Senin, 18 Agustus 2025

Cinta itu Perlahan Tumbuh

Rumah Pak Rahmat menempel persis ke kontrakanku, jadi sulit mengabaikannya. Pak Rahmat pensiunan PNS, hidup tenang bersama istri dan beberapa anaknya. Salah satu anaknya, Agustini — biasa dipanggil Tini — kelas XI SMA, sering jadi wajah pertama yang kutemui tiap pagi.

Tini manis, sopan, dan senyumnya seperti tak pernah kehabisan tenaga. Pagi-pagi, dari teras rumahnya dia sering melambaikan tangan sambil menyapa.

“Pagi, Mas Arman. Sudah sarapan belum?”
Aku biasanya cuma mengangguk singkat. “Sudah,” padahal kadang perutku masih kosong. Aku jarang menatap wajahnya penuh, bukan karena sombong — pikiranku sudah penuh oleh kuliah, nilai, dan beban yang tak berhenti.

Buatku, dia masih anak-anak. Dunia SMA itu terasa ringan: penuh tawa yang mudah pecah. Sabtu sore, rumah Pak Rahmat sering riuh. Teman-teman Tini berkumpul, rujakan di meja, musik diputar, kadang karaoke lagu pop remaja sampai halaman bergetar. Suara-suara itu sempat menggangguku; lama-lama malah jadi pengingat bahwa hidup tidak selamanya setegang pikiranku.

Aku tetap menjaga jarak. Jarang keluar kamar, dan jika lewat depan teras, aku menunduk dan mempercepat langkah. Sekali waktu, ketika aku pulang kuliah, Tini memanggil dari teras:
“Mas Arman, ikut rujakan yuk! Teman-teman aku pengin kenalan.”

Aku tersenyum canggung. “Nggak, makasih. Saya capek.”
Dari balik pintu, tawa mereka menjewer telingaku: “Masnya pemalu!” “Atau galak ya? Nggak suka anak SMA?” “Atau… Mas Arman udah punya pacar diam-diam!” Canda itu ringan, tanpa maksud jahat. Tapi bagiku, dunia mereka terasa jauh. Aku tak punya ruang untuk bermain di situ — bahkan tersenyum pun sering harus kuambil dari sisa tenaga yang menipis.

Namun, setiap kali Tini menyapa dengan ceria, sesuatu di tubuh ini mengendur sedikit. Dunia yang selama ini serba kelabu mendadak agak berwarna. Bukan cinta yang tiba-tiba datang — paling tidak belum — tapi sebuah pengingat: mungkin hidup tak selalu harus ditanggapi dengan kepala tertunduk dan napas berat.

Tanpa kusadari, namanya mulai lebih sering mampir di kepalaku. Bukan sebagai beban atau gangguan, melainkan sebagai titik kecil yang mengingatkanku bahwa masih ada hal-hal ringan yang layak dicari.

***

Sore itu hujan turun deras. Aku duduk di kamar, berusaha membaca diktat, tapi suara hujan di atap seng membuat semua kalimat di halaman seperti kabur.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. “Mas Arman!” Suara Tini, diiringi riuh tawa dari teras rumahnya.
Aku membuka pintu. Dia berdiri di depan, rambutnya sedikit basah, memegang payung kecil.
“Ayo, Mas, nonton bareng di rumah. Lagi hujan, asik banget nih.”

Aku spontan mau menolak — alasanku sudah siap: banyak tugas, pusing, atau sekadar malas. Tapi sebelum keluar kata-kata itu, Tini menambahkan, “Bapak sama Ibu juga nonton, kok. Nggak rame-rame, cuma keluarga.”

Entah kenapa aku mengangguk. Mungkin karena suasana hujan membuatku malas sendirian.

Di ruang tamu rumah Pak Rahmat, TV sudah menyala. Ada film lawas yang pernah kutonton waktu kecil. Tini duduk di karpet, bersandar ke sofa. Aku duduk di kursi samping Bapak dan Ibu, agak kaku.

Hujan di luar jadi latar suara yang pas. Ada aroma kopi dari meja, dan semangkuk kacang goreng yang langsung disodorkan ke arahku. “Nih, Mas,” kata Tini sambil tersenyum.

Film itu membuatku sesekali ikut tertawa. Rasanya aneh, karena sudah lama aku tidak duduk santai begini — apalagi bersama orang lain. Bahkan, di tengah cerita, aku nyaris lupa kalau seharusnya aku sedang “sibuk” atau “terlalu dewasa” untuk momen-momen seperti ini.

Berita malam menyusul setelah film usai. Lampu ruang tamu terasa hangat, suara hujan mereda, dan aku belum juga merasa ingin pulang.

***

Berita selesai. Musik penutup terdengar. Tapi aku tidak segera berdiri.

Tini masih duduk di sebelahku, mengayun-ayunkan kakinya pelan. Matanya berbinar, seolah sedang menikmati peran barunya malam ini.

Aku menoleh, iseng berkata, “Tin, aku bisa baca garis tanganmu, lho.”

Tini mengangkat alis. “Serius?”
“Serius dong. Sini, kasih tanganmu.”

Tini menyodorkan tangan kanannya dengan tawa geli.
Aku pura-pura mengamati dengan seksama, mengernyitkan dahi seperti peramal sungguhan. “Hmm… ini artinya… kamu suka cerewet.”

Tini tertawa. “Ih, itu sih bukan ramalan. Semua orang juga tahu!”
“Terus ini…” Aku menunjuk garis lain, “kamu… bakal jadi orang penting suatu hari nanti.”

Tini memiringkan kepala. “Masa sih?”
“Iya. Tapi yang paling penting…” Aku menatapnya sebentar sebelum kembali berpura-pura serius, “kamu bakal deket sama cowok yang suka nonton berita malam.”

Tini terdiam sejenak, lalu menutup wajahnya sambil tertawa malu.
“Mas Arman ini bisa aja…”

Aku tersenyum, kali ini tulus. Malam itu, tanpa rencana, tanpa genggaman tangan, atau janji-janji manis, kami mulai menemukan ruang kecil di antara dunia kami yang selama ini terasa jauh.

“Aduh, garis cintanya panjang, Mas...” Tini terkikik sambil menarik tangannya dari genggamanku. Aku pura-pura merenung serius, lalu mengangguk-angguk seperti peramal kampung yang sedang membaca nasib. Dia tertawa lagi, matanya menyipit, bibirnya terangkat sempurna. Senyum yang entah kenapa terasa bertahan lebih lama dari seharusnya.

Malam itu berlalu seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, setidaknya begitu pikirku. Tapi entah mengapa, saat aku berbaring di tempat tidur kontrakan, senyum itu masih saja terbayang.

***

Libur panjang akhirnya datang juga. Ujian perbaikan yang sempat membuatku nyaris putus asa akhirnya terlewati dengan hasil yang cukup. Tidak sempurna, tapi cukup untuk membuatku bernapas lega. Semester genap pun berakhir. Dan untuk pertama kalinya dalam setahun ini, aku pulang kampung tanpa beban menggantung.
Kampungku masih seperti dulu—jalan tanah yang berdebu, suara ayam berkokok dari balik pagar bambu, dan anak-anak kecil berlari-lari di sore hari. Tapi bagiku, semua itu terasa sedikit asing sekarang. Teman-teman sepermainan sudah banyak berubah. Ada yang bekerja sebagai guru, pegawai desa, atau ikut keluarga berdagang. Aku mencoba menemui beberapa, tapi percakapan terasa canggung. Seperti kaset lama yang diputar di pemutar baru—tak lagi cocok.
Hari-hariku diisi dengan membantu orang tua di kebun kecil belakang rumah, membaca buku-buku lama, dan sesekali menonton televisi yang siarannya lebih sering kabur daripada jelas. Malam tiba cepat. Dan justru di malam-malam itu, perlahan-lahan muncul sesuatu yang belum pernah benar-benar kusadari.
Senyum Tini.
Sederhana, hangat, dan entah kenapa... menetap. Aku mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu kuanggap sepele—cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga saat tertawa, suara sepatunya di lantai keramik saat masuk ruang TV, atau tatapan mata jenakanya ketika aku meramal garis tangannya.
Semakin sunyi kampung, semakin sering bayangan itu datang. Kadang muncul saat aku mencuci piring. Kadang ketika duduk di beranda, memandangi langit senja. Tanpa kusadari, perasaan itu tumbuh. Diam-diam.
Aku mencoba mengabaikannya. Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri, Dia masih SMA, Man. Belum waktunya. Tapi suara logika itu semakin lemah, terutama ketika yang terngiang justru suaranya, tertawa ringan sambil berkata, “Mas Arman ini bisa aja...”

Malam itu aku duduk di bangku panjang depan rumah, diterangi cahaya kuning redup dari lampu gantung. Di sekeliling hanya ada jangkrik, angin malam, dan hatiku yang mulai terasa ramai.
Untuk pertama kalinya sejak aku mulai kuliah, ada seseorang yang hadir di pikiranku bukan sebagai beban atau tanggung jawab—tapi sebagai kemungkinan.

Perjuangan

Oleh Abdul Rahman Saleh

Perpustakaan sore itu begitu hening, tapi kepalaku justru riuh. Jari-jariku tak berhenti mengetuk meja kayu yang kusam, seolah ikut menghitung detak panik di dadaku. Di layar ponsel, daftar nilai semester ini terpampang jelas: dua mata kuliah harus kuulang. Dua. Sesuatu di mataku terasa panas—antara lelah dan kecewa.

Di depanku, Didi duduk layu. Bahunya merosot, wajahnya kusut. Kertas hasil ujian diremas-remas di tangannya, bunyinya seperti plastik kresek yang tak sabar dirobek.

“Man,” suaranya serak, “kalau ujian ulang kali ini aku nggak lulus juga… kayaknya aku berhenti kuliah.”

Aku menoleh cepat. “Serius, Di?”

Dia hanya mengangguk, pelan tapi pasti. “Capek, Man. Bener-bener capek. Udah begadang tiap malam, belajar sampai kepala mau pecah, tapi tetap nggak cukup. Kalau aku balik ke kampung, setidaknya bisa bantu orang tua. Kerja. Nggak nyusahin mereka terus.”

Aku menarik napas panjang. Tiba-tiba detak jam dinding terdengar begitu keras, seperti ikut menertawakan kebisuan kami.

“Jangan buru-buru mutusin, Di. Kita jalanin aja dulu,” ujarku, mencoba tenang. “Masih ada waktu. Masih bisa diperjuangkan.”

Didi terkekeh hambar. “Berapa kali kita ngomong kayak gitu? Tiap semester selalu sama. Kita bilang ‘jalanin aja dulu’, tapi nyatanya makin berat. Hidup kita cuma isi deadline, dosen, revisi, sama… kecemasan.”

Aku tak membantah. Kata-katanya menampar, tepat di pipi yang sudah perih. Bahkan Minggu pun terasa Senin. Kata “libur” hanya hiasan di kalender—beban tetap menempel.

“Dan soal cinta…” Didi menyunggingkan senyum getir. “Kata orang, kuliah itu masa indah: buku, pesta, cinta. Kita? Buku iya. Pesta? Cinta? Mana sempet. Yang ada cinta bertepuk sebelah tangan sama… dosen penguji.”

Aku tak tahan untuk tidak tertawa. “Cinta bertepuk sebelah tangan sama IPK.”

Tawa kami pecah. Lirih, sebentar, seperti lilin yang nyala di tengah gerimis. Ada sedih yang terselip di situ. Jujur saja, mungkin hanya obrolan seperti ini yang membuat kami masih bertahan. Menyisipkan tawa di tengah rasa ingin menyerah.

“Gue cuma pengen lulus, Man,” suara Didi menurun satu nada. “Nggak minta cumlaude, nggak minta dipuji. Cuma lulus. Itu aja sekarang rasanya mewah banget.”

Aku terdiam. Diam-diam aku pun sama: hanya ingin tidak tenggelam.

***

Malam itu, aku duduk di ranjang kos yang sempit. Kamarku dua kali tiga meter, penuh tempelan catatan dan coretan yang makin mirip peta jalur kereta api. Kasurnya berdecit tiap aku bergerak, meja belajarnya pincang, rak plastiknya miring.

Aku merapatkan mata sebentar. Kangen. Kangen rumah, kangen jadi anak kecil yang masalah terbesarnya hanya PR matematika. Di sini masalahku jauh lebih rumit. Rasanya seperti lari maraton dengan kaki terikat, atau tanding tinju dengan banyak lawan: tekanan, rasa minder, ketakutan gagal membanggakan orang tua.

Orang-orang mungkin melihatku sebagai anak daerah berprestasi dengan beasiswa. Mereka tidak tahu kalau tiap malam aku harus menahan dingin demi mengirit listrik. Mereka tidak tahu perutku kadang kosong karena uang saku menipis. Mereka tidak tahu senyumku di kampus hanyalah topeng untuk menutup letih dan malu. Malu karena laptopku sering mati sendiri, malu karena aku tertinggal dalam diskusi, malu karena merasa tak selevel dengan teman-teman yang otaknya sudah diasah sejak kecil.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri: salahkah aku bermimpi sebesar ini? Bukankah lebih mudah jika aku tetap di kampung, jadi guru honorer, lalu hidup sederhana? Tapi tiap kali ingin menyerah, aku teringat tatapan ayah dan ibu ketika aku bilang diterima di universitas negeri. Tatapan itu seperti obor di kegelapan. Dan obor itu tidak boleh mati.

Aku di sini bukan hanya untuk bertahan hidup. Aku ingin membuktikan. Bukan cuma kepada orang tua, tapi juga kepada diriku sendiri, bahwa anak dari lereng bukit kecil ini juga bisa. Bisa sejajar, bisa sukses, bisa membanggakan. Walaupun jalannya penuh kerikil tajam, walaupun napas tersengal, aku tidak boleh berhenti.

Didi pun sama. Anak nelayan dari Madura, dari kampung yang sinyal ponselnya masih seperti hantu—kadang ada, kadang tidak. Dia juga anak daerah berprestasi yang masuk tanpa tes. Tapi di ruang kuliah, tidak ada kata kesempatan jika lawanmu sudah dilatih menang sejak lahir.

Aku teringat ucapan ibu sebelum berangkat:
“Nak, kamu nggak harus jadi yang terbaik. Cukup jadi orang yang nggak nyerah.”

Dulu aku percaya. Sekarang? Entahlah. Tapi mungkin benar, nyerah bukan pilihan.

Tok-tok. Pintu diketuk pelan. Didi muncul dengan dua gelas kopi sachet yang sudah dingin. Ia menaruhnya di meja.

“Minum dulu, Man. Biar nggak makin pening.”

Aku tersenyum tipis. “Thanks, Di.”

Kami duduk diam. Menyruput kopi murahan yang rasanya kalah oleh sendok besi. Tapi dalam diam itu, aku tahu satu hal: kami sama-sama lelah… tapi belum menyerah.

 

Senin, 11 Agustus 2025

Cinta Itu Mulai Merekah

 Abdul Rahman Saleh

Liburan panjang hampir usai. Aku bersiap kembali ke kampus. Tak banyak yang kubawa—hanya satu ransel besar dan sebuah dus kecil berisi oleh-oleh.
Sebelum berangkat, aku meminta Ibu membelikan sesuatu yang khas kampung. Sekadar buah tangan, meski tak ada yang istimewa. Ibu memilih keripik singkong dan dodol pisang buatan tetangga. Sederhana, tapi cukup membawa aroma rumah ke perantauan.

Perjalanan naik bus terasa biasa saja. Aku hanya menatap keluar jendela, membiarkan pemandangan berganti tanpa kucatat. Sampai akhirnya aku tiba di kontrakan: deretan rumah tua bercat pudar, halamannya dipenuhi rumput liar. Pintu kubuka dengan kunci cadangan di saku. Hening. Belum ada satu pun dari lima temanku yang pulang.

Karena aku yang pertama tiba, tugas bersih-bersih jatuh ke tanganku. Menyapu ruang tengah, menggosok kamar mandi yang nyaris berlumut, mengepel lantai berdebu. Keringat membasahi leher kausku, tapi ada rasa puas melihat lantai kembali mengilap.

Menjelang sore, tubuhku lelah. Aku rebahan di ruang tengah, niatnya sebentar saja, tapi mata lebih dulu menyerah. Suara adzan magrib membangunkanku—samar, seperti dari mimpi.

Setelah salat, aku menuju dapur kecil. Satu bungkus mie instan kupilih dari laci. Air mendidih, uapnya mengepul. Suapan pertama menghangatkan perut kosongku. Suapan kedua membuatku sadar: rumah ini kembali menjadi dunia kecilku. Tempatku berjuang. Tempatku belajar hidup. Dan mungkin... tempatku membuka hati.

Mataku melirik pintu belakang yang menghadap ke rumah Pak Rahmat. Lampu ruang tamu menyala, suara tawa samar terdengar. Aku tersenyum kecil. Belum bertemu Tini, tapi entah kenapa, aku merasa ia sudah ada—dalam pikiranku, dalam jeda sunyi sore tadi, dan kini, di suapan mie yang terasa sedikit lebih manis.

***

Malamnya, aku membawa dus oleh-oleh itu ke rumah Pak Rahmat. Hanya ingin bersopan santun. Tapi entah kenapa, langkahku terasa lebih ringan.

Ketukan pelan di pintu dibalas suara langkah. Pintu terbuka, dan di baliknya, Tini berdiri.
“Oh, Mas Arman,” katanya agak terkejut, lalu tersenyum cerah. “Masuk, Mas.”

Aku mengangkat dus di tangan. “Ini oleh-oleh dari kampung. Untuk Bapak dan Ibu.”

“Wah, makasih. Masuk dulu. Bapak sama Ibu lagi ke rumah sakit nengok temannya. Ini Sari, temanku. Aku takut sendirian.”

Sari melambaikan tangan dari ruang tamu. Aku mengangguk, lalu duduk di kursi rotan dekat jendela. Obrolan pun mengalir—tentang liburan dan lainnya.

“Bus-nya mogok, Mas?” tanya Tini, matanya membulat.

“Cuma sebentar. Untung nggak panas,” jawabku.

“Kampungnya jauh, ya?” Sari menimpali.

“Lumayan. Sinyal cuma ada di atas pohon jambu,” kataku sambil tersenyum.

Tini tertawa, “Mas Arman naik pohon juga?”

Aku mengangkat alis. “Kalau perlu, demi kirim pesan ke kamu, ya naik.”

Tini terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

Hingga akhirnya pagar rumah berderit. Pak dan Bu Rahmat pulang. Setelah basa-basi, Sari pamit. Menyisakan aku dan Tini berdua.

“Aku senang Mas Arman pulang lebih awal,” katanya pelan, menatap mug teh di tangannya. “Rumah ini sepi kalau teman-teman Mas belum balik.”

“Aku juga nggak nyangka betah ngobrol begini,” jawabku, setengah bergumam.

Tini tersenyum. “Besok-besok, jangan cuma antar oleh-oleh. Antar cerita juga.”

Malam itu, aku tahu, rasa yang selama ini hanya sekilas... mulai tumbuh.

***

Jam hampir pukul sepuluh.

“Pulang dulu ah,” kataku sambil berdiri.

“Baru sebentar,” protesnya.

“Kalau lama-lama, nanti jadi omongan.”

“Ah, Mas ini. Rumah cuma selemparan batu.”

“Justru karena dekat.”

Kami berjalan di halaman sempit. Lampu teras di belakang membuat bayangan tubuh kami memanjang di tanah.

“Aku masih kangen,” katanya lirih.

Aku meliriknya. “Baru juga ketemu.”

“Ya kan libur kemarin kita lama nggak ketemu.”

“Nah, makanya sekarang udah ketemu.”

Dia tersenyum miring, tidak menjawab. Sampai kami tiba di pintu kontrakanku. Tini menyandar di kusen, cahaya lampu membingkai wajahnya.
“Mas...” panggilnya, suara nyaris tak terdengar.

Aku menatapnya, dan sebelum aku sempat berpikir, jarak itu menghilang. Bibir kami bertemu—hangat, lembut, tapi memukul keras di dada.

Saat terpisah, pipinya merah.

“Mas Arman... nakal.”

“Aku serius,” kataku. “Mau nggak... jadi pacar Mas?”

Dia menggigit bibir, menunduk sedikit. “Tapi Ibu keras.”

“Kita diam-diam aja. Nggak ada yang harus tahu dulu.”

Matanya mengangkat, berbinar. “Janji?”

“Janji.”

Dia berjalan pelan ke rumahnya. Aku berdiri di ambang pintu, napas berat, jantung berdetak cepat. Malam ini, rasanya... aku baru saja membuka pintu ke sesuatu yang besar.

Di Antara Hujan dan Senyum

 Oleh Abdul Rahman Saleh

Di bawah gerimis sore, sebuah genggaman tangan membuka pintu pada rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Namun, di balik senyum hangat dan janji pulang bersama, ada kenyataan yang perlahan mengaburkan harapan. Di Antara Hujan dan Senyum adalah kisah sederhana tentang manisnya awal, getirnya akhir, dan keberanian untuk melepaskan sebelum luka menjadi terlalu dalam.

Praktikum Kimia baru saja usai. Bau bahan kimia masih menempel di bajuku saat aku keluar dari lab bersama Bonar, Hastuti, Warni, dan beberapa teman kelompok. Di luar, langit kelabu seperti kanvas yang siap diguyur hujan. Angin membawa aroma tanah basah yang membuat langkah kami terasa lebih cepat.

Rintik-rintik mulai jatuh, menitik di rambut dan pundak. Kami bergegas menuju pondokan masing-masing. Di pertigaan, Bonar melambaikan tangan sebelum berbelok ke arah kosannya. Kini hanya aku dan Hastuti.

Kami berjalan berdampingan. Sesekali, suara hujan memecah keheningan di antara kami. Ketika hendak menyeberang, tiba-tiba Hastuti meraih tanganku.
“Aku pegangan, ya,” ucapnya pelan, matanya sekilas menatapku.

“Oh… ya,” jawabku, nyaris gugup.

Jemarinya hangat, kontras dengan udara dingin yang mulai menusuk kulit. Aku tak sekadar membiarkannya menggenggam; aku ikut mengeratkan. Saat itu, aku merasa dunia menyempit—tinggal aku, dia, dan suara hujan yang membungkus kami.

Sesampainya di kosannya, Hastuti menoleh, tersenyum, lalu melangkah masuk.
Aku melanjutkan perjalanan sendirian, dengan telapak tangan yang masih terasa hangat.

-----

Sesampainya di kosan, aku tak langsung masuk kamar. Aku duduk di kursi kayu di teras, membiarkan sisa gerimis membasahi ujung celana. Pikiranku masih tertinggal di jalan tadi, di genggaman tangan Hastuti yang… entah kenapa terasa lebih dari sekadar pegangan.

Maklum, aku belum pernah punya pacar. Belum pernah merasakan hal-hal yang katanya “bikin jantung deg-degan” itu. Dan barusan, rasanya jantungku tak cuma deg-degan, tapi seperti berlari maraton.

Aku mencoba berpikir logis. Mungkin dia hanya minta perlindungan waktu menyeberang. Ya, itu wajar. Tapi… kalau hanya itu, kenapa genggamannya tak dilepas sampai kami tiba di depan kosannya? Bahkan, aku sempat merasa ia mengeratkan genggaman itu di tengah perjalanan.

Aku memegang telapak tanganku sendiri, seolah mencoba mengulang rasa hangat yang tadi. “Apa… ini isyarat?” gumamku pelan.
Aku mengacak rambut sendiri, bingung sekaligus senang. Otakku pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan, tapi hatiku… entah kenapa, berharap besok hujan lagi.

-----

Pagi itu matahari bersinar malu-malu, masih ada sisa basah di jalan dari hujan semalam. Aku berangkat kuliah lebih pagi dari biasanya. Di pelataran kampus, aku melihat Hastuti. Dia berdiri di dekat tangga gedung, mengenakan blus putih sederhana dan jilbab warna biru langit.

“Pagi,” sapanya.
“Pagi,” jawabku, agak gugup.

“Kamu semalam sampai kosan nggak kehujanan, kan?”
“Kehujanan sih… tapi nggak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum.

Sesaat ia menunduk, lalu berkata, “Baguslah… kalau begitu.”

Saat hendak masuk kelas, ia berbisik pelan, “Eh… nanti pulangnya bareng, ya?”
Degup jantungku langsung berubah ritme. Seolah dunia memberi isyarat: mungkin semalam bukan kebetulan.

-----

Jam kuliah akhirnya berakhir. Dari ujung lorong, aku melihat Hastuti sudah menunggu di dekat jendela besar. “Ayo,” katanya sambil tersenyum.

Kami berjalan keluar kampus. Langit sore mulai kelabu, dan tak lama gerimis turun lagi. Kali ini, tanpa permisi, Hastuti langsung menggenggam tanganku. Genggamannya erat, seolah memang sudah menjadi haknya.

“Aku suka hujan,” katanya pelan. “Apalagi kalau pulangnya bareng.”
“Aku juga,” jawabku, hampir berbisik.

Di depan kosannya, ia berhenti tapi belum melepas tanganku. “Kayaknya… kamu enak diajak bareng pulang. Besok… mau lagi?”
“Besok, lusa… dan seterusnya juga mau,” jawabku sambil tertawa kecil.

-----

Sore itu, sebelum masuk ke kosannya, aku memberanikan diri bertanya, “Tut… besok malam minggu, boleh aku ke kosanmu?”
“Datang aja,” jawabnya singkat.

Malam minggu itu, aku bersiap rapi, hati penuh percaya diri. Namun, begitu sampai di depan pintunya, langkahku terhenti. Dari pintu yang setengah terbuka, aku melihat ruang tamu. Di sana, sudah duduk seorang pria yang sangat kukenal—kakak kelasku. Bukan hanya di universitas, tapi juga di SMA dulu. Ia bercakap-cakap santai dengan Hastuti, seakan keberadaannya di sana sudah lama dan wajar.

Semua percaya diri yang kubawa runtuh seketika. Aku berbalik, berjalan pulang dalam gerimis. Malam minggu yang kubayangkan penuh senyum berubah jadi malam minggu kelabu.

-----

Akhirnya aku sadar, persainganku dengan kakak kelasku itu nyaris mustahil aku menangkan. Hastuti memang satu fakultas dengannya, sedangkan aku di fakultas lain. Pertemuan mereka pasti lebih sering, lebih intens, lebih banyak kesempatan yang tak mungkin kumiliki.

Sejak malam itu, aku mencoba menjaga jarak. Mumpung belum terlalu dalam aku menanam benih cinta, lebih baik aku bunuh cinta itu sekarang… sebelum nantinya aku malah lebih terluka.

Namun, membunuh rasa ternyata tidak semudah memutuskan. Setiap kali melihatnya dari jauh, senyum itu masih sama, tatapan itu masih mampu mengaduk-aduk hatiku. Dan yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa mungkin, dalam kisahnya, aku hanya tokoh singgahan—bukan pemeran utama.

 

Sabtu, 09 Agustus 2025

Cinta Monyet

Karya: AbdulRSaleh

Aku masih SMP waktu itu. Masih bau keringat dan belum bisa pakai parfum. Tapi satu hal yang sudah kutekuni sejak kecil: aku jago main catur. Bapak yang mengajariku sejak aku kelas tiga SD, dan sejak itu, papan catur seperti teman kedua setelah buku pelajaran.

Tetanggaku, Pak Daud, adalah orang terkaya di kompleks kami. Mungkin juga terkaya di kota kami. Rumahnya besar, halamannya luas, dan mobilnya lebih dari satu. Bahkan di tempat lain masih ada empat lagi rumahnya. Tapi yang membuatku akrab dengannya bukan karena kekayaannya, melainkan karena kesukaannya pada catur.

Hampir tiap malam, aku dipanggil ke rumahnya.

“Catur, Le,” begitu katanya setiap habis magrib sambil berdiri di depan pagar, memanggil dari teras. “Ayo, siapa tahu malam ini Bapak bisa menang.”

Tentu saja tidak pernah menang. Tapi beliau tidak pernah kapok. Katanya, bermain denganku membuatnya awet muda. Aku tertawa saja, padahal diam-diam aku juga belajar dari setiap langkah liciknya yang selalu membuatku berpikir dua kali.

Rumahnya terasa nyaman bagiku. Mewah, tapi tidak membuatku canggung. Mungkin karena aku sering ke sana, atau karena aku merasa dihargai. Tapi jujur, satu hal yang membuatku sedikit gelisah akhir-akhir ini: anak perempuannya.

Yaya.

Nama lengkapnya Cahaya. Anak sulung dari delapan bersaudara. Usianya hanya terpaut satu tahun dariku, makanya dia menjadi adik kelasku di SMP.

Awalnya aku tak pernah memperhatikannya. Jangankan memikirkan suka atau tidak suka, melihat wajahnya saja jarang. Tapi sejak Pak Daud memintaku menjadi sparring partner untuk Yaya—yang sedang dipersiapkan ikut lomba catur tingkat kabupaten—keadaan berubah.

Setiap sore, selepas sekolah dan sebelum magrib, aku duduk berhadapan dengan Yaya di ruang tengah rumahnya. Udara dari pendingin ruangan membuat suasana tenang, tapi dadaku sering berdegup tak menentu.

Diam-diam, aku mulai memperhatikan profil wajahnya. Kulitnya sawo matang, seperti perempuan tropis dalam buku-buku cerita. Wajahnya tak bisa dibilang cantik menurut majalah remaja, tapi bersih dan enak dipandang. Rambutnya selalu rapi dan terawat. Dan yang paling membuatku gugup: aroma tubuhnya. Harum. Bukan parfum murahan. Harum yang tak bisa dijelaskan tapi membekas.

Kadang aku pura-pura berpikir lama hanya untuk menghindari tatapan matanya. Kadang juga aku sengaja memainkan pion lambat-lambat agar waktu bersama lebih lama.

Suatu sore, saat kami baru selesai main, dia bertanya tiba-tiba.

“Kamu nggak bosen ya, main catur terus?”

Aku mengangkat bahu. “Selama lawannya nggak nyebelin sih, enggak.”

Yaya tertawa kecil. “Jadi aku nggak nyebelin?”

Aku terdiam sejenak, pura-pura menahan senyum.

“Nggak. Cuma suka pakai strategi aneh aja,” jawabku.

“Namanya juga usaha mau menang,” katanya, senyumnya menggoda.

Hari itu, aku pulang dengan perasaan melayang.

Beberapa hari kemudian, keluarganya membeli mobil baru—SUV besar dan mengilap. Hari Minggu, mereka berencana pergi ke pantai, dan aku—anehnya—ikut diajak.

“Biar bantuin jagain adik-adiknya,” kata Pak Daud.

Tapi aku tahu, bukan itu alasannya.

Hari itu seperti mimpi. Kami berangkat pagi-pagi. Yaya duduk di kursi tengah, aku disuruh duduk di sebelahnya. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai—tentang sekolah, catur, sampai hal-hal konyol seperti makanan favorit.

“Aku suka rujak, kamu?” tanyanya.

“Sate kambing. Tapi kalau makan rujak bareng kamu, ya suka juga,” jawabku sambil pura-pura serius.

Yaya menoleh. Matanya membulat kaget, lalu tertawa. “Kamu bisa juga ya gombal.”

Aku ikut tertawa, tapi dalam hati... degupku makin kencang.

Di pantai, saat keluarganya sibuk gelar tikar dan menyiapkan makan siang, Yaya tiba-tiba menarik tanganku.

“Yuk, jalan sebentar.”

Kami berjalan menyusuri garis air. Ombak kecil menyapu kaki kami yang telanjang. Angin laut berhembus, dan waktu terasa berjalan lambat.

“Kamu pernah pacaran?” tanyanya tiba-tiba.

“Belum,” jawabku cepat.

“Kenapa? Nggak laku?”

Aku menoleh, melihatnya tersenyum nakal.

“Bukan nggak laku. Belum ada yang seharum kamu,” jawabku spontan.

Dia terdiam sejenak, lalu menunduk. “Gombal banget, sih.”

Aku ingin menggenggam tangannya, tapi tak berani. Hanya berjalan di sebelahnya, cukup membuatku merasa seperti anak SMA. Mungkin inilah yang disebut orang: cinta monyet.

Sepulang dari pantai, aku berusaha menahan diri. Tidak ingin terlalu melambung. Apalagi aku tahu siapa diriku. Anak kos. Anak dari keluarga sederhana. Sementara Yaya... gadis dari keluarga terpandang.

Tapi justru setelah itu, Yaya sering datang ke kosanku. Kadang bawa kue, kadang hanya duduk di depan, ngobrol. Ada saja alasannya.

“Kata Bapak, jangan terlalu sering ke rumah kamu. Takut ganggu,” katanya suatu sore.

“Terus kamu ngapain ke sini?” tanyaku sambil menyeruput teh.

“Ya... kangen. Nggak boleh?”

Aku tersedak. “Hah?”

Yaya tertawa puas. “Lho kok kaget?”

Tapi lama-lama suasana berubah. Pak Daud tidak pernah lagi mengundangku main catur. Setiap aku ke rumahnya, dia seperti enggan menyapaku. Bahkan kadang pura-pura tak melihat.

Anak-anak lain di rumah itu juga mulai cuek. Ibunya tak lagi menyapa ramah.

Aku mulai sadar. Mungkin kedekatanku dengan Yaya sudah tercium. Dan itu dianggap tidak pantas.

Sampai suatu hari, aku benar-benar tidak diizinkan masuk. Hanya berdiri di depan pagar. Yaya tidak keluar. Aku tahu, dia pasti dilarang.

Malam itu, aku menatap langit kamar kos yang berlangit triplek.

“Yaya,” gumamku. “Kalau kamu dengar, aku cuma ingin bilang: makasih. Kamu pernah jadi alasan senyumku.”

Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Tapi sejak saat itu, aku berjanji pada diri sendiri: aku akan jadi orang hebat. Aku akan jadi seseorang yang tidak lagi dianggap kecil. Agar suatu hari, jika takdir mempertemukan kami kembali, aku bisa berkata:

“Aku sudah layak.”

Dan ya... tahun-tahun berlalu, dan aku tepati janjiku.

Aku menamatkan SMP dan SMA dengan nilai terbaik di sekolah. Aku melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Beasiswa penuh. Aku bukan anak orang kaya, tapi aku bisa membuktikan bahwa kemampuan bisa mengalahkan nasib.

Setelah lulus sarjana, aku mendapat kesempatan melanjutkan studi S2 ke Amerika Serikat. Jurusan teknik komputer. Dua tahun yang melelahkan, tapi juga luar biasa. Dunia seakan membuka dirinya untukku. Aku belajar banyak. Aku mengenal diriku sendiri. Aku tahu, aku bukan lagi anak SMP yang dulu hanya bisa menatap dari luar jendela rumah orang kaya.

Aku pulang ke tanah air dengan gelar dan keyakinan bahwa hidupku punya arah. Aku tak lagi sekadar “anak kos tetangga Pak Daud”. Aku kini seorang profesional, dosen, peneliti, kadang pembicara seminar.

Tapi anehnya, di tengah semua pencapaian itu, pikiranku masih sering kembali ke satu titik: suara tawa seorang gadis yang berjalan bersamaku menyusuri pantai di masa kecil.

Yaya.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: kenapa harus dia yang tersisa di ingatan?

Suatu hari, saat aku pulang ke kota kecil tempatku dibesarkan, aku melewati rumah tua itu lagi. Rumah Pak Daud. Sekarang sudah agak kusam, cat temboknya mulai mengelupas. Tapi kenangannya masih utuh di kepalaku.

Aku berdiri sebentar di depan gerbangnya yang kini digembok. Tidak ada seorang pun di sana. Menurut tetangga, keluarga itu sudah pindah ke kota besar bertahun-tahun lalu. Kabarnya, Yaya bekerja di bidang keuangan, sudah menikah, dan tinggal di luar negeri.

Aku hanya mengangguk pelan. Entah kenapa, aku tidak merasa kecewa.

Karena sesungguhnya, yang terpenting bukan apakah aku akhirnya bersatu dengan Yaya atau tidak. Bukan apakah cinta monyet itu menjadi kenyataan.

Yang penting bagiku adalah: aku telah membuktikan sesuatu.
Bahwa aku bukan orang sembarangan.
Bahwa seorang anak SMP yang dulu hanya main catur di teras rumah orang kaya, kini telah menjelajahi dunia dengan langkahnya sendiri.

Dan aku bahagia untuk itu.

***

Di koperku, aku masih menyimpan satu benda kecil yang tak pernah kubuang: pion catur kayu, hadiah dari Yaya saat kami terakhir bermain bersama.

“Biar kamu selalu inget aku ya, kalau udah jago beneran,” katanya waktu itu.

Aku senyum sendiri.

“Aku nggak cuma inget kamu, Ya. Aku juga bertumbuh karenamu.”

Mungkin cinta monyet itu bukan untuk dimiliki,
tapi untuk dikenang.

Sebab justru dari cinta kecil itulah, aku belajar percaya pada diriku sendiri —
bahwa aku bisa jadi lebih dari yang mereka sangka.

Dan itu... sudah lebih dari cukup.

 

Rabu, 06 Agustus 2025

Geng Jomlo

Titin, pustakawan senior, sudah bekerja di sana hampir duapuluh lima tahun. Dia hafal seluk-beluk tempat ini lebih dari denah rumahnya sendiri. Hari itu, ia sedang menghadapi seorang mahasiswa tingkat akhir yang tampak gugup.

“Jadi, kamu cari apa tadi? Topik tentang pertanian urban di lahan sempit?” tanya Titin sambil membuka layar monitor.

“Iya Bu, tapi saya bingung mulai dari mana,” jawab mahasiswa itu. Suaranya pelan, matanya bolak-balik menatap layar komputer dan rak buku di belakang Titin.

Titin mengetik cepat. “Coba kamu lihat ini. Ini daftar jurnal terbaru soal pertanian urban di Indonesia. Dan ini buku cetak yang bisa kamu ambil di lantai dua, rak 635.”

Mahasiswa itu mendekat, matanya berbinar. “Saya baru tahu semua ini bisa dicari dari komputer... saya pikir harus nyari satu-satu di rak.”

“Kalau harus nyari manual, mungkin kamu lulus dua tahun lagi,” jawab Titin sambil tersenyum.

Mereka tertawa. Suasana mencair. Titin senang—membantu mahasiswa menemukan arah riset selalu jadi momen favoritnya.

Setelah beberapa menit menjelaskan teknik penelusuran digital, Titin menutup pembicaraan, “Sudah mengerti, kan?”

“Sudah Bu, terima kasih. Ternyata saya buta arah selama ini.”

Titin tertawa lagi. “Nah, sekarang kamu sudah punya peta.”

Mahasiswa itu pamit dengan senyum lega. Titin melirik jam. Masih ada dua sesi konsultasi lagi hari ini. Tapi ia tak mengeluh. Di balik layar dan rak buku, inilah panggung kecilnya—dan tiap mahasiswa yang datang adalah tokoh utama yang sedang mencari jalan cerita mereka sendiri.

***

"Akhirnya, selesai juga," batin Titin sambil meregangkan punggung. Mahasiswa tadi adalah yang ketujuh hari ini. Biasanya bisa sepuluh, bahkan lebih kalau musim skripsi datang.

Ia berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Mimin, rekan satu divisinya yang sedang asyik menyusun buku pengembalian.

"Min, besok Sabtu. Lo mau gue ajak ke Tamsit nggak?" tanya Titin, langsung tanpa basa-basi.

Mimin mengangkat alis. "Tamsit? Ngapain?"

"Ya nyari angin lah. Katanya di Thamrin City tuh kerudungnya bagus-bagus dan murah. Gue udah sumpek di rumah."

Mimin nyengir. "Hmm... tapi kenapa Tamsit? Mendingan ke Tanah Abang sekalian. Deket situ ada Pasar Tasik. Buka Senin sama Kamis. Barangnya lebih banyak, harga pedagang, dan—ini penting—baju bordirnya keren-keren."

Titin mengangguk cepat, matanya berbinar. "Wah serius? Tapi Senin sama Kamis kan hari kerja, Min..."

"Nah itu dia. Kita bolos aja sehari," ucap Mimin setengah berbisik sambil melirik sekitar.

Titin tertawa kecil. "Buset, ngajarin orang bolos lo. Tapi oke juga sih. Ajak Aisyah sama Nur juga, biar rame."

Mimin mengangguk. "Sip. Tapi kita butuh alibi yang solid."

Titin langsung menjawab cepat, "Bilang aja ke Bos kita mau ke Yayasan Asia. Ngambil buku sumbangan. Bos pasti percaya."

Mimin tertawa geli. "Lo licik juga ya, Tin."

"Eh, bukan licik. Pintar. Beda tipis," jawab Titin sambil kedip mata.

***

Titin punya geng. Empat perempuan, empat status yang sama: jomblo tulen. Orang diam-diam menjuluki mereka "Geng Jomblo", atau kadang, dengan nada setengah bercanda, “PERTU”—perawan tua. Umur mereka rata-rata sudah kepala empat, bahkan Nur sudah melewati lima puluh. Tapi soal menikah? Bukan prioritas.

Mimin, misalnya, paling modis di antara mereka. Badannya langsing, wajahnya lumayan, dan penampilannya selalu rapi. Tapi daftar syarat calon pasangan yang ia pasang bisa bikin ciut nyali siapa pun yang mendekat: harus sarjana, ekonomi mapan, penampilan menarik, dan—ini yang paling susah—harus "punya wawasan." Entah apa maksud Mimin soal itu, yang jelas semua yang mencoba, akhirnya mundur pelan-pelan, seperti menarik pasukan dari medan perang.

Titin lain lagi. Ia tidak menetapkan syarat tinggi, tapi juga belum bertemu orang yang klik. Perawakannya biasa saja, tidak tinggi, tidak pendek. Wajahnya tidak menonjol, tapi sikapnya selalu ramah dan sopan. Orang nyaman berada di dekatnya. Ada sesuatu dari caranya bicara—pelan tapi jelas—yang membuat lawan bicara merasa dihargai. Mungkin itulah daya tariknya.

Aisyah, si ceplas-ceplos, dikenal karena make up tebal dan lidah yang tajam. Ia bukan tipe yang suka menjaga perasaan orang. Kadang kata-katanya bikin orang tersenyum, tapi tak jarang juga bikin kening berkerut. Prinsip hidupnya sederhana: bebas. Ia selalu bilang, “Kalau punya suami, semua hal harus izin. Hidup macam apa itu?” Maka ia memilih sendiri, dengan keyakinan penuh.

Lalu ada Nur. Ia yang paling besar tubuhnya, dan sering jadi pusat candaan mereka sendiri. Kalau mereka jalan berempat, orang iseng kadang menyebut Nur sebagai "ibu" yang sedang mengasuh tiga anaknya. Tapi Nur santai saja. Ia tahu betul, di antara mereka, ia yang paling lembut dan paling sabar.

Empat perempuan ini seperti satu tim kecil yang tak terpisahkan. Kantin kampus, bazar buku, atau bahkan tempat fotokopi, bisa jadi tempat kumpul mereka. Suasana selalu ramai jika mereka sudah bersama. Canda, tawa, dan kadang rencana spontan yang nyeleneh.

Di balik semua itu, Titin menjalani perannya sebagai pustakawan dengan serius. Ia bukan hanya ahli katalog, tapi seperti GPS hidup bagi dosen-dosen yang malas mencari sendiri. Klasifikasi buku sudah seperti main puzzle baginya—tinggal lihat judul dan sinopsis, ia tahu buku itu tempatnya di mana. Beberapa dosen sampai malas berpikir karena tahu, cukup bilang ke Titin, semua langsung beres. Maka tak heran jika ia jadi ‘anak emas’ di perpustakaan.

Tapi di rumah, situasinya lain. Meski tak pernah bilang langsung, ibunya mulai khawatir. Umur Titin terus berjalan, dan belum ada tanda-tanda akan menikah. Setiap kali ada keluarga kumpul, ada saja pertanyaan basa-basi yang mengarah ke sana. Titin biasanya tersenyum saja. Tapi hatinya tak selalu setenang itu.

***

Suatu malam, saat dapur mulai sepi dan suara televisi tinggal sayup dari ruang tengah, Bu Nisa, Uminya, membuka pembicaraan sambil merapikan toples biskuit.

"Teh, Umi perhatiin... kamu kok enggak pernah bawa teman dekat ya?"

Titin sedang menyapu remah di meja makan, menoleh sebentar. "Teman dekat? Banyak kok, Umi. Ada Mimin, Aisyah, Nur. Tiap hari ketemu, tiap minggu jalan bareng."

Bu Nisa menggeleng pelan. "Yang Umi maksud bukan geng kamu itu. Masak kamu mau kawin sama cewek. Maksud Umi... laki-laki, Teh. Yang datang malam Minggu, duduk manis di ruang tamu."

Titin terkekeh. "Aduh Umi, Teteh tuh enggak mau pusing mikirin cowok dulu. Capek."

"Enggak bisa gitu, Teh," Bu Nisa meletakkan toples agak keras. "Kamu perempuan. Kodratnya menikah. Punya anak. Apalagi umur kamu... ya, kamu tahu sendiri lah."

Titin menghela napas. “Kalau jodohnya belum datang gimana? Masa harus obral diri, banting harga? Malu dong, Umi.”

Bu Nisa melirik dengan tajam tapi lembut. “Umi ngerti. Tapi kamu juga jangan terlalu mahal. Cowok tuh takut sama cewek yang pasang harga tinggi. Tapi jangan juga murahan, ya. Seimbang aja.”

Titin tertawa kecil. “Aduh Umi... Umi kayak agen properti aja, ngomongin harga pasar.”

Bu Nisa ikut tersenyum. “Yang penting jangan menutup diri, Teh. Kamu anak baik. Umi cuma khawatir.”

"Iya, Umi. Teteh ngerti. Kalau ada yang cocok, ya... Insya Allah, nikah juga."

Tapi rupanya Bu Nisa tak mau menunggu. Diam-diam ia mulai bertanya sana-sini. Lewat pengajian, lewat arisan. Sampai akhirnya, muncullah nama dari mulut Bu Yuli—teman ngaji Bu Nisa yang katanya punya anak lelaki, ustaz muda, lulusan pesantren, sekarang mengajar ngaji anak-anak di kampung. “Orangnya sopan, santun, dan insya Allah saleh,” kata Bu Yuli, sambil menyelipkan foto buram yang dicetak dari HP.

Titin hanya melihat sekilas. Senyumnya menggantung, antara geli dan bingung. Ia belum tahu harus bersikap bagaimana.

***

Teh, malam Minggu nanti, teman Umi mau ke sini,” kata Bu Nisa sambil melipat sajadah. “Katanya mau ngenalin anaknya. Lulusan pesantren. Jadi kamu jangan ke mana-mana, ya.”

Deg.

Titin diam. Dadanya seperti ditusuk pelan. Mau nolak, tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa mengangguk, pelan sekali. Di dalam hati, doa yang muncul justru aneh: “Ya Allah, semoga orang itu enggak cocok sama aku.”

Hari-hari berjalan menuju malam Minggu seperti dihitung mundur. Titin tetap bekerja seperti biasa, tapi pikirannya selalu melayang. Setiap kali melihat cermin, ia bertanya-tanya: Memangnya orang kayak aku masih menarik, ya? Lalu buru-buru mengalihkan pandangan, seolah malu dengan pikirannya sendiri.

Malam Minggu itu akhirnya datang juga. Sejak sore, Umi sudah sibuk mondar-mandir, seperti mau menyambut pejabat. Titin duduk di kamar, memandangi baju yang digantungkan Uminya: gamis pastel yang menurutnya terlalu manis buat suasana hatinya yang masam.

Teh, dandan dong. Jangan asal kayak gitu. Masa mau ketemu calon, wajahmu lecek gitu?”

“Ini udah dandan, Umi,” jawab Titin, setengah jengkel. “Teteh memang biasanya begini.”

“Sini. Sini. Umi aja yang make-up-in kamu. Biar kelihatan cantik sedikit. Masa mau nikah penampilan gini?”

“Nanti aja, Umi. Abis magrib. Teteh mau wudhu dulu. Biar enggak mubazir make-up-nya.”

Umi menyipitkan mata. “Kan kamu lagi enggak sholat.”

“Eh... iya ya. Teteh lupa,” jawabnya cepat, pura-pura cengengesan. Ketahuan bohong.

Umi mencibir kecil. “Dasar anak. Sini udah, jangan banyak alasan.” Dengan sigap, Bu Nisa mengambil alat rias dan mulai memoles wajah anaknya.

“Jangan tebal-tebal, Umi. Tipis aja, ya. Teteh enggak biasa menor.”

“Tipis kok. Ini lho, pakai kalung ini, sama antingnya. Nih gelang juga sekalian.”

“Umi... banyak banget. Teteh kayak mau kondangan, bukan taaruf.”

“Biar aja. Sekali-sekali tampil cantik. Mana tahu jodohnya nempel malam ini.”

Titin tertawa kecil, getir. Dalam hati, ia belum siap. Tapi ia biarkan saja tangan Uminya terus bergerak di wajahnya. Karena kadang, membahagiakan ibu lebih mudah daripada menjelaskan isi hati.

***

Titin duduk di ruang tamu, tubuhnya tegak tapi jari-jarinya menggenggam ujung kerudung, seperti mencari pegangan. Kepatuhannya pada Uminya membuatnya bertahan malam itu. Padahal hatinya masih galau. Rasanya seperti sedang ikut ujian yang soalnya belum pernah dipelajari.

Sekitar pukul delapan malam, bel pintu berbunyi. Suara sandal diseret dan salam lirih terdengar dari luar. Tamu yang ditunggu akhirnya datang—seorang pemuda jangkung, kira-kira 175 cm, bersarung dan berkopiah, persis seperti yang dibayangkan Titin dari cerita Uminya.

Wajahnya bersih. Sederhana. Dandanan ala santri tulen, kontras dengan tampilan Titin yang khas perempuan kantoran. Tapi ada yang menenangkan dari sorot matanya—diam, tapi sopan.

“Perkenalkan, nama saya Sukardi. Panggil saja Didi,” katanya pelan namun mantap, sambil tersenyum kaku.

“Ini Ibu saya, Bu Yuli. Mohon maaf, Bapak sudah wafat beberapa tahun lalu,” lanjutnya.

“Turut berduka ya, Nak Didi,” kata Bu Nisa dengan nada tulus.

Didi memperkenalkan dua orang lainnya. “Ini Paman Mamat, adik Ibu saya. Dan ini Bi Omah, istrinya Paman.”

Titin mengangguk sopan. Ia hanya mencuri pandang sekilas—cukup untuk menilai bahwa Didi tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan kalau dipoles sedikit, bisa terlihat... lumayan tampan. Badannya kekar, dadanya bidang. Dalam hati Titin menertawakan pikirannya sendiri yang sempat membayangkan diri bersandar di sana.

Setelah beberapa basa-basi, giliran Bu Nisa berbicara. “Saya Nisa, ibunya Titin. Ayahnya sudah lama meninggal, jadi kami tinggal berdua. Maaf ya, kami tidak mengundang saudara, ini kan baru perkenalan.”

Didi mengangguk, lalu menarik napas kecil. “Baik Ibu. Mungkin Ibu Nisa dan Ibu saya sudah sempat bicara sebelumnya. Malam ini saya datang untuk bertaaruf, berkenalan dengan dik Titin. Kalau berkenan, saya akan datang lagi minggu depan untuk mengkhitbah. Semoga selama seminggu ini, dik Titin bisa mempertimbangkan.”

Seketika, ruang tamu terasa lebih sunyi. Semua menunggu respons Bu Nisa.

“Terima kasih ya, Nak Didi. Insya Allah selama seminggu, Titin bisa memikirkan baik-baik. Nanti kita tetap bisa komunikasi ya, Neng Yuli?” katanya sambil melirik ke arah By Yuli.

“Iya, Bu Nisa. Kita kan masih ketemu di pengajian malam Jumat,” jawab Bu Yuli sambil tersenyum.

“Sekarang silakan nikmati hidangan ya. Jangan tegang. Santai saja. Teh... siapkan basonya, ya.”

Titin berdiri, mengangguk. “Iya, Umi.”

“Wah, kok repot banget, Bu Nisa...” kata Bu Yuli.

“Enggak repot kok. Basonya beli, bukan bikin sendiri. Ayo, silakan dinikmati.”

Obrolan malam itu tak menyentuh soal lamaran secara langsung. Lebih banyak basa-basi ringan, candaan tentang cuaca, pekerjaan, dan cerita-cerita kecil kampung. Tapi semuanya tahu, arah pembicaraan sudah digariskan.

Tepat pukul sepuluh, rombongan Didi pamit pulang. Setelah pintu tertutup dan suara motor menjauh, Bu Nisa menoleh ke anaknya.

Teh... pikirkan baik-baik, ya. Seminggu itu cepat. Umi enggak maksa. Tapi jangan sampai kehilangan kesempatan.”

Titin hanya diam. Malam itu ia tidur dengan mata terbuka, pikirannya penuh tanda tanya.

***

“Guys... gue punya cerita yang bikin gue galau berat,” kata Titin membuka percakapan. Mereka sedang duduk di kantin kampus, empat cangkir teh manis dan empat potong risoles jadi saksi obrolan yang akan segera panas.

“Ceritain dong, Tin,” seru Mimin sambil menyeruput teh.

“Jadi gini… Umi gue ngenalin cowok buat dijodohin. Anak temen pengajiannya. Udah dateng ke rumah malam Minggu kemarin.”

Seketika meja jadi ribut.

“Hah? Lo dijodohin?” Aisyah langsung bereaksi, setengah berdiri. “Gila lo, Tin. Jangan mau! Nanti hidup lo kayak dikurung di kandang ayam. Mau ke minimarket aja mesti izin.”

“Bener!” sahut Mimin cepat. “Saudara gue abis nikah malah kayak ART. Bangun subuh, nyuci, nyetrika, suapin anak. Udah gitu suaminya manja banget. Disuruh-suruh mulu. Daster lusuh tiap hari!”

Aisyah nyengir. “Seragam resmi para istri ya: daster dan muka lelah.”

Nur hanya diam. Tapi ekspresi wajahnya cukup bicara—seperti ada kekhawatiran kehilangan ‘satu pasukan’.

“Eh Nur, lo jangan cuma diam. Lo enggak kasihan sama Titin?” desak Aisyah.

Nur menghela napas. “Menurut aku sih... ya tergantung Titin. Kan dia yang bakal jalanin. Mau bahagia, mau sengsara, ya dia yang nentuin. Kita sih kasih pendapat boleh, tapi jangan maksa.”

Titin mengangguk pelan. Ia tersenyum, meski matanya redup. “Thanks ya, kalian peduli. Tapi... gue kayaknya butuh ngobrol sama Tuhan dulu.”

Obrolan pun bubar. Tapi kata-kata mereka menempel di kepala Titin sepanjang hari. Malamnya, ia tidak bisa tidur. Ia merasa sendiri di tengah suara-suara ramai itu.

Keesokan harinya, di sela pekerjaan, pikiran Titin melayang ke satu nama: Lukman. Rekan kerja yang jauh lebih muda, tapi sudah berkeluarga dan dikenal bijak.

Mungkin dia bisa ngasih pandangan yang netral. Enggak pro, enggak kontra. Dan yang penting... dia enggak menghakimi.

Titin pun memberanikan diri. Ia menghampiri meja Lukman saat suasana mulai sepi.

“Man, ada waktu enggak? Teteh mau curhat dikit.”

Lukman menoleh dan tersenyum ramah. “Ada, Teh. Kerjaan udah kelar.”

“Nanti waktu istirahat, kita ngobrol di kantin, ya. Cari waktu yang sepi. Teteh traktir.”

“Siap, asal menunya bukan baso instan,” candanya.

Titin tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak malam taaruf itu, hatinya terasa sedikit lebih ringan.

***

Siang itu, Titin dan Lukman berjalan ke kantin. Mereka sengaja turun agak telat, supaya suasana lebih sepi. Saat mereka duduk dan memesan teh manis serta mie goreng, Titin langsung membuka percakapan.

“Man… Teteh lagi galau berat,” katanya pelan.

Lukman menoleh. “Kenapa, Teh?”

“Ada yang datang taaruf ke rumah. Katanya minggu depan mau datang lagi buat ngelamar.”

Lukman tersenyum. “Wah, alhamdulillah dong. Udah ada yang serius. Itu namanya jodoh mulai kelihatan.”

Titin mendesah. “Justru itu masalahnya. Teman-teman Teteh banyak yang enggak setuju. Kata mereka, nikah cuma bikin terkurung. Beban doang.”

Lukman diam sebentar, lalu bertanya pelan, “Teteh sendiri ragu karena... takut kehilangan teman?”

Titin mengangguk. “Iya. Dan takut enggak bebas lagi.”

Lukman menyesap tehnya, lalu berkata tenang, “Tapi Teh… menikah itu sunah Nabi. Termasuk ibadah. Di Al-Quran juga banyak ayat yang menganjurkan.”

“Emang ada? Coba, apa contohnya?” Titin penasaran.

Lukman menggaruk kepalanya. “Saya lupa lengkapnya. Tapi ada ayat begini, ‘Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu...’ Itu di surat An-Nur. Sama satu lagi, ‘Allah menjadikan pasangan dari jenis kamu sendiri, lalu memberimu anak dan cucu...’ Pokoknya intinya, nikah itu bukan cuma soal status, tapi juga jalan rezeki.”

Titin terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Terus ada juga hadis,” lanjut Lukman, “Rasulullah bilang, ‘Menikah itu bagian dari sunahku. Siapa yang tidak mengamalkannya, ia bukan dari golonganku.’ Gitu, Teh. Saya bukan ustaz, tapi itu yang saya ingat.”

Titin menunduk. “Astaghfirullah... Kenapa Teteh malah lupa hal-hal kayak gitu, ya... Makasih, Man. Serius. Omongan kamu kayak tamparan yang halus.”

Setelah percakapan itu, keputusan dalam hati Titin bulat. Malam harinya, sepulang kerja, ia langsung menghampiri ibunya.

“Umi… Teteh udah punya jawaban soal Kang Didi.”

Ibunya menoleh penuh harap. “Iya, Nak? Gimana?”

“Setelah Teteh konsultasi ke beberapa orang, sholat istikharah juga... Titin memutuskan, insya Allah, mau menerima khitbahnya.”

“Alhamdulillah...” ucap Bu Nisa sambil menyentuh lengan anaknya. “Teman kamu setuju juga?”

Titin menggeleng. “Justru teman dekat Teteh yang enggak dukung. Tapi ada satu teman kerja, yang usianya lebih muda, tapi sudah menikah. Dia yang bikin Teteh mikir. Dia bilang, menikah itu ibadah. Jalan sunah Nabi.”

Bu Nisa tersenyum lega. “Masya Allah… pintar juga teman kamu itu.”

“Dia bahkan ngasih kutipan ayat dan hadis, Umi. Teteh jadi sadar, Teteh enggak perlu takut ditinggalin teman. Kalau niatnya baik, Allah pasti cukupkan yang lain.”

“Betul, Tin. Dan teman sejati itu, bukan yang nahan kamu dari kebaikan, tapi yang dorong kamu untuk lebih dekat ke Allah.”

“Terus, langkah kita selanjutnya apa, Umi?” tanya Titin, suaranya lebih ringan dari sebelumnya.

“Kita tunggu saja kedatangan keluarga Didi seperti yang mereka janjikan,” jawab Bu Nisa sambil tersenyum. “Tapi biar tidak menggantung, Umi telepon dulu Tante Yuli. Kasih tahu supaya mereka enggak perlu ragu lagi.”

Titin mengangguk. “Baik, Umi. Makasih ya, udah menjodohkan Teteh dengan Kang Didi.”

Bu Nisa menatap anaknya dengan lembut. “Jangan berterima kasih ke Umi, Nak. Bersyukur lah kepada Allah. Ini semua kehendak-Nya.”

Titin menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Iya, Umi.”

Ia beranjak, mengambil air wudu. Malam itu, di dalam kamarnya yang sepi, ia sujud syukur. Butiran air di wajahnya bukan hanya sisa wudu, tapi juga rasa lega. Semua keraguan yang sempat bergelayut, kini luruh.

***

Malam Minggu berikutnya.

Rumah Titin lebih ramai dari biasanya. Keluarga Didi datang sesuai janji. Tidak ada lagi pertanyaan “diterima atau tidak?” karena jawaban sudah jelas. Tapi tetap, ada kehangatan yang berbeda dalam pertemuan kali ini.

Didi datang dengan setelan yang lebih rapi dari sebelumnya—tanpa sarung, hanya baju koko yang sederhana tapi bersih. Ada binar di matanya saat melihat Titin, yang malam itu memakai gamis biru muda, sederhana tapi anggun.

Percakapan mengalir lebih santai. Kali ini, bukan hanya perkenalan. Mereka mulai bicara tentang rencana. Tanggal akad, lokasi, persiapan sederhana. Tak ada pesta besar. Hanya keluarga dekat dan sahabat-sahabat sejati.

***

Beberapa bulan kemudian.

Hari itu, Titin berdiri di depan cermin. Gamis putihnya jatuh lembut di tubuhnya. Riasannya sederhana, tapi cukup membuat wajahnya bercahaya.

Di luar, tamu-tamu mulai berdatangan. Pernikahannya berlangsung dalam kesederhanaan. Hanya keluarga, sahabat, dan kelompok pengajian Bu Nisa yang hadir.

Di antara tamu, tampak Mimin, Aisyah, dan Nur. Mereka tak lagi berkomentar soal pernikahan Titin. Bahkan Aisyah, yang dulu paling keras menentang, kini justru memeluknya erat.

“Lo yakin, Tin?” bisik Aisyah setengah bercanda.

Titin tertawa kecil. “Lebih dari yakin.”

Mimin ikut tersenyum. “Ya udah, kalau lo bahagia, kita juga ikut bahagia.”

Nur mengangguk. “Hidup lo berubah, Tin. Tapi itu bukan berarti kita kehilangan lo. Tetep ada, kan?”

Titin mengangguk mantap. “Selalu.”

Di kejauhan, Didi sedang berbincang dengan beberapa saudara. Tatapan matanya sesekali mencari-cari Titin, lalu tersenyum saat menemukannya.

Titin menarik napas panjang. Dulu, ia sempat ragu. Takut kehilangan dunianya. Tapi kini, ia sadar. Pernikahan bukan akhir kebebasannya—hanya awal dari babak baru dalam hidupnya. 

Yang Tersisa dari Ungaran

Anak keduaku sudah lahir dua minggu lalu. Seorang bayi laki-laki yang mengisi malam-malam kami dengan tangis kecil dan aroma bedak. Istriku, alhamdulillah, pulih cepat dan kini lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya selama masa pemulihan. Rasanya segalanya mulai kembali ke tempatnya—teratur, damai, tidak berlebihan.

Sampai siang itu. Setelah melayani mahasiswa terakhir yang bertanya soal metode Bibliometrik dan mencari jurnal untuk skripsinya, aku menghela napas dan bersiap menutup laptop. Saat itulah seseorang berdiri di balik meja layanan, senyumnya setengah ragu tapi matanya tak asing.

"Mas," katanya pelan, "maaf aku datang tanpa kabar dulu. Aku butuh literatur untuk bahan skripsiku. Waktu di Ungaran itu... aku sempat cerita kan, kalau aku sedang menyusun skripsi."

Yani.

Aku betul-betul terkejut. Seolah suara dan wajahnya menyeret kembali dua hari yang pernah begitu lengang… namun dalam diamnya, mengusik.

***

Siang itu, setelah diantar panitia ke mess yang sunyi di lereng Ungaran, kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tak banyak yang bisa dilakukan. Lokakarya ditunda, peserta lain belum berdatangan, dan cuaca mendung menutup langit kota kecil itu.

Sore harinya, usai mandi dan salat Ashar, aku duduk sendirian di beranda mess lantai dua. Pemandangan hijau membentang, samar di balik kabut tipis. Udara segar dan dingin. Aku baru hendak menyesap sepi, ketika dari kamar sebelah muncul sosok yang familiar.

“Mau aku buatkan kopi?” tanya Yani, sambil menunjuk ke kamar. Di sana memang tersedia kopi instan dan dua cangkir kosong.

“Oh… boleh. Terima kasih,” jawabku.

Tak lama, Yani datang membawa dua cangkir. Uap tipis masih mengepul, dan aroma kopi hitam terasa hangat di udara dingin itu. Ia duduk di kursi sebelah, menyodorkan secangkir padaku.

Kami mulai mengobrol. Ngalor-ngidul, tanpa arah. Seperti dua teman lama yang kebetulan berpapasan setelah bertahun-tahun.

“Mas pustakawan, ya?” tanyanya sambil tersenyum.

“Iya. Nah, kamu sendiri?”

“Aku pegawai honorer di lembaga itu. Tapi aku ditempatkan di perpustakaannya,” jelasnya, lalu tertawa kecil. “Kadang aku bingung juga, apa sebenarnya tugasku.”

“Apa kerjaan Mas? Menata buku? Meminjamkan ke pemakai?” lanjutnya.

Aku tersenyum. “Bukan. Aku pustakawan referensi.”

“Wah, keren. Apa itu maksudnya?”

“Ya, tugasku membantu mahasiswa yang belum tahu arah penelitiannya, kasih saran tentang topik dan referensi apa saja yang bisa mereka pakai.”

“Oalah. Susah ya... Maklum, aku pustakawan karbitan. Kerjaanku borongan. Kadang nyapu ruang baca juga... hahaha…”

Kami tertawa lepas, suara kami menggema di antara tembok dan pohon yang diam.

Hari Sabtunya, karena tidak ada pekerjaan, Yani mengajakku turun ke kota. Kami naik angkutan umum, menyusuri jalanan Semarang. Tak ada tujuan pasti. Hanya berjalan, makan siang di warung kecil, membeli minuman dingin, dan ngobrol terus seperti sahabat yang menemukan jeda dari hidup masing-masing.

Sore menjelang, kami kembali ke mess. Hari Minggu paginya, Yani mengajakku naik ke bukit kecil di belakang mess. Udara masih basah sisa hujan malam. Jalanan licin dan menanjak.

“Mas, tolong. Aku takut jatuh,” katanya, sedikit gemetar.

Aku mengulurkan tangan. Ia menggenggamnya. Dan begitu saja, kami berjalan beriringan, berpegangan tangan melewati jalur yang sempit dan lembap. Saat itu, sesuatu dalam diriku bergeser. Perasaan yang belum bernama, tapi cukup untuk membuat napasku berubah tak tentu.

Entah sejak kapan, tetapi sensasi itu menyenangkan. Dan anehnya, aku tak buru-buru melepaskan genggamannya.

***

Beberapa jam berlalu, dan akhirnya semua yang dibutuhkannya cukup. Ia menyimpan kertas-kertas catatan dan berterima kasih dengan sopan.

“Terima kasih, Mas. Aku jadi tahu harus mulai dari mana.”

Aku hanya mengangguk. Tapi pikiranku gelisah.

Saat melihatnya melipat jaket dan bersiap melangkah keluar, aku baru sadar—Yani bukan tinggal di kota ini. Ia hanya singgah untuk keperluan skripsi. Tujuannya jelas: terminal bus, beberapa kilometer dari kampus. Angkutan umum ke sana tak mudah, apalagi di jam-jam siang seperti ini.

Aku melirik kunci motor di atas meja. Kemudian memandangi punggungnya yang menjauh.

Aku berada dalam dilema.

Biarkan saja dia mencari jalan sendiri ke terminal? Dengan tas berat dan berkas-berkas skripsi di tangannya?
Atau aku tawarkan bantuan untuk mengantarnya—hanya sampai terminal, hanya untuk hari ini?

Akhirnya, sebelum pikiranku sempat membuat seribu alasan, mulutku lebih dulu bergerak.

“Yani... kamu ke terminal, kan? Aku antar, ya?”

Ia berhenti, berbalik pelan.

“Kalau nggak merepotkan, Mas...”

“Enggak. Sama sekali enggak.”

Dan sekali lagi, aku mengantar Yani.
Tapi bukan ke bukit kecil di belakang mess.
Bukan ke sudut kota dengan warung mie ayam dan es teh manis.
Melainkan ke terminal siang itu—dengan lalu lintas yang sepi, udara yang gerah, dan hati yang kembali diam-diam bersuara.

***

Dalam perjalanan menuju parkiran motor, aku iseng bertanya, entah mengapa.

“Yani sudah makan?”

Padahal aku tahu jawabannya. Sejak tadi ia terus bersamaku, dan sekarang jam sudah lewat tengah hari.

“Belum, Mas. Kan tadi aku langsung ketemu Mas,” jawabnya ringan.

“Iya, ya... Nanti kita makan dulu sebelum ke terminal.”

“Terima kasih,” katanya singkat, tapi ada kelegaan dalam suaranya.

Kami pun naik motor, menyusuri jalanan kampus yang mulai lengang. Di persimpangan jalan utama, aku melihat sebuah warteg besar yang bersih dan cukup ramai. Aku memarkir motor, lalu kami masuk. Di dalam, Yani memilih duduk membelakangi jendela kaca besar, sementara aku duduk di depannya, menghadap ke luar.

Kami memilih menu sederhana. Ayam goreng, sayur lodeh, dan teh manis hangat. Makan siang yang biasa, tapi terasa hangat di suasana yang diam-diam akrab.

Kami makan sambil berbincang ringan. Tentang skripsinya, tentang dosen pembimbing yang katanya “cerewet tapi peduli”. Aku tertawa kecil mendengarnya, dan dia ikut tertawa.

Tapi tawa itu langsung berhenti.

Mataku menangkap sebuah angkutan umum melintas di depan warteg. Di dalamnya, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Istriku—menggendong bayi kami yang baru lahir, dan di sampingnya anak pertamaku duduk tenang sambil melihat ke luar jendela.

Deg.

Sejenak, sendok di tanganku terasa berat. Suapan yang baru saja akan masuk, kutunda. Suasana di warung tetap sama, hangat dan biasa saja. Tapi dalam kepalaku seperti ada lonceng kecil yang tiba-tiba berdentang.

Itu keluargaku.
Duniaku yang sesungguhnya.
Mereka yang selalu menungguku pulang. Yang percaya padaku. Yang mencintaiku dalam diam sehari-hari.

Seketika, percakapan dengan Yani terdengar jauh. Kehangatan tadi berubah jadi keheningan dalam diri.

Mungkin ini caranya semesta mengingatkanku.
Bahwa sesayang apa pun seseorang yang pernah hadir dalam fragmen hidupmu, tetap ada batas yang tak boleh dilanggar.

Setelah makan, kami kembali naik motor. Kali ini tak banyak kata terucap di antara kami. Mungkin perut yang kenyang membuat tubuh ingin diam. Mungkin juga ada sesuatu yang sama-sama kami sadari, tapi tak sanggup kami ucapkan.

Yani memeluk tasnya erat-erat di punggungku. Wajahnya mungkin menghadap ke samping, menikmati semilir angin kota ini yang sedikit berdebu. Tapi aku tak menoleh. Fokusku hanya ke jalan. Dan ke suara dalam hati yang belum juga tenang sejak dari warung tadi.

Terminal tidak terlalu jauh. Tapi entah kenapa rasanya perjalanan ini seperti butuh waktu seumur hidup untuk tiba.

Saat motor berhenti di pelataran yang berdebu dan berisik itu, Yani turun perlahan.

“Terima kasih, Mas,” katanya pelan. Ia tak langsung menatapku, hanya merapikan tasnya, lalu berdiri di sisi motor.

Aku mematikan mesin. Untuk beberapa detik, kami diam. Hanya suara klakson dan teriakan calo bus yang terdengar di sekeliling kami.

“Yani…” ucapku akhirnya.

Ia menoleh. Matanya tenang, tapi ada yang bergerak pelan di sana.

“Maaf kalau tadi aku... terlalu ramah. Terlalu seperti dulu.”

Ia tersenyum, tipis. Bukan senyum bahagia, tapi juga bukan luka.

“Enggak, Mas. Kita cuma makan siang. Nggak lebih.”

Aku mengangguk. Dan entah kenapa, rasa lega dan sedih bercampur jadi satu di dadaku.

Yani menarik napas, lalu berkata,

“Waktu di Ungaran, aku sempat berharap cerita kita bisa berlanjut. Tapi aku tahu... aku bukan bagian dari hidupmu. Dan kamu bukan bagian dari masa depanku.”

Ia lalu melangkah mundur. Menatapku sekali lagi.

“Aku sudah cukup dengan yang kemarin. Dua hari itu... cukup. Dan ini, hari ini, akan jadi penutup yang baik.”

Aku tak menjawab. Hanya menunduk, lalu menatap motor di antara kami.

Yani mengangkat tangannya sedikit, seperti pamit, lalu berjalan ke arah ruang tunggu. Tanpa menoleh lagi.

Aku menatap punggungnya hingga menghilang ditelan kerumunan.
Dan di situ, aku tahu: beberapa pertemuan memang ditakdirkan untuk tidak diulang.
Beberapa perasaan, cukup dikenang—bukan untuk dipelihara, apalagi diperjuangkan.

Aku pulang.
Ke rumah yang menungguku.
Ke hidup yang telah kupilih.

 

Malam itu, aku pulang lebih larut dari biasanya. Angin lembut menyambutku di teras rumah. Kusandarkan motor pelan-pelan, lalu masuk tanpa suara.

Istriku tertidur di ruang tengah, berselimut tipis, dengan bayi kami di pelukannya. Anak pertamaku tergeletak miring di sudut karpet, masih memegang mainan yang entah kapan ia tinggalkan. Ada kehangatan yang tak tergantikan di dalam rumah ini. Bau susu bayi, suara kipas angin yang berputar malas, dan cahaya temaram dari lampu dinding.

Aku duduk sebentar, memandangi mereka satu per satu.

Dan dalam diam, aku berbisik dalam hati: Maaf jika hatiku sempat bergetar oleh sesuatu yang bukan kalian. Tapi aku di sini. Dan akan selalu di sini.

Sejak perpisahan di terminal bis itu, aku tidak pernah bertemu Yani lagi. Bahkan kabar pun tidak pernah. Mungkin itu memang yang terbaik. Biarlah dua hari di Ungaran, satu makan siang, dan perjalanan ke terminal menjadi satu rangkaian kecil yang tersimpan rapi dalam laci kenangan.

Bukan luka.
Bukan penyesalan.
Hanya serpih yang tak perlu diulang.

Aku lalu berdiri, menutup tirai, dan masuk ke kamar. Di luar, malam merambat dengan tenang. Seperti hidup, yang terus berjalan... pelan-pelan, tapi pasti.

Cinta Datang Diwaktu Magang

Aku mengambil surat itu, sedikit bingung.

“Seminar apa ya, Pak?”

“Kamu baca saja surat ini. Jangan tanya dulu,” katanya, setengah senyum tapi matanya serius.

Aku menunduk, membaca surat yang baru saja kukepal di tangan. Surat tugas dari kantor. Aku diminta menghadiri seminar nasional tentang regulasi baru di bidang perpustakaan, yang akan diadakan di Bogor selama dua hari. Begitu membaca nama kota itu, otakku langsung bekerja cepat. Bogor. Kampung halamanku. Gratis. Semua biaya ditanggung kantor.

Dalam hati aku bersorak, Alhamdulillah, mudik gratis!

Biasanya, kalau ada kegiatan di luar kota, apalagi lintas pulau seperti ini, kantor akan mengatur agar perjalanan diperpanjang jadi tiga hari atau lebih. Alasannya efisiensi. Ongkos pesawat Mataram–Bogor mahal, belum lagi akomodasi. Maka, perjalanan semacam ini sering dibarengi dengan agenda tambahan.

Benar saja. Kepala melanjutkan dengan nada perintah yang dibungkus senyuman tipis.

“Lukman, setelah seminar kamu studi banding ke Perpustakaan Nasional ya. Juga ke Perpustakaan UI dan IPB. Sekali jalan dua tiga pulau terlampaui,” katanya, mengutip peribahasa seperti sedang menutup diskusi.

Aku mengangguk. “Jadi total perjalanan saya sekitar seminggu ya, Pak? Termasuk perjalanan.”

“Ya. Silakan diatur. Nanti kamu laporkan hasil studi bandingnya. Biar kita bisa ikut menyesuaikan diri dengan tren baru.”

Ia lalu melirik jam tangannya dan memberi isyarat bahwa aku sudah boleh keluar. Aku pamit dan keluar dengan langkah ringan.

Aku, Lukman, pustakawan di Mataram, Lombok. Sudah tiga tahun bekerja di perpustakaan milik pemerintah daerah. Asalnya? Bogor. Lulusan IPB. Ya, betul, Institut Pertanian Bogor. Anehnya, banyak orang kaget saat tahu aku belajar ilmu perpustakaan di IPB.

“Serius, IPB ada jurusan perpustakaan? Bukannya itu kampus pertanian?” Begitu komentar orang setiap kali aku menyebut almamater.

Kenyataannya, jurusanku memang bukan murni ilmu perpustakaan. Fakultasnya MIPA, jurusannya Ilmu Komputer. Tapi program studi kami namanya "Teknologi Informasi untuk Perpustakaan". Kurikulumnya? Sekitar 60 persen ilmu komputer, sisanya tentang sistem informasi, katalogisasi, metadata, dan manajemen perpustakaan. Jadi, ya, memang kami didesain jadi pustakawan masa depan—yang akrab dengan database, server, dan sistem manajemen perpustakaan digital.

Makanya, ketika aku melamar di Mataram dan langsung diterima, rasanya seperti berjodoh. Aku ingin kerja di tempat yang belum terlalu ramai, dekat laut, dan jauh dari kemacetan Jakarta. Tapi ya itu, harga tiket ke Bogor mahal. Jadi dalam tiga tahun terakhir, aku baru dua kali pulang: saat ibu sakit, dan waktu cuti lebaran.

Makanya, surat tugas itu terasa seperti durian runtuh.

-----

Aku tiba di Bogor malam hari. Panitia menyediakan penginapan dekat lokasi seminar, sebuah hotel kecil yang cukup nyaman. Tapi itu cuma satu malam. Setelahnya, aku pindah ke rumah orang tuaku di Ciawi. Mereka senang bukan main. Ibu langsung menyiapkan sayur asem favoritku. Bapak menanyakan pekerjaanku panjang lebar, setelahnya lebih banyak diam sambil tersenyum.

Hari kedua, aku menghadiri seminar. Acaranya lumayan formal, tapi pembicara utamanya menarik. Dia orang Perpusnas, menjelaskan soal regulasi baru yang mengharuskan digitalisasi katalog dan akses terbuka berbasis web. Sesuatu yang sebenarnya sudah aku pelajari dulu, tapi pelaksanaannya di daerah sering tersendat karena minim anggaran dan SDM.

Selesai seminar, aku menyusun jadwal studi banding. Mulai dari Perpustakaan Nasional, lalu ke UI dan IPB. Semua bisa diakses dari Bogor. Naik KRL Commuter Line, perjalanan ke Jakarta tinggal duduk satu jam, murah pula. Rasanya seperti nostalgia. Saat kuliah dulu, aku sering naik kereta ini untuk ke Jakarta, entah untuk seminar, kunjungan, atau sekadar nongkrong sama teman-teman kampus.

Hari-hari itu padat tapi menyenangkan. Di Perpusnas, aku terkagum-kagum dengan sistem pencarian digital berbasis AI yang sedang diuji coba. Di UI, aku lihat bagaimana perpustakaan mereka mulai mengintegrasikan data pengunjung dengan sistem presensi kuliah. Di IPB? Itu yang paling membekas. Dulu aku cuma mahasiswa biasa. Sekarang aku datang sebagai tamu, berdiskusi dengan dosen yang dulu mengajariku.

-----

Sore itu langit Bogor mulai mendung. Aku baru saja pulang dari kunjungan ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Kaki masih terasa pegal, tapi hati puas. Kupikir tugas hampir rampung. Tinggal kunjungan terakhir ke IPB, kampus lamaku. Setelah itu, aku bisa booking tiket dan kembali ke Mataram. Kembali ke rutinitas. Kembali ke meja katalog dan laporan bulanan.

Aku sedang menyortir catatan di laptop ketika ponselku berdering. Nama Kepala muncul di layar.

“Lukman, bagaimana acara kamu? Sudah selesai?” tanyanya langsung, seperti biasa tanpa pembuka basa-basi.

“Tinggal satu kunjungan lagi, Pak. Ini sudah mau booking tiket pesawat,” jawabku sambil mengintip harga tiket di browser.

“Jangan beli tiket dulu, Man,” suaranya terdengar lebih pelan kali ini, seperti sedang menyiapkan sesuatu yang berat untuk disampaikan. Aku diam, menunggu.

“Begini…” jedanya sebentar. “Sebenarnya, seharusnya Made saya tugaskan ke Bogor untuk magang di IPB. Kamu tahu kan, IPB sudah banyak menyelenggarakan layanan seperti yang ditulis dalam peraturan baru itu.”

Aku mengangguk meski tahu dia tak bisa melihat.

“Saya rencanakan Made belajar langsung di sana, mempelajari sistem yang mereka pakai, supaya nanti kita bisa replikasi di perpustakaan kita. Tapi kemarin Made masuk rumah sakit. Katanya tipes. Harus istirahat total, kemungkinan sampai beberapa bulan ke depan.”

Aku mulai bisa menebak arah pembicaraan ini.

“Jadi saya minta kamu untuk menggantikan Made. Magang di IPB. Tiga bulan kira-kira. Bersedia, kan?”

Kepala memintaku. Atau lebih tepatnya memerintahkan.

Aku tak langsung menjawab. Dalam lima detik yang sunyi, pikiranku penuh dengan bayangan: rumah, ibu yang makin sering batuk-batuk belakangan, adik bungsuku yang sebentar lagi masuk kuliah, dan udara Bogor yang sejak lama terasa seperti napas sendiri. Dan tentu saja, gaji tetap berjalan.

“Siap, Pak,” jawabku akhirnya. Tak ada alasan untuk menolak.

“Bagus. Suratnya sudah dikirim via email ke IPB. Kamu tinggal bawa kopiannya dan temui Kepala Perpustakaan di sana. Namanya Ibu Reni. Sudah saya hubungi juga. Selamat magang ya, Man. Anggap saja ini tugas negara.”

Klik. Telepon ditutup. Suara hujan mulai terdengar di luar jendela, seperti menyetujui keputusan barusan.

-----

Besok paginya, aku mengenakan kemeja biru tua dan celana bahan abu-abu. Aku tahu ini bukan wawancara kerja, tapi rasanya tetap seperti itu. Bawa map, cetakan surat tugas, dan CV. Perutku sedikit mulas saat turun dari angkot di gerbang kampus.

IPB masih sama seperti terakhir kali aku tinggalkan tiga tahun lalu, tapi rasanya berbeda. Dulu aku mahasiswa, kini datang sebagai wakil dari instansi lain. Aku menatap gedung Perpustakaan LSI, tempat yang dulu jadi saksi malam-malam begadang mengejar tenggat tugas.

Setibanya di Perpustakaan IPB, saya segera menghadap Kepala Perpustakaan dengan membawa salinan surat elektronik yang telah dikirimkan oleh kantor saya. Saya pun bertemu langsung dengan beliau.

"Pak, perkenalkan, nama saya Lukman, pustakawan dari Lombok," saya memperkenalkan diri.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" jawab Kepala Perpustakaan.

"Saya datang untuk melaporkan diri bahwa saya akan menggantikan teman saya yang seharusnya magang di sini, Pak, tapi mendadak sakit," jelas saya. "Menurut pimpinan saya, magang ini akan berlangsung selama tiga bulan."

"Oke, saya sudah menerima surat elektroniknya. Saya tidak keberatan," ujar beliau. "Hanya saja, perlu saya informasikan bahwa selama magang, kami tidak menyediakan makan siang. Silakan Mas Lukman mencari makan sendiri di kantin kampus ini. Di depan perpustakaan kami ada kantin mahasiswa, Anda bisa makan siang di sana."

Saya tersenyum dan menjawab, "Ya, Pak, kami sudah biasa makan di sana waktu kami masih mahasiswa dulu. Kami kan alumni IPB, Pak."

"Baik, silakan buat rencana magangnya dengan supervisor kami," kata Kepala Perpustakaan. "Bu Elvi, tolong rancang program magang Saudara kita ini, ya," perintahnya kepada Bu Elvi yang sedari tadi mendampingi beliau.

"Baik, Pak," jawab Bu Elvi sambil berpamitan untuk segera menyusun rencana.

Kami melangkah keluar dari ruangan Kepala Perpustakaan, detak jantungku berpacu mengikuti irama langkah Bu Elvi yang anggun. Ada semacam daya tarik tak kasat mata yang terpancar dari dirinya, seolah setiap geraknya adalah tarian bisu yang memikat. Aku mengekorinya menuju ruangannya, sebuah tempat yang terasa begitu lapang, namun anehnya, tak perlu pendingin udara. "Ah, Bogor memang tak butuh AC," batinku, "pendingin itu hanya boros dan merusak lingkungan." Mungkin, justru kesejukan alami inilah yang membuat aura Bu Elvi semakin menenangkan.

Di dalam keheningan yang syahdu itu, kami mulai menyusun agenda magangku. Fokus utamaku adalah menyelami layanan-layanan terbaru Perpustakaan IPB, yang memang terkenal selalu menghadirkan inovasi tak terduga. Terkenanglah aku pada masa lalu, ketika konon perpustakaan ini pernah memiliki layanan informasi kilat yang revolusioner. Sebuah layanan yang dengan sigap memberi tahu pemustaka tentang jurnal ilmiah terbaru, lalu mengirimkan salinan artikel yang diminati. Namun, waktu tak bisa dilawan; kini internet telah mengambil alih peran itu, menjadikan layanan kilat itu sebuah kenangan manis yang usang.

Namun, yang kini menarik perhatianku, bagai magnet yang tak tertahankan, adalah layanan konsultasi riset. Konon, ini adalah jelmaan modern dari layanan "pendidikan pemakai" yang dulu tak pernah menemukan jalannya. Dulu, orang meragukan, "Kenapa pemakai perpustakaan harus dididik pustakawan? Jangan-jangan mereka lebih pintar!" Sebuah ironi yang membuat layanan itu mati suri. Kini, layanan konsultasi riset hadir dengan misi yang lebih mendalam: membimbing pengguna menemukan kebutuhan informasi mereka demi mendukung riset yang berharga. Seolah, pustakawan tak lagi hanya penjaga buku, melainkan pemandu di labirin ilmu.

Agenda magangku telah rampung, terukir jelas di lembar-lembar harapan. Kini, yang tersisa hanyalah menemui sang pembimbing, seseorang yang akan menuntunku menyelami lautan ilmu di perpustakaan ini. Siapakah dia, dan petualangan apa lagi yang menanti di balik pintu-pintu rahasia perpustakaan ini?

-----

Siang itu, riuhnya kantin mahasiswa bak gelombang yang memecah suasana. Panas terik tak menyurutkan semangat para pengisi perut, mahasiswa dan dosen berjejal, mencari nafkah untuk raganya. Aku, si pendatang baru, berputar mencari celah. Hampir putus asa, pandanganku terhenti pada sebuah keajaiban di sudut ruangan. Sebuah kursi kosong, bagaikan singgasana yang menanti, berseberangan dengan sesosok bidadari yang tengah larut dalam santap siangnya.

Dengan debaran di dada, aku menghampirinya. "Permisi, boleh saya duduk di situ, Mbak?" suaraku sedikit bergetar.

"Boleh, silakan," jawabnya, suaranya selembut desiran angin.

Di depanku, duduk seorang gadis manis yang membuatku tak bisa berhenti berkhayal. Dia berhijab, dengan kecantikan yang mengingatkanku pada Nabila, karakter yang diperankan Revalina S. Temat. Kulitnya sawo matang, tinggi sekitar 165 cm, dan tubuhnya berisi, membuatku berpikir dia tampak sangat subur. Aku terus membayangkan kami bersama sampai kami berdua selesai menghabiskan makanan. Merasa suasana canggung, aku mencoba memulai obrolan.

"Mbak mahasiswa di sini?" tanyaku, sedikit canggung, berharap tak mengganggu santap siangnya.

"Bukan, Mas," jawabnya dengan senyum tipis, "saya sudah lulus dan bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu jurusan di sini. Kalau Mas, mahasiswa?"

"Bukan juga," balasku, "saya pegawai yang sedang magang di perpustakaan. Saya dari Mataram, tapi asal saya memang dari sini." Aku menjelaskan, berharap percakapan ini takkan berakhir di sini. Apakah pertemuan di kantin yang ramai ini adalah sebuah kebetulan, ataukah takdir yang mempertemukan dua insan di tengah hiruk-pikuk kampus?

Percakapan kami mengalir begitu saja, seolah kami sudah lama berteman. Aku terkesan dengan Dewi, nama gadis yang kini terus kuingat. Keterkejutan terbesar muncul saat dia memberitahu alamat rumahnya. Ternyata, kami bertetangga kompleks! Lebih dari itu, dia sering melewati jalan depan rumahku setiap pagi. Dewi tinggal bersama kedua orang tuanya, karena kakak satu-satunya sudah menikah dan pindah ke luar kota

Kami asyik mengobrol sampai tak terasa waktu istirahat hampir habis. Kami harus kembali ke kegiatan masing-masing, tapi percakapan kami belum selesai. Dengan jantung berdebar, kami bertukar nomor ponsel, berharap bisa bertemu lagi. Kami sepakat untuk kembali bertemu besok, di kantin dan meja yang sama

Aku kembali ke perpustakaan dengan langkah ringan dan senyum di wajahku. Tak kusangka, di kantin yang ramai tadi, aku menemukan sesuatu yang spesial, bukan cuma kenalan baru. Ada seorang gadis manis yang terus terbayang di pikiranku. Hari ini, bukan cuma perutku yang kenyang, tapi juga hatiku terasa bahagia.

-----

Sebelum berangkat ke Mataram, aku sudah punya pacar bernama Santi. Kami sudah pacaran cukup lama, bahkan sejak SMA. Aku adik kelasnya, dan kami sama-sama aktif di kelompok ilmiah remaja. Seringnya mengerjakan proyek bersama membuat kami akrab dan akhirnya pacaran. Seperti kata pepatah Jawa, 'witing tresno jalaran soko kulino.' Kami sangat dekat dan selalu saling membantu, termasuk saat aku membantunya mengerjakan skripsi."

Namun, hubungan kami mulai renggang setelah Santi diwisuda. Dia seolah menghilang, tidak pernah bisa ditemui, bahkan kabarnya pun tidak pernah terdengar. Aku sempat sangat frustrasi sampai hampir tidak mau menyelesaikan studiku sendiri, padahal tinggal penelitian skripsi. Untungnya, orang tuaku selalu mendukungku dan akhirnya aku lulus. Meski sudah lulus, aku masih malas mencari kerja dan hanya berdiam diri di kamar. Berkat nasihat orang tua dan kakak-kakakku, aku bangkit."

Setelah tiga tahun menganggur, aku mencoba menghubungi Santi kembali. Dia adalah cinta pertamaku. Aku ingin kembali merajut hubungan kami, tapi banyak tantangan yang membuat kami tidak bisa kembali seperti dulu. Suatu hari, saat aku main ke rumahnya, ibunya malah ikut nimbrung.

Percakapanku dengan ibu Santi sore itu terasa seperti interogasi. "Jang, apa kamu serius berteman dengan Santi?" tanyanya.

"Ya, Bu, saya serius," jawabku singkat.

"Tapi tidak ada rencana untuk meresmikan hubungan?" Ia mendesak.

"Saya belum siap, Bu. Saya masih menganggur dan sedang mencari pekerjaan," kataku, berusaha menjelaskan.

"Ibu mengerti, tapi jangan lama-lama ya," jawabnya lagi, nadanya penuh desakan.

"Saya juga ingin segera, tapi saya belum sanggup menafkahi anak Ibu," balasku tegas.

Sejak percakapan itu, hubunganku dan Santi mulai merenggang. Santi pun demikian. Sepertinya orang tuanya melarangnya untuk terlalu sering bertemu denganku, dan aku sendiri jadi malas datang ke rumahnya karena takut diinterogasi lagi. Akhirnya, aku memutuskan mencari pekerjaan di tempat yang jauh, sekalian untuk menghindari keluarga Santi. Saat aku hendak berangkat ke Mataram, Santi menemuiku, dan kami sedikit bertengkar.

Santi memecah keheningan di antara kami. "Lukman, kamu sengaja menghindariku ya, dengan bekerja di tempat yang jauh?" tanyanya.

"Kenapa kamu bertanya begitu?" jawabku, membalas pertanyaannya.

"Iya, sejak Ibu menanyakan soal meresmikan hubungan kita, kamu jadi berubah," lanjut Santi.

Aku mulai emosi. "Apanya yang berubah? Salah kalau aku bilang belum siap menikah karena aku masih menganggur? Kamu mau dikasih makan apa nanti? Aku saja masih dibiayai orang tua. Kalau keluargamu memang ingin kamu cepat menikah, silakan cari orang lain yang sudah siap," kataku.

"Lho, kenapa kamu jadi marah-marah?" Santi terkejut.

"Bagaimana aku tidak emosi kalau aku merasa dipaksa untuk segera menikahi kamu," balasku.

"Sudah, kita rehat dulu saja, ya. Masing-masing kita pikirkan, apakah kita masih cocok. Mumpung belum terlanjur menikah," usulku.

Sejak saat aku berangkat ke Mataram, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Santi. Aku berpikir, mungkin dia sudah menikah sesuai dengan keinginan ibunya.

Selama aku di Bogor, aku tidak sempat menghubungi Santi, terutama saat aku pulang karena Mama sakit keras. Sekarang pun aku tidak mencoba menghubunginya. Fokusku beralih pada Dewi, yang sekarang sering kutemui.

Kami sering makan dan mengobrol di kantin. Ternyata Dewi orangnya asyik dan punya banyak pertanyaan. Suatu hari, saat kami sedang makan, Dewi bertanya, "Mas Lukman, malam minggu nanti ada acara enggak?"

"Enggak ada, kenapa?" jawabku.

"Kita ke kafe, yuk. Main sambil cari hiburan," ajaknya.

"Boleh. Aku jemput jam 7, ya," balasku setuju.

Malam minggu itu kami habiskan di sebuah kafe di Bogor. Tak disangka, di tempat itulah kami akhirnya resmi berpacaran. Rencananya aku hanya seminggu di Bogor, tapi karena menggantikan temanku magang di IPB, aku justru menemukan calon pendamping hidup.

Ketika tiba waktunya aku harus kembali ke Mataram, aku mengajak Dewi ke kafe untuk acara perpisahan. Di sana, aku mencoba berbicara serius dengannya.

"Dewi, program magangku sebentar lagi selesai. Aku harus kembali ke Mataram," kataku memulai.

"Iya, aku mengerti. Terus apa?" tanyanya.

"Hubungan kita ini serius, 'kan?" balasku.

"Menurutmu, gimana?" jawab Dewi, membalas pertanyaanku.

"Aku serius," kataku tegas.

"Aku juga," jawabnya.

"Seandainya... ini seandainya ya, kita jadi menikah. Kamu mau ikut aku ke Mataram?" tanyaku lagi.

"Ya, aku mau. Sebagai istri, aku memang harus ikut suami ke mana pun ia pergi," jawabnya mantap.

"Dewi, aku sayang dan cinta kamu," ucapku sambil meraih dan meremas tangannya dengan lembut. Kami terdiam sejenak, hanya diiringi alunan musik kafe yang lembut.

"Mas..." kata Dewi menggantung.

"Ya, apa?" tanyaku.

"Kalau Mas serius ingin menjadikan aku istrimu, aku minta satu hal. Boleh?"

"Iya, apa permintaanmu?"

"Aku ingin kamu bilang ke orang tuaku kalau kamu serius ingin menikahiku."

"Secepat itu?" tanyaku kaget.

"Iya, Mas. Cukup bilang kalau Mas serius. Soal kapan menikah, itu bisa kita rencanakan nanti," jelas Dewi. "Itu akan membuat Papa dan Mamaku tenang dan merasa yakin anaknya tidak akan dipermainkan. Maklum, usiaku sudah tidak muda lagi untuk main-main."

"Oke, sebelum aku pulang ke Lombok, aku akan bicarakan ini dulu dengan Mama dan Papaku," janji saya.

"Ya, semoga lancar ya, Mas," kata Dewi dengan senyum.

Sehari sebelum aku kembali ke Lombok, Mama mengajakku silaturahmi ke rumah Dewi. Katanya, ini sebagai balasan atas kunjungan orang tua Dewi beberapa waktu lalu. Aku mengabari Dewi, dan kabar itu langsung membuat seisi rumahnya heboh, padahal yang datang hanya Mama dan Papaku.

Pertemuan itu akhirnya berujung pada percakapan serius, meski belum sampai pada acara pinangan resmi. Papaku membuka percakapan, "Bapak, kelihatannya anak-anak kita serius menjalin hubungan. Bagaimana menurut Bapak?"

Ayah Dewi menjawab, "Kalau kami di pihak perempuan, Pak, jadi kami ikut saja."

"Justru nanti pihak perempuannya yang akan repot, yang punya acara. Sesuai adat kita," kata Papaku.

"Kalau Lukman sudah menyatakan siap, kami akan mulai bergerak. Kami ini keluarga besar, jadi semuanya harus dikabari," timpal Ayah Dewi.

Mereka pun menentukan tanggal. "Baiklah, kita tetapkan sekitar empat bulan lagi, saat Lukman bisa cuti. Sebelum itu, surat-surat yang diperlukan bisa diurus dulu. Besok Lukman pulang ke Lombok, jadi urusan di sini biar Dewi yang mengurus," kata Papaku.

"Baik, Pak. Nanti kita bisa komunikasi. Zaman sekarang semuanya serba canggih, jadi urusan kita mudah," jawab Ayah Dewi.

Keesokan harinya, aku kembali ke Lombok. Namun, hatiku tertinggal di Bogor, menunggu beberapa bulan lagi untuk kembali dan menjemput pujaan hatiku.

Sepiring Nasi dan Harga Diri (Cerpen)

Abdul R Saleh Warung kecil itu bukan benar-benar warung. Ia adalah rumah tinggal yang sebagian ruangannya dijadikan warung.   Beratap seng...