Titin, pustakawan senior, sudah bekerja di sana hampir duapuluh lima tahun. Dia hafal seluk-beluk tempat ini lebih dari denah rumahnya sendiri. Hari itu, ia sedang menghadapi seorang mahasiswa tingkat akhir yang tampak gugup.
“Jadi, kamu cari apa tadi? Topik tentang pertanian urban di lahan sempit?” tanya Titin sambil membuka layar monitor.
“Iya Bu, tapi saya bingung mulai dari mana,” jawab mahasiswa itu. Suaranya pelan, matanya bolak-balik menatap layar komputer dan rak buku di belakang Titin.
Titin mengetik cepat. “Coba kamu lihat ini. Ini daftar jurnal terbaru soal pertanian urban di Indonesia. Dan ini buku cetak yang bisa kamu ambil di lantai dua, rak 635.”
Mahasiswa itu mendekat, matanya berbinar. “Saya baru tahu semua ini bisa dicari dari komputer... saya pikir harus nyari satu-satu di rak.”
“Kalau harus nyari manual, mungkin kamu lulus dua tahun lagi,” jawab Titin sambil tersenyum.
Mereka tertawa. Suasana mencair. Titin senang—membantu mahasiswa menemukan arah riset selalu jadi momen favoritnya.
Setelah beberapa menit menjelaskan teknik penelusuran digital, Titin menutup pembicaraan, “Sudah mengerti, kan?”
“Sudah Bu, terima kasih. Ternyata saya buta arah selama ini.”
Titin tertawa lagi. “Nah, sekarang kamu sudah punya peta.”
Mahasiswa itu pamit dengan senyum lega. Titin melirik jam. Masih ada dua sesi konsultasi lagi hari ini. Tapi ia tak mengeluh. Di balik layar dan rak buku, inilah panggung kecilnya—dan tiap mahasiswa yang datang adalah tokoh utama yang sedang mencari jalan cerita mereka sendiri.
***
"Akhirnya, selesai juga," batin Titin sambil meregangkan punggung. Mahasiswa tadi adalah yang ketujuh hari ini. Biasanya bisa sepuluh, bahkan lebih kalau musim skripsi datang.
Ia berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Mimin, rekan satu divisinya yang sedang asyik menyusun buku pengembalian.
"Min, besok Sabtu. Lo mau gue ajak ke Tamsit nggak?" tanya Titin, langsung tanpa basa-basi.
Mimin mengangkat alis. "Tamsit? Ngapain?"
"Ya nyari angin lah. Katanya di Thamrin City tuh kerudungnya bagus-bagus dan murah. Gue udah sumpek di rumah."
Mimin nyengir. "Hmm... tapi kenapa Tamsit? Mendingan ke Tanah Abang sekalian. Deket situ ada Pasar Tasik. Buka Senin sama Kamis. Barangnya lebih banyak, harga pedagang, dan—ini penting—baju bordirnya keren-keren."
Titin mengangguk cepat, matanya berbinar. "Wah serius? Tapi Senin sama Kamis kan hari kerja, Min..."
"Nah itu dia. Kita bolos aja sehari," ucap Mimin setengah berbisik sambil melirik sekitar.
Titin tertawa kecil. "Buset, ngajarin orang bolos lo. Tapi oke juga sih. Ajak Aisyah sama Nur juga, biar rame."
Mimin mengangguk. "Sip. Tapi kita butuh alibi yang solid."
Titin langsung menjawab cepat, "Bilang aja ke Bos kita mau ke Yayasan Asia. Ngambil buku sumbangan. Bos pasti percaya."
Mimin tertawa geli. "Lo licik juga ya, Tin."
"Eh, bukan licik. Pintar. Beda tipis," jawab Titin sambil kedip mata.
***
Titin punya geng. Empat perempuan, empat status yang sama: jomblo tulen. Orang diam-diam menjuluki mereka "Geng Jomblo", atau kadang, dengan nada setengah bercanda, “PERTU”—perawan tua. Umur mereka rata-rata sudah kepala empat, bahkan Nur sudah melewati lima puluh. Tapi soal menikah? Bukan prioritas.
Mimin, misalnya, paling modis di antara mereka. Badannya langsing, wajahnya lumayan, dan penampilannya selalu rapi. Tapi daftar syarat calon pasangan yang ia pasang bisa bikin ciut nyali siapa pun yang mendekat: harus sarjana, ekonomi mapan, penampilan menarik, dan—ini yang paling susah—harus "punya wawasan." Entah apa maksud Mimin soal itu, yang jelas semua yang mencoba, akhirnya mundur pelan-pelan, seperti menarik pasukan dari medan perang.
Titin lain lagi. Ia tidak menetapkan syarat tinggi, tapi juga belum bertemu orang yang klik. Perawakannya biasa saja, tidak tinggi, tidak pendek. Wajahnya tidak menonjol, tapi sikapnya selalu ramah dan sopan. Orang nyaman berada di dekatnya. Ada sesuatu dari caranya bicara—pelan tapi jelas—yang membuat lawan bicara merasa dihargai. Mungkin itulah daya tariknya.
Aisyah, si ceplas-ceplos, dikenal karena make up tebal dan lidah yang tajam. Ia bukan tipe yang suka menjaga perasaan orang. Kadang kata-katanya bikin orang tersenyum, tapi tak jarang juga bikin kening berkerut. Prinsip hidupnya sederhana: bebas. Ia selalu bilang, “Kalau punya suami, semua hal harus izin. Hidup macam apa itu?” Maka ia memilih sendiri, dengan keyakinan penuh.
Lalu ada Nur. Ia yang paling besar tubuhnya, dan sering jadi pusat candaan mereka sendiri. Kalau mereka jalan berempat, orang iseng kadang menyebut Nur sebagai "ibu" yang sedang mengasuh tiga anaknya. Tapi Nur santai saja. Ia tahu betul, di antara mereka, ia yang paling lembut dan paling sabar.
Empat perempuan ini seperti satu tim kecil yang tak terpisahkan. Kantin kampus, bazar buku, atau bahkan tempat fotokopi, bisa jadi tempat kumpul mereka. Suasana selalu ramai jika mereka sudah bersama. Canda, tawa, dan kadang rencana spontan yang nyeleneh.
Di balik semua itu, Titin menjalani perannya sebagai pustakawan dengan serius. Ia bukan hanya ahli katalog, tapi seperti GPS hidup bagi dosen-dosen yang malas mencari sendiri. Klasifikasi buku sudah seperti main puzzle baginya—tinggal lihat judul dan sinopsis, ia tahu buku itu tempatnya di mana. Beberapa dosen sampai malas berpikir karena tahu, cukup bilang ke Titin, semua langsung beres. Maka tak heran jika ia jadi ‘anak emas’ di perpustakaan.
Tapi di rumah, situasinya lain. Meski tak pernah bilang langsung, ibunya mulai khawatir. Umur Titin terus berjalan, dan belum ada tanda-tanda akan menikah. Setiap kali ada keluarga kumpul, ada saja pertanyaan basa-basi yang mengarah ke sana. Titin biasanya tersenyum saja. Tapi hatinya tak selalu setenang itu.
***
Suatu malam, saat dapur mulai sepi dan suara televisi tinggal sayup dari ruang tengah, Bu Nisa, Uminya, membuka pembicaraan sambil merapikan toples biskuit.
"Teh, Umi perhatiin... kamu kok enggak pernah bawa teman dekat ya?"
Titin sedang menyapu remah di meja makan, menoleh sebentar. "Teman dekat? Banyak kok, Umi. Ada Mimin, Aisyah, Nur. Tiap hari ketemu, tiap minggu jalan bareng."
Bu Nisa menggeleng pelan. "Yang Umi maksud bukan geng kamu itu. Masak kamu mau kawin sama cewek. Maksud Umi... laki-laki, Teh. Yang datang malam Minggu, duduk manis di ruang tamu."
Titin terkekeh. "Aduh Umi, Teteh tuh enggak mau pusing mikirin cowok dulu. Capek."
"Enggak bisa gitu, Teh," Bu Nisa meletakkan toples agak keras. "Kamu perempuan. Kodratnya menikah. Punya anak. Apalagi umur kamu... ya, kamu tahu sendiri lah."
Titin menghela napas. “Kalau jodohnya belum datang gimana? Masa harus obral diri, banting harga? Malu dong, Umi.”
Bu Nisa melirik dengan tajam tapi lembut. “Umi ngerti. Tapi kamu juga jangan terlalu mahal. Cowok tuh takut sama cewek yang pasang harga tinggi. Tapi jangan juga murahan, ya. Seimbang aja.”
Titin tertawa kecil. “Aduh Umi... Umi kayak agen properti aja, ngomongin harga pasar.”
Bu Nisa ikut tersenyum. “Yang penting jangan menutup diri, Teh. Kamu anak baik. Umi cuma khawatir.”
"Iya, Umi. Teteh ngerti. Kalau ada yang cocok, ya... Insya Allah, nikah juga."
Tapi rupanya Bu Nisa tak mau menunggu. Diam-diam ia mulai bertanya sana-sini. Lewat pengajian, lewat arisan. Sampai akhirnya, muncullah nama dari mulut Bu Yuli—teman ngaji Bu Nisa yang katanya punya anak lelaki, ustaz muda, lulusan pesantren, sekarang mengajar ngaji anak-anak di kampung. “Orangnya sopan, santun, dan insya Allah saleh,” kata Bu Yuli, sambil menyelipkan foto buram yang dicetak dari HP.
Titin hanya melihat sekilas. Senyumnya menggantung, antara geli dan bingung. Ia belum tahu harus bersikap bagaimana.
***
“Teh, malam Minggu nanti, teman Umi mau ke sini,” kata Bu Nisa sambil melipat sajadah. “Katanya mau ngenalin anaknya. Lulusan pesantren. Jadi kamu jangan ke mana-mana, ya.”
Deg.
Titin diam. Dadanya seperti ditusuk pelan. Mau nolak, tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa mengangguk, pelan sekali. Di dalam hati, doa yang muncul justru aneh: “Ya Allah, semoga orang itu enggak cocok sama aku.”
Hari-hari berjalan menuju malam Minggu seperti dihitung mundur. Titin tetap bekerja seperti biasa, tapi pikirannya selalu melayang. Setiap kali melihat cermin, ia bertanya-tanya: Memangnya orang kayak aku masih menarik, ya? Lalu buru-buru mengalihkan pandangan, seolah malu dengan pikirannya sendiri.
Malam Minggu itu akhirnya datang juga. Sejak sore, Umi sudah sibuk mondar-mandir, seperti mau menyambut pejabat. Titin duduk di kamar, memandangi baju yang digantungkan Uminya: gamis pastel yang menurutnya terlalu manis buat suasana hatinya yang masam.
“Teh, dandan dong. Jangan asal kayak gitu. Masa mau ketemu calon, wajahmu lecek gitu?”
“Ini udah dandan, Umi,” jawab Titin, setengah jengkel. “Teteh memang biasanya begini.”
“Sini. Sini. Umi aja yang make-up-in kamu. Biar kelihatan cantik sedikit. Masa mau nikah penampilan gini?”
“Nanti aja, Umi. Abis magrib. Teteh mau wudhu dulu. Biar enggak mubazir make-up-nya.”
Umi menyipitkan mata. “Kan kamu lagi enggak sholat.”
“Eh... iya ya. Teteh lupa,” jawabnya cepat, pura-pura cengengesan. Ketahuan bohong.
Umi mencibir kecil. “Dasar anak. Sini udah, jangan banyak alasan.” Dengan sigap, Bu Nisa mengambil alat rias dan mulai memoles wajah anaknya.
“Jangan tebal-tebal, Umi. Tipis aja, ya. Teteh enggak biasa menor.”
“Tipis kok. Ini lho, pakai kalung ini, sama antingnya. Nih gelang juga sekalian.”
“Umi... banyak banget. Teteh kayak mau kondangan, bukan taaruf.”
“Biar aja. Sekali-sekali tampil cantik. Mana tahu jodohnya nempel malam ini.”
Titin tertawa kecil, getir. Dalam hati, ia belum siap. Tapi ia biarkan saja tangan Uminya terus bergerak di wajahnya. Karena kadang, membahagiakan ibu lebih mudah daripada menjelaskan isi hati.
***
Titin duduk di ruang tamu, tubuhnya tegak tapi jari-jarinya menggenggam ujung kerudung, seperti mencari pegangan. Kepatuhannya pada Uminya membuatnya bertahan malam itu. Padahal hatinya masih galau. Rasanya seperti sedang ikut ujian yang soalnya belum pernah dipelajari.
Sekitar pukul delapan malam, bel pintu berbunyi. Suara sandal diseret dan salam lirih terdengar dari luar. Tamu yang ditunggu akhirnya datang—seorang pemuda jangkung, kira-kira 175 cm, bersarung dan berkopiah, persis seperti yang dibayangkan Titin dari cerita Uminya.
Wajahnya bersih. Sederhana. Dandanan ala santri tulen, kontras dengan tampilan Titin yang khas perempuan kantoran. Tapi ada yang menenangkan dari sorot matanya—diam, tapi sopan.
“Perkenalkan, nama saya Sukardi. Panggil saja Didi,” katanya pelan namun mantap, sambil tersenyum kaku.
“Ini Ibu saya, Bu Yuli. Mohon maaf, Bapak sudah wafat beberapa tahun lalu,” lanjutnya.
“Turut berduka ya, Nak Didi,” kata Bu Nisa dengan nada tulus.
Didi memperkenalkan dua orang lainnya. “Ini Paman Mamat, adik Ibu saya. Dan ini Bi Omah, istrinya Paman.”
Titin mengangguk sopan. Ia hanya mencuri pandang sekilas—cukup untuk menilai bahwa Didi tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan kalau dipoles sedikit, bisa terlihat... lumayan tampan. Badannya kekar, dadanya bidang. Dalam hati Titin menertawakan pikirannya sendiri yang sempat membayangkan diri bersandar di sana.
Setelah beberapa basa-basi, giliran Bu Nisa berbicara. “Saya Nisa, ibunya Titin. Ayahnya sudah lama meninggal, jadi kami tinggal berdua. Maaf ya, kami tidak mengundang saudara, ini kan baru perkenalan.”
Didi mengangguk, lalu menarik napas kecil. “Baik Ibu. Mungkin Ibu Nisa dan Ibu saya sudah sempat bicara sebelumnya. Malam ini saya datang untuk bertaaruf, berkenalan dengan dik Titin. Kalau berkenan, saya akan datang lagi minggu depan untuk mengkhitbah. Semoga selama seminggu ini, dik Titin bisa mempertimbangkan.”
Seketika, ruang tamu terasa lebih sunyi. Semua menunggu respons Bu Nisa.
“Terima kasih ya, Nak Didi. Insya Allah selama seminggu, Titin bisa memikirkan baik-baik. Nanti kita tetap bisa komunikasi ya, Neng Yuli?” katanya sambil melirik ke arah By Yuli.
“Iya, Bu Nisa. Kita kan masih ketemu di pengajian malam Jumat,” jawab Bu Yuli sambil tersenyum.
“Sekarang silakan nikmati hidangan ya. Jangan tegang. Santai saja. Teh... siapkan basonya, ya.”
Titin berdiri, mengangguk. “Iya, Umi.”
“Wah, kok repot banget, Bu Nisa...” kata Bu Yuli.
“Enggak repot kok. Basonya beli, bukan bikin sendiri. Ayo, silakan dinikmati.”
Obrolan malam itu tak menyentuh soal lamaran secara langsung. Lebih banyak basa-basi ringan, candaan tentang cuaca, pekerjaan, dan cerita-cerita kecil kampung. Tapi semuanya tahu, arah pembicaraan sudah digariskan.
Tepat pukul sepuluh, rombongan Didi pamit pulang. Setelah pintu tertutup dan suara motor menjauh, Bu Nisa menoleh ke anaknya.
“Teh... pikirkan baik-baik, ya. Seminggu itu cepat. Umi enggak maksa. Tapi jangan sampai kehilangan kesempatan.”
Titin hanya diam. Malam itu ia tidur dengan mata terbuka, pikirannya penuh tanda tanya.
***
“Guys... gue punya cerita yang bikin gue galau berat,” kata Titin membuka percakapan. Mereka sedang duduk di kantin kampus, empat cangkir teh manis dan empat potong risoles jadi saksi obrolan yang akan segera panas.
“Ceritain dong, Tin,” seru Mimin sambil menyeruput teh.
“Jadi gini… Umi gue ngenalin cowok buat dijodohin. Anak temen pengajiannya. Udah dateng ke rumah malam Minggu kemarin.”
Seketika meja jadi ribut.
“Hah? Lo dijodohin?” Aisyah langsung bereaksi, setengah berdiri. “Gila lo, Tin. Jangan mau! Nanti hidup lo kayak dikurung di kandang ayam. Mau ke minimarket aja mesti izin.”
“Bener!” sahut Mimin cepat. “Saudara gue abis nikah malah kayak ART. Bangun subuh, nyuci, nyetrika, suapin anak. Udah gitu suaminya manja banget. Disuruh-suruh mulu. Daster lusuh tiap hari!”
Aisyah nyengir. “Seragam resmi para istri ya: daster dan muka lelah.”
Nur hanya diam. Tapi ekspresi wajahnya cukup bicara—seperti ada kekhawatiran kehilangan ‘satu pasukan’.
“Eh Nur, lo jangan cuma diam. Lo enggak kasihan sama Titin?” desak Aisyah.
Nur menghela napas. “Menurut aku sih... ya tergantung Titin. Kan dia yang bakal jalanin. Mau bahagia, mau sengsara, ya dia yang nentuin. Kita sih kasih pendapat boleh, tapi jangan maksa.”
Titin mengangguk pelan. Ia tersenyum, meski matanya redup. “Thanks ya, kalian peduli. Tapi... gue kayaknya butuh ngobrol sama Tuhan dulu.”
Obrolan pun bubar. Tapi kata-kata mereka menempel di kepala Titin sepanjang hari. Malamnya, ia tidak bisa tidur. Ia merasa sendiri di tengah suara-suara ramai itu.
Keesokan harinya, di sela pekerjaan, pikiran Titin melayang ke satu nama: Lukman. Rekan kerja yang jauh lebih muda, tapi sudah berkeluarga dan dikenal bijak.
Mungkin dia bisa ngasih pandangan yang netral. Enggak pro, enggak kontra. Dan yang penting... dia enggak menghakimi.
Titin pun memberanikan diri. Ia menghampiri meja Lukman saat suasana mulai sepi.
“Man, ada waktu enggak? Teteh mau curhat dikit.”
Lukman menoleh dan tersenyum ramah. “Ada, Teh. Kerjaan udah kelar.”
“Nanti waktu istirahat, kita ngobrol di kantin, ya. Cari waktu yang sepi. Teteh traktir.”
“Siap, asal menunya bukan baso instan,” candanya.
Titin tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak malam taaruf itu, hatinya terasa sedikit lebih ringan.
***
Siang itu, Titin dan Lukman berjalan ke kantin. Mereka sengaja turun agak telat, supaya suasana lebih sepi. Saat mereka duduk dan memesan teh manis serta mie goreng, Titin langsung membuka percakapan.
“Man… Teteh lagi galau berat,” katanya pelan.
Lukman menoleh. “Kenapa, Teh?”
“Ada yang datang taaruf ke rumah. Katanya minggu depan mau datang lagi buat ngelamar.”
Lukman tersenyum. “Wah, alhamdulillah dong. Udah ada yang serius. Itu namanya jodoh mulai kelihatan.”
Titin mendesah. “Justru itu masalahnya. Teman-teman Teteh banyak yang enggak setuju. Kata mereka, nikah cuma bikin terkurung. Beban doang.”
Lukman diam sebentar, lalu bertanya pelan, “Teteh sendiri ragu karena... takut kehilangan teman?”
Titin mengangguk. “Iya. Dan takut enggak bebas lagi.”
Lukman menyesap tehnya, lalu berkata tenang, “Tapi Teh… menikah itu sunah Nabi. Termasuk ibadah. Di Al-Quran juga banyak ayat yang menganjurkan.”
“Emang ada? Coba, apa contohnya?” Titin penasaran.
Lukman menggaruk kepalanya. “Saya lupa lengkapnya. Tapi ada ayat begini, ‘Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu...’ Itu di surat An-Nur. Sama satu lagi, ‘Allah menjadikan pasangan dari jenis kamu sendiri, lalu memberimu anak dan cucu...’ Pokoknya intinya, nikah itu bukan cuma soal status, tapi juga jalan rezeki.”
Titin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Terus ada juga hadis,” lanjut Lukman, “Rasulullah bilang, ‘Menikah itu bagian dari sunahku. Siapa yang tidak mengamalkannya, ia bukan dari golonganku.’ Gitu, Teh. Saya bukan ustaz, tapi itu yang saya ingat.”
Titin menunduk. “Astaghfirullah... Kenapa Teteh malah lupa hal-hal kayak gitu, ya... Makasih, Man. Serius. Omongan kamu kayak tamparan yang halus.”
Setelah percakapan itu, keputusan dalam hati Titin bulat. Malam harinya, sepulang kerja, ia langsung menghampiri ibunya.
“Umi… Teteh udah punya jawaban soal Kang Didi.”
Ibunya menoleh penuh harap. “Iya, Nak? Gimana?”
“Setelah Teteh konsultasi ke beberapa orang, sholat istikharah juga... Titin memutuskan, insya Allah, mau menerima khitbahnya.”
“Alhamdulillah...” ucap Bu Nisa sambil menyentuh lengan anaknya. “Teman kamu setuju juga?”
Titin menggeleng. “Justru teman dekat Teteh yang enggak dukung. Tapi ada satu teman kerja, yang usianya lebih muda, tapi sudah menikah. Dia yang bikin Teteh mikir. Dia bilang, menikah itu ibadah. Jalan sunah Nabi.”
Bu Nisa tersenyum lega. “Masya Allah… pintar juga teman kamu itu.”
“Dia bahkan ngasih kutipan ayat dan hadis, Umi. Teteh jadi sadar, Teteh enggak perlu takut ditinggalin teman. Kalau niatnya baik, Allah pasti cukupkan yang lain.”
“Betul, Tin. Dan teman sejati itu, bukan yang nahan kamu dari kebaikan, tapi yang dorong kamu untuk lebih dekat ke Allah.”
“Terus, langkah kita selanjutnya apa, Umi?” tanya Titin, suaranya lebih ringan dari sebelumnya.
“Kita tunggu saja kedatangan keluarga Didi seperti yang mereka janjikan,” jawab Bu Nisa sambil tersenyum. “Tapi biar tidak menggantung, Umi telepon dulu Tante Yuli. Kasih tahu supaya mereka enggak perlu ragu lagi.”
Titin mengangguk. “Baik, Umi. Makasih ya, udah menjodohkan Teteh dengan Kang Didi.”
Bu Nisa menatap anaknya dengan lembut. “Jangan berterima kasih ke Umi, Nak. Bersyukur lah kepada Allah. Ini semua kehendak-Nya.”
Titin menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Iya, Umi.”
Ia beranjak, mengambil air wudu. Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi, ia sujud syukur. Butiran air di wajahnya bukan hanya sisa wudu, tapi juga rasa lega. Semua keraguan yang sempat bergelayut, kini luruh.
***
Malam Minggu berikutnya.
Rumah Titin lebih ramai dari biasanya. Keluarga Didi datang sesuai janji. Tidak ada lagi pertanyaan “diterima atau tidak?” karena jawaban sudah jelas. Tapi tetap, ada kehangatan yang berbeda dalam pertemuan kali ini.
Didi datang dengan setelan yang lebih rapi dari sebelumnya—tanpa sarung, hanya baju koko yang sederhana tapi bersih. Ada binar di matanya saat melihat Titin, yang malam itu memakai gamis biru muda, sederhana tapi anggun.
Percakapan mengalir lebih santai. Kali ini, bukan hanya perkenalan. Mereka mulai bicara tentang rencana. Tanggal akad, lokasi, persiapan sederhana. Tak ada pesta besar. Hanya keluarga dekat dan sahabat-sahabat sejati.
***
Beberapa bulan kemudian.
Hari itu, Titin berdiri di depan cermin. Gamis putihnya jatuh lembut di tubuhnya. Riasannya sederhana, tapi cukup membuat wajahnya bercahaya.
Di luar, tamu-tamu mulai berdatangan. Pernikahannya berlangsung dalam kesederhanaan. Hanya keluarga, sahabat, dan kelompok pengajian Bu Nisa yang hadir.
Di antara tamu, tampak Mimin, Aisyah, dan Nur. Mereka tak lagi berkomentar soal pernikahan Titin. Bahkan Aisyah, yang dulu paling keras menentang, kini justru memeluknya erat.
“Lo yakin, Tin?” bisik Aisyah setengah bercanda.
Titin tertawa kecil. “Lebih dari yakin.”
Mimin ikut tersenyum. “Ya udah, kalau lo bahagia, kita juga ikut bahagia.”
Nur mengangguk. “Hidup lo berubah, Tin. Tapi itu bukan berarti kita kehilangan lo. Tetep ada, kan?”
Titin mengangguk mantap. “Selalu.”
Di kejauhan, Didi sedang berbincang dengan beberapa saudara. Tatapan matanya sesekali mencari-cari Titin, lalu tersenyum saat menemukannya.
Titin menarik napas panjang. Dulu, ia sempat ragu. Takut kehilangan dunianya. Tapi kini, ia sadar. Pernikahan bukan akhir kebebasannya—hanya awal dari babak baru dalam hidupnya.