sebagai anak kampung miskin, melainkan sebagai seseorang yang pantas berdiri sejajar.

***

Bertahun-tahun kemudian, Arman kembali. Namanya harum, statusnya tinggi. Ia bukan lagi bocah miskin yang dulu ditolak.

Namun kabar itu datang seperti petir: Cahaya sudah menikah dengan lelaki pilihan ayahnya—seorang pengusaha muda dari kota.

Malam itu, Arman berdiri sendirian di tepi pantai. Ombak masih berkejaran, angin asin masih sama. Ia menatap cakrawala, membiarkan pikirannya kembali pada masa remaja: malam-malam di ruang tamu rumah Cahaya, bidak-bidak yang bergeser, tawa kecil di antara langkah catur.

Ia teringat kata Cahaya: “Aku nggak takut kehilangan, asal masih ada yang mendukung di sampingku.”

Kini Arman tahu, kehilangan itu nyata. Ia berhasil meraih dunia, tapi kehilangan satu-satunya cahaya yang selalu ia genggam dalam mimpi.

Cahaya tetaplah cahaya. Indah, namun tak pernah bisa ia miliki.

***

Suatu sore, bertahun-tahun kemudian, Arman menghadiri sebuah seminar pendidikan di kota kecil dekat kampung halamannya. Usai acara, ia mampir ke sebuah kafe yang baru berdiri di sudut alun-alun.

Di sanalah ia melihatnya. Cahaya. Duduk di meja dekat jendela bersama seorang anak laki-laki kecil yang mirip dirinya—mata bulat, kulit manis. Wajahnya tetap sama, hanya lebih matang, lebih dewasa. Senyumnya masih punya sinar yang dulu pernah membuat Arman bermimpi.

Sesaat, pandangan mereka bertemu. Cahaya tampak terkejut, lalu tersenyum. Senyum ramah, hangat, tapi berjarak. Bukan senyum rahasia yang dulu hanya mereka pahami ketika bidak catur beradu di ruang tamu rumahnya.

Arman membalas senyum itu. Hanya sebentar, lalu ia beranjak pergi sebelum kenangan terlalu jauh menggenggam.

Di luar kafe, angin sore menyapu wajahnya. Ada perih, ada rindu, ada kepasrahan. Dalam hati ia berbisik, “Kau tetap cahaya, tapi bukan untukku. Dan aku akan selalu mengingatmu sebagai mimpi terindah yang membuatku berlari sejauh ini.”

 


Sabtu, 27 September 2025

Satu Malam Sebelum Pergi

Abdul Rahman Saleh

Setiap libur panjang, orang tuaku selalu mengajak kami sekeluarga berlibur di rumah nenek. Letaknya di sebuah kota kecil di kaki gunung. Biasanya aku merasa bosan, sebab harus sebulan penuh berada di sana. Teman-teman sebaya di kampung sering kali tidak nyambung kalau diajak bicara, sehingga aku lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.

Sampai suatu hari nenek menyuruhku mengantarkan titipan ke rumah seorang kerabat jauh. Aku menuruti perintah itu tanpa banyak pikir, tak menyangka pertemuan kecil itu akan mengubah liburanku.

Di rumah itulah aku bertemu seorang gadis. “Wati,” katanya sambil mengulurkan tangan, senyumnya sederhana tapi hangat.
“Arman Sumarta Wirotruno,” jawabku, menyebut nama yang sengaja kutambah-tambahi supaya terdengar lucu.
Ia terkekeh. “Wah, panjang sekali. Susah aku menghafalnya.”
“Ya nggak usah dihafal. Panggil saja Arman.”
“Nah, itu baru singkat.”

Sejak perkenalan itu hari-hariku terasa berwarna.

***

Hari-hari setelah perkenalan itu jadi terasa berbeda. Kalau dulu aku selalu menghitung kalender agar liburan cepat selesai, kali ini aku justru berharap waktu berjalan lebih lambat. Hampir setiap sore aku dan Wati punya alasan untuk bertemu.

Kadang kami naik ke bukit kecil di belakang kampung. Dari puncaknya, hamparan sawah membentang hijau, sementara angin sore berhembus membawa aroma tanah basah. Wati suka duduk di atas batu besar, sementara aku sibuk memainkan gitar. Ia sering meminta lagu yang ia dengar di radio, dan walau jarang hafal betul, aku tetap berusaha memainkannya. Saat ia ikut bernyanyi dengan suara jernihnya, lagu itu jadi terdengar sempurna.

Namun, tidak semua hari berjalan mulus. Pernah suatu sore, saat kami berdua duduk di teras rumah nenek, datanglah Sumiati—gadis kampung sebelah yang memang cerewet. Ia suka bercanda berlebihan, dan entah mengapa aku ikut menanggapi dengan gurauan.
“Aduh, kalau semua cowok di kota seasyik kamu, pasti banyak gadis naksir,” kata Sumiati sambil terkekeh.
Aku menimpali sambil pura-pura menyombong, “Hati-hati, nanti aku bisa pindah hatiku ke sini.”

Aku hanya bermaksud bercanda, tapi kulihat wajah Wati berubah. Senyum yang tadi menghiasi bibirnya mendadak sirna. Ia diam, lalu berdiri. “Aku pulang dulu,” katanya singkat, tanpa menatapku.

Aku panik, mencoba memanggilnya. “Wati, tunggu. Aku cuma bercanda.”
Namun Wati sudah melangkah cepat, meninggalkanku yang kebingungan.

Malam itu aku gelisah. Besoknya aku memberanikan diri datang ke rumahnya. Ia menyambut dengan wajah datar. Aku akhirnya meminta maaf.
“Wati, aku nggak serius sama Sumiati. Aku… cuma nggak bisa berhenti bercanda. Jangan marah, ya.”
Ia terdiam lama, lalu menghela napas. “Aku nggak suka kalau kamu begitu, Man. Aku pikir… kamu cuma main-main sama aku.”

Aku menatapnya serius. “Tidak, Wati. Justru aku ingin kamu tahu, aku tidak main-main denganmu.”
Perlahan senyum kembali muncul di wajahnya. Dan sejak itu, aku jadi lebih berhati-hati dengan kata-kataku—karena aku tahu, ada hati yang benar-benar ingin kujaga.

***

Beberapa hari setelah kejadian dengan Sumiati, aku dan Wati kembali akrab. Suatu sore kami duduk di teras rumah nenek. Angin sepoi-sepoi berhembus, dan aku mendadak ingin menggodanya.

“Wati, kamu tahu nggak? Aku ini bisa meramal nasib orang.”
Ia melirik sinis. “Ah, bohong.”
“Coba deh kasih tangan kananmu.”
Dengan ragu ia menyodorkan tangannya. Aku menatap telapak tangannya penuh gaya, seolah sedang membaca garis takdir.

“Hmm… wah, kamu hebat. Garis ini menunjukkan banyak cowok yang naksir kamu. Dan ini… ah, ini jelas, kamu cerewet, suka ngambek.”
“Ah, kamu ngibul!” Wati mencoba menarik tangannya, tapi aku menahannya.
“Nanti dulu, aku belum selesai. Nah, lihat garis ini—ini tanda kalau kamu bakal bahagia. Dan yang paling penting…” aku menahan senyum, “…kamu bakal jadi pacar orang yang meramal kamu.”

Wati menutup wajahnya dengan sebelah tangan, pura-pura malu. “Ah, Arman… kamu memang tukang ngibul.”
Aku terkekeh. “Nah, benar kan? Garisnya juga bilang kamu gampang ngambek.”
“Ah, sudah ah!” katanya sambil mencubit lenganku. Tapi cubitannya terasa ringan, seperti cubitan sayang.

Aku tertawa, sementara Wati ikut tersenyum. Dalam hatiku, aku bersyukur—ternyata jarak antara marah dan manis pada dirinya begitu tipis. Dan mungkin, di situlah letak pesonanya.

***

Malam itu, langit bersih. Hanya ada bulan separuh dan bintang-bintang kecil yang berkelip malu. Arman dan Wati duduk di bangku bambu depan rumah, berdekatan tapi masih menyisakan jarak yang membuat keduanya salah tingkah. Lampu teplok dari dalam rumah memantul samar di wajah mereka.

“Besok kamu sudah pulang, ya?” Wati membuka percakapan dengan nada seperti menuduh.
Arman tersenyum kecil. “Iya. Kangen juga sama kasurku di rumah.”

“Alasannya cuma kasur?” Wati manyun.
Arman cepat-cepat menoleh, pura-pura serius. “Ya nggaklah. Aku pulang karena… kalau kelamaan di sini, bisa-bisa ada yang kebanyakan ngambek.”

Wati mendelik. “Arman!”
Arman terkekeh, lalu dengan nakalnya berkata, “Coba sini, kasih tanganmu.”

“Buat apa lagi?”
“Aku mau meramal malam terakhir kita.”

Dengan malas-malasan Wati menyerahkan tangannya. Arman pura-pura memandang telapak tangan itu dengan wajah penuh konsentrasi.
“Hmm… garis ini menunjukkan kamu cerewet. Nah, garis ini… kamu gampang ngambek, tapi sepertinya kamu sedang mencintai seseorang.”

“Ah, dasar tukang ngibul!” Wati langsung berusaha menarik tangannya.
“Nanti dulu, aku belum selesai.” Arman menahan lembut. “Nah, garis ini… katanya kamu akan bahagia. Dan kebahagiaanmu itu bersama cowok yang lagi meramal tanganmu sekarang.”

Wati terdiam sebentar, lalu memukul pelan lengan Arman. “Arman… kamu bisa aja.”
“Berarti bener kan? Kamu bakal jadi pacar aku.”
“Siapa juga yang mau?” Wati pura-pura menoleh ke arah lain, tapi senyum tipisnya jelas terlihat.

Arman menatap wajahnya lekat-lekat. “Wati, serius… aku nggak akan lupa malam ini.”
Wati menelan ludah, berusaha menyembunyikan perasaan yang berkecamuk. “Ya sudah. Jangan cuma pintar ngibul, buktikan aja.”

Arman tertawa kecil, lalu dengan berani berkata, “Kalau gitu… aku minta izin, boleh nggak aku jadi cowok yang kamu ingat terus?”
Wati mendengus, lalu mencubitnya sekali lagi. Tapi kali ini cubitannya disertai tawa.

Malam itu berakhir dengan banyak tawa, cubitan, dan rayuan sederhana. Tapi justru di situlah kenangan melekat kuat—ringan, manis, dan romantis.

***

Malam sudah larut. Waktunya aku mengantar Wati pulang. Kami pun berjalan pulang. Malam begitu sepi, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menemani langkah. Lorong-lorong gelap membuat Wati menggenggam tanganku lebih erat. Ketika ia berbisik takut, aku merangkul pinggangnya. Hangat tubuhnya membuat langkah kami terasa lebih ringan.

Di depan pintu rumahnya, aku menatapnya lama. Lampu temaram menerangi wajahnya yang indah—ada ragu, ada senyum, ada sesuatu yang membuatku tak ingin beranjak. Aku berbisik lirih, “Wati, Aku sayang kamu. Aku cinta kamu.”

Sebelum sempat ragu, bibirku menyentuh bibirnya. Singkat, canggung, tapi penuh keberanian pertama. Wati tersenyum, pipinya merona. Ia menunduk sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Pintu menutup perlahan, meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku di depan, hatiku bergetar hangat.

Malam itu kutahu, perpisahan besok bukan akhir. Karena ada satu hal yang akan selalu menyatukan kami: cinta yang lahir diam-diam, tapi tumbuh begitu manis.

***

Keesokan paginya, suasana rumah nenek terasa berbeda. Koper kecil sudah tertata di ruang tamu. Arman berdiri sambil menunggu ayahnya memanaskan mobil. Sementara itu, Wati berdiri di ambang pintu, menggenggam ujung dasternya dengan canggung.

“Jadi beneran pulang?” tanyanya pelan.
Arman mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Kalau kelamaan di sini, takutnya ada yang makin sering ngambek.”

Wati mendelik, tapi senyumnya tetap terselip. “Dasar tukang ngibul.”
“Eh, jangan lupa ramalanku tadi malam,” sahut Arman cepat. “Suatu saat kamu bakal bahagia… sama cowok yang meramal tanganmu itu.”

Wati menunduk, wajahnya memerah. Tangannya ingin sekali mencubit lagi lengan Arman, tapi kali ini ia hanya menggenggam dasternya lebih erat.

Mobil sudah siap. Arman melangkah ke pintu mobil, tapi sebelum masuk ia sempat menoleh. “Wati…” panggilnya.

Wati menatap balik, sedikit gugup.
Arman mengangkat tangannya, memberi salam kecil dengan senyum khasnya. “Jangan lupa aku, ya.”
Wati mengangguk singkat, suaranya hampir tak terdengar. “Kamu juga.”

Mobil pun melaju pelan meninggalkan halaman rumah nenek. Dari kaca belakang, Arman masih bisa melihat sosok Wati yang berdiri kaku, seolah enggan beranjak. Angin pagi membawa aroma rumput basah dan suara jangkrik yang memudar.

Di dadanya, Arman tahu—liburan kali ini berbeda. Ada satu nama yang akan selalu ia ingat. Wati.
Dan di benak Wati, malam terakhir dengan ramalan konyol itu akan menjadi kenangan yang selalu membuatnya tersenyum sendiri.

Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah nenek. Dari balik kaca belakang, Arman masih melihat Wati berdiri diam di ambang pintu, tubuhnya diselimuti cahaya pagi yang lembut. Ia tidak melambaikan tangan, hanya menatap dengan mata yang seolah menitipkan sesuatu.

Arman menggenggam erat gitar kecil di pangkuannya. Hatinya berbisik, “Aku pergi, tapi sebuah nada akan selalu kembali padamu.”

Wati, di ambang pintu itu, menghela napas panjang. Angin pagi menyibak rambutnya, dan dalam hati ia berkata, “Biar jarak memisahkan, aku percaya setiap rindu punya jalan pulang.”

Liburan itu berakhir, tapi di hati keduanya, sebuah awal baru justru lahir—awal dari kenangan yang kelak akan mereka sebut: cinta pertama.

Hanya untuk Dikenang

Oleh Abdul Rahman Saleh

Sore itu rumah Sufi tampak hangat meski sederhana. Hanya enam orang yang hadir, anggota kelompok belajar yang sejak awal SMA selalu bersama. Mereka duduk lesehan, menyantap hidangan seadanya—pisang goreng, teh manis, dan semangkuk mie instan yang dibagi ramai-ramai. Tidak ada musik meriah, tidak ada dekorasi, hanya suara tawa yang diselingi tangis kecil ketika satu per satu mulai membacakan puisi dan mengenang masa-masa mereka di bangku sekolah.

Arman, yang biasanya paling cerewet, malam itu lebih banyak diam. Ia mendengarkan setiap kata, setiap canda, lalu menatap wajah sahabat-sahabatnya dengan rasa yang sulit dijelaskan. Sebuah kesadaran menyelinap: mereka akan benar-benar berpisah.

Hari itu akhirnya datang juga. Arman berangkat menuju kota tempat universitasnya berada, sebuah perguruan tinggi papan atas yang dulu hanya berani ia mimpikan. Teman-teman grupnya mengantarnya sampai terminal. Pelukan, tawa paksa, dan janji-janji untuk tetap saling berkabar menjadi penutup perjalanan SMA mereka.

Hari-hari pertama kuliah, Arman disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat, buku-buku tebal, dan tugas yang tak ada habisnya. Perlahan, kenangan SMA mulai mengabur. Ia pikir dirinya telah benar-benar meninggalkan masa itu. Hingga suatu sore, ketika ia membuka kotak pos asrama, sebuah amplop merah muda menyembul di antara tumpukan selebaran iklan.

Tangannya bergetar pelan. Inisial di pojok kiri hanya bertuliskan “SF”. Ia tak perlu menebak lebih jauh—ia tahu betul siapa pengirimnya.

Arman segera masuk kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan hati-hati ia membuka surat itu. Tulisan tangan Sufi tampak rapi, sedikit miring ke kanan. Isinya sederhana: tentang rindunya pada masa-masa SMA, tentang kesedihannya melihat teman-temannya melanjutkan kuliah sementara ia harus membantu orang tuanya di rumah. Tak ada satu pun kata cinta tertulis di sana.

Namun entah mengapa, Arman tersenyum berkali-kali saat membacanya. Ia bahkan mengulang-ulang, seolah takut kehilangan makna yang tersembunyi di balik kalimat-kalimat singkat itu.

Bayangan masa lalu pun menyeruak. Malam perpisahan di rumah Fina, ketika ia memberanikan diri melingkarkan tangan ke pinggang Sufi saat mengantarnya pulang dengan motor. Rambut Sufi yang tertiup angin menampar wajahnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Juga saat Sufi tiba-tiba meminta tolong membawakan motornya karena kedatangan “tamu bulanan”, dan Arman pura-pura bercanda minta dibonceng sebagai imbalan.

Ingatan-ingatan itu datang bertubi-tubi. Dan pertanyaan itu tak bisa ia bendung: apakah aku jatuh cinta padanya?

Arman menggeleng keras. “Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya. “Aku hanya anak kampung yang miskin. Sedang dia… dia anak kota, anak orang kaya.”

Ia menatap surat itu sekali lagi, kali ini dengan perasaan getir. Baginya, Sufi adalah langit yang terlalu jauh untuk digapai. Biarlah surat ini menjadi sekadar kenangan, pikirnya. Sebuah kenangan yang akan ia simpan rapat-rapat, sebagai bagian dari masa muda yang tak akan pernah kembali.

Hari-hari berikutnya, Arman menunggu-nunggu kedatangan surat berikutnya. Ia bahkan sering mampir ke kotak pos asrama dua kali sehari, seolah takut melewatkan sesuatu. Dan benar, seminggu kemudian amplop merah muda lain muncul, lagi-lagi dengan inisial yang sama.

Isinya sederhana: cerita Sufi tentang membantu ibunya di warung kecil, tentang adiknya yang mulai remaja, tentang kegiatannya mengajar anak-anak tetangga belajar membaca. Tidak ada kata rindu yang terlalu jelas, tidak ada ungkapan cinta. Tapi ada kehangatan, seolah setiap kalimat ditulis khusus untuk Arman seorang.

Arman pun membalas. Ia bercerita tentang kuliahnya, dosen yang galak, dan bagaimana ia harus bekerja paruh waktu di kantin asrama untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Surat itu ia tulis dengan hati-hati, berulang kali ia coret, takut terlalu jujur, takut juga terlalu dingin.

Maka mulailah sebuah kebiasaan baru: surat datang, surat dibalas. Kadang dua minggu sekali, kadang sebulan sekali. Dan setiap surat itu, betapapun pendek isinya, selalu menjadi penghibur di tengah kesibukan Arman.

Namun di antara kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mengganjal. Arman mulai menyadari bahwa surat-surat Sufi seperti menyembunyikan sesuatu. Ia tidak pernah menulis tentang perasaannya sendiri, hanya tentang kegiatan sehari-hari, kerinduan samar akan masa SMA, dan sesekali tentang lagu atau puisi yang sedang ia baca.

Arman pun kembali bertanya pada dirinya: Apakah mungkin Sufi merasakan hal yang sama? Atau jangan-jangan ia hanya menganggapku teman lama yang baik hati?

Malam-malam di kamar asrama sering membuat Arman gelisah. Ia menatap surat-surat itu, mencoba membaca di antara baris-barisnya. Tapi yang ia temukan hanyalah hening.

Sampai suatu sore, datang surat yang berbeda. Amplopnya tidak lagi merah muda, melainkan putih polos. Tulisan tangan Sufi masih sama, tetapi isinya kali ini pendek, bahkan terlalu pendek:

“Arman, mungkin ini surat terakhirku. Aku akan segera dilamar orang. Jangan khawatir, aku bahagia. Semoga kamu juga bahagia di sana.”

Hanya itu. Tanpa tanda tangan. Tanpa alasan lebih jauh.

Arman membaca surat itu berkali-kali, berharap ada makna lain di balik kata-kata singkat itu. Tetapi tidak ada. Yang tersisa hanya rasa hampa—dan kenangan yang semakin terasa mustahil untuk ia ulang.

Arman terdiam lama setelah membaca surat terakhir itu. Malam di asrama terasa begitu dingin, padahal kipas angin bahkan tidak menyala. Surat putih polos itu diremasnya, lalu direntangkan kembali, seolah takut kehilangan jejak terakhir dari Sufi.

Ia mencoba menulis balasan, tapi tak satu pun kalimat terasa tepat. “Selamat ya, Sufi.” Kalimat itu terlalu kaku. “Aku ikut bahagia.” Kalimat itu terdengar palsu. Hingga akhirnya Arman menyerah. Surat itu tidak pernah ia balas.

Hari-hari berlalu, bulan berganti. Setiap kali ia membuka kotak pos, Arman masih berharap menemukan amplop merah muda. Tetapi harapan itu perlahan padam. Tak ada lagi kabar dari Sufi.

Di malam-malam sunyi, Arman sering duduk sendirian di kamar, menatap tumpukan surat lama. Ia membaca ulang kalimat-kalimat sederhana yang dulu menghangatkan hatinya. Bayangan rambut Sufi yang menampar wajahnya di atas motor kembali hadir. Tawa kecilnya, cara ia menunduk malu saat membaca puisi di ruang tamu rumahnya… semuanya datang berdesakan.

Namun kenyataan tetap tak bisa diingkari. Sufi kini milik orang lain.

Tahun-tahun kuliah berjalan cepat. Arman lulus dengan predikat baik, lalu melanjutkan langkah ke dunia kerja. Ia berkenalan dengan banyak orang baru, bahkan beberapa kali menjalin hubungan singkat. Tapi entah mengapa, ada ruang kosong di hatinya yang tidak pernah bisa terisi.

Sesekali, kabar tentang Sufi sampai juga lewat teman-teman lama. “Suaminya orang mapan, punya toko besar di kota,” begitu yang Arman dengar. “Dia sudah punya anak dua,” kabar lain menyusul.

Setiap mendengarnya, Arman hanya tersenyum tipis, menahan sesuatu yang menekan dadanya. Ia tidak pernah berusaha mencari, apalagi menghubungi. Baginya, yang terbaik adalah membiarkan kenangan itu tetap di tempatnya—sebagai potret masa muda yang tak tersentuh waktu.

Suatu malam, bertahun-tahun kemudian, Arman memberanikan diri membuka kembali kotak kecil di lemari. Di dalamnya tersimpan surat-surat Sufi: amplop merah muda yang kini warnanya mulai pudar, dan selembar amplop putih polos yang masih terasa asing. Ia membaca lagi satu per satu, lalu menutup matanya.

Senyum samar terbit di bibirnya. “Terima kasih, Sufi,” bisiknya lirih.

Di antara ratusan halaman hidupnya, Sufi hanyalah satu bab yang singkat. Tapi justru bab itulah yang paling sulit ia lupakan.

Waktu bergulir tanpa terasa. Hingga suatu hari, sebuah undangan reuni SMA tiba di meja kerja Arman. Awalnya ia ragu untuk datang—apa gunanya membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama ia kunci? Namun ada sesuatu yang mendorongnya, rasa penasaran yang tak pernah benar-benar padam.

Malam reuni berlangsung meriah di sebuah restoran kota kecil mereka. Musik lawas mengalun, gelak tawa pecah di setiap meja. Arman datang agak terlambat. Begitu masuk, ia langsung disambut pelukan hangat dari teman-teman lama. Wajah-wajah yang dulu muda kini dihiasi keriput halus, namun keakraban tetap sama.

Dan di antara keramaian itu, ia melihatnya.

Sufi.

Rambutnya kini disanggul rapi, kerudung tipis menutup sebagian. Wajahnya masih menyimpan senyum yang sama, meski ada garis lelah yang samar. Di sisinya, seorang pria berbadan tegap menemaninya—tentu suaminya. Sesekali anak remaja yang mirip dirinya datang merapat, memanggil “Bu” dengan manja.

Mata mereka bertemu. Hanya sekejap. Senyum Sufi muncul, hangat tapi singkat. Arman membalas dengan anggukan kecil. Tidak ada kata-kata. Tidak ada cerita masa lalu yang diungkit. Hanya sekelebat tatapan yang menyimpan seribu kenangan.

Sepanjang acara, Arman dan Sufi tidak sempat berbincang lama. Semua berlangsung terlalu ramai, terlalu singkat. Saat pulang, Arman sempat berpapasan lagi dengannya di pintu keluar.

“Arman…” suara Sufi lirih, nyaris tenggelam oleh riuh orang-orang.

Arman berhenti. “Iya?”

Sufi hanya tersenyum. “Kamu baik-baik saja, kan?”

Arman menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”

Tidak ada lagi. Hanya itu. Mereka pun berpisah, sekali lagi—kali ini untuk selamanya.

Dalam perjalanan pulang, Arman duduk di kursi bus malam, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan. Hatinya terasa ringan sekaligus perih. Ia sadar, ada cinta yang memang ditakdirkan hanya untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.

Sufi adalah salah satunya.

 


Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...